Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Huft!


__ADS_3

((((


Langit kian menggelap, cahya jingga beralih menjadi kelam. Angin dingin menyelimuti suasana malam itu, dimana Nazra sedang bermenung sendiri di balkon kamarnya.


Arah pandang nya menatap jauh, hatinya resah otaknya bingung hendak melakukan apa. Saran dari teman-temannya terngiang bagai alunan nyamuk yang mengganggu saat manusia hendak merajut mimpi.


"Apa harus aku dulu yang mulai?" Tanya Nazra pada ntah siapa nggak ada yang tau.


"Tapi nanti besar kepala dong sayang aku, kan cowo biasa gitu." Lanjutnya makin bimbang.


Desir angin menerpa wajahnya dengan lembut, membawanya menuju lamunan panjang yang hanya dia dan Tuhan yang mengetahui nya. Saat bunda nya masuk pun dirinya tak menyadari hal itu karena sudah terlalu dalam menyelam dalam lamunan kegalauan.


"Kakak ngapain ngelamun diluar? Nanti kalo kesambet wewe bunda gak mau nolongin." Ucap Bu Tika seraya menghampiri sang putri yang terlihat lebih mirip ayam kena flu burung. Hidup segan mati belum siap, masih banyak dosa belom tobat.


"Kakak? Beneran kesambet yaa?" Sekali lagi Bu Tika mencoba menyadarkan Nazra.


"Heh bunda, sejak kapan disitu? Duduk lah bund, dah kayak penagih utang aja." Ucap Nazra tak semangat.


"Kamu kenapa lagi?" Tanya Bu Tika.


"Bund, tadi tu aku dapet saran dari teman-teman, kata mereka aku duluan yang harus nyelesain salah paham ini." Cerita Nazra seraya memandang sang bunda meminta saran.


"Menurut bunda sih memang lebih baik gitu, yaa gimana nantinya yang penting nyoba." Nasehat Bu Tika dengan penuh pengertian.


Setelah merasa lega, Nazra kemudian langsung teetidur dikamarnya. Menantikan hari esok untuk menyelesaikan semua masalah salah paham antara dia dan mas ojol.


---


Siangnya Nazra sudah siap, siap fisik dan juga mental tentunya. Dengan segala keberanian yang telah dia kumpulkan sejak semalam, Nazra hendak menuju tempat tongkrongan mas ojol yang biasanya saat makan siang.

__ADS_1


Bagai hendak bertemu setan, mulut Nazra tak henti-hentinya berkomat kamit. Ntah apa yang dirapalkannya, tapi yang jelas dirinya sedang menguat kan dirinya sendiri. Maklum penguatnya lagi ada konflik perbatasan antara orang kaya dan sederhana.


Beberapa menit berlalu akhirnya mobil Nazra terparkir cantik didekat kedai yang biasa digunakan alien ijo nongkrong. Namun saat Nazra celingukan kesana kemari, tempat itu masih saja sepi belom ada nampak helm berlumut.


"Aku yang kepagian apa mereka yang terlalu sibuk sih." Gumam Nazra sambil melihat jam tangannya.


"Masih ku pantau belum ku obrak abrik." Lanjutnya lagi dengan wajah datar.


-----


Dilain tempat, para helm ijo malah masih asik nikmatin cendol dawet di pinggiran jalan karena memang pada sepi penumpang ataupun orderan.


"Geng helm ijo makan lumut." Ucap Faiz seraya menyeruput kuah cendolnya.


"Cocok bener ijo ijo gini ngeliatnya seger weee." Saut Maulana.


"Eh Faiz, kamu udah baikan sama dokter cantik?" Tanya Roy disela sela kenikmatan nya menyantap cendol dawet.


"Tapi cepet disegerakan ya Iz, takutnya ada hal yang ndak terduga nanti. Ya namanya takdir Allah ndak ada yang tau. Kalik kan tu dokter dipatuk burung kutilang." Nasehat Ardi setelah menghabiskan 2 gelas cendol dawet.


"Dikira rontokan jagung apa." Sewot Faiz yang gak terima kalo calonnya dibilang mau dipatuk kutilang.


----


Balik ke Nazra lagi, saat ini gadis cantik itu tengah bersandar syantik dimobilnya. Matanya tak henti memantau kedai yang berada di sebrang jalan dengan seksama.


Bukannya geng alien ijo yang muncul tapi malah mak lampir dengan rok yang melambai akibat hembusan angin tornado. Dengan cepat Nazra memalingkan muka, malas liat spesies nenek sihir takut matanya jadi minus terus buta.


Dengan sangat pede, nenek sihir itu menghampiri Nazra dan membuat Nazra berdecak malas plus kesel. Yang ditunggu alien yang nongol valaq, nggak banget.

__ADS_1


"Hai mbak dokter." Sapa Nadia dengan centilnya, yaa yang dimaksud mak Lampir atau nenek sihir adalah Nadia si ulet bulu.


"Hmmm". Jawab Nazra yang hanya berupa gumaman tanpa minat.


"Ngapain disini?". Tanya Nadia sok akrab.


" Mancing." Cuek Nazra. Kalo ada penggiling bakso pasti tanpa babibu si Nadia ini udah digiling sama Nazra.


"Yee ditanyain bener bener malah gitu, sombong banget." Ucap Nadia dengan sinisnya, namun lagi dan lagi Nazra no respon. Ya kalik ngeladenin orang stress.


"Hah pantesan ya mas Faiz udah jauhin mbak dokter, sombong sih. Emang ya orang kaya seperti itu." Lanjut Nadia mulai jadi kompor meleduk.


"Huftt.... Maaf ya mbak, itu mulutnya pernah les sopan santun nggak sih?" Tanya Nazra balik seraya menghela nafas jengah dengan kelakuan makhluk titisan valaq ini.


"Jangan sembarang yaa, oh yaa kamu perlu tau sesuatu deh kayaknya." Ucap Nadia dengan bangganya seakan dia memiliki informasi yang sangat penting. Padahal mah nggak.


"Gak peduli." Jawab Nazra dingin.


"Yakin nih ?."


Bukannya menjawab pertanyaan Nadia, Nazra malah melangkah kan kaki menuju kedai yang sejak tadi dipantaunya. Sesampainya disana Nazra langsung pesen nasi goreng pakek telor kadal 2 biji, dan selama perjalan pula Nazra mendengar gerutuan Nadia yang menurutnya gak penting sama sekali.


"Husss, bisa diem ndak kamu? Aku maskerin pakek cabe mau?" Bentak Nazra yang sudah muak dengan suara Nadia. Yang bener aja ni orang ngomel sambil ngintilin begitu.


"Ih apaansih? Aku tu cuma mau kasih tau kamu sesuatu." Ucap Nadia yang tak mau kalah.


"Aku ga peduli sama sekali, kalo masih mau ngomel mendingan jauh jauh sana ke pluto biar ketemu badak air." Ketus Nazra tanpa melihat lawan biacaranya.


"Orang kaya ni suka gitu yaa." Ucap Nadia memadang remeh Nazra.

__ADS_1


Waktu berlalu dan Nadia tak hentinya ngoceh, Nazra bahkan gak ngerti apa yang dia katakan karena memang sejak awal dirinya tidak peduli. Hanya helaan nafas jengah saja yang terdengar dari Nazra untuk menanggapi ocehan Nadia.


__ADS_2