Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Persiapan


__ADS_3

^^^^^


Hari berganti, dua keluarga sudah sibuk mempersiapkan hal-hal yang memang diperlukan dalam acara lamaran nanti. Keluarga Nazra yang sibuk menyiapkan sambutan yang luar biasa dan keluarga Faiz sedang menyiapkan hantaran lamaran yang terbaik untuk calon menantu terbaiknya.


"Baju udah ready mbak setrika semuanya, makanan juga udah ready sama ibuk." Mela melaporkan hasil kegiatannya kepada Faiz sang komandan utama.


"Makasih ya mbak, lagi hamil gini sibuk bantuin aku." Jawab Faiz seraya tersenyum penuh terimakasih kepada sang kakak.


"Udah tenang aja kayak sama siapa." Jawab Mela tulus, demi adik tersayang nya yang baru pertama kali jatuh cinta apapun akan Mela lakukan untuk membantu Faiz mewujudkan keinginan nya.


"Anak bujang ibuk udah mau lamaran, sana temui bapakmu. Ada yang mau diomongin." Sambung Bu Leni dari arah dapur.


~~


Diteras rumah sudah ada bapak dan Edo tak lupa dengan keempat alien yang ntah kapan tiba dirumah Faiz. Dan tanpa dosanya udah main sruput kopi sambil nyemil rempeyek kacang.


"Sini duduk, bapak mau kasih wejangan ke kamu." Ucap Pak Ali menyuruh Faiz duduk disebelahnya.


"Mas juga dah kumpulin para pendahulu mu Iz." Sambung Edo dengan cengiran khasnya.


"Ndak usah repot repot mas, ngabisin gula hantaran malahan." Jawab Faiz cuek, sedangkan keempat alien itu hanya nyengir tanpa dosa.


"Mereka udah pengalaman Iz jadi ndak papa kamu belajar dari mereka hal hal berumah tangga." Tegas Pak Ali, kalo dibiarkan ajang ledek meledek sindir menyindir dibiarkan pasti sampek hotman paris jadi hotman spanyol juga ndak akan selesai.


"Iya pak." Jawab Faiz.


"Ini awal dari langkah mu Iz, dari sini perlahan namun pasti segala sesuatu dari calon mu akan menjadi tanggung jawab mu." Nasehat Bapak siang itu.


"Jadilah lelaki yang bertanggung jawab dek, apapun kekuarangan calon mu terimalah dengan apa adanya." Lanjut Edo sebagai kakak ipar menasehati Faiz juga.


"Ujian setelah lamaran itu banyak Iz, apalagi jika sudah dekat hari akad, hal kecil pun bisa jadi malapetaka." Sambung Ardi yang sudah 2 tahun berpengalaman menjalin rumah tangga.


"Kamu sebagai lelaki harus lebih bisa dewasa dan berpikir jernih, jangan sampai masalah yang kalian hadapi malah menjadi pertengkaran hebat nantinya." Kali ini Maulana yang bersuara.


"Menikah bukan hanya karena keinginan tapi adalah sebuah ibadah, saling membutuhkan dan harus di dasari dengan kepercayaan dan kejujuran antara kedua makhluk yang disatukan." Jelas Roy, kadangkala alien alien ini bisa sebijak ini ternyata.


"Ingat Iz, kamu boleh sadar diri tapi jangan keterlaluan. Jangan biarkan istrimu kelak merasa salah paham dengan perlakuan mu terhadapnya." Sederhana namun dapat menyadarkan Faiz, beginilah Eko. Nasehat yang diucapkannya merupakan hasil dari pelajaran masalalu yang didapatnya. Dan tentunya masa lalu Faiz.


"Dengerin Iz, mereka udah lebih dulu berada di posisi mu." Ucap Pak Ali.


"Makasih mas buat nasehat dan pelajarannya, mas Edo dan bapak makasih juga bimbingannya." Jawab Faiz dengan senyum manis, membuat diabetes maulana kambuh seketika.


"Kita berempat ngikut Is nanti malem." Ucap Ardi mewakili teman-temannya.


"Ndak usah ngerepotin, menuh menuhin tempat." Ketus Faiz dengan tatapan malas melihat keempat temannya yang sudah pasang mode puppy eyes.


"Inget istri sama anak ndak ada temen dirumah." Lanjut Faiz yang masih tak ingin mengajak keempat alien itu.


"Biarin aja Iz biar rame rombongan kita." Ucap Pak Ali yang diangguki Edo dan yang lainnya.

__ADS_1


"Lagian kata ibuk, istri dan anak mereka di suruh tunggu rumah disini." Jawab Edo yang semakin membuat keempat alien itu merasa menang.


"Terserah deh aku pura-pura ndak tahu ajalah, malu maluin awas aja nanti. Hutang makan diwarung aku tambahin bunganya jadi 20 ribu perminggu." Jawab Faiz dengan dingin dan datar. Namun ancaman itu tak mampu menggoyahkan keempat alien tanpa akhlak itu.



Dirumah Nazra sedang ada tukang dekor untuk acara lamaran tanpa sepengetahuan Nazra, bahkan teman-temannya juga sudah nangkring asik disana. Disaat semua sedang sibuk mengurus ini dan itu, Nazra masih mondar mandir gelisah. Dirinya sama sekali belum berterus terang kepada Faiz, keberanian untuk menghubungi Faiz belum terkumpulkan olehnya.



"Bilang ndak ya? Takutnya kalo ndak bilang mas Faiz dateng terus liat aku dia kecewa." Gumam Nazra masih sibuk memutar posnselnya.



"Kalo bilang? Aku masih takut." Lanjut nya lagi.



Nomer ponsel Faiz sudah terpampang di layar ponselnya, namun niat untuk menelpon belum sepenuhnya ada. Dengan tatapan mengarah pada satu stel brokat dan batik yang tergantung didinding kamarnya membuat dia gemetar dan tak sengaja memencet ikon pemanggil.



Mas Ojol🤍



"Halo assalamu'alaikum" Sapa Faiz diseberang telpon.




"Nara, Assalamu'alaikum?." Disapaan yang ketiga Nazra baru sadar bahwa dirinya sedang menelpon seseorang, dan betapa terkejutnya saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.



"Waa.. Walaikumsalam mas." Jawab Nazra gugup.



"Ada apa Ra?" Tanya Faiz dengan tenang karena dirinya sudah tau alasan Nazra menelponnya untuk apa.



"Mas sebelum nya aku minta maaf, untuk kejutan yang mas janjikan sebaiknya ditunda atau dibatalkan saja." Jawab Nazra lirih namun masih terdengar jelas oleh Faiz.



"Kenapa?" Tanya Faiz seolah dirinya terkejut dengan penuturan Nazra padanya.

__ADS_1



"Maaf mas jika ini mendadak, tapi nanti malam kenalan ayah yang akan dijodohkan denganku akan datang." Jelas Nazra dengan keberanian yang datang ntah dari mana, mata nya berkaca-kaca sekaan air mata sudah tak mampu lagi tertahan disana.



"Jadi kamu akan dijodohkan?" Tanya Faiz lagi, tak ada kalimat lain selain pertanyaan yang Faiz lontarkan. Kura-kura dalam perahu ni cebong.



"Iii ii ya mas, mungkin ini memang jalan takdir kita. Mas Faiz akan lamaran dan aku dijodohkan." Jawab Nazra bergetar menahan tangis.



"Ini pilihan yang terbaik untukmu dari kedua orangtuamu, jadi terilamalah dengan hati yang ikhlas. Aku akan tetap datang, kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." Jawab Faiz dengan tenang dan penuh kelembutan, tanpa Nazra ketahui Faiz sudah terkikik geli dengan ucapannya sendiri.


Dasar memuji diri sendiri yang terbaik, situ yang menyodorkan diri ke orangtua Nazra malah situ yang beranggapan pilihan terbaik dari orangtua Nazra.



"Sekali lagi maafkan Nara mas." Ucap Nazra yang sudah berurai air mata.



\--l


Sambungan telpon pun berakhir, Nazra menangis pilu dikamarnya sedangkan Faiz melompat riang gembira tak terkira seperti anakan monyet dapet pisang rasa mangga.



"Duh cup cup sayangku maap." Ucap Faiz seraya memandang photo Nazra diponselnya.



"Sedihmu akan hilang nanti malam sayang maap yaa untuk saat ini bersedih sedihlah dahulu." Lanjut Faiz lagi dengan senyuman yang memabukkan.



"Hehe Jahat banget ya aku, tapi ndak apalah namanya kebahagiaan harus diraih dengan kesakitan dahulu." Sadis, beginikah caramu menaklukkan permaisuri mu wahai pangeran kera?



Persiapan sudah 90% dijamin aman, tinggal berangkat ntar malam sehabis sholat isya. Keluarga Nazra juga udah siap lahir batin menyambut kedatangan pangeran dan rombongan.



Faiz menyiapkan diri dengan sebaik mungkin, dari cara bicara sampai berjalan pun dia persiapkan. Sedangkan Nazra berusaha memulihkan kantung matanya yang membengkak guna bertemu dengan Faiz. Persetan dengan calon yang dijodohkan dengannya, yang penting adalah bertemu dengan Faiz yang juga akan datang malam nanti.


__ADS_1


.


__ADS_2