
•••••
Musim hujan telah usai, musim buah telah berlalu. Kini tibalah saatnya musim kondangan, yang punya anak gadis yang punya anak bujang, WO laris Catering kewalahan Photographer senyam senyum tetangga ngenes. Bahkan kalo ditempat author punya baby aja baralek gadang gess istilahnya turun mandi.
Penumpang banyak, duit terkumpul, biasalah modal nikah. Tapi sayang seribu sayang, niat hati mau hemat pengeluaran eh malah pada ngantriin undangan nikah kerumah, puyeng bener pala Faiz.
"Nabung dulu bro, besok tinggal narik." Ucap Edo yang paham dengan aura ngenes Faiz. Jeritan dompet kedengeran, ngilu euy.
"Sekalinya nabung gede mas, mana dua tempat dihari yang sama." Pandangan tak rela Faiz tujukan pada 2 lembar amplop yang tergeletak diatas meja.
"Halah kan bentar lagi kamu yang narik Iz, lagian nikmati aja masa masa kondangan bareng sama calon istri." Nah loh, ada benernya juga nih Mbak Mela kalo ngomong. Seketika itu pula terbit senyum tipis diwajah Faiz.
"Udah mandi Is?" Tanya Pak Aji seraya memandang Faiz dari atas sampai bawah. Penilaian fisik dipagi menjelang siang ini membuat Faiz merasa terhina, sedikit.
"Udahlah pak, dah wangi gini masak bapak ngira aku belom mandi." Sewot lah masak nggak, begitu lah Faiz menanggapi bapaknya. Sedangkan Pak Aji cuman ngangguk aja kayak beo habis nelen jagung sebonggolnya.
"Ini udah jam 9 Is katanya mau nemenin bu dokter diacara akad temennya." Peringatan siaga dari kanjeng ibu membuat Faiz langsung ngacir kekamar tanpa basa basi atau sekedar merespon ucapan Bu Leni, jika seorang ibu yang membahas waktu maka itu adalah ultimatum yang mendekati kata waspada.
"Kebiasan." Gerutu Bu Leni bersamaan dengan Mela.
Beberapa menit berlalu, Faiz akhirnya selesai dengan peperangan dingin antara dirinya dan bayangan nya sendiri di cermin. Bagaimana bisa cermin membuatnya terlihat sangat tampan tapi dirinya sendiri masih merasa janggal.
"Cuman kondangan mas, belum kamu yang akad." Sindir Pak Aji tanpa mengalihkan perhatian nya dari tumpukkan bawang merah.
"Sirik aja pak, dandan sana pakek parfum biar ibuk makin cinta sama bapak." Ketus Faiz yang kesal akibat sindiran sang ayah, baru juga sekali dandan udah main sindir aja ni kaum bapack.
"Heh anak ibuk, kamu udah mau berangkat?" Tanya Bu Leni setengah panik. Tauk ah kenapa, palingan juga karena tutup baperwarenya bapak pakek ganjel meja dikedai.
"Udah buk, mohon restu semoga isi amplop segera tergantikan." Ucap Faiz yang sudah bersiap dengan kunci motor di tangannya.
"Dikira malah kamu yang punya hajat Is." Sambung Edo yang juga sibuk memilah kol dan mentimun.
"Lah kok bisa?" Heran Faiz.
"Ohh Faiz tau, karena Faiz keliatan ganteng kan?" Dengan pedenya Faiz berputar putar memamerkan baju batiknya yang couplean dengan Nara. Padahal mah batik bridesmaid dari Rido.
"Jangan pede dulu, kamu itu mau kondangan apa mau jadi yang habis dikhitan?" Tanya Mela seraya menatap Faiz dengan tatapan aneh.
Sepersekian detik Faiz belum menyadari sesuatu, tapi setelah dirinya melihat pantulannya dikaca lemari Faiz langsung ngiprit kekamar lagi, dan yang lain hanya sanggup ngakak.
"Untung sadar saya." Gumam Faiz setelah keluar dari kamarnya.
"Emang kenapa mas?" Tanya Edo yang masih tertawa kecil.
__ADS_1
"Heleh pakek nanya, jelas jelas mas ganteng pakek sarung tadi. Untung belum berangkat." Jawab Faiz sedikit kesal pada keluarga nya. Bukannya langsung kasih tau malah ngajak main main.
"Kirain kamu emang mau sarungan is, makanya ibuk diam aja." Ucap Bu Leni membela diri. Jangan sampek ikutan dapet semprot.
Setelah debat dengan keluarga nya pasal sarung, akhirnya Faiz sampai pula dirumah Nazra. Deg deg an jantung Faiz asli, tapi ini bukan karena mau kondangan bareng, lebih tepatnya ini Faiz takut kenak semprot karena telat dateng.
"Lama banget mas, tumben?" Tanya Nazra yang sudah nagkring cantik dibelakang Faiz.
"Ada insiden tidak mengenakkan tadi dek, maaf ya." Jawabnya takut-takut, semoga gak disemprot begitulah batin Faiz.
"Emang ada apa mas?" Penasaran nih, jangan jangan kecelakaan lagi. Insting bu dokter langsung on.
"Mas tadi mau pergi pakek sarung, orang rumah ndak ada yang bilangin akhirnya mas debat dulu." Jelas Faiz seraya menjalankan sikupi menuju jalanan.
"Ada ada aja mas, lagian mas Faiz pasti ndak fokus makanya salah kostum." Putus Nazra akhirnya, yang kalo bukan salah Faiz salah siapa lagi cobak, mana mungkin kan salah pak Karso satpam komplek rumah Nazra.
_____
15 menit setelah sampai di gedung yang disewa Rido untuk acara pernikahannya, acara akad dimulai. Semua berjalan dengan lancar, Rido hanya dengan satu tarikan nafas melafalkan kalimat akad. Dan sekarang Tria sudah resmi dan halal menjadi pendamping hidup Rido dunia akherat.
Saking bapernya, tanpa sadar Nazra udah gelendotan aja dilengan Faiz tanpa peduli tatapan orang disekitarnya. Udahlah kalo lagi jatuh cinta dunia emang cuma milik berdua rasanya. Valid no debat, yang lain cuma ngontrak.
"Selamat ya bro ku, doain aku cepet nyusul dan kalian ceoet dapet Rido junior." Ucap Nazra yang menyalami Rido dan setelah itu memeluk Tria.
"Aman Tri, doain aja isi amplopku tadi cepet balik buat modal." Jawab Faiz santai dan apa adanya. Terus terang banget lampu philips aja sampek kalah.
"Bukan ngucapin selamat malah bahas isi amplop ya Anda." Sindir Rido yang tak habis pikir dengan kelakuan calon suami sahabatnya ini.
"Ya selamat atas pernikahan nya mas, semoga kapok biar sekali ini aja." Ucap Faiz menyalami Rido dengan gaya yang gentleman.
"Kapok sih ndak Is, cuma cukup 1 aja." Jawab Rido meyakinkan.
"Kita duluan ya Do, Tri. Mas Panji Mbak Caca juga." Pamit Nazra pada semuanya.
"Kok buru-buru mau kemana?" Tanya Panji.
"Ada kondangan satu lagi mas, lagian ini udah sore takut ndak kebagian lauk pauk." Terus terang banget ya mas ojol satu ini.
"Kirain mau pacaran, he he." Sambung Caca dengan kekehannya. Beh garing mbak.
"Photo dulu lah masak ndak photo photo kita." Ajak Tria kepada semua sahabatnya itu.
Setelah luas berphoto bersama pengantin dengan berbagau macam gaya dan posisi. Akhirnya Faiz dan Nazra melanjutkan perjalanan mencari kitab suci kekondangan yang selanjutnya. Manatau kan dengan kondang rutin bisa cepetan nyusul. Aamiin.
__ADS_1
"Mas, adek pengen digandeng." Dengan manja, Nazra mengulur kan tangan nya kearah Faiz yang baru kembali dari memarkirkan istri pertamanya.
"Duh Gusti Allah, manja banget kayak anakan marmut minta ditabok." Ucap Faiz dengan unsur banyolan, tapi tangannya tetap menyambar tangan Nazra yang terulur untuk digandeng.
"Takut ilang." Balas Nazra yang masih dalam mode manja syantik.
"Takut ilang apa takut masnya dilirik pengantin nya?" Goda Faiz dengan senyuman manis nan memabukkan.
"Takut masnya malah tuker posisi sama pengantin pria. Aku ndak mau ndak suka gelay." Jawab Nazra alay lengkap dengan ekspresi manyun manyun cemberut mintak di tampol pakek bibir, ehhh.
"Masih mode gini, mas gadein sama tukang balon dek." Ancam Faiz yang geli dengan sikap Nazra. Ngadi ngadi ni dokter satu kenak sawan apa.
"Gadein ke tukang sosis goreng aja mas." Ucap Nazra yang sudah normal. Jin nya udah resign gegara takut digadein ketukang balon.
Suasana ditempat kondangan yang kedua ini tidak terlalu ramai seperti tempat Rido tadi. Disini terkesan lebih tradisional, dari hiasan makanan dan orang orangnya juga demikian.
Setelah makan, Nazra dan Faiz menuju kepelaminan dimana raja dan ratu sehari yang memeliki hajatan ini berada. Yaa kurang lebih ngucapin selamat sama ngulurin amplop lah.
'Selamat masnya dan Nadia semoga jadi keluarga yang sakinah mawadah dan wasiaap." Ucap Faiz menyalami pengantin bergantian.
"Yang bener gini yang, selamat ya Nad, dan masnya selamat ya semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Ucap Nazra yang memeluk Nadia dengan hangat seakan diantaranya tidak ada masalah yang pernah terjadi.
"Makasih ya bu dokter, maaf kalo aku udah jahat sama bu dokter dan mas Faiz juga." Ucap Nadia sendu, dirinya terharu melihat Nazra yang hadir di acara pernikahan nya dengan kebaikan yang tak pernah ia duga.
"Kan sekarang udah dapet mas Atta Petir wasiapp nih Nad, jadi kebuktikan kalo aku jodohnya bu dokter." Ucap Faiz seraya menggenggam tangan Nazra mesra.
"Walah masnya bisa aja nyamain saya sama youtuber, kasian dianya mas punya kembaran kayak saya." Ucap suami Nadia menanggapi banyolan Faiz.
"Iya mas, bu dokter bener kalo dia yang bakal menang." Jawab Nadia seraya tersenyum tulus memadang Nazra.
"Oh ya Nad, ini dari aku untuk kamu. Kecil sih tapi aku harap ini bisa jadi bukti kalo aku sama kamu udah jadi temen." Ucap Nazra dengan menyerah kan kotak kecil berwarna merah untuk Nadia. Ntah apa isi di dalamnya hanya Faiz dan dirinyalah yang tau.
"Makasih ya bu dokter, makasih juga udah mau maafin aku dan malah anggep aku jadi temen." Terharu yakin, Nadia sampek ngeluarin air matanya saat memeluk Nazra untuk yang kedua kalinya.
Setelah melo melo asik, kini Nazra dan Faiz sudah dalam perjalanan pulang. Hari makin menggelap karena sudah menunjukkan waktu malam.
Dengan santai dan diiringin sautan angin malam, Nazra dan Faiz menikmati indahnya bermotoran berdua malam malam dalam kondisi kekenyangan belum mandi pulak.
"Semoga dalam waktu dekat ini tidak ada kesalah pahaman yang terjadi ya dek." Ucap Faiz.
"Iya mas semoga, adek juga takut kalo sampek ujian pra nikah kita terlalu rumit." Jawab Nazra yang semakin mengeratkan pelukan nya.
"Jaga diri baik-baik yaa, satu minggu sebelun akad mas ndak nemuin kamu dulu. Dan alangkah baiknya adek ambil cuti lebih cepat dan jangan kemana-mana." Nasehat Faiz seraya mengelus tangan yang melingkar di perutnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Siapp komandan." Jawab Nazra dengan semangat. Duh calon istri soleha patuh bener ama kata laki.