Dokterku Pujaan Hatiku

Dokterku Pujaan Hatiku
Hujan Deras


__ADS_3

Sebulan sudah yura bekerja sebagai dokter di rumah sakit Maisha medical. Banyak teman baru yang ia dapat, baik dari suster maupun dokter lain yang juga bertugas di sana.


Setelah selesai memeriksa pasien terakhir hari ini, yura bersiap untuk pulang. Karena memang jam kerjanya sudah habis.


Namun baru saja sampai di lantai dasar rumah sakit, tiba tiba hujan turun dengan lebatnya. Mau tak mau yura harus menunggu hujan berhenti, karena jarak parkir dengan tempat nya berada saat ini lumayan jauh.


*Dok, duduk disini aja, sepertinya hujannya awet.*Seorang suster menggeser duduknya saat melihat yura berdiri dan menyender di dinding.


*Terima kasih* Yura pun duduk di samping suster itu.


*kau mau pulang juga* tanya yura pada suster yang ada disebelahnya itu.


*Iya dok* jawabnya.


*tinggal dimana* tanya yura lagi.


*Di jalan ST dok*


*Ooh, itu searah sama aperteman saya, bagaimana kalau kamu sama saya saja. Saya lihat tadi pagi kamu naik angkutan umum ke sini* tawar yura.


*Tidak usah dok, saya naik basway saja, gak enak merepotkan dokter* tolak suster tersebut.


*No, saya tidak merasa di repotkan kok. Sudah jangan menolak lagi, saya tidak suka di tolak* tegas yura, dan suster itu hanya mengangguk.


*Aaah sial, Hujan nya ternyata sangat deras* umpat refan yang baru saja sampai di lantai dasar rumah sakit. Entah kenapa satu bulan terakhir dia merasa bersemangat untuk menggantikan maisha sang ibu untuk mengecek seluruh rumah sakit milik mereka.


Dan kebetulan hari ini adalah jadwal refan berkunjung di rumah sakit maisha medical 1, tempat yura bertugas.


*Bos, kita duduk saja dulu di sana* tunjuk exas ke arah yura duduk. Karena seorang pria berdiri dan ada bangku yg kosong.


Refan mengangguk setuju dan sampai di dekat yura duduk. Ternyata seorang ibu hamil duduk duluan di bangku kosng yang di tunjuk exas tadi.


*Tuan, silahkan duduk disini* suster yang tadi duduk disamping yura berdiri dan mempersilahkan refan duduk.


*Tidak, kamu duduk saja. Saya berdiri saja tidak masalah* ucap refan. Yura mengangkat kepalanya melihat ke arah pria yang berdiri di depannya.


*Kak refan* ucapnya.


*Yura* refan juga kaget melihat yura ada disana.


*Kamu bekerja disini* tanya refan. Saat yura masih memegang jas dokternya.


*Iya kak, baru satu bulan ini* jawab yura.


*Ooh, baguslah kalau gitu. Semoga kamu betah ya kerja disini* ucap refan lagi.


*Aamiin* jawab yura.


Suster di samping yura merasa heran kenapa yura bisa seakrab itu pada refan yang notabennya cuek dan di tambah lagi anak pemilik rumah sakit ini.


*Dokter, apa dokter mengenal tuan refan sebelumnya* tanya suster itu berbisik di telinga yura.


*Ya, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali, kenapa. Kamu seperti nya ingin menyampaikan sesuatu* tanya yura.


*Dia itu anak pemi....* Suster itu menggangtung ucapannya ketika refan memotong pembicaraan mereka.


*Suster, apakah aku bisa kau membantu ku* tanya refan pada suster.

__ADS_1


*Ah ya tuan, tentu saja* jawab suster itu cepat.


*Tolong antarkan sekretaris ku ke kantin, sepertinya aku haus* ucap refan sambil melirik exas. Exas sebenarnya masih bingung dengan sikap spontan refan, tapi melihat kode dari refan, exaa akhirnya pasrah saja menuruti perintah refan dan mengikuti suster tersebut dari belakang.


*Huuu, hampir saja suster itu mengatakan siapa aku sebenarnya pada yura* bantin refan.


*Duduk kak* tawar yura sambil tersenyum manis.


*iya, terima kasih* refan kemudian duduk di samping yura.


*Kamu dokter apa* tanya refan pada yura.


*Ahli beda kak* jawab yura.


*Ooh, gak nyaka bisa jumpa di sini ya* refan bingung mau bahas apa, jantungnya berdetak kencang saat berdekatan seperti ini pada yura.


*Iya kak. Kakak ada keperluan apa ke sini, apa ada kerabat kakak yang di rawat disini*


*Mmmm, aaa,, itu. Eh iya, tadi abis jenguk teman, eh istri teman lahiran* jawab refan ambigu. Yura mengangguk mendengar jawaban refan seperti kurang meyakinkan itu.


*Kenapa dia sepertinya dia grogi jitu ya, jawab pertanyaanku, Ah sudahlah. Mungkin perasaanku saja karena terlalu lelah* batin yura.


*Yang tadi itu, * yura menanyakan siapa exas, karena tadi refan mengatakan exas asistennya.


*Oh itu, dia teman kerja saya. Exas, ya namanya exas* lagi lagi refan berbohong dan terlihat salah tingkah.


*Ooh, kirain asisten pribadi kak refan, karna tadi aku dengar kakak bilangbdia asisten, tapi mungkin aku salah dengar saja. Karna hujan deras bangat*


*Mm, iya mungkin* yura mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ingin melihat apakah ada balasan email dari kenny. Karena tadi siang sewaktu jam istirahat dia mengajak kenny untuk menginapndi apertaman nya malam ini.


*Yura, kemarin makasih ya udah kasih tumpangan, maaf aku belum bisa balas kebaikan mu waktu itu, karna aku buru buru* ucap refan.


*Iya ya, aku lupa kalau udah bilang makasih kemarin* Refan mengaruk tungkuknya sendiri padahal tidaka gatal sama sekali.


Tak lama exas datang sendirian membawa 1 plastik yang berisi snak dan jiga 3 botol minuman kemasan.


*Bos, ni aku udah beli banyak cemilan sama minum juga* exas menyodorkan plastik tersebut kepada refan.


Refan mengedip ngedipkan matanya pada exas yang memanggilnya bos di depan yura. Namun exas tak mengerti arti dari pandangan bosnya tersebut.


*Kenapa mata anda bos, apa kelilipan atau bagaimana* tanya exas lagi dia mulai panik dan mencoba meniup mata refan.


*Kakak tidak apa apa* tanya yura ikutan panik.


*Aku baik baik saja, mungkin tadi ada debu yang masuk kemataku* elak refan dan pura pura mengucek matanya.


*Jangan di kucek kak, nnati bisa iritasi, biar aku bantu tiap saja dulu* yura mendekati wajahnya ke wajah refan, jantung refan semngkin tak karuan.


Setelah meniup pelan mata refan, yura kembali duduk seperti biasa.


*Apa masih perih kak, atau mau ku ambilkan obat tetes di apotik rumah sakit* tanya yura.


*Aah, tidak usah, ini udah gak perih lagi kok. Makasih ya* ucap refan cepat, walaupun jantung nya masih berpacu cepat.


*Benar bos udah gak apa matanya.* exas benar benar khawatir pada refan.


*Iya, udah ilang debunya kok, sudah kau duduk saja di sana. Tu ada bangku kosong* refan menunjuk bangku yang kosong. Exas menagguk dan kemudian membawa sebungkus roti dan sebotol minuman untuk sekedar mengisi perut nya sampi hujan reda.

__ADS_1


*Kak refan, boleh aku menanyakan sesuatu* tanya yura.


*Ya, tentu saja*


*Apa pekerjaan kak refan sebanarnya* tanya yura semangkin penasaran.


*Aku hanya karyawan biasa saja* bohong refan.


*Kalau karyawan biasa saja, Tapi kenapa kak exas memanggil kak refan dengan sebutan bos* selidik yura.


*Dia memang begitu, selaluenajakan aku, karena kami sudah berteman sejak lama.* lagi lagi refan berbohong.


*Oh baiklah kalau begitu* jawab yura. Walaupun sebanarnya dia merasa refan menutupi sesuatu.


*Mungkin memang mereka berteman baik, aku juga gak boleh suuzon sama siapapun. Lagian buat apa aku kepo sama kehidupan orang lain batin yura.


*Semoga yura tidak berpikir tentang aku yang macam macam, kalau sampai dia tahu aku seorang pemimpin perusahaan dan juga anakndari oemilik rumah sajit ini, bisa bisa dia akan menjauhi ku nanti.*


*Aku harus memberitahu exas kalau dia harus ikut bersandiwara juga, agar yura tidak semngkin curiga* batin refan*.


*Kak exas, suster nita mana, kok tidak ikut kesini lagi* tanya yura pada exas yang sedang menikmati rotinya.


*Aah, dia bilang tadi gantikan temannya shif malam. Karna mendadak temannya menelpon waktu kmi di kantin. Jadi dia gak jadi pulang. Maaf aku lupa bilang ke nona* jawab exas jujur.


*Jangan panggil nona, panggil saja yura* ucap yura.


*Tapi...* exas diam karena melihat kode dari refan agar menurut saja pada perkataan yura.


*Mmm, baik lah nona, eh yura* jawab exas ambigu. Yura tersenyum dan kembali memakan roti yang yang tadi exas berikan.


Setelah hujan sesikit redah, refan mengantar yura sampai ke mobilnya. Dan tak lupa menutupi kepala yura dengan jas kerja yang tadi ia pakai.


*Makasih banyak kak, jadi basah jas nya* ucap yura tak enak hati.


*Tidak apa, kan bosa di londry nanti*


*Gimana kalau jas nya aku bawa pulang dan aku cuci dulu* yuraenawarkan diri, karena bemar benar tak enk hati.


Refan tampak berpikir.


*Baiklah, kalau kamu tidak keberatan, lumayan bisa ngurangi kiloan londry ku nanti* canda refan dan memberikan jasnya pada yura.


*Hahaha ada ada saja kak ini, ya sudah aku duluan ya kak. Yura menutup pintu mobilnya, namun kacanya masih terbuka.


*Iya, hati hati, jangan ngebut, kabari kalau udah sampai rumah ya* ucap refan.


*Gimana mau ngasi kabar kalau kontak kakak saja yura gak punya* ucap yura apa adanya.


*Astaga, aku lupa. Kau benar juga* ucap refan menepuk keningnya sendiri, yura tertawa geli melihat tingkah konyol refan.


*Ya sudah berikan Hp mu padaku* lanjut nya.


Yura memberikan Hp nya pada refan, kemudian refan memasukkan nomor ponselnya ke hp yura.


*Ini, pulanglah sebelum hujannya deras lagi. Bahaya kalau nyetir tapi hujan deras nanti jalannya tidak terliahat dengan jelas* ucap refan peduli.


*Baik la bos refan* ucap yura kemudian melambaikan tangan pada refan dan menaikkan kaca mobilnya.

__ADS_1


*Sampai jumpa lagi bidadariku* gumam refan sambil tersenyum menatap kepergian mobil yura.


Bersambung...


__ADS_2