Dokterku Pujaan Hatiku

Dokterku Pujaan Hatiku
Curiga


__ADS_3

Refan gelisa menunggu yura yang tak kunjung kembali dari mengantar laporan.


*Kemana dia, kenapa lama sekali, biasanya juga 20 menit udh kembali*


*Ini sudah hampir 1 jam belum juga kembali*


*Kenapa perasaan ku jadi tak enak gini ya*


Refan terus saja melihat ke arah pintu dengan perasaan khawatir.


Tak lama seseorang mengetuk pintu, refan lansung menekan tombol kursi rodanya dan mengarah ke pintu.


Setelah pintu terbuka, tanpak seorang pria berseragam perawat berdiri di depan pintu.


*Ada apa* tanya refan..


*Maaf tuan muda, saya mau meyampaikan kalau dr. Yura sedang di bawa ke UGD* jelas perawat tersebut.


*Apa, yura masuk IGD* tanya refan kaget.


*Iya tuan, tadi ada suster yang meemukan dr. Yura pinsan di lorong arah lab*


*Ya Allah. Y udah tolong bantu aku untuk kesana* pintarefan.


*Baik tuan muda* perawat pria itu membantu refan mendorong kursi rodanya ke UGD.


Sesampai di UGD yura sudh sadar dan sedng duduk di banker. Dengan seorang suster tengah memasangkan perban di kening kanan yura.


*Ra, kamu tidak apa apa* tanya refan saat sudah sampai di dalam UGD.


Yura tersenyum * Aku gak apa kak, hanya luka kecil saja kok* jelas yura.


*Alhamdulillah, syukurlah* refan mengusap dadanya.


*Tapi kenapa kamu bisa jadi seperti ini ra* tanya refan.


*Mmm itu kak. Tadi.. Tadi aku pusing jadi jatuh deh, nungkin pas jatuh kepala ku terbentur dinding* alsan yura, dia tak mau jika jujur akan memperkeruh masalah.


*Ooh. Ya sudah sekarang kita pulang saja yok. Udah hampir sore* sabung yura saat refan terlihat tak puas dengan jawaban nya.


*Emang kamu benaran udah gak apa, kalau harus di rawat kita diaini aja dulu ra, aku gak mau kamu kenapa napa* ucap refan khawatir.

__ADS_1


*Gak apa kok kak. Ini udah bisa jalan* yura turun dan mangkah ke dekat refan.


*Ya sudah kalau gitu. Tapi kalau ada keluhan bilang ya, biar kita segera periksa* ucap refan. Yura megangguk.


Setelah mengambil tas di kamar khusus refan, mereka lansung pulang ke rumah.


Sesampai di rumah, ternyata maisha sudah pulang terlebih dahulu, dan sedang melakukan vidio call drngan teman Alumni nya.


*Sob, udah dulu ya, anak ku sepertinya udah pulang tu, besok kita lanjut lagi ngobrolnya di cafe* ucap maisha pada teman.


*Ya, baiklah mai, sampai jumpa besok di cafe ya, bye*


Telpon vidio pun terpitus, maisha membukan pintu untuk refan dan yura, karena bel sudah berbunyi. Saat pintu terbuka. Alangkah terkejutnya maisha melihat kening kanan yura di perban.


*Assallamulaikum* ucap refan dan yura bersamaan.


*Waalaikum salam, ra, kening mu kenapa di perban gitu nak* tanya maisha.


*Tadi yura pusing mam, jadi dia jatuh, trus keningnya membentur dinding* refan menjawab.


*Benar begitu ra* maisha penuh selidik. Yura memagguk. *Iya mam*


*Ya sudah kalian bersih beraih dulu, udah mau magrib. Nanti kita bahas lagi, mami tunggu di musolah ya. Kita magrib bersama. Pak koli dan bik jul juga sedang siap siap* ujar maisha.


*Yakin kakak udah kuat* tanya yura.


*Iya, nanti pelan pelan saja. Lagian mau sampai kapan kamu bantuin aku mandi terus, yang ada akunya keenaan nanti di manja kamu terus*


*Ya udah kalau gitu. Tapi kalau butuh bantuan triak aja ya* ucap yura yang sudah mendorong kursi roda refan ke kamar mandi.* refan mengangguk.


*Siap bos* ucap nya dengan gaya hormat. Yura tertawa geli melihatnya.tentu saja refan bahagia melihat tawa dari yura.


Refan masuk ke kamarandi, dan yura melangkah ke ruang ganti menyiapkan pakaian refan. Setelahnya keluar dan menuju kamarnya untuk segera mandi dan siap siap untuk sholat magrib.


Selesai sholat magrib berjemaah yang di imami oleh pak koli supir yang setia pada keluarga maisha sejak refan kecil. Mereka makan malm bersama.


Setelah makan malam, refan menyuru yura untuk istirahat saja. Karena ia akan menonton dengan maisha di ruang keluarga sebentar.


*Ra, kamu istirahat aja. Sekalian minum obat* seru refan.


*Tapi kakak nanti gimana*

__ADS_1


*Udah, refan biar mami yang antar ke atas. Lagian kan naik lif sendiri juga bisa* sela maisha.


*Baik lah kalau gitu. Yura ke atas dulu. Permisi* yura bangkit dari duduknya dan lansung menuju kamarnya.


Sejujurnya ada rasa perih di keningnya karena ada 3 jahitan disana.


Di ruang keluarga, maisha dan refan duduk dan berbincang bincang mengenai perusahaan mereka dan tentang berita di tv yang sedang mereka tonton.


*Fan, mami rasa ada yang aneh sama yura, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari kita soal pusingnya itu* ucap maisha sambil memakan cemilan.


*Refan rasa juga gitu mam. Masa iya cuma pusing aja trus jatuh pinsan tapi keningnya kebentur kuat bangat, sampai harus di jahit gitu* ucap refan.


*Jadi itu kening di jahit fan*


*Iya mam, kata suster 3 Jahitan*


*Yakin mami ada sesuatu yang telah terjadi ni*


*Iya mi, tapi tenang saja. Refan sudah meminta rekaman cctv di lorong itu pada pihak rumah sakit*


*Ha itu bagus. Segera kasih tau mami ya kalau udah tau apa yang sebenarnya terjadi* pinta maisha. Refan pun mengangguk.


Tak lama kemudian sebuah pesan masuk di ponsel refan, ternyata dari pihak rumah sakit yang tadinya di tigaskan refan untuk mengecek cctv.


*Selamat malam tuan muda, cctv di lorong tempat kejadian dr. Yura pinsan mati. Tapi cctv sebelum lorong ada dan menyala waktu kejadian tuan.* Isi pesan tersebut.


*Ya sudah, segera kirimkan rekaman itu* balas refan.


Tak sampai 3 menit sebuah pesan masuk lagi di ponsel refan. Dan refan lansung membuka pesan tersebut.


*Ternyata kamu pelakunya* ucap refan saat melihat rekaman tersebut.


*Apa maksud mu fan* tanya maisha yang dati tadi sibuk nonton tv dan mengemil.


*Ini mam, ternyata dugaan kita benar, kalau yura berbohong dari kita* ucap refan lalu memperlihatkan rekaman cctv itu pada maisha.


*Astaga,* maisha menutup multnya, tak menyangka kalau pelakunya adalah Meca.


*Tapi apa tujuan meca melakukan itu pada yura* sambungnya.


*Ntah lah ma. Pasti ada sesuatu yang meca inginkan dari yura* ucap refan masih memikirkan apa maksud dan tujuan meca.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2