Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Kata Bapak


__ADS_3


Sedih, takut, sebel dan greget bercampur menjadi satu dalam diri Faiz saat mendengar ucapan sang ayah yang menggantung. Ini masalah masa depan yang serius tapi sang ayah malah membuat keraguan dalam diri Faiz. Bagaimana jika lanjutan kalimat sang ayah tidak merestui?? Hancurlah sudah harapan Faiz.


"Pak jangan gantung gitu kenapa sih, bikin mual mules aja." Ucap Faiz yang memasang wajah pucat.


"Faiz, bapak itu...." Ucap Pak Aji yang lagi-lagi berhenti sebelum finish.


"Bapak habis bensin apa gimana sih buk? Mogok mogok gitu dari tadi." Geram Faiz yang sedari tadi nahan mules karena takut jawaban sang ayah yang tidak merestui nya.


"Iya pak apa ndak servis kok ngomong gitu aja udah mogok 2 kali?" Tanya Bu Leni polos.


"Lah ibuk ndak mau servis bapak loh." Jawab Pak Aji santai.


"Haluaaahhhhh malah pada bahas apa sih bapak sama ibuk ni. Cepet lah pak sambung yang tadi itu sebenernya bapak restu ndak kalo Faiz sama bu dokter?" Ucap Faiz dengan nada yang sudah mulai kesal.


"Gini Is, bukannya bapak ndak restu. Cuman apa iya kamu dan keluarga kita pantes di hadapan bu dokter dan keluarga nya?" Jelas Pak Aji perlahan supaya dapat Faiz pahami tanpa salah paham.


"Kita ini bagaimana dan mereka bagaimana? Bu dokter sudah terlahir dari keluarga yang berada sedangkan kita apa Is? Kamu cuma ngojek dan bapak? Cuma tukang pece lele kaki lima." Lanjut Pak Aji seraya memandang sang anak dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Tapi pak, Faiz yakin kalo bu dokter dan keluarga nya ndak mandang orang dari materi. Buktinya bapak dan ibunya bu dokter baik sama Faiz." Jawab Faiz membela keputusan nya.


"Mereka baik kekamu belum tentu ingin kamu jadi menantunya Is, setiap orangtua pasti menginginkan pendamping anaknya yang lebih akan segalanya bukan hanya kasih sayang dan cinta tapi juga tentang bagaimana bisa memenuhi kebutuhan anaknya agar tidak kurang sedikitpun. Apalagi untuk anak gadisnya." Jelas Pak Aji yang membuat Faiz terdiam, benar apa yang dikatakan sang ayah bahwa setiap orangtua menginginkan pendamping hidup yang terbaik untuk anaknya.


"Apa yang dikatakan bapak mu benar Is, sama halnya seperti ibuk yang pengen bu dokter cantik jadi menantu dirumah ini. Karena ibuk ingin yang terbaik juga buat kamu anak bujang ibuk, tapi kembali lagi pada kita yang harus sadar diri jika dibandingkan dengan keluarga bu dokter." Kini giliran Bu Leni yang bersuara menasehati sang anak bujang.


"Kami ridho, kami restu Is. Tapi ya itu tadi kita juga harus sadar diri akan keadaan, pantaskah kamu dan keluarga kita? Kita cuma orang ndak punya Is, bapak cuma takut kamu tersakiti karena perbedaan kasta." Lanjut Pak Aji.


"Pak Buk, Faiz akan perjuangkan masa depan Faiz bagaimana pun nantinya. Cukup bapak dan ibuk restui dan doakan semoga Faiz bisa melewatinya." Ucap Faiz setelah lama terdiam mendengar ucapan ayah dan ibunya.


"Jika memang itu keputusan mu bapak cuma bisa bantu doa, setidaknya bapak sudah menasehati mu akan hal ini." Jawab Pak Aji.


___


Malam semakin larut dengan desiran angin yang menghunus kedalam diri, senyap begitulah suasana malam ini yang tak seperti malam malam sebelumnya. Ntah ada hal apa yang membuat suasana menjadi sesunyi ini, ataukah mungkin semesta ikut bersama Faiz merenungkan setiap kata yang terucap dari sang ayah dan ibunya.


"Ohh Gusti Allah, tulung lah hamba-Mu yang manis ini Gusti." Faiz Frustasi dengan segala pemikiran nya sendiri.


"Jika dia jodohku maka bantu aku untuk segera mengikatnya atas Nana Mu Ya Rabb, tapi jika dia bukan jodohku maka jadikanlah dia jodohku dan ikatlah dia untuk ku atas ridhoMu." Doa Faiz dengan khusyuk disertai pemaksaan. Ndak punya malu udah minta maksa.

__ADS_1


Wuusssshhhhhhhh........


Semilir angin masuk kedalam kamar Faiz membawa hawa dingin nan menusuk melalui ventilasi. Bahkan tiupan angin itupun sampai terdengar ditelinga Faiz hingga membuat sang penunggu kamar itu bergidik ngeri sendiri.


"Halah Gusti baru doa gitu aja udah disapa angin horor begini, kalo gitu ndak maksa aku Gusti ndak maksa beneran." Ucap Faiz sambil meringkuk didalam sarung apeknya.


"Tapi aku cuman berharap belas kasih Mu pada seorang hamba yang sedang berjuang akan cinta ini Gusti Allah. Ndak apa kan berharap Gusti? Ndak apa lah ya kan kasian toh aku" Lanjut Faiz melanjutkan doa malamnya. Udah doa maksa ngatur lagi kan ndak ada akhlak ini.


"Tapi apa yang dibilang bapak semua bener, Nara itu dokter terus ayahnya dosen, ibunya punya toko baju gede kayak mall. Lah terus aku cuma apa? Driver ojek online yang kalo dibahasain kampung ya tetep aja tukang ojek. Emang pantes tukang ojek menyanding dokter?" Gumam Faiz meratapi nasibnya.


"Aku cuma menang ganteng doang, tapi dompet isinya mentok 2 lembar soekarno ngopi bareng sama patimura. Huah Gusti aku harus gimana toh ini, aku mau dia jadi jodohku tapi aku ndak punya apa-apa, jangankan emas permata lah kerikil aja aku ndak punya." Lanjut Faiz yang semakin frustasi.


"Dan tadi apa lagi? Orangtua nya baik sama aku belum tentu ingin aku jadi menantunya?" Kembali dirundung kegalauan Faiz mulai bertanya pada dirinya sendiri dihadapan cermin buluk.


"Lah iya toh Faiz, gubluq bener kamu. Apa ada seorang ayah yang jabatannya dosen terus anaknya dokter direstuin gitu aja nikah sama tukang ojek. Heloo Faiz how are you? Sadar diri nak kamu cuma remahan rengginang nya bude Lastri." Jawab Faiz untuk pertanyaan nya sendiri. Lambat laun jika begini kemungkinan besar Fais akan menjadi pasien RSJ sebelum menang akan cinta bu dokter.


"Padahal minggu besok mau tak tembak pakek kembang aglonema hasil minta mbak Mela. Lah kalo kayak gini gimana jadi? Mau maju insecure mau mundur kepalang tanggung, mau maju mundur ntar malah kayak inces syarini." Masih diposisi yang sama dan akan hal yang sama, Faiz mulai ngelantur tak jelas. Bahkan yang tadinya angin masih menyapanya, kini sama sekali tak ingin muncul lagi. Takut jika bukan angin sejuk yang datang tapi malah sawan atau pun angin topan berbonus kuyang.


Beginilah jika cinta terhalang sadar diri akan materi, jika cinta itu buta tak memandang harta dan benda serta rupa maka kalimat itu hanya berlaku untuk sang anak tapi tidak dengan orangtua nya. Setiap orangtua pasti mengharapkan yang terbaik dan lebih untuk anak-anak nya.

__ADS_1


____


__ADS_2