
Jika Nazra terkesan menyedihkan, beda lagi dengan Faiz yang lebih terlihat seperti orang kurang 2 ons. Sableng.
Bagaimana tidak terkesan sableng, hati yang galau tapi otak yang bermasalah. Kata normal sudah jauh dari diri Faiz, yang dulunya masih ada kadar waras walaupun sedikit namun sekarang sudah tak ada sama sekali. Mengenaskan memang.
"Mas... Mas Roy." Panggil Faiz kepada Roy yang tengah sibuk menghisap sebatang rokok.
"Ada apa Faiz?" Tanya Roy.
"Aku mau curhat boleh ndak?" Tanya balik Faiz dengan mode memelas seperti anak kucing minta ikan asin sisa sambal kemarin.
"Kalo curhat jangan sama aku lah, aku aja mau curhatin rumah tangga aku belum nemu partner yang pas kok. Kamu curhat sama mas Ardi aja ya." Ucap Roy yang malah mencurahkan isi hatinya, ini Faiz mau curhat napa malah ente curhatin? Ah si Roy mah suka ndak bener ini.
"Ah elah mas, yodah lah nunggu mas Ardi aja." Jawab Faiz seraya cemberut. Giliran butuh aja pada nolak, kawan ndak solid nih pada jadi pengen nampol.
Setelah curhatannya ditolak, Faiz menyibukkan diri dengan menyeruput kopi menggunakan pipet kecil supaya llebih nikmat. Sudah hampir sejam Ardi juga belum menampakkan batang ginjalnya dimarkas, atau jangan-jangan Ardi sudah ada feeling kalo Faiz mau curhat jadi dia lebih memilih ngumpet diselokan ? Eh maksudnya langsung pulang. Begitu pikir Faiz yang sudah mulai gelisah.
"Aahh lama nih, aku pulang duluan lah Mas Roy mas Eko." Pamit Faiz dengan wajah lesu tertekuk kusut macam cucian.
"Kamu curhat aja sama aku Iz, kalik bisa bantu wkwk." Tawar Eko tidak meyakinkan. Bagaimana bisa yakin, masalah rumah tangganya saja pak erte yang selesain sok gayaan mau bantuin masalah orang.
"Ndak usah mas makasih." Tolak Faiz. Ndak minat curhat ama modelan mu mas begitulah batin Faiz berucap.
"Yowes, ndak papa juga kalo ndak mau. Toh aku juga cuma basa basi." Jawab Eko tanpa dosa. Jika tidak lebih tua dan Faiz tidak dalam keadaan galau mungkin kepala Eko sudah beradu dengan kerasnya galon air.
__ADS_1
"Heh mau kemana? Baru jam segini dah mau pulang aja." Ucap Maulana yang baru tiba menghalangi pergerakan Faiz.
"Mau curhat." Jawab Faiz tanpa minat. Maulana sama persis kayak Eko, curhat sama dua makhluk ini mah percumah. Bukannya membantu malah nyusahin.
"Yodah sini curhat." Sambung Ardi yang baru tiba, sontak itu membuat Faiz sedikit mengembangkan senyumnya.
"Dirimu yang kutunggu mas." Jawab Faiz yang langsung mengambil posisi duduk ternyaman dan disusul oleh Ardi. Dari sekian banyak yang waras cuma Ardi dan Roy kalok diajak curhat dibandingkan yang lain. Udahlah stres curhat sama orang ga tepat bukannya waras malah makin gila yang ada.
"Gimana cerita gih, aku dengerin dulu ntar baru aku kasih polusi." Ucap Ardi setelah menyeruput kopinya.
"Solasi mas bukan polusi." Sanggah Eko yang membenarkan ucapan Ardi yang sedikit typo.
"Solusi ngab bukan solasi. Pantes gak ada yang mau curhat sama kamu." Ketus Roy menatap sinis Eko. Namun yang ditatap malah nyengir.
"Jadi gini mas, aku kemaren ketemu sama Nara, terus kami ngobrol ngobrol biasa gitu sampek pada akhirnya aku nanya soal kejelasan hubungan kita kedia gimana." Lanjut Faiz memulai sesi curhatnya. Sedangkan Ardi masih angguk angguk asik mendengar kan.
"Terus dia pengennya lebih dari sekarang. Aku beraniin tuh buat ngomong soal nasehat bapak waktu itu, yang aku sama bu dokter itu beda. Aku bilang kalo takut kecewain dia dan ga bisa bahagiakan dia mas." Sambung Faiz masih dengan keadaan lesu gelisah gundah.
"Terus respon buk dokter gimana?" Tanya Ardi kemudian. Penasaran juga sama cerita nih curut kayaknya berat banget begitulah pikir Ardi yang kasian melihat anggotanya dilanda kegalauan cinta.
"Respon nya gitu mas dianya kayak kecewa dan gak terima apa yang aku bilang ke dianya. Terus dia langsung berkaca-kaca mau nangis pas aku bilang kalo aku apa sanggup bahagiain dia dan apakah orangtuanya mau nerima aku sebagai menantu dengan status ku yang cuma tukang ojek ini." Jawab Faiz dengan nada suara yang memprihatinkan. Sungguh kasihan sekali bujang satu ini, sekalinya jatuh cinta terhalang kalimat sadar diri.
"Kok kamu ada inisiatif nyampein itu sih Iz?" Tanya Ardi sekali lagi yang memang dirinya masih belum mengerti, kok bisa gitu masih ada manusia sepolos Faiz.
__ADS_1
"Aku cuma sadar diri aja mas setelah beberapa waktu merenungi nasehat dari bapak, aku cuma ndak mau ngecewain Nara mas. Makanya aku sampein ke dia kayak gitu sebelum semuanya terlanjur jauh." Jelas Faiz makin melas dan memprihatinkan membuat Ardi geleng kepala dibuatnya. Sedangkan yang lainnya hanya menyimak dan menatap Faiz dengan rasa iba.
"Hmmm payah payah. Gimana ya Iz mas juga bingung sebenrnya. Mau melangkah jauh perbedaan jelas banget depan mata. Takutnya kamu ndak dihargain hanya karena bukan dari kalangan mereka. Tau-tau kamu dipermalukan didepan umun kayak yang di tipi-tipi gitu" Jelas Ardi, gini nih kalo kebanyakan nonton sinetron.
"Dan kalopun mundur, namanya juga sayang pasti move on nya lama dan bahkan bisa saja kamu malah jadi ndak mau nikah. Makin bahaya jadinya." Jelas Ardi sok menerawang jaih kedapan. Beh gayaan nih bapak satu.
"Terus aku harus gimana mas? Dia sampek nangis dan pergi gitu aja ninggalin aku." Ucap Faiz menatap Ardi dengan oenuh harap. Ya berharap Ardi bisa bantu lah walaupun agak nyeleneh penting faedah.
"Terus kamu udah ada klarifikasi soal ini ke buk dokter?" Tanya Ardi menyelidik.
"Belom mas, aku takut buk dokter malah ndak mau ketemu aku." Jawab Faiz.
"Bagusnya kamu temuin is, selesain ini dulu dan untuk selanjutnya sih saran ku kamu perjuangin. Namanya cinta itu butuh perjuangan dan pengorbanan." Nasehat Ardi yang disimak oleh Faiz dengan seksama. Mungkin ada benernya juga dirinya harus berjuang.
"Hahh, makasih mas sarannya. Aku pikirin lagi aja dulu apa yang mas bilang barusan." Ucap Faiz seraya mengusap rambutnya frustasi. Baru juga suka sama cewe udah gini aja masalahnya makin emosi jiwa aja kalo kayak gini.
Setelah puas curhat, Faiz memutuskan untuk pulang. Badannya lrlah pikirannya gundah hatinya resah, dirinya butuh rehat sejenak supaya dapat berpikir lebih jernih mengenai pujaan hati.
Setiap masalah pasti ada jalannya sendiri dalam penyelesaian nya, mungkin dalam waktu dekat atau bahkan jangka waktu yang cukup lama. Yang penting usaha mencari cara menyelesaikannya supaya semua kembali baik-baik saja.
_____
Jangan mundur, sebab Allah tidak pernah tidur dan takdir telah sedemikian rupa diatur.
__ADS_1
@ef.febriana