
Satu setengah bulan sudah refan dirawat di rumah sakit, dan hari ini dokter sudah memperbolehkan refan pulang, karena kondisinya juga sudah mulai membaik.
Namun refan harus sering cek up dan melakukan terapi, agar saraf saraf dari bagian pinggang ke bawah bisa berfungsi kembali.
Kediaman Maisha.
*Nak, sebaiknya kau istirahat saja dulu, lagian refan sedang tidur, saya lihat kau sangat letih* maisha mengampiri yura yang sedang duduk di sofa kamar refan sambil menahan kantuk.
Refan sudah di beri obat, dan sedang tertidur di tempat tidurnya.
*Tidak apa nyonya, saya berjaga saja. Takut nanti tuan refan membutuhkan bantuan saya* tolak yura sopan.
*Saya akan menjaganya, kau pergilah istirahat di kamar mu, bik jul sudah menyiapkan kamar untuk mu beristirahat selama disini* ucap maisha, dan bik jul yang mengekor di belaknag majikannya pun mengangguk.
*Mari nona dokter, saya antar ke kamar anda* ajak bik jul.
*Maaf nyonya, saya jadi merepotkan anda* ucap yura tak enak hati.
*Tidak, kami yang harusnya minta maaf pada mu, karna permintaan kami kamu harus bekerja di rumah kami* maisha tersenyum dan mengusap pundak yura.
*Itu sudah tugas saya nyonya* ucap yura apa adanya.
*Ya sudah, sana ikut bik jul ke kamar mu, istirahatlah dulu*
*Baik nyonya, sekali lagi terima kasih* ucap yura dan kemudian meninggalkan kamar refan mengikuti langkah bik jul ke kamar tempat dia beristirahat.
Karena memang sangat lelah, yura yang tadinya hanya ingin istirahat dan rebahan sebentar, ternyata malah tertidur. Dan ketika bangun, jam menunjukkan pukul 7 malam.
__ADS_1
*Astaga, aku ketiduran* Yura bangkit dan mencuci muka di kamar mandi yang ada dalam kamar tersebut.
Setelah merapikan pakaiannya, yura lansung bergegas ke kamar refan. Saat akan masuk ke kamar refan, bik jul pun satang dengan membawa sebuah nampan berisi makan malam serta obat untuk refan.
*Nona, anda sudah bangun* tanya. Ik jul.
*Iya bik, saya ketiduran, dan sekarang pasti nyonya maisha akan memarahi saya, karena sudah lalai dalam menjaga dan merawat anaknya* yura merasa bersalah.
*Nyonya tidak seperti itu nona, beliau orang yang baik dan lembut,* jelas bik jul pada yura.
*Ya sudah, saya minta tolong bawakan makanan ini untuk tuan muda ya non, karna saya lagi mau ke supermarket mau beli sesuatu* pinta bik jul. Yura menagnguk dan mengambil nampan yang ada di tangan bik jul.
*Bismillah, semoga saja perkataan bik jul itu benar, kalau tidak, matilah aku, bisa di pecat nanti* gumam yura sebelum membuka pintu kmaar refan.
Dan saat sebelah tangannya membuka pintu kamar, yura melihat refan sedang duduk menyender di kepala divannya, sambil memegang sebuah tablet.
Tak ada maisha maupun exas di dalam sana.
*Terima kasih yura* depan menghentikan kegiatannya dan melihat yura sambil tersenyum manis. yura yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah.
*Aa, iya tuan, mmm sama sama. Maaf tadi saya ketiduran, jadinya anda telat makan malamnya*
*Tidak masalah, kau pasti juga lelah, lagian masih jam 7 lewat sedikit, belum terlambat kok* ucap refan santai sambil melihat jam di nakas.
Yura mengambilkan mangkuk sup dan memberikan pada refan.
*Yura, bisakah kau suapi aku makan* pinta refan.
__ADS_1
Yura hanya tersenyum dan mengangguk, lalu menyuapi refan makan.
*Yura, maaf ya aku jadi merepotkan mu, harus bekerja merawat ku* ucap refan sambil menunggu suapan dari yura.
*Tidak masalah tuan, di sini sama di rumah sakitkan sama saja, sama sama bekerja merawat pasien juga* ucap yura sambil mengaduk sup di mangkok.
*Bedalah, di rumah sakit pasien nya ganti tiap hari, dan kamu hanya mengoperasi mereka saja. Sementara di sini, tiap jam bahkan tiap menit kamu hanya merawat ku, melihat ku*
*Tidak masalah tuan* yura fokus saja menyuapi refan. Sementara refan tak mengalihkan sedikitpun pandangannya pada wajah cantik yang natural milik yura.
Setelah selesai makan. Yura memberi obat pada refan. Dan membantu kembali mengganti posisi nyaman untuk refan.
Dari balik daun pintu kamar. tadinya maisha akan masuk ke kamar putranya, tapi langkahnya terhenti karena melihat wajah refan yang seakan bahagia sekali berada di dekat yura. Dan maisha mengamati cara kerja yura.
*Kau memang wanita istimewa dan sempurna, kau sangat baik, dan juga lembut yura, tak salah refan memintamu untuk menjadi dokter pribadinya.* gumam maisha lalu meninggalakan kamar sang putra.
***
Rumah sakit Maisha Medical.
Meca selalu saja marah marah pada semua orang, terutama pada dr. Hendri sang ayah.
*Harusnya papa itu mengatakan pada nyonya maisha, kalau aku saja yang merawat refan, aku kan dokter lulusan luar negri, S2 Lagi* omelnya pada sang ayah.
*Meca sayang, dengarkan papa. Harus berapa kali papa katakan pada mu, papa tidak tau kamu akan kembali secepat ini dan semua ini dr. Maisha dan refan sendiri yang meminta yura untuk menjadi dokter pribadi refan*
*Aah, bilang saja papa gak suka kalau meca dekat dengan refan*
__ADS_1
*Terserah kamu saja, papa ada rapat dokter sekarang, ingat jangan buat masalah di rumah sakit ini apa lagi dengan keluarga dr. Maisha.* ancam dr. hendri lalu meninggalkan meca sendiri di ruangannya.
Bersambung....