
Semenjak hari dimana lampu hijau telah dinyalakan, kedekatan Nazra dan Faiz pun juga semakin hari makin akrab saja. Bahkan mereka tak segan untuk saling menggoda atau menggombali satu sama lain.
Entah melalui whatsapp atau sekedar videocall atau telepon biasa kini keduanya sudah saling berkomitmen untuk berbagi kabar disaat apapun dan kondisi yang bagaimana pun, apalagi jika Faiz sudah berangkat untuk kembali ngojek maka Nazra akan menuntut kabar dari Faiz tentang keberadaan nya sekarang. Jatuhnya SJ182 membuat semua makhluk menyadari sebuah arti kata "kabarin aku ya kalo sudah sampai".
" Pokoknya nanti kabarin aku ya masnya." Ucap Nazra setelah turun dari motor Faiz.
"Emang selama ini masnya kurang ngabarin gimana?" Tanya Faiz saat sekalian membantu Nazra membuka Helm. Duh aduh manja sekali kamu Nazra.
"Ya kan manatau masnya khilap, kan dedek nggak bisa kalau nggak dikabarin." Jawab Nazra dengan sok merajuk.
"Wuluh wuluh jijik dengernya." Ucap Faiz seraya menggelengkan kepala menggoda Nazra.
"Kan gitu loh kalo diajakin yang uwuww dikit ngerusak suasana aja." Dengan perasaan sebal Nazra melenggang pergi memasuki klinik tanpa berniat berpamitan pada Faiz seperti biasanya.
Dan nggak ngakhlak nya lagi si Faiz bukannya membujuk malah bersikap profesional sebagai driver ojol pada umumnya, sontak itu membuat Nazra semakin jengkel dibuat nya.
"Loh loh kok balik lagi? Parfum yang nempel dijaket masnya mau diambil ya?" Tanya Faiz tanpa dosa sedikit pun saat melihat pujaan hatinya putar balik.
"Lupa belom salim." Ketus Nazra seraya meraih tangan Faiz lalu menciumnya, uluh so sweet istri idaman emang awuwuuuu.
"Kirain emang udah gak mau salim heheh." Jawab Faiz seraya mengacak rambut Nazra penuh kelembutan.
"Ya walaupun ngambek gak boleh lupa kewajiban, lagi pula kan sekalian gladiresik jadi istri idaman." Cerocos Nazra yang masih mode ngambek. Bisa ya keadaan ngambek masih inget kewajibannya ouwah hebat sekali.
"Uhh idaman sekali wkwkwk." Ucap Faiz dengan tawa renyahnya.
"Yodah, semangat kerjanya jangan judes ke pasien tapi jangan terlalu ramah juga ntar malah ada yang naksir lagi." Lanjut Faiz yang hanya dibalas anggukan oleh Nazra.
__ADS_1
Setelah kepergian Faiz, Nazra langsung menyusul Caca yang sudah lebih dulu berada di klinik. Akhir-akhir ini memang sedikit menyebalkan bagi Caca, yang biasanya buka klinik gantian sekarang harus dia setiap pagi. Ya apalagi kalau bukan karena Nazra yang seenak jidad mengawali pagi dengan berpacaran.
"Assalamu'alaikum mbak Caca." Sapa Nazra riang penuh gembira tanpa dosa.
"Waalaikumsalam, hmm lebih lambat 5 detik." Sindir Caca.
"Hehe maklum lah mbak yah, nih aku bawain sarapan." Rayu Nazra dengan menyodorkan sebungkus lontong pical dimeja kerja Caca dengan diiringi senyum termanis.
"Nyuap terus tiap hari." Gerutu Caca tidak terima namun tetap saja tubuh itu tidak dapat berbohong. Walaupun mulut tetep manyun dengan sesekali menggerutu tapi tangan dengan lancar meraih bungkusan itu.
"2 minggu lagi mau nikah jangan kebanyakan menggerutu ntar jadi keriput loh." Goda Nazra seraya meninggalkan meja Caca.
_____
Sehari sudah terlewati dengan lancar, banyak pasien yang datang namun tak membuat Nazra maupun Caca merasa lelah. Mungkin karena musim hujan jadi banyak orang sakit, tapi dengan inilah rezeki Nazra dan Caca diturunkan Allah.
Sedangkan Faiz masih dibasecamp helm ijo merebahkan punggungnya yang kaku akibat kebanyakan mengendarai sikupi mengantarkan penumpang. Bukan tidur tapi hanya rebahan, karena suasana yang bising mana bisa tidur apalagi banyak pertanyaan yang terlontar untuknya mengenai kelanjutan kisah cinta mas ojol dan dokter cantik.
"Gimana Is?" Tanya Ardi tiba-tiba.
"Apanya yang gimana mas?" Bukannya menjawab, Faiz malah balik bertanya.
"Mas Ardi, kalo mau nanya yang jelas. Ya nggak ngab?" Sambung Maulana seraya meminta persetujuan dari Faiz.
"Lah iya bener." Jawab Faiz.
"Gini lo kaum otak kecil, yang dimaksud Ardi itu gimana hubungan kamu Faiz sama bu dokter cantik?" Jelas Roy dengan penekanan pada setiap ucapannya.
"Oalah, masih aman-aman aja nggak ada apa-apa." Dengan senyum cerah Faiz menjawab pertanyaan yang terlontar untuknya. Tidak ada pembohongan dari jawaban Faiz karena memang benar adanya dia dan bu dokter masih dalam zona aman dan lebih tepat nya zona teman calon istri idaman.
__ADS_1
"Kalo kamu ga lanjut sama bu dokter bagusan sama Nadia aja ngab, dari pada jomblo." Sambung Eko yang kemudian langsung mendapatkan jitakan keras dikepalanya.
"Sembarangan, nggak setuju aku. Cewek gatel kurang garuk gitu. Ndak ndak." Heboh Maulana yang tidak terima. Bahkan Roy dan Ardi juga sudah ancang-ancang untuk memukul Eko jika dia sekali lagi mengatakan hal mengenai Nadia.
"Ya Allah gusti, bagusan juga aku jomblo mas Eko. Suwer deh." Ucap Faiz bergidik, ntah ngeri ntah jijik siapa yang tau.
"Lah dia ngejar kamu terus Is, kasian lo liatnya kayak cacing kremi." Ucap Eko sekali lagi dengan tanpa dosa.
"Ulet cabe suruh nerima mas ya moh aku. Aku mau perjuangin bu dokter aja." Jawab Faiz dengan penuh kemantapan.
"Bener Is aku setuju, Eko ndak usah didengerin bikin greget sendiri." Sambung Ardi.
"Andainya dia mau jadi istri ke dua ku, dengan tegas aku menolak. Mending istri ku walaupun galak tapi ndak gatel." Lanjut Maulana.
"Udahlah kamu perjuangin yang pasti aja Iz jangan sama si Nadia ulet bulu." Nasehat Roy untuk Faiz.
"Siapa yang ulet bulu?"
_____
🙈🙉🙊 (Celingukan kanan kiri memantau situasi dan kondisi)
Alhamdulillah masih aman belum berdebu belum berhantu🤭
Assalamu'alaikum warga🙏 gimana sehat? selama pandemi udah rapid dan swab berapa kali? masih aman kan lubang hidung dan tenggorokan nya?😁 (skip dah kagak penting)
Warga ku yang terzheyeng maap kan aku yang baru nongol setelah sekian lama menghilang bagai ditelan bumi, semoga kalian semua tidak meninggalkan aku disini sendiri meratapi kesunyian ini☺
Baiklah saya tidak akan memperpanjang kata muqodimah, demikian saya ucapkan salam kangen dan beribu maaf, sekian dari saya dan saya ucapkan terimakasih, Wassalamualaikum.
__ADS_1