Dokter Cinta Mas Ojol

Dokter Cinta Mas Ojol
Ojol Cinta 12


__ADS_3

** __ **


Hari ini seperti biasa Faiz menjemput Nazra kerumahnya, karena diibaratkan sudah taken kontrak jadi mau tidak mau Faiz harus bersikap profesional walaupun hatinya sedang dilanda kegalauan.


Sebenarnya tak ada yang berubah hari ini, semua nya masih sama saja seperti sebelumnya. Si kanjeng ibu sudah normal kembali, Faiz juga belum dicoret dari KK ataupun silsilah keluarga dan sikupi juga masih hitam tentunya.


Tapi hati Faiz lah yang sepertinya sedikit ada perubahan sejak mendengar kabar berita bahwa buk dokter cantik idaman hati sudah memiliki doi. Dengan langkah yang berat Faiz melajukan motornya menuju dimana Bu Dokter Cantik tinggal.


"Pagi mbak." Sapa Faiz lesu tak seperti biasa yang selalu sumringah bagai mendapat arisan gula dan tepung.


"Pagi, kok mas nya lesu? Masnya sakit?" Tanya Nazra dengan kekhawatiran yang tiba-tiba muncul tapi registrasi terlebih dahulu.


"Nggakpapa mbak." Jawab Faiz cuek, sontak itu membuat Nazra sedikit merasa kecewa atas sikap Faiz kepadanya.


"Mm ya.. Ya udah kalo gitu." Ucap Nazra seraya meraih helm yang dipegang Faiz.


Tanpa basi basi, Faiz langsung menjalan kan sikupi menuju tempat praktek Nazra. Setelah sampai Faiz tak lupa berpamitan seperti biasa dan Nazra mengucapkan kalimat terimakasih. Tapi kali ini adegan yang biasanya ada senyum dan tawa seketika berubah menjadi lebih dingin dan menegangkan.


"Saya permisi buk dokter." Ucap Faiz yang sudah siap sedia menjalankan motor nya.


"Iya terimakasih. Ha..." Ucap Nazra tak berlanjut karena Faiz sudah lebih dulu menganggukkan kepala dan berlalu meninggalkan Nazra.


"Hati hati." Gumam Nazra pelan dengan rasa kecewa hinggap dalam hati nya. Tak biasanya Nazra akan mengucap kan hati-hati untuk Faiz, tapi hari ini ntah angin apa membuat nya ingin mengucapkan kata itu namun malah terjadi hal menyakitkan ini.


Dengan mood yang bagaikan roller coaster Nazra menjalani tugasnya dengan seprofesional mungkin. Karena jika dirinya mencampur kan masalah pribadi kedalam masalah pekerjaan nya sebagai dokter maka bisa mengakibatkan masalah yang fatal.


Sorenya Nazra dan Caca berkumpul disebuah cafe bersama Panji dan Rido. Disaat ketiganya bercanda dan ngobrol sana sini, Nazra hanya diam dengan banyaknya hal mengenai kenapa Faiz berubah berkecamuk dalam pikirannya.


"Hufftty blulup blulup." Bunyi air yang ditiup dengan sedotan membuat 3 umat bersahabat itu menghentikan aksi berbagi candanya. Dan melihat siapa pelaku dari kegiatan unfaedah itu.


"Jorok Ra, udah ditiupin gitu nanti diminum lagi." Ucap Panji yang melihat tersangka peniupan air dengan sedotan itu yang ternyata adalah Nazra.


"Masih enak ya diminum timbang mubazir." Jawab Nazra tanpa niat mengobrol.


"Kamu kenapa sih Ra, mbak liat sejak pagi kucel gitu mukanya. Ada masalah?" Tanya Caca seraya merapikan rambut Nazra.


"Gak ada." Jawab Nazra datar.


"Beneran gak ada?." Tanya Panji memastikan kembali namun hanya dibalas dengan deheman oleh Nazra.


"Doi kamu punya selingkuhan? Atau ninggalin kamu gitu aja? Atau malah dia udah mau nikah." Ucap Rido yang seketika membuat mood Nazra yang sudah suram menjadi lebih hancur.


"Nggak usah sok ngomong kayak gitu, nggak faedah." Ketus Nazra yang menatap sinis Rido.


"Kenapa kok marah, kan cuma nebak. Berarti bener ya hayoloh." Tambah Rido yang sengaja memancing amarah Nazra.


"Kayak ngerasa dirimu paling bener aja." Sarkas Nazra membuat Rido terdiam. Tapi itu hanya sesaat dan kemudian Rido kembali melontarkan kalimat yang membuat Nazra menjadi lebih murka.


"Kamu kayak gini emang bener cinta bertepuk sebelah tangan sama doi? Itu karma berati kalo iya." Ucap Rido dengan santainya.

__ADS_1


Sedangkan Caca dan Panji hanya melongo tak percaya dengan kelakuan Rido yang berubah drastis, seperti apapun keadaannya Rido akan selalu bersikap lembut terhadap Nazra bahkan berkali dirinya ditolak tetap tidak akan pernah menyakiti atau menyinggung hati Nazra. Akan tetapi kali ini sudah keterlaluan apa yang terlontar dari mulut Rido disaat Nazra sedang dalam mood yang kurang baik.


"Aku pulang." Ucap Nazra yang kemudian berlalu meninggalkan cafe itu. Caca sempat hendak mengejar tapi ditahan oleh Panji.


"Biarin aja, dia butuh waktu sendiri." Ucap Panji kepada Caca tunangan nya.


"Tapi dia lagi gak baik baik aja aku khawatir." Jawan Caca cemas.


"Udahlah dia bakal aman." Sambung Rido


5 menit 10 menit 15 menit berlalu begitu saja tanpa ada obrolan antara Panji, Caca dan Rido. Hingga di menit ke 18 Panji mengawali pembicaraan nya.


"Kamu kenapa bersikap kayak gitu tadi? Bukan nya kamu pernah bilang kalopun kamu ditolak berkali-kali kamu gak akan pernah nyakitin dia? Demi persahabatan yang udah kalian jalanin?" Tanya Panji dengan sebisa mungkin tidak termakan emosi.


"Iya, kamu kenapa tega kayak gitu sekarang Do? Aku gak nyangka kamu sejahat ini. Padahal Nara nolak kamu baik baik dan alasan dia juga masuk akal." Tambah Caca yang sudah hampir menangis karena terlalu cemas.


"Hati manusia siapa yang tau." Sinis Rido menanggapi ucapan kedua sahabatnya itu.


_____


Dirumah, Nazra sedang terduduk diatas rerumputan taman belakang rumahnya ditemani kucing persia peliharaan sang ayah.


Dengan mood yang masih berantakan, Nazra sesekali bergumam melepaskan uneg unegnya. Dari perasaan bingungnya kenapa Faiz cuek padanya, dari sakit hati karena Rido mengatakan jika Faiz memiliki pacar atau selingkuhan.


"Hiiihh kenapa kayak gini toh." Gumam Nazra seraya mengacak acak rambutnya dengan geram.


"Cacing nyamuk lalet kasih saran dong aku ni gimana?" Tanya Nazra kepada angin yang berhembus agar tersampaikan kepada Cacing nyamuk dan lalat.


"Terus tadi Rido bilang dia punya pacar selingkuhan, aku pengen marah tapi lagi lagi aku siapanya?"


"AKU TU GAK BISA DIGINIIN, CIMOLL AKU KUDU GIMANA?" Teriak Nazra dengan segala kefrustasiannya yang sudah diambang batas maximum.


"CIMOL JAWAB! AKU GAK BISA DIGINIIN!!!“ Pekik Nazra lagi seraya mencekik si cimol kucing persia milik sang ayah.


Ngeong ngeong!!!!


" Heh itu kucing ayah kak kenapa dicekik?" Kaget Pak Rizal dari arah dapur.


"Kucingnya gak mau jawab kakak yah." Ucap Nazra yang masih mencekik si cimol dengan ganas.


"Istighfar anak ku sayang, ngucap nak sadar." Ucap Pak Rizal seraya mengelus pucuk kepala Nazra dengan lembut.


Perlahan Nazra mulai tenang dan melepaskan sicimol yang malang. Dengan menghembuskan nafas berat berkali kali Nazra mulai menjatuhkan dirinya kepelukan sang ayah yang duduk disebelahnya.


"Anak ayah kenapa hmm? Stetoskop nya ilang lagi? Atau alat pengukur tensinya udah rusak?" Tanya Pak Rizal beruntun namun hanya direspon gelengan ajeb dari Nazra.


"Terus kenapa kakak sayang?" Tanya Pak Rizal kembali.


"Yah, kakak salah ya kalo kecewa sama seseorang?" Tanya Nazra lemah.

__ADS_1


"Emang orang itu apain kakak?" Tanya Pak Rizal.


"Dia cuekin kakak, padahal kakak gatau apa salah kakak." Jawab Nazra.


"Emang siapa sih orang nya?" Dengan lemah lembut pak Rizal kembali bertanya.


"Mas ojol yang tiap pagi jemput kakak." Jawab Nazra dengan polosnya membuat Pak Rizal sedikit tersentak. Ada pulak di cuekin driver ojol sampek nangis gini.


"Ya sadar sih Nara bukan siapa-siapa nya tapi kan biasa nya dia ramah sama Nara, Yah." Ucap Nazra kemudian karena tak mendapat respon dari sang Ayah.


"Mm Nara, jawab ayah jujur ya nak. Kamu suka sama mas ojolnya?" Tanya Pak Rizal hati hati agar tak membuat sang putri kembali terusulut guncangan mood yang tidak karuan bagai badai tornado.


"Nggak tau yah. Tapi aku gak bisa dicuekin." Jawab Nazra.


"Kamu aja gatau perasaan kamu gimana, jadi ya hak mas ojolnya dong mau cuek atau ramah ke kamu ya toh?" Jawab Pak Rizal memberikan pencerahan kepada sang putri.


"Halah ayah nih malah gitu. Sebel." Ketus Nazra yang kemudian berlalu menuju kamarnya.


"Dasar aneh, bukan siapa-siapa kok dicuekin ngambek minta perhatian." Gumam Pak Rizal seraya memandang langkah kaki Nazra.


"Emang ada penumpang minta diperhatiin lebih sama driver ojek online orderannya? Waras ndak toh anak gadis ku itu." Sambungnya lagi dengan gelengan kepala heran heran sedep.


_____


"Cuek aja teros besok ketemu tak sunat kamu mas ojol." Geram Nazra didepan cermin.


"Tak cincang itu mu sampek halus pokoknya. Ehhh tapi nanti gak punya itu gak bisa buat pegangan kalo malem nggak enak gak seru. Yuhhh gimana toh aku ni gimana gimana." Gerutu Nazra semakin galau dan frustasi pengen makan sabun mandi tapi sabunnya cair jadi gak bisa dimakan tapi bisanya diminum.


"Aku gak mau diginiin, maunya kayak biasanya dikasih senyum dipasangin helm diucapin selamat pagi, disemangatin." Gumam nya lagi masih menggebu-gebu.


Selama hampir setengah jam dirinya berdiri didepan cermin sambil tanya jawab dengan dirinya sendiri, seolah olah dirinya sedang berbincang dengan bayangan nya yang ada dicermin tersebut. Tanya sendiri jawab sendiri, seperti orang gila memang sidokter satu ini, mungkin dirinya siang tadi salah minum cairan infus makanya sableng seperti sekarang.


"Kamu tu siapa nya dia Ra?"


"Ya bukan siapa-siapa tapi maunya gak dicuekin."


"Kamu dan dia cuma sebatas driver ojek onlien sama penumpangnya, gak usah nglunjak."


"Ya tetep aku gak mau dicuekin salah aku apa toh".


" Salah mu egois, hubungan gak spesial minta yang diperlakukan spesial, nyadar."


**


"Kok aku kayak orang sableng ya?" Ucap Nazra setelah tersadar dengan kelakuan nyeleneh nya sejak tadi.


"Ni cermin ngapa juga diem aja gak negur."


"Aku nanya sendiri tak jawab sendiri, kayak orang keracunan betadine aja ngefly ngefly halusipudin." Gumam Nazra yang kemudian merebahkan diri.

__ADS_1


Tak terasa karena saking galaunya, Nazra tertidur lelap. Bahkan makan malam pun terlewat kan olehnya. Setidaknya dengan begini dia lupa bahwa mas ojol tambatan hati telah cuek kepadanya tanpa alasan yang jelas.


__ADS_2