
Setelah tragedi pelukan dadakan yang menimbulkan darah pada luka Faiz, kini Nazra hanya mampu terdiam membisu karena rasa bersalah dan rasa malu yang mengisi hati serta pikirannya. Sedangkan Faiz tak henti-hentinya mengulas senyum tipis saat mengingat kejadian tak terduga tadi, ternyata musibah yang menimpanya membawa sebuah berkah yang indah.
“Ngerasa bersalah pastikan ? malukan ? hayoloh.” Goda Faiz kepada Nazra yang hanya terdiam dan fokus menyetir mobilnya guna mengantar Faiz pulang sebagai permintaan maafnya karena telah membuat luka ditangan Faiz semakin parah.
“Bodo amat”. Ketus Nazra dengan raut muka cemberut, bahkan bibirnya dimaju majukan seperti bebek dan itu membuat Faiz tak sanggup menahan senyumnya karena merasa bahwa Nazra sangat lucu.
“Ngambek nih yee, dokter cantik ngambek ihhh gemes banget sih jadi pengen nampol.” Ucap Faiz yang semakin menjadi-jadi menggoda Nazra.
“Sunat pakek pisau daging mau? sampek putus abis kepangkal ?” Sinis Nazra dengan melirik sekilas manusia yang disebelahnya.
“Aduh ngilu, masa depan ini neng main potong aja.” Jawab Faiz seraya memegang pusakanya dengan kedua tangan seolah melindungi masa depan yang menjadi incaran dokter cantik pujaan hati.
“Makanya jangan bikin kesel.” Ucap Nazra masih dalam mode bête.
“Utuk utuk sini peyuk dedek manis.” Ucap Faiz dengan kekehan geli tak menyangka bahwa dirinya akan seberani itu menggoda dokter cantik yang mungkin menjadi idaman setiap pria yang mengenalnya.
“Heleh dipeluk ntar nambah sakit lagi tu tangan ngabisin stok perban aja,” Gerutu Nazra dengan rasa kekesalan yang mungkin sudah sampai pada level dewa. Ternyata digodain itu bukan hanya bikin baper tapi juga hipertensi seperti Nazra saat ini.
“Heh buk dokter, tadi situ meluk apa nyeruduk ? kira kira juga kalik bu dokter mau peluk orang.” Jawab Faiz tak kalah sengit.
“Namanya juga reflek loh.” Sanggah Nazra membela dirinya sendiri, malu dong kalo kalah dari Faiz begitulah piker Nazra.
“Reflek yang seperti kesetrum kabel mesin cuci.” Gumam Faiz pelan namun masih terdengar oleh Nazra yang duduk tepat disebelahnya.
__ADS_1
“Mas Ojol yang terhormat kalo ngedumel dalam usus 12 jari aja, saya masih denger.” Sindir Nazra dan hanya direspon senyum tipis oleh Faiz.
Setelah obrolan unfaedah tersebut, tidak lagi ada yang membuka suara selama perjalanan hingga pada akhirnya Nazra menepikan mobilnya disalah satu kios buah. Tanpa mengucapkan sepatah kata Nazra langsung keluar dari mobilnya, sedangkan Faiz hanya diam tak berani untuk sekedar bertanya. Mungkin Nazra ingin membeli buah untuk dibawa pulang, begitulah dugaan Faiz.
Hanya 10 menit Nazra didalam kios buah itu, dan kini dirinya sudah berada didepan kemudi untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah Faiz. Nampak ada 1 asoy besar berisi bermacam-macam buah-buahan dikursi belakang dan satu asoy menengah yang hanya berisi mangga dan apel hijau. Melihat itu Faiz hanya menerka-nerka tanpa niat bertanya, namun dalam pikirannya merasa heran dan bingung untuk apa Nazra beli buah sebanyak itu.
“Mas Faiz mau buah ?” Tanya Nazra saat menyadari bahwa Faiz mencuri pandang kearah belakang dimana dua asoy berbeda ukuran itu terletak.
“Mmmmm Nggak kok Ra.” Jawab Faiz.
“Kita berhenti dulu ya ditaman depan, sambil ngobrol biar lebih akrab.” Ucap Nazra dengan raut wajah berharap yang tak bisa ditolak.
“Nggak langsung kerumah aja ?” Tanya Faiz berbarengan dengan berhentinya mobil yang ditumpanginya.
“Kalo dirumah Mas Faiz nanti aku canggung.” Jawab Nazra dengan senyum manis.
“Idih ngawur aja, kalo aku ngojol, terus profesi dokter ku gimana ?” Tanya balik Nazra seraya mengupas sebiji jeruk yang dia ambil dari salah satu asoy tadi.
“Ya siang ngedokter malem ngojek kalik aja.” Jawab Faiz seadanya.
“Ngawur aja, bahaya tauk. Mas tega bener.” Ketus Nazra.
“Nggak lah, cewe canti keluar malem bahaya.” Jawab Faiz santai.
“Mas Faiz kenapa akhir-akhir ini cuek banget gak ramah kayak biasanya ?” Tanya Nazra pada akhirnya, suatu hal yang membuatnya tidur tak nyenyak makan tak enak pup tak lamak akhirnya mampu ia tanyakan langsung kepada sumber utamanya tanpa perantara.
__ADS_1
“Jaga jarak neng takut dikira pebinor.” Jawab faiz terus terang terang terus kayak lampu pilups.
“Kok gitu ?” Tanya Nazra dengan raut wajah bertanya-tanya seraya menyerahkan sebutir jeruk kepada Faiz.
“Kamu kan dah punya doi, jadi harus jaga jarak sama kamu gitu.” Jelas Faiz berlagak sok santai padahal mah ada seribu jarum menusuk hatinya saat membahas Bu dokter dan doinya.
“Kabar dari mana tuh ? jomblo gini dikata ada doi yang bener aja si mas nih.” Sewot Nazra yang tak terima dibilang memiliki doi.
“Lah malah sewot ini si susan susan udah gede jadi dokter.” Ucap Faiz dengan tingkah konyolnya yang makan biji jeruk dan buah nya dibuang.
“Nggak ada punya doi woy tukang ojek, masih dalam status mencari. Btw itu jeruk napa dibuang ?” Tanya Nazra yang melihat tingkah Faiz yang sedikit kurang ajar.
“Eh salah malah bijinya yang kemakan, kalo tumbuh dilambung gimana ini ?” Panik Faiz selanjutnya setelah menyadari kebodohannya yang memalukan itu.
“Syukurim, nambah dah tu batang.” Ketus Nazra mengejek Faiz.
“Dokter macam apa dirimu ini.” Sinis Faiz menatap tajam Nazra yang tengah tersenyum miring mengejeknya.
“Macam kau tak tau je.” Jawab Nazra dengan gaya upin dan ipin.
“Sekarep mu aja. Eh tapi gimana ? ada doi gak nih ?” Tanya Faiz seraya menaik turunkan alisnya.
“Nggak adalah, kalo ada ngapa pulak peluk kamu tadi.” Jawab Nazra dengan suara semakin merendah.
“Ahay bisa nih ya ? yakan bisa ? bisalaah.” Ucap Faiz dengan sesekali mengedipkan sebelah matanya. Jangan ditanya bagaimana dengan Nazra, sudah dipastikan dirinya salah tingkah dan wajahnya menjalar rasa hangat yang meninggalkan semburat merah muda dikedua pipi mulusnya.
__ADS_1
Tanpa menanggapi ocehan Faiz yang hanya mengucapkan kata bisa yakan dan begitu seterusnya, Nazra kembali melajukan mobilnya menuju rumah Faiz. Dengan kecepatan sedang Nazra focus menyetir dengan sesekali menghela nafas demi mengatur detak jantungnya yang semakin berdj riaa didalam dadanya.
Senang, malu, salah tingkah, lega semua Nazra rasakan, karena Faiz tak lagi mencuki dirinya, dan sekarang malah semakin dekat bagaikan dua insane yang berpacaran. Ntah apa status keduanya kini namun semua itu tak terlalu dipikirkan oleh Nazra maupun Faiz. Karena bagi keduanya kini bisa dekat saja sudah sangat bersyukur dan berterimakasih kepada takdir dan tikungan maut yang menggulingkan sesosok Faiz serta kebakaran yang memanggil seekor Nazra ke RSUD.