
"Hmmmh bersin teros nih ngapa ya." Gumam Faiz setelah mendaratkan diri disamping Maulana.
"Sakit kamu Iz?" Tanya Ardi
"Nggak kayaknya mas, aku loh nggak ngerasa meriang." Jawab Faiz.
"Lah kok bersin bersin gitu? Jangan-jangan kamu kenak virus yang lagi viral itu." Saut Roy.
"Weh amit amit lah mas, doamu itu lo jelek." Sanggah Faiz.
"Paling ada yang gunjingin kamu itu." Sambung Eko yang baru datang.
"Apa ya gitu mas?" Tanya Maulana penasaran.
"Kata orang sih gitu." Jawab Eko tidak meyakinian karena masih kata orang. Sontak membuat semua yang mendengar nya melengos kan muka tanda kecewa.
Saat sudah didalam warung makan itu Faiz tak lagi bersin, dan dia bisa menikmati sepiring nasi lengkap dengan lauk dan ikan asin favorit nya
"Ngemeng-ngemeng kamu tadi pagi gimana?" Tanya Roy mulai kepo.
"Emang tadi pagi kenapa mas?" Tanya Maulana yang tak mengetahui kejadian tadi pagi.
"Dia jemput penumpang dari Vilatama." Saut Ardi menjawab pertanyaan dari Maulana. Sedangkan yang menjadi narasumber malah masih asik menikmati ikan asinnya yang padahal tinggal durinya saja.
"Apa hubungannya sama vilatama mas?" Tanya Eko yang ternyata juga ingin tahu ada apa diVilatama.
"Apa pada nggak inget kalo diVilatama itu rumahnya bu dokter, kan kita jadi korban cancel disana." Jelas Ardi.
"Terus sangkut pautnya ama Faiz?" Tanya Maulana yang masih nggak maksud dengan obrolan kali ini. Duh susah emang kalo otak udah buat beli susu anak nih lemotnya gak ketulungan.
"Makanya itu dengerin dulu, kan Paiz belom jawab ini." Ketus Roy dengan mengunyah kerupuk seperti orang kesurupan hantu 17 an.
"Ngapa bawa bawa aku sih bapak bapak." Ucap Faiz tanpa minat.
"Lah kan tadi aku nanya sama mu toh Paiz." Geram Roy karena ulah Paiz yang polos polos b*ngke itu.
"Nanya apa toh mas Roy? Sini tak jawab." Ucap Faiz santai.
"Udah aku yang nanya aja, ngomong sama Paiz nih butuh keahlian setara ngomong sama limbad harus pakek ilmu kanuragan. Tadi pagi gimana?" Tutur Ardi bertanya kepada Faiz.
"Aman, dan doa ku terkabulkan." Jawab Faiz padat jelas dan singkat.
"Jadi beneran kamu jemput bu dokter?" Antusias Roy setelah mendengar jawaban Faiz.
"Alhamdulillah iya, terus ketemu ayah bunda nya juga." Jawab Faiz serius tapi malah dianggap bercanda oleh teman temannya.
"Ngaco lah, ngayal mulu jadi jomblo." Saut Maulana meremehkan.
"Wehh ini seriusan aku jemput sampai depan teras nggak cuma depan gerbang, mana ketemu ayah bundanya juga disana, ada adeknya juga." Ucap Faiz bangga setelah bertemu dengan keluarga Nazra.
"Wehh terus gimana lagi Iz? Ada kejadian apa gitu lo, mbok ya cerita sama kita kita." Ucap Eko yang mendadak rumpi.
"Orangtuanya kayak kasih lampu ijo ke aku mas, kayak udah ridho kalo anaknya tak deketin." Jawab Faiz lengkap dengan cengiran kudanya.
__ADS_1
"Semoga aja Iz, tapi kamu ya jangan ngehalu ketinggian nanti kalo kepleset teros jatoh ya ambyar." Nasihat Ardi dan hanya diangguki Faiz.
"Setelah itu kamu anterin dia, selama perjalanan ada ngobrol gitu nggak?" Sambung Maulana yang masih ingin ngerumpi.
"Gak ada omongan sampek dia ngajakin belok kiri baru lah itu awal percakapan." Jawab Faiz seadanya.
"Kenapa gak kamu ajakin ngobrol manatau bisa dapet contact nya ?." Tanya Roy.
"Masalah itu bisa lah disetting mas Roy, tapi tadi aku diajakin beli sparepart nya dia kepasar, mana pas dipasar dia ngode stopnya dadakan ya aku auto rem ehh dia nempel, empuk banget Mas Roy." Disaat yang lain melongo mendengar ceritanya, eh malah dianya cengengesan tanpa dosa.
"Si*lan kaku Iz, menang banyak gitu, terus kamu gimana pas diajak beli sparepart? Kamu manfaatin kesempatan dalam kesempitan ya?" Tuduh Eko kepada Faiz dengan sangar.
"Ehhh nggak ya, aku kan sholeh mana ada gitu. Aku tu tadi belom paham apa sparepart, aku nanya tapi ngga di jawab sama mbak dokter cantik akhirnya sampai lah dilapak yang jual kalelawar sama kacamata." Jawab Faiz dengan kepolosannya yang hampir overload itu.
"Haduh Faiz, otakmu ternyata masih kosong belom ada isinya." Gumam Ardi menghela nafas ah ntahlah kok ada manusia kayak Faiz, dia ini pria dewasa loh kok nggak paham yang gituan, polos apa be*o sih sebenernya.
"Pikiran mu kemana Iz pas tadi?" Tanya Maulana.
"Berfantasi ria sampek gunung Merbabu sama semeru gandengan Mas Maul." Jawab Faiz masih dengan apa adanya yang luar biasa dan kejujuran yang wah sekali.
"Terus nyampek mana lagi Iz?" Kini Eko yang penasaran kelanjutan nya gimana, kayaknya nih Faiz nggak beneran polos begitulah pikir Faiz.
"Sampek mikir kalo sparepart nya mbak dokter itu sekali pakek buang, habis belinya banyak banget. Jadi pengen bantu nampung." Jelas Faiz maikin ngelantur.
"Waduh terus kamu sampek fantasi yang lebih waw nggak?" Ucap Roy yang memancing cerita 18+ dari Faiz.
"Walah mas, namanya juga laki-laki udah baligh dan apalagi usia mantepnya nikah mesti udah melalang buana lah fantasi ku. Nggak mungkin kalo nggak mas, aku normal." Jawab Faiz yakin seyakin yakinnya.
"Iya kamu fantasinya apaan Iz?" Ucap Ardi yang semakin kompor.
"Mas bangga sama kamu." Ucap Ardi menepuk bahu Juan dengan gaya lelaki.
"Kamu kejar cinta mu Iz, ini adalah tanda darinya bahwa dia udah welcome." Sambung Eko mendramatis.
"Jangan mundur sebelum maju." Ucap Maulana yang intinya ntah apa, nggak ada yang paham.
"Mas yakin bu dokter bakalan mau sama kamu yang begini Iz." Sambung Roy yang tersenyum bangga.
____
Setelah acara makan siang, para helm ijo kembali pada aktivitas masing-masing. Sedangkan Faiz malah nongkrong dibawah pohon mangga oinggiran jalan beli dawet ayu.
"Ngorder kok dawet ayu, pizza gitu biar nunggu pesenannya sambil ngase." Gerutu Faiz.
"Syukurin aja mas, namanya rezeki itu Allah yang ngatur jalan datangnya." Saut kang cendol.
"Iya kang, kita ni ya tinggal jalanin aja ya." Jawab Faiz.
"Dah ini mas aman selama perjalanan, saya plastiikin double biar gak pecah atau bocor." Kang cendol menyerahkan 1 kantong berisi 6 bungkus dawet ayu.
"Nih kang duit pas, makasih yak."
Akhirnya Faiz bergegas mengantarkan pesanan customer, jangan sampai melakukan kesalahan karena itu akan menjadi musibah baginya. Dengan hati hati Faiz menyusuri setiap jalanan menuju lokasi pemesan dawet ayu.
__ADS_1
Setelah sampai Faiz langsung memberikan pesanan itu, kemudain dirinya langsung menuju tempat peristirahatan paling asik sebelum dapet orderan lagi. Namun sebelum sempat mendudukan diri, dirinya sudah menerima notif dari customer.
"Baru aja mau ngangin, dah ada notif." Ucap Faiz yang kembali menaiki motornya.
"Rejeki anak sholeh nggak boleh ditolak, ini buat ngelamar buk dokter cantik." Gumam Faiz sepanjang perjalanan.
5 menit sudah, akhirnya Faiz sampai ditempat Customer nya bertengger.
"Siang pak, dengan bapak mahruf?" Tanya Faiz kepada bapak bapak.
"Iya dengan saya mas, langsung ya sesuai aplikasi." Jawab Si bapak yang langsung naik keatas motor Faiz
"Siap Pak berangkat." Jawab Faiz dengan ramah.
"Wahai anak muda." Ucap si bapak.
"Ada apakah yang mulia.?" Tanya Faiz terbawa alur yang si bapak bawakan, hanya karena kata wahai saja Faiz sudah mendrama seperti dikerajaan.
"Apakah dikau sudah menikah?" Tanya si bapak yang malah ikutan ngedrama.
"Belum yang mulia, tapi saya sudah memiliki calon permaisuri. Jadi jika yang mulai bertanya untuk menjodohkan saya dengan putri yang mulia maaf saya tidak bisa." Jawab Faiz dengan kepedean tingkat tinggi,dan Faiz yang masih fokus pada jalanan yang dilalui nya tak berhenti untuk berdrama.
"Dikau hebat, bisa menebak pikiran ku huahahaha." Sambung si bapak itu.
"Eh Farizi, kamu lupa sama saya?" Tanya si bapak yang sudah menggunakan dialog normal selayaknya manusia pada umumnya.
"Lah bapak siapa?" Tanya Faiz.
"Saya Mahruf, guru kesenian kamu waktu STM." Jawab Pak Mahruf.
"Oalah Pak Kribo yak, gimana mau inget saya aja bolos teros dijam bapak." Jawab Faiz dengan polosnya bahkan tanpa dosa sedikit pun.
"Lah kamu itu, padahal sama saya cuma diajakin dangdutan lah malah bolos." Ucap Pak Mahruf.
"Lah saya takut khilap pak makanya bolos, kalo denger musik enak tidur." Jawab Faiz.
"Alesan kamu, bilang aja kamu tu males bapak suruh gambar. Karena kamu dulu kalo gambar suka yang perempuan pakek baju kurang bahan, ya toh?" Skak mat Pak Mahruf mengingatkan kelakuan Juan saat STM dulu.
"Lah sibapak malah dibilangin, jadi pada tau kan kalo saya ini otak nya agak geser kekiri. Hilang sudah image anak sholeh saya Pak." Jawab Faiz sedikit kesal karena pak Mahruf membocorkan aibnya.
"Terima aja Iz, semoga calon mu bisa maklumin itu." Sambung Pak Mahruf yang kemudian diiringi tawa kecilnya.
"Calon saya itu dokter loh Pak." Pamer Faiz tak tau malu, padahal Nazra ntah mau atau tidak dengannya. Karena prinsip kata adalah doa, Faiz mengatakan hal itu setiap ada kesempatan biar jadi doa.
"Bapak rasa dokter itu udah keracunan amoxilin makanya mau sama kamu Iz." Ucap Pak Mahruf.
"Segitu buriqnya Paiz Pak, sampek bapak bisa ngemeng gitu." Ucap Faiz memelas.
"Fisikmu gak buriq Iz, buktinya banyak yang ngejar kamu. Tapi otakmu itu lo udah banyak yang terkikis halusinasi jadi kalo dizoom bolong bolong penampakan nya." Jawab Pak Mahruf pelan namun menusuk hati Faiz yang hanya tinggal remah remah.
"Tersakiti saya Pak, omongan bapak itu selalu nyelekit walaupun penyampaian nya santai." Ucap Faiz dengan sinis menanggapi penuturan Pak Mahruf.
Sepanjang perjalanan, Faiz dan Pak Mahruf tak berhenti berbicara. Ada saja yang dibahas oleh mereka, dari kisah jaman STM Faiz dulu, sampai nasehat masa depan untuk Faiz, hingga debat ala para politikus pun mereka lakoni.
__ADS_1
Jika sudah lama tak bersua maka akan banyak hal yang dapat menjadi bahan perbincangan, dari hal sepele sampai serius akan menjadi pembahasan sepanjang waktu bersama.
Dan jika menilai seseorang jangan hanya sekedar dari penampakan nya saja, karena mungkin dibalik tampangnya yang lurus didalamnya pasti banyak yang belok kanan kiri liku-liku. Seperti Faiz contohnya, yang dikira polos ternyata fantasi otaknya luar biasa uwwwuwwww nya.