Dokterku Pujaan Hatiku

Dokterku Pujaan Hatiku
Terbukti


__ADS_3

Setelah tiga hari berlalu, akhirnya yura mulai lagi menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu merawat refan. Namun saat ini yura tak lagi sepenuhnya harus membantu refan. Karena refan mulai melatih kakinya untuk berjalan. Walaupun memakai bantuan tongkat dan kadang berpeganggan pada dinding saat hendak ke kmaar mandi, atau sekedar melatih otot otot nya.


*Kak, mau aku bantu, sepertinya telapak kaki mu bengkak* tawar yura saat refan ingin berdiri.


*Tidak ra. aku hanya terlalu lama berdiri tadi pagi di balkon, makanya sedikit bengkak* tolak refan.


*Apa ini sakit* yura berjongkok menekan nekan punggung kaki refan dengan telunjuknya.


*Sakit, tapi hanya sedikit* refan tersenyum mendapat perhatian dari yura.


*Harusnya jangan dulu berdiri terlalu lama kak. Karna kakak masih perlu penyesuaian kembali*


*Iya, tau. Tapi mau sampai kapan aku jadi pria lemah ra. Aku ingin segera sembuh* bantah refan dengan nada lembut.


*Mmm, susah kalau kasih tau pasien yang keras kepala* ucap yura pelan.


*Kamu tenang aja. Aku tau kok harus perlahan dalam melatih otot otot saraf ku* refan mendengar ucapan yura tadi.


*Mm, baiklah. Oh ya. Obat yang dari singapore masih ada* tanya yura pada refan.


*Tinggal untuk 2 kali minum* jawab refan mihat botol obat di nakas.


*Ya sudah. Ini tab kak, ini hp, ini cemilan, dan ini jus kakak. Aku mau ke apotik dulu, jemput obat. Karena kemarin sudah di emailkan sama yang ngirim kalau obat udah sampai. Oke* yura membentuk jari jempil dan telunjuk seperti huruf O.


*Aku ikut ya* rengek refan.


*Tidak usah kakak di rumah aja. Istirahat*


*Ra, aku bosan di rumah terus. Aku mau jalan ke taman* alasan refan.


*Hm. Di bawah kan ada taman bunga. Ada kolam ikan nya juga, air mancur, bahkan air terjun buatan pun ada. jadi di taman yang ada rumah aja ya.* rayu yura.


*Pokoknya aku ikut. Kalau tidak ya sudah. Aku akan jalan kebawah sendiri* ancam refan lalu kembali berdiri.


*Hhmmm. Ya sudah. Tunggu di sini. Aku mau ambil tas dulu di kamar. Dasar bayi besar* ucap yura kesal, lalu meninggalkan refan yang masih memperlihatkan seyum pepsodennya.


Dalam perjalanan menuju apotik langganan Keluarga maisha. Yura yang sedang menyetir pusing mendengar refan yang bercelote, ingin meminta makan siang ini itu.


*Nanti makan apa yang ada depan mata saja ya, bayi besarku sayang. Sekarang diam jangan banyak bunyi lagi, aku jadi gak fokus nyetir kalau terus dengar kamu celoteh* ucap yura dengan telunjuk kanannya menempel di bibir refan.

__ADS_1


Refan melongo mendengar yura mengatakan itu padanya. Baru pertama kali sejak yura berada di sampingnya mengatakan kata sayang padanya.


*Ra, kamu barusan bilang sayang pada ku* tanya refan memastikan kalau ia tak salah dengar.


*Mana ada. Makanya jangan asik celoteh. Jadi salah dengar kan tu teliga* yura menjawab dengan gelagapan.


*Hmm, padahal aku benaran mendengarnya tadi. Tapi kamu nggak ngaku, jadi sedih* ucap refan sambil menunduk seperti anak kecil merajuk.


Yura tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah refan. Kemudian fokus kembali menyetir.


Sesampai di apotik tujuan mereka. Yura tak mengizinkan refan untuk turun, karena akan membutuhkan banyak waktu jika refan juga ikut masuk ke dalam apotik.


*Tunggu disini, aku hanya sebentar* ucap yura lalu turun dan masuk ke apotik.


Dari depan mobil biru yang ada refan di dalamnya, terliahat Meca juga baru datang, kemuadian masuk ke dalam apotik.


*Meca, kenapa dia juga ke sini. Dia beli obat apa* tanya refan pada dirinya sendiri.


*Ah, mungkin dia mau ambil stok obat untuk apotik di rumah sakit* refan kembali berfikir positif. Namun matanya mengikuti arah Meca berjalan.


Daan..


Refan terbelalak melihat apa yang di lakukan meca pada yura di dalam apotik yang berdinding depan full kaca itu.


*Auuu sakit ya, maaf ya aku sengaja. Hahhaha* meca mengejek yura.


*Meca, lepaskan tangan mu dari rambut ku. Ini sakit meca* pinta yura dalam kesakitannya.


Pelayan dan pengunjung apotik lainnya ingin melerai mekera, tapi dua orang pria berkostum serba hitam datang dan menyuru merwka untuk mundur.


*Hey, wanita *******, kamu benar benar tidak ada kapoknya ya* meca menarik rambut yura dengan kuat.


*Meca, aku tidak merebut refan dari mu, aku hanya bekerja merawatnya, jika refan memang mencintai mu, dan kau juga mencintainya. Ambillah dia. Tapi tolong, jagan sakiti aku. Aku tak tau apapun tentang hubungan kalian* ucap yura jujur.


*Hahhaa, banyak omong kamu ya. kamu pikir aku percaya dengan perkataan mulut sampah mu itu, ha*


*Aku tidak sebodoh yang kau kira nona yura, aku ini dokter lulusan S2 LA* sambung meca yang tangan kiri menarik rambut panjang yura dan tangan kanan memegang rahang yura dengan kuat.


*Ya, kau memang lulusan S2, kau memang hebat. Termasuk dalam memfitnah dan menganiaya orang* ucap refan yang sudah berdiri di ambang pintu masuk apotik, dengan di bantu oleh seorang pria.

__ADS_1


Meca membalikkan badannya, dan melepas kedua tangannya dari kepala yura. Yura sudah menangis menahan sakitnya cengkraman meca barusan.


*Ra* refan memanggil yura dan yura berlari memeluk tubuh refan dengan isak tangis.


*Sudah jangan menangis, aku disini* ucap refan mengusap usap punggung yura.


*Sial, kenapa ada refan disini. Dan berani sekali jal*ng itu memeluk refanku* batin Meca.


Kemudian refan memintaseorang pegawai wanita membawa yura duduk di kursi tunggu yang ada disana. Refan melangkah ke hadapan meca yang masih mematung dengan menahan rasa sakit.


*Aku kecewa padamu ca, aku pikir kau wanita baik baik dan sangat berpendidikan. Ternyata kau tak lebih dari seorang wanita iblis yang hanya bisa menindas orang lain, tentunya tanpa ada salah pada mu, demi kepentingan diri mu sendiri* ucap refan penuh emosi.


*Fan, kau slah sangka padaku. Dokter mu itu yang mulai dulaun fan, dia mengata ngatai ku* Meca berpura pura menangis dan membalikkan keadaan.


*Percayalah pada ku fan, aku hanya membela diriku sendiri, dokter mu itu yang selalu iri padaku* meca menunjuk yura yang masih terisak dalam pelukan pegawai wanita itu.


Yura menggeleng tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut meca barusan. Begitu juga orang ornag yang ada di sana.


*Meca, meca. Aku benar benar gak nyangka kamu ternyata sangat pandai membolak balikkan fakta ya*


*Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku ini, kalau kau lah yang menyakiti yura* ucap refan menaikkan suaranya karena sudah sangat emosi.


*Fan, dengarkan penjelasan ku dulu fan, kau mengenal ku dari kita SMA kan. Lalu mengapa kau lebih mempeecayai wanita jal*ng yang hanya menyamar jadi dokter mu itu* ucap meca.


*Sudahlah meca. Sebaiknya kau enyah dari hadapanku* ucap refan dengan keras, Dan menunjuk pintu keluar.


*Fan, dengar aku dulu, kau salah sangka fan* meca memgang kedua tangan refan. namun refan menghempaskan tangan meca.


*Meca kendra* ucapnrefan dengan rahang yang mengeras dan mata yang memerah.


Melihat refan seperti itu, Meca ciut dan keluar apotik dengan langkah lebar sambil menahan malu. Di ikuti dua pria berpakaiaan serba hitam yang tadi ikut masuk bersamanya.


Refan kembali memeluk yura yang masih menangis.


*Sudah, jagan menangis lagi. Aku disini untuk mu. Sekarang kita ke rumah sakit priksa dulu rahangmu. Ini sangat merah, dan ini ada luka gores nya.* refan menelitih setiap inci wajah yura.


*Maaf tuan, kalau boleh. kami bisa bantu mengobati luka dr. Yura* tawar pemilik apotik yang juga sebelumnya seorang dokter di salah satu rumah sakit milik maisha.


*Baiklah kalau begitu, ayo ra* refan merangkul yura dan mengikuti langkah pemilik apotik.

__ADS_1


Bersambung....


Kasihan yura ya. Gak tau apa apa lansung di amuk monster 🤭


__ADS_2