Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Alone


__ADS_3

Dengan gaun brokat berwarna navy, Nazra terlihat sangat anggun dengan rambut yang di kepang menyamping. Hari ini dirinya menjadi bridesmaids Caca dan Panji.


Ada rasa bahagia dalam hatinya namun juga ada rasa kegalauan yang menyapa. Bahagianya disaat Panji mengucapkan akad dengan satu tarikan nafas yang bertanda bahwa Caca sahabat karibnya sudah resmi menjadi seorang istri. Dan kegalauan nya adalah planing untuk bergandeng tangan dengan Faiz dipernikahan Caca dan Panji harus digagalkan begitu saja hanya karena kesalahpahaman.


"Duh nyeselkan, kenapa kemaren ndak aku ajakin aja." Gumam Nazra dengan aura semrawut nggak jelas.


"Kamu kenapa sih Ra?" Tanya Tria yang bingung melihat polah temannya yang satu ini. Bukannya bahagia liat sahabatnya nikah malah cemberut kayak cebong kurang asupan air selokan.


"Ndak kenapa-napa. Udah sana kamu sama Rido, ndak usah gangguin aku." Usir Nazra yang sudah dalam mode sebel liat semua tamu bergandeng tangan. Sedangkan dirinya menggandeng tas yang isinya cuma dompet sama henpun doang, kagak ada jodoh.


"Kenapa tuh anak?" Tanya Rido kepada Tria setelah melihat Nazra yang ngeloyor pergi dengan aura suram.


"PMS kalik, pas aku tanya kenapa jawabnya ngegas." Jawab Tria apa adanya sesuai fakta.


"Sensi kalik dia karena sendirian gak punya gandengan hehe." Ucap Rido seraya terkekeh geli dan juga diikuti Tria tentunya.


_____


Seharian dirinya berada diacara pernikahan Caca dan Panji, bahkan dirinya hampir setiap saat menjadi seonggok obat nyamuk disana. Seorang dokter cantik pergi kondangan sahabat karibnya masih ngenes aja sendirian.


"Selamat ya mbak Caca dan mas Panji, semoga langgeng sampek maut memisahkan, terus cepet diberi momongan." Ucap Nazra setelah menyalami Panji dan memeluk Caca.


"Makasih ya Ra, kamu juga cepet nyusul kita." Jawab Caca dengan senyum dan dibalas senyum juga oleh Nazra.


"Lah kok sendiri sih Ra, mas ojol kemana?" Tanya Panji seraya menaik turunkan alisnya.


"Jangan ditanya kenapa sih Nji, tadi aja Tria disemprot sama dia." Sambung Rido yang baru menghampiri ketiganya.

__ADS_1


"Kalian tu ndak tau rasa hati ku ini, sejak tadi alone. Liat kanan kiri pada gandengan kayak truk." Jawab Nazra yang auranya kembali suram.


"Hmm kayaknya ada yang ndak beres." Ucap Caca seraya menyentuh tangan Nazra.


"Iya ndak beres, kan harusnya aku pergi sama mas ojol terus gandengan. Tapi kenyataan nya apa? Aku sendirian jadi obat nyamuk disini. Nyesek hati dedek." Dengan mencak-mencak Nazra meluapkan semua rasa yang membuat nya galau akut hari ini. Gak peduli mau di mana sekarang yang jelas dia curhat pokoknya.


"Lah emang Dayat kemana Ra?" Tanya Tria.


"Ngojek lah kemana lagi." Ketus Nazra.


"Lah kenapa ndak mau nemenin kamu?" Tanya Panji penasaran.


"Lah iya kenapa? Atau jangan-jangan kamunya yang lupa ngajakin dia?" Selidik Rido.


"Bukan lupa tapi emang ndak aku ajakin." Jawab Nazra tanpa dosa sehingga semua temannya ingin menenggelamkan Nazra kedalam rawa.


"Sayangnya mbak Caca, terus kenapa galau ndak punya gandengan? Kan kamu sendiri yang ndak ajakin mas ojolnya." Ucap Caca dengan penuh penekanan akibat rasa geram


terhadap manusia bernama Nazra tersebut.


"****** juga nih Nara, otaknya ndak ada." Umpat Panji seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Ya kan aku masih ngambek sama dia mbak, masak dia ndak mau perjuangin aku cuma gara-gara perbedaan materi." Kan mulai curhat, ndak tau lagi pada berbahagia nih malah sesi cerita isi hati.


"Kalo menurut aku sih wajar dia insecure Ra, aku aja kalo jadi cowo juga bakalan gitu kalo misalnya harus deketin kamu." Ucap Tria dengan penuh kehati-hatian agar Nazra tak semakin bringas.


"Ya tapi usaha dulu kan bisa." Jawab Nazra pelan.

__ADS_1


"Saran aku ya Ra, kamu itu harusnya ndak boleh kayak gini. Jangan diemin dia juga, siapa tau dia lagi berpikir untuk perjuangin kamu." Sambung Panji memberi nasehat.


"Kalo kamu kayak gini malah nanti bikin mas ojolnya ngerasa kamu ndak kasih harapan lagi kedia, akhirnya dia mundur beneran ndak jadi perjuangin kamu. Nah kalo gitu yang sakit hati siapa jadinya?" Tanya Caca sambil menatap Nazra penuh pengertian.


Apa yang teman-temannya bilang semua adalah benar, tapi rasa kesal masih saja hinggap dihati Nazra, sebegitu polosnya kah seorang Hidayat Alfarizi? Hingga perbedaan materi membuatnya ragu untuk maju? Begitulah beberapa hal yang berkecamuk dalam pikiran dokter cantik ini.


"Udah gini aja, kalo dia minta maap kamu maapin deh. Kalo dia mau jelasin sesuatu kamu kasih waktu buat dia ngomong semuanya. Jangan egois nanti malah kamunya yang gila." Ucap Rido yang diangguki yang lainnya. Sedangkan Nazra hanya ngangguk pasrah.


"Dan kamu juga harus bisa berpikir dewasa Ra, jangan ngambil keputusan terlalu cepat. Inget jodoh itu ibarat dagangan, kamu ndak gercep ya keburu diserobot yang laen." Lanjut Tria memberi wejangan. Beh pengalaman bener nih kayaknya.


"Satu lagi pesen mas ni Ra, jangan gampang kebakar emosi. Kalo ada apa-apa omongin dulu baik-baik ndak langsung ngiprit kayak orang kebelet yang udah sembelit 7 tahun." Sambung Panji yang juga dengan tegas menasehati dokter cantik kekurangan asupan otak itu. Nyembuhin orang bisa ngurus perasaan soal cinta aja ngeribetin satu kampung.


"Iya maap. Ndak lagi besok-besok, kan kalian tahu sendiri aku baru buka hati sekali ini." Jawab Nazra lirih seraya menunduk kan kepala. Ntah sedih ntah malu mana ada yang tau.


"Maapnya ndak ke kita Ra, tapi ke mas Faiz. Kasian tauk kalo misalnya dia beneran sayang sama kamu. Apa yang dia bilang itu ada benernya karena dia ndak mau bikin kamu kecewa nantinya." Ucap Caca.


"Iya mbak, besok aku temuin dia aku sungkem ke dia. Aku yang salah untuk hal ini, kan jadinya aku satu-satunya wanita yang salah kan biasanya wanita selalu benar." Ucap Nazra tanpa beban sedikit pun.


"Ngomong sekali lagi aku tampol gundulmu Ra." Ketus Panji yang mulai emosi akibat ucapan Nazra. Lagi dinasehatin malah bahas semboyan para wanita yang tidak pernah merasa bersalah.


"Iya lo maap, dahlah aku mau pulang capek jadi obat nyamuk segini banyak pasangan. Bagusan dirumah nyetrikain daleman." Pamit Nazra yang sudah perlahan menapakkan kaki meninggalkan tempat berbahagia sahabatnya itu.


____


Dengan gontai Nazra memasuki rumahnya dan segera mungkin menuju kamar untuk mandi supaya lebih segar, ya kalik sekalian buang hawa galau akibat tadi.


Mungkin ada baiknya juga sambil rebahan merenung kan apa yang seharusnya dilakukan dalam hubungannya dengan mas ojol ganteng sesuai saran dari para sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2