
---- _____ -----
Sesampainya ditempat tujuan, Nazra langsung turun dari mobil tanpa menunggu ketiga temannya. Dengan sedikit rasa dongkol dan was-was, Panji, Caca dan Rido akhirnya mengikuti langkah kaki Nazra yang berakhir disalah satu warung tenda bermerek pecel lele barokah dengan spanduk bergambar bebek dan ayam mengihiasi warung tenda sederhana itu.
“Mas, pecel ayam kampung nya 1 ya, sambelnya yang pedes.” Ucap Nazra memesan menu makan siangnya.
“Lalap nya lengkap mbak ?” Tanya mas-mas pecel lele yang tak lain adalah Edo, kakak ipar Faiz suami dari mbak kandungnya Faiz menantunya Pak Aji dan Bu Leni.
“Seperti biasa mas.” Jawab Nazra yang sudah duduk nyaman dengan kerupuk ditangannya.
“Mas dan mbaknya pesen apa ?” Tanya Edo kepada Panji, Rido dan Caca.
“Samain aja mas.” Jawab Panji yang diangguki oleh Rido dan Caca tanda setuju.
Sambil menunggu pesanan, keempat umat itu tak ada yang membuka suara karena sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Panji yang sibuk ngegame, Caca yang sibuk scroll beranda online shop dan Rido yang tengah asik berbalas chating dengan gebetan baru. Untuk Nazra jangan tanya sedang apa, sudah pasti dokter cantik peranakan dosen itu sedang asik sendiri ngemil kerupuk dibumbui dengan khayalan tingkat tingginya.
“Ini pesanannya Mbak, Mas.” Ucap Edo menghentikan aktivitas ke empat makhluk itu, dan ternyata dibelakang Edo berdiri seorang paruh baya yang juga sedang membawakan dua piring lagi.
“Eh bu dokter, silahkan dinikmati.” Ucap paruh baya itu dengan ramah seraya meletakkan sepiring pecel ayam dihadapan Nazra.
“Terimakasih pak.” Jawab Nazra dengan sangat ramah.
“Sama-sama bu dokter, Mas dan mbak nya juga silahkan dinikmati.” Ucap Paruh baya yang ternyata adalah Pak Aji, bapak dari si Faiz.
“Terimakasih Pak,” Jawab Panji dan Rido bersamaan, sedangkan Caca hanya merespon dengan anggukan serta senyum sopan.
“Oh ya pak, panggil Nara aja ya.” Pinta Nazra kepada Pak Aji.
“Tapi Bu Dokter.”
“Pokoknya panggil Nara aja.” Kukuh Nazra dan hanya diangguki oleh Pak Aji.
Setelah itu Pak Aji kembali melakukan kegiatannya dikarenakan ada pelanggan lain yang baru datang. Disela-sela makan mereka, Panji memulai obrolan dengan mengungkit segelintir kalimat yang keluar dari mulut Panji saat dimobil tadi.
“Heh Doremi, kamu tadi bilang kalo udah move on udah punya doi mau nikah juga, siapa sat ?” Tanya Panji kepada Rido.
“Kepo banget kamu Nji, kejutan besok dong.” Jawab Rido santai.
“Ketularan Nara nih bocah sebiji heran litanya, ditolak berkali-kali malah ketular virus.” Ucap Caca.
“Loh gimana ?” Tanya Rido masih dengan sikap santai ala dipantai.
__ADS_1
“Paling juga masa lalu esempe.” Ucap Nazra asal tebak, namun satu kalimat super simple itu mampu membuat Rido diam seribu kata seraya memandang Nazra dengan tatapan tak biasa, dan bisa diartikan seperti dengan ‘Tau dari mana lu?’.
“Napa kamu liatin aku kayak gitu ? pengen nih tulang ?”Ucap Nazra lagi sambil menunjukkan secuil tulang ayam digenggamannya.
“Ohhh kalo tatapannya gitu, kayaknya yang dibilang Nara bener ini.” Sambung Caca dengan sok tegas dan misterius.
“Jawab gak Do, awas aja kalo kamu sembunyiin sesuatu dari kita.” Ancam Panji dengan tegas membuat Rido tak punya nyali untuk mengelak.
“Iya, yang dibilang Nara bener. Selama ini aku gak sadar kalo perasaan ku ke seseorang dimasa lalu itu beda dengan perasaan ku ke Nara. Tapi aku sekarang udah menyadari semua itu, perasaan ku kedia lebih dari sekedar suka dan sayang.” Jelas Rido setelah acara makan nya sudah selesai.
“Tapi masa lalu esempe nya siapa ? kok aku lupa ya.” Gumam Caca.
“Masak nggak inget kalian ?” Tanya Rido.
“Tunggu bentar, muka nya inget sih samar-samar tapi namanya lupa.” Jawab Panji seraya mengingat seputar kisah cinta kera dimasa lampau.
“Masalalu nya Rido ya Trio lah siapa lagi.” Ucap Nazra dengan lantangnya.
“Kok Trio ?” Beo Caca dengan mengerutkan dahinya tanda tak paham dan tak tau.
“Njim asal nyablak aja, Tria woy ngapa jadi Trio ?” Ketus Rido tidak terima doinya diganti nama, emang mau akikah lagi apa, nyembelih zebra.
“Bangs*t mulutnya salah sebut nama, ngerubah gender.” Gumam Panji tak habis pikir dengan kehebatan mulut si dokter yang satu ini. Bisa-bisanya punya mulut sampai typo gitu, gimana kalo pas ada pasien bisa jadi salah diagnosa nih bocah.
“Lah emang Trio siapa ?” Tanya Nazra polos tanpa noda karena sudah pakai rinso.
“Trio tu yang dagang cilok diperempatan esede itu ha yang sekarang anaknya 6 biji.” Jawab Rido dengan sedikit kesal.
“Yang kalo ditawar 2000 dapet 16 biji,, tapi sama tu orang malah dikasih 19 biji ya ?” Tanya Panji mengenang kebej*tanya semasa esede.
“Ouh yang pas kita kelas 6 anaknya kelas 4, terus ngompol dia pakek kantong plastik item ya nggak sih ?” Lanjut Caca.
“Ha iya bener banget.” Jawab Rido yang sudah tertawa.
“Kalo Tria siapa ?” Tanya Nazra yang lagi-lagi memasang tampang polos-polos bengek.
Jika bukan teman mungkin Rido, Panji dan Caca sudah memasukkan Nazra kedalam air kobokan dan kemudian dibuang kedalam selokan agar dibawa hanyut oleh kecebong menuju sungai yang penuh dengan sampah masyarakat.
“Tria itu love monkay aku waktu esempe dan sekarang jadi pacar beneran bahkan kandidat calon istri.” Jelas Rido panjang lebar agar Nazra cepat paham.
“Sudahkah paham Bu Dokter ?” Tanya Caca penuh dengan penekanan.
__ADS_1
“Skip, ganti topik.” Tegas Panji yang sudah mulai jengah dengan obrolan kali ini.
“Nazra gantian noh di intro Nji, jangan aku terus.” Ucap Rido menunjuk Nazra yang duduk dihadapannya.
“Oke, Ra kamu tadi bilang kalo kamu seneng mas ojol kecelakaan karena biar bisa deket sama dia, maksud mu gimana ?” Tanya Panji mengintrogasi Nazra.
“Jelaskan sejelas-jelasnya.” Titah Caca garang bagaikan ibu tiri.
“Mas Ojol ??” Tanya Nazra dan diangguki ketiga temannya.
Bukannya menjawab, Nazra malah diam dan celingukkan sana sini seperti sedang mencari seseorang. Bahkan tatapan tajam dari ketiga temannya pun tak ia hiraukan, baginya hanya apalah yakan gambar dua dimensi transparant yang gak keliatan karena ketutup daun pisang bekas alas piring.
“Bukannya jawab malah celingukan kayak maling daleman dikejar satpol pp aja.” Sindir Rido.
“Pak sini.” Panggil Nazra kepada Pak Aji yang baru keliatan.
“Ada apa bu dok eh Nak Nara.” Jawab Pak Aji canggung.
“Duduk sini pak.” Ucap Nazra seraya menunjuk kursi disebalahnya yang masih kosong hasil nyomot dari meja sebelah.
“Makasih nak, ada yang bisa bapak bantu ?” Tanya Pak Aji ramah.
“Mas ganteng udah sembuh pak ?” Bukannya menjawab pertanyaan orangtua malah gantian nanya, durhaka juga nih Nazra.
“Oh mau nanyain keadaan bujangnya bapak toh, Alhamdulillah udah mendingan walaupun ya masih belum kering lukanya.” Jelas Pak Aji menjawab pertanyaan Nazra.
“Belum kerja kan pak ?” Tanya Nazra lagi.
“Belum, katanya gak kerja dulu sampai sembuh. Soalnya dia bilang sama bapak sembuhnya kalo bu dokter cantik jengukin.” Jawab Pak Aji sambil terkekeh geli, sedangkan Nazra sudah memperlihatkan penampakkan dengan rona merah muda dipipinya.
“Besok otewe kerumah pak, tapi bapak jangan bilang dulu ya.” Ucap Nazra yang kemudian menyambar tangan Pak Aji berpamitan.
“Kamu kenal sama bapaknya ini Ra ?” Tanya Panji penasaran.
“Calon bapak mertua.” Jawab Nazra santai tanpa dosa sedikit pun dalam kamus hidupnya hari ini.
“Waduh, gercep amat dokter satu ini.” Gumam Caca memandang Nazra dan Pak Aji kagum.
“Pulang dulu ya pak, kuy balek. Doremi bayar.” Ucap Nazra yang kemudian berlalu keluar dari warung tenda itu.
“Selamat ya pak, bapak mendapatkan kandidat calon menantu seorang dokter yang otak besar nya mengecil dan otak kecilnya menghilang.” Ucap Rido seraya menyerahkan selembar uang 100 ribu kepada pak Aji dan hanya ditanggapi dengan senyum ramah oleh Pak Aji.
__ADS_1
Setelah membayar, kemudian ketiganya keluar dari warung tenda tersebut dan menyusul Nazra yang sudah jalan lebih dulu. Namun saat sampai dimobil, terlihat Nazra yang sudah menjauh pergi dengan membonceng seseorang, dan sudah dipastikan bahwa orang itu adalah tukang ojek.
Kurang ajar memang, dia yang ngajakin makan tapi orang yang bayar. Dan sekarang apa, setelah ditraktir dirinya kabur duluan tanpa pamit. Bener bener dokter minim akhlak jika kepada teman sendiri. Semoga saja Bapak pemilik pecel lele barokah tadi tidak akan menyesal memiliki kandidat calon mantu seperti Nazra Ayumna yang otak nya sudah tergadai untuk biaya kuliah kedokteran.