
Semua berjalan dengan semestinya tanpa ada kendala, zona tekan yang dibangyn oleh Jazra semakinhari semakin kokoh pula. Faiz yang susah menerima pernyataan cinta dsri seorang perempuan perlahan sudah mulai membuka hati, namun hanya untuk bu dokter cantik Nazra Ayumna.
Lalu bagaimana dengan Nadia?
Gadis itu semakin hari bukannya bertaubat dan sadar diri malah semakin berulah tidak karuan. Bahkan kadang genk helm ijo tak segan ingin meruqyah anak juragan kebon pisang itu. Sudah berkali-kali ditolak oleh Faiz namun tak pula ada rasa malu hinggap pada dirinya.
"Bodo amat Nad, jijik saya jijik." Sarkas Faiz yang jengah mendengar aduan Nadia soal bullyan yang diterimanya.
"Kok mas Faiz gitu? Aku dibully sama temen-temen nya mas loh belain aku napa sih mas." Ucap Nadia dengan manja.
"Ndak peduli aku tu." Ketus Faiz yang berusaha menghindar dari Nadia siulet cabe.
"Yaudah kalo mas Faiz ga peduli aku bilangin bapak." Ancam Nadia dengan penuh penekanan. Kayak anak TK sih heran liatnya.
"Seterahmu Nad, aku dinosaurus pokoknya." Jawab Faiz seraya memakai helm hendak ngacir meninggalkan tempat suram itu.
"Kok dinosaurus Is?" Tanya Eko.
"Ndakngurus maksudnya dahlah." Jawab Faiz yang sudah menghidupkan sikupi.
"Mas Faiz mau kemana? Aku mau ikut." Teriak Nadia yang baru menyadari jika Fais sudah melajukan motornya. Namun yang dipanggil sama sekali tak menghiraukan dan tetap melanjutkan perjalanan, seandainya punya ilmu menghilang pasti sudah sejak tadi ngilang yakin.
___
Dan tanpa diketahui siapapun kecuali dirinya sendiri dan Allah, Nazra menyaksikan adegan barusan dari kejauhan. Ada rasa kesal dalam hatinya melihat pujaan hati didekati ondel-ondel taman kota.
"Dihh gatel banget, gatau apa itu calon suami aku." Gerutu Nazra sepanjang perjalanan hingga rumah, bahkan sekarang sudah selesai makan malam pun dirinya masih betah ngedumel akan hal yang sama.
"Kakak kumat Yah." Bisik Fatih kepada sang Ayah.
"Paling juga habis liat calon abang ipar mu digodain cewe lain." Tebak Pak Rizal tepat sasaran dan hanya ditanggapi anggukan oleh Fatih.
Dikamarnya, Nazra masih betah berguling kekanan dan kekiri sambil sesekali ngoceh nggak jelas. Sampai sang bunda masuk pun tak diketahuinya.
__ADS_1
"Kakak kenapa sih dari tadi ngomel terus?" Tanya bu Tika lembut.
"Ehh bunda, kapan kesini kok kakak ndak tau?" Bukannya menjawab Nazra malah balik nanya.
"Kamu ngedumel terus mana sadar bunda dateng. Sini deh cerita sama bunda ada apa." Ucap Bu Tika seraya duduk disamping Nazra.
"Lagi sebel aja bund, tadi tu ada perempuan gatel banget godain Mas Faiz." Adu Nazra sambil memanyunkan bibirnya dua senti.
"Terus Mas Faiz nya kegoda ndak?" Tanya Bu Tika.
"Ya ndak, tapi tetep aja sebel bun. Kakak ndak suka kalo ada perempuan deket-deket sama mas Faiz apalagi kayak itu tadi terang-terangan gitu godain didepan umum." Jawab Nazra masih mode badmood lewat batas normal.
"Gini deh, bunda mau tanya sama kamu. Emangnya kamu siapa nya mas Faiz? Sampek kamu harus sesebel itu?" Tanya Bu Tika yang seketika menohok perasaan Nazra. Selama ini dirinya tak sadar jika dia hanya sebatas teman. Dan malam ini apa? 1 pertanyaan yang bundanya lontar kan membuatnya sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa.
"Oke maafin bunda ya sayang, bunda cuma mau kakak sadar diri dan ndak terlalu berlebihan. Kecuali kalo kakak sama mas Faiz sudah ada hubungan yang lebih dari temen." Jelas Bu Tika saat melihat abak gadisnya terdiam membisu dan terlihat jika matanya juga sudah berkaca-kaca.
"Iya kakak tau kok bund. Bagaimanapun juga kakak sama mas Faiz masih sebatas temen ndak lebih. Tapi tetep kakak cemburu bund." Gumam Nazra pelan karena kegalauan sudah hampir menggerogoti hatinya.
"Jalanin aja yang sekarang dulu ya kak, mungkin seiring berjalannya waktu juga akan ada kejelasan dan kepastian antara kakak dan mas Faiz." Nasehat Bu Tika dengan penuh kasih sayang.
"Semoga ya bund, cinta nya dokter Nazra harus mas ojol Faiz pokoknya." Ucap Nazra dengan penuh pemaksaan dan hanya ditanggapi senyum hangat oleh Bu Tika.
Ditempat lain, Faiz juga sedang dilanda gundah gulana sampai sampai bikin kopi saja bukannya dikasih gula malah dikasih ajinamoto.
"Fais ngapain kamu? Masak cangkir ditaburin ajinamoto?" Tanya Bu Leni berkerut kening.
"Bikin kopi lah Buk." Jawab Faiz tanpa dosa.
"Bikin kopi ya campurannya gula bukan ajinamoto toh is ada ada aja kamu." Ucap Bu Leni.
"Udah ganti ya buk?" Tanya Faiz dengan muka yang masih polos dan datar tanpa sedikit noda dosa.
"Sejak jamannya gatotkaca makan tiwul juga gitu is." Sewot Bu Leni.
"Ada apa sih ini? Ibuk sama Faiz kok malah ribut malem malem?" Tanya Pak Aji yang heran melihat istri dan anaknya berdebat dikala hari gelap.
__ADS_1
"Itu bujang bapak bikin kopi pakek ajinamoto." Jawab Bu Leni sambil menunjuk Faiz.
"Bujang ganteng, kamu lagi galau ya?" Tanya Pak Aji dan langsung diangguki Faiz.
"Yodah yok kedepan kita podcast an bareng." Ajak Pak Aji sebelum berlalu meninggalkan dapur.
Tak berselang lama, Bu Leni dan Faiz menyusul Pak Aji keruang keluarga. Disana Pak Aji sudah duduk anteng bersila dan bersandingan dengan Bu Leni serta Faiz yang sudah siap sedia mencurahkan isi hati dan otaknya.
"Monggo nak bujang dipersilahkan curhatnya." Ucap Bu Leni membuka obrolan.
"Pak Buk, Faiz mau nanya soal masa depan nih." Ucap Faiz.
"Nyuci sarung aja males sok bahas masa depan." Sindir Bu Leni yang membuat Faiz nyengir merasa malu dan bersalah.
"Biarin aja buk, tumbenan loh anak bujang mau curhat." Ucao Pak Aji menengahi.
"Jadi gini pak, bagusnya aku ajak buk dokter pacaran dulu apa langsung lamar?" Tanya Faiz to the point yang seketika membuat bu Leni mesam mesem serta Pak Aji yang melongo.
"Kamu beneran? Yakin sama bu dokter?" Tanya Pak Aji masih ragu akan ucapan Faiz.
"Ibuk udah yakin pak, lagian mereka cocok kok." Sambung Bu Leni.
"Bukannya gitu buk, gini loh Is apa kamu beneran sama buk dokter? Ya bapak cuman ndak pengen aja gitu cintamu kandas karena perbedaan harta benda." Ucap Pak Aji serius.
"Ya bener toh pak, kalo main-main ndak mengkin juga Faiz bilang ini ke bapak sama ibuk." Jawab Faiz tegas dan mantap lahir batin dari lubuk hati yang terdalam.
"Ya tapi Is..."
"Tapi apa pak? Bapak gak restuin Faiz sama Bu dokter?" Tanya Faiz memotong ucapan Pak Aji.
"Kalo ibuk mah restuin is udah aman kalo sama ibuk. Tapi kalok bapak mu ndak ya ibuk bisa apa is." Ucap Bu Leni memberi dukungan Faiz namun sedikit membuat Faiz patah semangat.
"Bapak bener ga restu?" Tanya Faiz sekali lagi.
"Yaaa gimana ya Is bapak itu...."
__ADS_1
___
Hehe gantung lagi ah biar cepet kering lagi musim ujan soalnya😆