
Dimarkas, Faiz sedang menggalau indah ditemani secangkir kopi, semilir angin dan jatuhan daun jambu membuat hatinya sedikit lebih tenang. Ternyata dibawah pohon bisa membuat rilex bagaikan dipantai, hemat biaya juga yang pasti.
Namun semua sudah musnah, kesan rilex berubah menjadi emosional karena datangnya ulat bulu disana. Lagi enakan nyari angin malah kedatangan ulet bulu jadi pen auto ngebakar pohon.
"Mas Faiz..." Sapa Nadia dengan manja dan hanya dibalas Faiz dengan deheman.
"Mas Faiz jangan cuek gitu dong." Ucap Nadia membujuk rayu Faiz. Dan lagi lagi Faiz hanya diam, karena yang namanya gak suka mau dirayu gimana pun juga gak bakalan kegoda.
"Mas, jawab kenapa sih. Masak iya dikit aja gak ada hati buat aku." Celoteh Nadia dengan gaya cemberut berusaha membuat hati Faiz luluh. Bukannya kepincut makin jijik iya.
"Kamu tu bisa diem ndak sih? Merepet aja sejak tadi." Ketus Faiz tanpa melihat lawan bicaranya.
"Ya mas Faiz itu kenapa cuek banget sama aku, kan aku jadi sedih." Dengan bergelayut manja dilengan Faiz, Nadia berceloteh ria seakan dirinya lah yang harus Faiz dengar kan. Namun sekuat tenaga pula Faiz menjauhkan tangannya dari Nadia takut-takut kegatelan karena digandeng ulet bulu.
Dan tanpa disadari di sebrang jalan ada seorang gadis yang melihat adegan itu. Marah kecewa pengen makan orang begitulah perasaan nya saat ini. Bisa-bisanya pangeran gantengnya ditempelin kuyang, harus segera ambil tindakan dan memandikan pangerannya dengan bunga bank supaya tidak sawan.
Dengan wajah datar serupa HVS, Nazra keluar dari mobilnya dan menghampiri Faiz yang sedang berusaha melepaskan diri dari ulet bulu itu.
"Lepasin napa sih Nad, nanti aku gatel-gatel berobat mahal." Gerutu Faiz yang mencoba melepaskan tangannya.
"Mas Faiz aku ini kan calon is....." Ucapan Nadia terhenti karena deheman seseorang. Dan siapa lagi jika bukan Nazra yang sudah bersilang tangan didada dengan tatapan hendak membinasakan kaum jomblo sedunia.
"Lepas." Ucap Nazra dingin. Dan kalimat itu tentunya ditujukan untuk Nadia bukan Faiz. Karena posisinya tangan Faiz yang dipegang paksa oleh Nadia.
"Emang kamu siapa?" Tanya Nadia menantang dan belum melepaskan tangan Faiz.
"Saya bilang lepas!" Bukannya menjawab Nazra kembali memberi perintah. Sekali lagi gak lepas dijamin ulet bulu bakal jadi cacing tanah.
__ADS_1
"Ndak mau, kan mas Faiz pacar aku." Udah ditatap ratu setan masih aja ngeyel, kalo tangan mu berubah jadi sayap ndak tanggungan aku ya Nad.
"Duh mak bakal salah paham lagi ini." Gumam Faiz seraya memandang Nazra tanpa berkedip. Posisi marah aja cantik apalagi kalo lagi manja manja aduh.
"Mau kamu lepas sekarang atau saya yang bantu lepas?" Tanya Nazra dengan aura yang menyeramkan dan membuat siapa saja yang ada disekitar nya menjadi bergidik ngeri.
"Lepas aja Nad, daripada nyesel. Jadi istri kedua ku aja ayok." Ucap Roy yang sudah tak sanggup melihat adegan itu. Yakalik kan tiba-tiba Nazra nyuntik mati Nadia.
"Hooh Nad, atau kamu aku cariin Faiz yang lain. Anak nya pak Jono juga Faiz kok, masih SMP noh." Sambung Ardi, kalo gini terus kopi panas bisa jadi es kopi kan mubazir.
"Kamu siapa emangnya sok nyuruh-nyuruh." Ketus Nadia.
"Lepasin kek Nad, masa depan masih panjang nih jangan ngajak jemput ajal." Ucap Faiz yang masih berusaha melepaskan tangan nya dari dekapan Nadia.
"Mas Faiz kok malah gitu sih." Cemberut Nadia, bukannya menjawab Faiz malah hampir menendang Nadia karena sangking berusaha nya lepas dari dekapan ulet bulu itu. Sedangkan Nazra masih setia berdiri seraya menatap dua makhluk itu dengan tatapan datar namun menusuk.
"Ya elah nih ulet bulu kegatelan bener, lepas napa sih neng. Dilem atau dilas sih ini tangan kok susah bener." Gerutu Faiz setengah emosi karena Nadia semakin mendekap erat tangan Faiz.
"Ya Allah ni hama ulet bulu ngeyel bener, aku regent baru tau rasa." Ucap Faiz yang sudah terlepas dari Nadia dan dengan refleknya Faiz menyiram tangan nya dengan air. Ntah apa maksudnya yang jelas itu membuat Nadia melongo tidak karuan dan Nazra menahan senyumnya sekuat tenaga.
"Segitunya mas Faiz jijik sama aku?" Ucap Nadia memelas.
"Yaaa kamu kegatelan gitu siapa yang ndak jijik, jangan deket deket takut gatel." Ucap Faiz menghindar dari Nadia yang mulai mendekati nya lagi.
"Mas Faiz pokoknya aku ndak mau, mas Faiz punya aku doang." Ucap Nadia seraya hendak memeluk Faiz dan sontak membuat Nazra kembali terpancing amarah.
"Jangaaaaannnn sentuh akuuu....." Teriak Faiz dengan wajah sok jijik.
__ADS_1
"Hissss dasar kepiting rawa jangan sentuh sentuh." Ucap Nazra yang berdiri dihadapan Faiz guna mengahalangi Nadia.
"Kamu siapa sih ganggu aja." Sinis Nadia kepada Nazra.
"Bukan urusanmu, yang jelas jangan sentuh sentuh mas Faiz." Ucap Nazra tak kalah sinis, sedang kan Faiz malah memanfaatkan kesempatan mencium aroma wangi rambut Nazra untuk melepas rindu.
"Mas Faiz itu punya ku." Ucap Nadia, edeh dikira barang kalik main ngaku ngaku lagi. SHM Nazra nih jangan sembarangan.
"Yang udah jadi milik Dr. Nazra tidak bisa dibagi dengan yang lain. Mulai sekarang mundur atau saya bantu mundurin dengan mobil derek?" Ucap Nazra tegas dan agak ngelantur dikit, dikira mobil mogok kalik
"Ihhh sebel awas aja kamu." Ucap Nadia yang langsung melenggang pergi dengan rasa kesal.
Setelah kepergian Nadia, Nazra menatap Faiz dengan sangat tajam sehingga membuat Faiz tak punya nyali untuk sekedar menegur Nazra.
"Urusan kita belum selesai." Ucap Nazra datar dan kemudian pergi begitu saja.
"Ra tunggu aku bisa jelasin semuanya Ra? Ini ndak seperti yang kamu pikirkan?" Teriak Faiz yang berusaha mengejar Nazra. Sayang sungguh sayang Nazra sudah masuk kemobilnya dan perlahan melaju untuk meninggalkan tempat itu.
"Emang aku mikirin apa? Orang waras tau kalik kalo itu tadi ceweknya yang gatel." Gumam Nazra yang sudah mengendarai mobilnya dengan santai.
Marah, sudah pasti. Perempuan mana yang tak marah jika melihat pujaan hati ditempelin kuyang peranakan wewe. Tapi seneng juga dirasakan oleh Nazra karena melihat Faiz yang benar-benar tak tertarik dengan perempuan lain.
____
Dengan nafas ngos-ngosan Faiz terududuk selonjoran kaki di pinggiran jalan. Ngejar cinta aja ndak sampai mau nyoba ngejar mobil ya bengek yang ada.
"Ya Allah pasti ngambek nya diperpanjang. Tega sekali takdir ini bermain dengan ku." Keluh Faiz yang sudah bermandi keringat.
__ADS_1
"Dah capek Gusti, pengen baikan terus pelukan. Bauk rambutnya bikin makin kangen." Ucap Faiz seraya mengusap keringat diwajah nya dengan lengan baju.
"Marah aja cantik apalagi kalo lagi manja-manja duhh pasti seksi jadi pen ngajakin bobok." Guman Faiz mulai ngelantur ga jelas. Efek kangen capek galau jadi agak sableng nih orang. Mana duduk di pinggiran jalan kek gembel, mengenaskan.