Dokterku Pujaan Hatiku

Dokterku Pujaan Hatiku
Halte


__ADS_3

*Fan, kamu mau kemana* maisha yang sedang menyiram bunga di halaman depan melihat tlrefan keluar dari rumah.


*Ke kantor polisi mam* jawab refan sambil memasang kancing lengan baju kemejanya.


*Kantor polisi, siapa yang di tangkap nak* maisha mendekat dan membuang slang aor sembarangan.


*Gak ada mam. Refan mau buat laporan aja* ucap refan.


*Mami jadi tambah bingung. Kamu bicara yang benar dong*


*Aku mau buat laporan atas Meca mam, karna kemarin udah aniaya yura* jelas refan.


*Oooh, gitukan jelas* maisha jadi legah.


*Ya udah, refan berangkat ya mam, sekalian nanti mau ke kantor juga jumpa exas* pamit refan. Maisha mengangguk.


Setelah mobil refan menghilang di balik pagar. Yura pun keluar membawa sebuah koper besar.


*Mami,* panggil yura menghampiri maisha.


*Ra, kamu mau kemana bawa koper nak* tnya maisha melihat yura dengan kopernya.


*Yura akan pulang ke aperteman mam. Kan kak refan udah sembuh sekarang, berarti tugas yura udah selesai* jelas yura.


*No. Kamu jangan tinggalkan mami dan refan nak, please* maisha memohon.


*Mami, yura hanya pulang ke apertamen kok. Gak ke negara yura. Lagian nanti kalau mami ada waktu luang kita bisa jumpa lagi*


*Iya mami tau, tapi mami maunya kmu tetap disini nak, tinggal sama mami dan refan*


*Gak bisa mam, nanti apa kata orang. sekarang aja yura udha di dendami sama Meca. Padahal yura cuma tugas disini*


*Kamu benar juga, mmai gak mau kamu di jahatin lagi smaa siapapun*


*Iya ma, ya udah. Yura pulng dulu ya mam* pamit yura menyalami maisha.


*Kamu naik apa pulang nya* tanya maisha.


*Yura naik taksi aja mam*


*No. Kenapa mobil mu gak di bawa pulang ke apertamen*


*Mobil biru yang biasa yura pakai selama disini* tanya yura. Meisha mengagguk. lalu memegang kedua bahu yura.


*Ra, itu mobil sengaja mami beliin buat kamu nak. Sebagai tanda terima kasih mami karna kamu udah rawat refan dengan baik dan tanda sayang mami pada mu* jelas maisha karena ia tahu yura bingung.


*Mami jangan bercanda mam. Gaji yura saja udah mami bayar sangat besar. Itu sudha cukup mam. Yura juga iklas merawat kak refan dan yura juga sayang sama mami*


*Terima ya nak. Please* Maisha mengatup tangannya.


*Tapi ini berlebihan mam* yura tak enak hati.


*Please nak*


*Ya sudah, yura bawa pulang ke apertamen mobil nya. Tapi nanti unagnya yura ganti ya mam*


*No sweety, no. Itu hadiah buat kamu. Bukan kreditan* ucap maisha serius. Yura tertawa.


*Kenapa kamu malah tertawa sweety* maisha bingung melihat yura tertawa begitu.


*Gak ada mam. Mami lucu bangat. Bilang kreditan tadi, hahaha*


*Iya juga ya* maisha ikut tertawa.


*Ya sudah sana bawa mobil nya* perinta maisha. Yura akhirnya menurut. Karena percuma jika menolak. Maisha tak akan melepaskan dia pergi dari rumahnya jika menolak.


Di perjalanan yura melihat mobil refan terpakrikir di depan sebuah butik ternama.


*Itu bukannya mobil kak refan. Iya itu mobil kak refan*

__ADS_1


*Tapi ngapain kakbrefan ke situ. Itukan butik khusus kolesi wanita saja*


*Ah, mungmin kak refan ngambil pesanan mami* yura bicara seorang diri, dan kembali fokus menyetir.


Tak lama refan keluar dari dalam butik dan melihat mobil yura melewati butik.


*Itu kan yura, dia mau kemana* tanya refen pada dirinya sendiri.


*Ah telpon aja. Dari pada bertanya tanya* ucap nya lagi sambil menuju ke mobilnya.


*Hallo kak* ucap yura di seberang sana.


*Ra, kamu mau kemana* tanya refan .


*Aku mau pulang ke apertaman kak.*


*Kok pulang sih* protes refan.


*kan kakak udah sembuh, jadi tugas yura udah selesai*


*Stop*


*Haa* yura bingung.


*Stop. Matikan mobil nya. Dan tunggu aku di situ.* tegas refan.


*Hhmmmm. Oke oke*


Tut...


*Is, dasar pemaksa* gerutu yura setelah refan mematikan sambungan telponnya sepihak. Lalu memasrkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Tak sampai 5 menit, refan sudah ikut memarkirkan mobilnya di depan mobil yura. Lalu turun dn menghampiri yura yang masih setia menunggu di dalam mobil sambil memainkan hp.


*Ra,* refan memnggil dari balik kaca mobil dan mengetuknya.


Yura membuak kaca mobil nya.


*Kamu tu, keasikan main hp. Orang datang sampai gak sadar* omel refan.


*Turun dulu* sambungnya. Yura pun turun dari balik kemudi.


Refan melihat ada halte di seberang jalan. Dan tanpa aba aba menarik tangan yura menyebrangi jalan menuju halte. Yura yang kaget sontak protes.


*Iii, lepasin. Kok tarik tarik sih, sakit tau* protesnya.


*Refan melepas genggaman tangannya di pergelangan tangan yura. Dan malah menggendong yura sampai ke halte.


*Kak, turunin, aku bis ajlaan sendiri kak.* yura memberontak dalma gendongan refan. Namun refan tak perduli.


Sesampai di halte, barulah refan menutruni yura.


*Kakak ini apa apaan sih, malu di lihat orang, lagian aku bisa jalan sendiri* yura marah marah. Tapi yang di marahi malah senyum senyum.


*Malah senyum, dasar aneh* cibir yura melihat reaksi refan yang aneh.


*Apa kamu bilang.* tanya refan.


*Kamu tu aneh, orang marah malah senyam senyum* yura memalingkan pandangannya. Dan duduk di kursi halte.


*Sayang, kamu mau kemana sih* tanya refan.


*Sayang sayang.* protes yura.


*Yura, dokterku pujaan hatiku kamu mau kemana sih* ralat refan.


*Kan udah bilang tadi mau pulang ke apertamen, karena tugas jadi dokter pribadi tuan peksa udah selesai, orangnya sekarang udah sembuh total* jelas yura jutek.


*jangan marah marah bisa gak* pinta refan.

__ADS_1


*Siapa yang marah*


*kamu*


*Hemmmm* yura menghembuskan nafasnya kasar.


Refan ikut duduk samping yura. Dan menggenggam tangan kanan yura.


*Ra, aku mau bilang makasih bangat sama kamu karna kamu udah bantu aku selama ini* ucap refan tulus.


*sama sama kak. Kan itu emang udah tugas aku*


*Tapi ra, aku juga benaran suka sama kamu, sejak awal kita jumpa dulu*


*Hahahha, udah ah jangan mulai lagi* yura sudah tau maksud dari ucapan refan.


*Ra, please ra. Aku janji akan bahagiaan kamu, gak akan buat kamu nangis, akan jaga dan lindung kamu* janji refan.


*Iya kali mau nembak cewek di halte, Gimana mau di terima. Pelit ngeluarin modal. padahal tampang gagah, penampilan oke. Mobil mewah. sepatu dan jam tangan elit *


*Wanita itu walaupun gak matre, tapi mereka suka dengan keromantisan brather* sindir seorang pria asing yang juga sedang duduk di halte.


Refan melongoh dan melihat ke arah pria yang bicara itu. Namun dengan cepat pria itu menatap ke layar hp nya. Yura hanya menahan senyum.


*Udah, jangan gitu liatnya* yura menyadarkan refan yang masih melongo.


*Gak ra, abang itu benar. Ya udah kita cari tempat yang romantis sekarang* ucap refan lalu berdiri dan menari tangan yura.


*Sadar diri ya bung, sukses ya* ucap pria tadi lalu mengacungkan jempolnya ke arah refan dan yura.


*Maksih banyak bung* ucap refan yang sudah menggandeng yura menyebrangi kembali jalanan.


*Kak kita mau kemana* tanya yura.


*Sekarang kamu masuk mobil, dan pulang lah dulu ke apertemn mu, nanti aku hubungi kamu lagi* ucap refan yang sudah membukakan pintu mobil yura. Namun yura masih berdiri di samping mobil merasa bingung dengan refan saat ini.


*Trus kakak sekarang mau kemana* tanya yura.


*Aku akan cari tempat romantis buat nyatain cinta padamu sayang* refan bersemangat.


*Gak perlu kak*


*Kenapa gak perlu sayang, orang tadi benar, aku ini orang kaya, masak nyatain cinta di halte gak ada modalnya*


*Udah, jangan dengarin omongan orang, yang pentingkan jawaban akunya*


*Iya juga sih* refan menggaruk tungkuknya yang tidak gatal.


*Trus apa jawaban nya, aku di terima apa tidak jadi pacar kamu, eh ralat. Jadi calon suami* ucap refan lalu mengambil kedua tangan yura.


*Sebenarnya....*


*Sebenarnya* refan penasaran.


*Sebenarnya aku...* yura menundukkan kepalanya dan menitikkan air mata. Dia mengingat kebaikan maisha dan refan selama ini. Di tambah lagi dia sebenarnya juga menyukai refan diam diam selama ini.


*Ra, sebanarnya kamu kenapa. Gak apa kok kalau kamu gak bisa nerima aku, Aku janji gak akan marah.Tapi please jangan nangis* refan mengatup wajah yura yang susah basah.


*Yura mau jadi istri kak refan* ucap yura.


*Apa. Aku tidak salah kan ra* refan memastikan. Yura menggeleng wajahnya semnagkin memerah.


Refan memeluk yura dan mereka berputar di samping jalanan yang tak terlalu ramai pengendara itu.


*Maksih ra, makasih. Aku janji akan memabahagia kamu selama hidupku* refan lagi lagi berjanji setelah melepas pelukannya kemudian kembali memegang kedua jemari yura. Yura mengangguk dan tersipu malu.


Refan kembali memeluk yura ke dalam pelukannya.


*Thank's bro* triak refan kepada pria yang ada di halte tadi. Yang menjadi saksi kebahagiaan dirinya saat ini. pria itu memembentuk jari jempol dan telunjuknya menjadi seperti huruf O sambil tersenyum.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2