
Sudah hampir dua minggu setelah kejadian itu, Nara tak memiliki semangat juang dalam kesehariannya. Yang dulunya ceria kini hanya selalu terlihat lesu tanpa gairah. Apalagi dirinya sudah 3 hari ini praktek sendiri karena Caca sudah mengambil cuti untuk acara pernikahan nya 2 hari lagi. Sendiri membuat Nazra semakin frustasi dibuatnya, mau curhat tidak mungkin karena sahabatnya lagi dalam situasi berbahagia.
"Hmm tutup aja lah dah jam 3 kan." Gumam Nazra seraya berberes meja kerjanya.
"Hati lagi galau, pasien ndak ada temen curhat lagi bahagia pujaan hati ntah kemana, malang benar nasib mu Ra." Sungguu menyedihkan sekali dokter satu ini, sambil berkemas dirinya meratapi nasib nya yang sangat mengenaskan. Untung masih cantik jadi susah dikit ndak masalah. Eh? Ndak ada hubungan nya ya.
Dengan muka lesu tak bersemangat, Nazra melangkahkan kaki menuju mobilnya terparkir setelah menutup pintu klinik nya. Semenjak berselisih paham dengan Faiz, Nazra lebih nyaman dengan kendaraan pribadi. Dirinya tak lagi menggunakan jasa ojek online. Hmm berkuranglah pemasukan para ojol jadinya.
"Ni mobil kenapa ndak mau buka pintu nya sendiri sih manja bener." Gerutu Nazra. Wah sudah mulai gila rupanya dokter cantik ini.
"Hah sudahlah Ra, kenapa dirimu seperti ini." Lagi-lagi gerutuan keluar dari bibirnya. Menyalahkan diri sendiri menjadi hobi Nazra sekarang ini.
Dengan raut muka yang sulit dijelaskan karena cemberut yang overload, Nazra mengendarai mobilnya menuju rumah tercinta. Sesampainya dirumah dirinya langsung menuju kamar dengan langkah gontai, dan orangtuanya pun hanya mampu terdiam melihat kelakuan anak gadisnya yang semakin hari semakin aneh.
"Prihatin liat kakak, Yah." Ucap Bu Tika kepada sang suami.
"Mau gimana lagi Bun, Ayah juga bingung." Jawab Pak Rizal seraya memandang kamar Nazra yang telah tertutup rapat.
"Bantuin aja yok Yah, kita minta tolong mas Faiz." Ucap bu Tika memberi saran. Bagaimanapun jalan satu-satunya adalah Faiz.
"Ayah pengen lihat bagaimana Mas FAiz berjuang bun, makanya sampai hari ini Ayah belum ambil tindakan apapun." Jawab Pak Rizal.
"Ada benarnya juga yang ayah bilang, dari sini kita bisa melihat keseriusan dan ketulusan mas Faiz untuk kakak ya Yah." Ucap Bu Tika membenarkan ucapan sang suami. Jika Faiz mampu berjuang dalam hal ini maka sudah dapat dipastikan jika Faiz memang lah calon yang tepat untuk Nazra nantinya.
__ADS_1
____
Malamnya Nazra melakukan kegiatan melamunnya dibalkon kamar. Sejuta kenangan indah dari awal bertemu dengan Faiz diingatnya malam itu, sampai sang adik menghampiri pun tidak disadari olehnya.
"Woyyy saropah napa diam bae?" Ucap Fatih mengejutkan Nazra yang sedang melamun asik.
"Astaghfirullah! Bengek woyy kenapa ngagetin sih lah?" Ucap Nazra yang jantung nya hampir menggelinding akibat kaget.
"Kakak tu kenapa ngelamun terus. Kayak ayam kenak virus aja sih." Ucap Fatih setelah mendudukkan diri disebelah sang kakak.
"Galau dek, kakak itu galau." Jawab Nazra malas.
"Galau kenapa? Masalah sama bang Faiz lagi?" Tanya Fatih menyelidik. Biasanya jika ada apa-apa maka sang kakak akan cerita padanya, tapi kali ini tidak dan Fatih hanya mendengar ketika sang kakak nangis dipelukan sang bunda waktu itu.
"Hmm prihatin bener. Eh kak dia bilang gitu karena sadar diri tauk. Aku kalo jadi cowo juga bakal gitu." Jelas Fatih yang membuat Nazra menoleh menatap adiknya itu dengan heran.
"Gini lo kak, ya kalik gitu cowo modal pas-pasan mau deketin cewe yang asalnya dari keluarga berada ya insecure lah yang ada. Apalagi kalo sayang nya beneran pasti jadi cowo mikir dong bisa ndak bahagian cewenya itu. Aku aja naksir anak pak bupati juga udah insecure duluan padahal aku bisa dibilang anak orang berada ni loh." Jelas Fatih yang tau arti tatapan sang kakak. Semoga saja Nazra paham dengan apa yang Fatih sampaikan.
"Jadi kakak harus gimana dek?" Tanya Nazra dengan sedihnya. Makin ga tega aja nengok bu dokter satu ini.
"Kakak itu hanya salah paham sama mas Faiz, terus kakak juga terlalu buru-buru menyimpulkan apa yang Mas Faiz sampaikan ke kakak. Harusnya dalam masalah ginian kakak sama mas Faiz kerja sama." Jelas Faiz sekali lagi. Disini siapa kakak siapa adik sudah bertukar posisi sepertinya.
"Maksudnya gimana?" Tanya Nazra yang malah terlihat bodoh, ini dulu kuliah dimana sih ege bener gitu aja ndak maksud.
__ADS_1
"Hadeh si kakak, katanya cumlaude masalah ginian aja ndak paham. Jadi tu kakak kerja sama, kakak kasih semangat Faiz kasih pengertian juga supaya mas Faiz ndak takut memperjuangkan kakak." Jelas Fatih sambil Menggerutu, heran aja sih bisa gitu gadis dewasa masalah ginian masih nanya anak remaja? Malu-maluin emang.
"Jadi sekarang kasih tau kakak, kakak harus apa? Sumpah dah demi baju kotaknya SpongeBob kakak bingung." Ucap Nazra seraya mengacak acak rambut panjangnya. Duh jangan lanjut dah tu rambut bisa kek gembel ntar.
"Kakak temuin mas Faiz, kakak sama mas Faiz perjelas semuanya supaya salah paham diantara kalian selesai." Jawab Fatih mantap.
"Masak kakak sih? Sedangkan dia aja ndak ada usaha nemuin kakak." Ego Nazra mulai muncul menguasai membuat Fatih ingin sekali melenyapkan sang kakak dengan mesin vacum cleaner.
"Kakak, mas Faiz ndak temuin kakak karena kasih kakak waktu untuk menenangkan diri. Sebagai cowo dia ndak mau ganggu kakak." Jelas Faiz setengah membentak supaya Sang kakak tersadar dari keegoannya.
"Hmmm kalo gitu besok kakak temuin dia deh, makasih ya sarannya adek kakak sayang." Ucap Nazra seraya memeluk sang adik.
Sedikit nasehat dari Fatih membuat Nazra lebih tenang, dan membuat Nazra memutuskan untuk menemui Faiz sesuai saran dari Fatih. Bagaimanapun ini semua harus menemukan titik terang agar tidak berkepanjangan dan berakhir dengan kesedihan mendalam akibat perpisahan.
_____
Dihari kedua setelah malam dimana Nazra disadarkan oleh Fatih akan kesalahpahaman nya dengan Faiz, sore ini dirinya memutuskan untuk menemui Faiz dan meminta maaf karena kesalah tanggapannya membuat jarak antara dirinya dan mas ojol ganteng itu. Ya berhubung besoknya nikahan Caca dan Panji bisalah kalo udah baikan diajakin kondangan begitulah pikir Nazra.
"Bismillah semoga mas Faiz mau maafin kesalahan ku." Doa Nazra sebelum melajukan mobilnya kemarkas dimana biasa Faiz nongkrong.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Nazra sampai disebrang jalan dimana Markas Faiz berada. Namun belum sempat dirinya kelura dari mobilnya menemui Faiz, dirinya diperlihatkan dengan tontontan yang tidak mengenakkan di sebrang jalan.
"Jadi gini ya? Kok nyesek nih dada."
__ADS_1