
Sore ini refan meminta yura untuk membantunya membersihkan tibuhnya, lebih tepatnya memandikan refan. Karena exas sangat sibuk mengurus perusahaan menggantikan refan selama sakit. Semntara maisha sedang pergi bersama bik jul belanja bulanan.
Yura mau tak mau membantu refan mandi, namun yura dan refan masih menjaga etika, refan mandi menggunakan celana pendek.
Setelah mandi yura membantu refan memasang handuk, dan refan berusaha untuk mengganti pakaian basahnya sendiri, yura membelakanginya.
*Ra, aku sudah selesai* ucap refan selesai memasang handuk di pinggangnya.
Yura membalikkan kembali badannya, dan membantu refan membenarkan posisi duduk di kursi roda, lalu membawa refan ke ruang ganti.
Yura menyiapakan pakaian refan, dan membantu refan mengenakannya. Ada rasa canggung di antara mereka. Tapi karena keadaan mau tak mau mereka terpaksa melakukannya.
Selesai bepakaian. Yura kembali membawa Refan ke dekat kasur, karena refan biasanya selesai mandi pasti kna berkaca merapikan dirinya.
*Ra, mami belum pulang ya* tanya refan.
*Sepertinya belum kak. Apa kakak butuh sesuatu, biar aku ambilkan*
*Tidak, aku hanya bertanya saja. Yang aku butuh sudah ada disini* ucap refan tersenyum, melihat yura dari pantulan kaca. Yura lagi lagi salah tingkah di buatnya.
*Aku akan menaruh handuk ini dulu* yura menghindar dari pandangan refan.
*Ya tuhan, kenapa semangkin hari diri ku semangkin terjebak oleh nya. Dan kenapa juga aku bisa selalu nyaman saat bersamanya* batin yura saat di kamar mandi.
*Ra, apakah masih lama* tetik refan dari luar.
*Ya kak, ini udah siapa kok* sahut yura sambil mengatur detak jantungnya. lalu keluar dari kmar mandi.
*Kakak mau makan sesuatu atau mau aku temani jalan jalan di taman* tanya yura yang sudah berdiri di depan refan.
*Asalkan bersama mu. Aku mau mau saja* jawab refan.
*Oke, kalau gitu pakai dulu sweeter nya, karna di luar sedikit dingin* yura memasangkan sweeter ke tubuh refan. Dan saat yura membenarkan sweter refan, refan memegang tangan yura.
*Ra, boleh aku memeluk mu, sebentar saja* pinta refan.
Tanpa menunggu jawaban dari yura, refan menarik tangan yura sehingga yura masuk kedalam pelukan refan. Ada kenyamanan dan kehangatan serta rasa bahagia di hati keduanya saat seperti ini.
Namun yura mencoba melepaskan pelukan refan.
*Kak, nanti nyonya maisha datang dan melihat, tolong lepaskan kak* pinta yura.
*Biarkan saja mami melihatnya, aku tak perduli* wajab refan masih memeluk erat yura. akhirnya yura pasrah.
Saat refan sedang menikmati aroma tubuh yura, terdengar bel berbunyi berkali kali.
*Kak, lepaskan pelukakan mu, sepertinya ada tamu yang datang* ucap yura. Refan terpaksa melepas pelukakannya. Yura merapikan pakaiaan nya.
*Aku ikut ke bawah, mana tau exas yang datang* pinta refan. Yura mengangguk dan membawa refan turun ke lantai bawah menggunakan lif.
__ADS_1
*Sepanjang perjalanan menuju pintu refan selalu saja memegang jemari yura yang mendorong kursi rodanya. Sekali kali refan menciumi jeri lentik nan mukus itu. Yura membiarkan saja perbuatan pasiennya ini. Karena percuma saja di larang. Tak akan di dengarkan oleh refan.
Yura membuka pintu, dan ternyata meca lah yang datang.
Meca masuk tanpa di persilahkan lalu menyenggol bahu yura. Tentu saja refan melihat itu.
*Refan, apa kabar. Maaf ya aku baru bisa jenguk kamu sekarang* cecernya sambil ingin memeluk refan.
*Iya tidak apa. Aku tau kau sibuk* ucap refan menahan tubuh meca saat akan memeluknya.
*Oh iya, aku membawakanmu kare daging kesuakaan mu* meca memberikan sebuah kotak makn oada refan, dan refan menerimanya.
*Terima kasih, harusnya tak perlu repot repot* ucap refan. Yura masih berdiri di samping pintu.
*Ra, tolong ambilkan sendok dan manhkuk kosonh di dapur* pinta refan, yura mengagguk dan mengambil kotak tersebut lalu pergi kedapur meninggalakan refan dan meca.
Refan menekan tombol kursi rodanya, dn mempersilahkan meca duduk.
Meca duduk di samping kursi roda refan.
*Fan, kenapa kau tidak gabarin aku kalau kamu insiden* tanya meca dengan nada manja.
*Kejadiannya terlalu cepat meca.lagian saat kejadian aku sudah tidak sadarkan diri*
*Terus sekarang bagian mana yang sakit* meca mencoba memegang tubuh refan, namun refan menghindar.
Yura datang membawa dua gelas teh dan cemilan serta mangkuk kosong di dalam sebuah nampan. Dan mepersilahkan meca minum.
*Jadi ini dokter yang merawat mu fan* tanya meca memandang rendah yura.
*Ya, dia yura dokter ku,* jawab refan memandang yura dengan senyum. Yura hanya diam saja.
*Hm, ternyata dokter mu juga bisa di jadikan pembantu ya* ucap meca.
*Meca jaga ucapan mu, disini yura adalah dokter ku bukan pembantu, dia membuatkan mu minum karena bik jul sedang ikut mami belanja* Serga refan tak suka dengan ucapan meca.
*Ya maaf, aku kan hanya bercanda.*
*Ra duduk disini, jangan berdiri saja* pinta refan, yura pun duduk di samping refan.
Refan meminta yura memasukkan kare yang meca bawa tadi ke makok kosong, dan menyuapinya.
*Tuan, anda tidak boleh makan care ini terlalu banyak ya, karena ini tidak bagus untuk anda yang dalam masa pemulihan* yura mengingatkan. Refan mengangguk mengerti.
Saat yura akan menyuapai refan. Meca mengambil paksa mangkok yang ada di tangan yura.
*Biar aku saja yang menyuapi refan, kau pergi saja mengurus yang lain* ucao meca.
*Baik nona,* yura pun berdiri, namun baru saja akn melangkah, refan memegang tangannya.
__ADS_1
*Kamu di sini saja, suapi aku cake itu, sepertinya cake itu enak* ucap refan. Yura mengangguk lalu melihat meca yang seperti menahan amarah.
*Kok malah makan cake, kan tadi mau makan kare* protes meca pad refan.
*Kata dokterku, kare ini tidak baik untuk masa pemulihan. Jadi aku makan cake saja* ucap refan.lalu menerima suapan dari yura.
Meca meletakkan kembali mangkuk kare itu ke meja dengan kasar.
Refan semangkin memanas manasi hati meca dengan terus meminta yura memanjakannya. Bahkan refan meminta yura membantunya duduk di sofa tepat di samoing yura duduk.
Meca bangkit dari duduknya *Sini aku bantu* tawar meca.
*Tidak usah meca, biar yura saja. Aku lebih nyaman kalau yura yang memeluk tubuhku untuk pindah ke sofa* tolak refan.
Meca kembali duduk di tempatnya.
*Sialan ni perempuan, pasti dia susah memberikan tubuhnya pada refan, sehingga refan tergod dengannya, Awas saja kau. Tak akan ku biarkan kau memiliki refan* batinnya dan melihat yura sinis.
Yura memilih fokus dengan perintah refan saja. Karena dari awla meca masuk tadi yura sudah melihat kalau refan tak menyukai kehadiran meca.
*Silahkan kau kutuk aku nona meca, aku tak akan pernah perduli, aku hanya bertugas disini* batin yura.
Lalu tersenyum sekilas melihat meca yang sedang berapi api.
Refan pun semangkin memanas manasi hati meca saat melihat yura ikut dalam permainannya.
Karena merasa tak di anggap, meca akhirnya pamit pulang. Dengan sedikit drama refan berkata.
*Kok cepat sekali pulang nya, tidak mau nunggu mami dulu, sepertinya sebentar lagi mami pulang*
*Tidak usah fan, lain kali saja aku bertemu tante maisha nya, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan temanku* alasan meca.
*Ooh, baiklah. Terima kasih sudah mau jenguk aku, sampai repot repot membawakan kare daging*
*Ya tak masalah, kitakan teman baik. jadi tak ada kata merepotkan untuk teman baik* ekting manis meca.
*Hati hati di jalan mec* ucap refan saat meca sudah di ambang pintu ingin keluar, meca berbalik badan dan mengangguk serta memperlihatkan senyum manis pada refan.
Setelah meca tak terlihat lagi, refan kembali bertanya pada yura.
*Ra, apa benar kare ini tidak boleh untuk ku makan*
*Hahah tentu saja boleh kak, apa lagi sepertinya kare ini di masak dengan daging sapi pilihan, tanpa lemak, tapi tetap tidak boleh banyak ya* ucap yura.
*Lalu tadi kamu bilang tidak baik untuk ku*
*Kan aku bilang tidak baik saja, bukan tidak boleh* yura memberikan senyum meledek pada refan.
*Kau ini ya, pandai sekali mengikuti permainanku* refan menarik hidung mancung yura karena gemas melihat yura tersenyum seperti itu padanya.
__ADS_1
*Sakit kak* teriak yura.
Bersambung...