Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Nazra vs Nadia


__ADS_3

)))))?


"Itu iz liat calon mu terzholimi." Tunjuk Roy seraya diiringi tawa mengejek, ini nih temen terbaik.


"Tolongin Is, ndak baik menyia-nyiakan." Sambung Ardi yang juga sudah tak sanggup menahan tawa, mau gimana lagi coba, ada kesempatan ngeliat ulet bulu luluran kecap sama Faiz yang merasa gelay ya harus diketawain.


"Kayak gini calon aku? Astaghfirullah aku tobat. Lagian masih cantikan calon ku mas dari mana mana juga." Ucap Faiz seraya bergidik ngeri menatap Nadia yang lebih mirip kucing anggora masuk got.


"Ndak boleh gitu is, kalo divandingkan sama calon mu ya kasian calon mu toh." Yang disangka Nadia, Eko akan membela nya tapi ternyata malah menjatuhkannya kedalam rawa rawa.


"Kok pada jahat sama aku? Mas Faiz gak mau nanya gitu ini perbuatan siapa?" Tanya Nadia memelas seraya mendekat kearah Faiz.


"Lah apa harus aku nanya? Lagian kan aku positif thinking kalo kamu emang lagi luluran model baru." Jawab Faiz tanpa rasa kepedulian sedikit pun, karena dalam kamusnya rasa keulet buluan itu tidak ada, adanya rasa kemanusiaan yang adil dan beradab.


Semakin diacuhkan maka semakin tak gentar pula Nadia merengek belas kasihan Faiz, namun semakin menjadi Nadia berusaha meraih simpatinya malah semakin menghindar sejauh mungkin dirinya.


Sampai sejauh ini pun Nazra hanya diam memperhatikan, yaa nyimak aja dulu. Masih di pantau, berulah dikit langsung baku hantam mumpung perut masih kenyang.


"Gaess, aku mencium aroma milik bidadari surga di sekitar sini." Celetuk Faiz kepada teman-temannya, yah dan ternyata sudah duduk ngopi sambil nyemil mereka sama sekali belum menyadari keberadaan Nazra karena sangkin sibuknya menghindari dari ulet bulu berbalut kecap.


"Masak sih Is? Bidadari surgaku masih dirumah nimang bujang cilik." Jawab Ardi sambil celingukan.


"Yang bilang bodadarinya mas Ardi tu siapa? Kalo yang cium baunya Faiz berarti bidadari surganya Faiz lah mas." Sewot Eko menanggapi jawaban Ardi.

__ADS_1


"Loh mas Faiz kok aneh sih, kan bidadari mas Faiz itu aku." Ucap Nadia yang ntah sejak kapan duduk melet di samping kiri Faiz.


"Jauh jauh aku ndak mau kenak kecap mu, ih ndak mau, ndak suka gelay." Ucap Faiz seraya beranjak pindah tempat yang paling aman. Kalo perlu pergi kesurga tutup pintu biar nih titisan sundel bolong gak ngikutin.


"Hem hem, hilal hilal kekalahan sudah tampak depan mata yaaa?" Teriak Nazra dari tempat yang aman, ternyata dirinya berpindah tempat supaya tidak disadari oleh kelima alien.


"Heh dokter sombong, ini belum selesai yaa?" Bentak Nadia tidak Terima dengan ucapan Nazra.


"Yodah, masih aku pantau. Lanjutkan saja dulu." Jawab Nazra santai dan tidak memperdulikan suasana disekitarnya.


"Ada dokter cantik? Tapi dimana?" Tanya Faiz tolrh kanan kiri mencari keberadaan manusia yang paling dirindukannya.


"Buk dokter Is, kesempatan mu ini buat jalanin misi." Ucap Roy memberi saran.


"Tenang aja urusan ulet bulu biar kita yang urus." Sambung Maulana mrmberi solusi.


"Karena aku merem kalo liat kamu, silau Nad make up mu ketebelan aku ndak sanggup." Jawab Faiz tanpa dosa dan tidak bersalah sedikit pun.


"Segitunya mas Faiz, aku kurang apa dimata mu? Apa ya ndak ada sedikit ruang dihatimu untuk ku?" Lagi, Nadia menanyakan perihal rasa dan hati, mau sampai kapan pun jawaban tetap sama ndak akan berubah.


"Cinta pertama ku cuma satu Nad, ngertiin ngapa to. Aku ndak bisa liat kamu, ngelirik aja aku males pakek banget loh." Sadis, tapi kejujuran memang diperlukan bukan? Ya seharusnya jujur dengan kalimat yang baik dan halus bukan to the point kayak Faiz.


"Kalo mau jujur yang halus dikit ngapa mas, pakek filter." Teriak Nazra ikut bersuara, walaupun batang hidung tersembunyi tapi suara harus ikut ambil bagian.

__ADS_1


"Ini jujur yang dari hati paling dalam, kalo di filter jatuhnya ada unsur kebohongan." Jawab Faiz membela diri sendiri.


"Mbak Nadia sebaiknya hargai keputusan Mas Faiz, bagaimanapun cinta tidak bisa dipaksakan. Kalo hanya 1 pihak yang memiliki rasa maka akan menyakiti diri sendiri jika dipaksa." Jelas Nazra seraya menampakkan diri dari lubang persembunyian nya. Yaa sudah waktunya untuk nongol kasian Nadia, takutnya nangis sambil minum saos.


"Terus aku biarkan kamu menang? Kalo aku ndak bisa kamu juga ndak bisa." Ketus Nadia memandang Nazra dengan tatapan penuh kebencian.


"Lagian aku kemarin denger mas Faiz udah mau lamaran jadi walaupun aku kalah setidaknya kamu juga kalah kan?" Sambung Nadia dengan tatapan sinis, jika sudah begini maka diantara dia dan dokter cantik tidak akan ada yang mendapatkan Faiz si ojol ganteng sejuta pesona Indonesia.


Diam sejenak, menghela nafas panjang. Yaa pedih sangat menyayat hati kenyataan yang diucapkan Nadia. Apa yang diharapkan lagi oleh Nazra jika sudah begini, tapi setidaknya kedatangannya kemari hanya meminta penjelasan dan meluruskan salah paham.


"Jika sudah begitu setidaknya aku masih unggul satu tingkat diatas mu, dan kedatangan ku kesini hanya ingin memperjelas sesuatu hal yang masih buram jadi kamu tenang saja aku belum kalah bersama mu." Tegas Nazra yang tak sedikitpun menampakan rasa sakit dihatinya setelah mendengar kenyataan bahwa Faiz akan lamaran.


"Hmm masihkah bisa anda bersikap sombong dokter?" Tanya Nadia sedikit meremehkan Nazra.


"Masih, kenapa tidak? Jika takdir bisa diubah dengan usaha dan doa, maka aku akan melakukannya. Jika saat ini hatinya belum bisa ku taklukkan maka Tuhannya lah yang menjadi tujuanku." Jawab Nazra seraya tersenyum samar, hari ini hati nya tersayat kenyataan tapi hari ini juga dirinya berjuang dengan mulut yang berusaha tegar.


"Aku akui, aku telah kalah oleh kenyataan, tapi aku tidak merasa kalah olehmu. Karena aku yakin kamu juga akan sama seperti ku yang menerima kekalahan dan tidak akan ada dalam hidup mas Faiz dimasa depan." Ucap Nadia akhirnya, mungkin dia sudah lelah dengan perjuangannya.


"Aku hormati kekalahan mu, tapi aku tidak akan pernah kalah seperti mu." Ucap Nazra menatap Nadia dengan penuh kemenangan.


"Semoga." Ucap Nadia yang kemudian berlalu pergi meninggalkan kedai itu dengan kekalahan hatinya.


 

__ADS_1


Sepersekian menit berlalu, Nazra sudah duduk syantik seraya meminum kembali es teh gelas ke 4 yang dia pesan. Faiz hanya termenung memandang Nazra dengan pikiran yang merenung mengartikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Nazra barusan.


"Mas Faa... / Naaa...."


__ADS_2