
Cuaca hari ini sangat mendukung untuk penghuni rumah maisha. Refan, yura dan maisha tengah duduk bersantai di halaman belakang rumah, menikmati aroma bunga dan angin yang berhembus, menyegarkan tubuh mereka. Di temani oleh teh hangat dan juga cake buatan maisha serta beberapa cemilan lainnya.
3 minggu sudah yura bekerja sebagai dokter pribadi refan, selama itu juga yura belum ada pulang ke aperteman nya, karena maisha tak mengizinkan yura jauh dari refan.
Karena yura mengerti akan kecemasan hati maisha terhadap refan, yura menuruti permintaannya, lagi pula seluruh kebutuhan yura selama di rumah nya, sudah tersedia.
*kak, mau teh* tanya yura pada refan yang asik dengan tablet di tangannya.
Refan melihat yura dengan senyum mempesona lalu mengangguk.
Yura memberikan secangkir teh kepada refan, dengan senang hati refan menerima teh tersebut dan meminumnya.
*Mmm, rasa teh nya kok beda dari yang biasa, apa lidah ku sudah ikutan tak normal seperti tubuhku yang lain* ucap refan.
*Kak, jangan berkata seperti itu, kakak akan segera sembuh, hanya saja butuh proses dan kesabaran sedikit saja* ucap yura tak suka dengan perkataan refan.
*Iya nak, yura benar. Jangan menyerah, kau pasti bisa sembuh* maisha membenarkan ucapan yura.
*Tapi aku sudah bosan duduk di kursi ini mam*
*Iya mami mengerti, tapi mami mohon jangan berkata seperti itu lagi nak.* maisha sedih.
*Ya mam, maafkan refan. Refan janji akan tetap berusaha untuk sembuh. Apalagi dokter refan ini sangat telaten dalam merawat refan* ucap refan melihat yura. Yura hanya tersipu malu.
*Mami bersyukur kamu bisa mendapatkan dokter sebaik dan secantik yura* puji maisha pada yura karena melihat refan yang selalu saja menatap yura yang tertunduk malu.
*Iya mam, apalagi refan. sangat bersyukur sekali* sahut refan. Yura semangkin tersipu malu.
****
Di Rumah sakit Maisha Medical
Meca kembali bekerja sebagai dokter karena memang sudah menyelesaikan S2 nya di LA.
Namun setiap hari hatinya tidak pernah tenang mengingat refan dan yura. Ada saja yang terkena imbas kekesalannya, Seperti hari ini.
*Kau bisa bekerja tidak sih, membuat susu hangat saja lama sekali* omel meca pada seorang OB
*Maaf dok, tadi dr. Hendri meminta saya juga membuat teh untuk beliau* ucap OB tersebut dengan jujur.
__ADS_1
*Banyak alasan. Ya sudah sana keluar* usir meca. OB itu pun keluar dengan perasaan sedih.
*Aku harus bisa menjadi dokter refan, bagaimanapun caranya*
*Ya, tak kan ku biarkan dokter yura itu mencari kesempatan untuk mendekati refan dan dr. maisha.*
*Ya aku harus bisa* gumam meca di dalam ruangannya.
***
Disebuah cafe, exas duduk sendiri sambil memikirkan masa depannya. Sambil menunggu pesanannya datang. Pandagannya lurus ke depan, dan melihat banyaknya kendaraan berlalu lalang.
*Mm, sudah 29 tahun aku hidup, tapi masih saja tetap sendiri.*
*Apakah memang aku di takdirkan menjadi jomblo sejati* Gumamnya pasrah.
Tak lama pesanannya pun datang, exas memimum jusnya. Dan saat melihat ke arah jendela kaca, ia melihat ada seorang wanita turun dari taksi.
*Sepertinya aku mengenal wanita itu*
*Ah mungkin mirip saja* gumamnya lagi. Dan kembali menikmati makan siangnya.
*Ya duduk saja, lagian ini tempat umum kok* jawab exas tanpa melihat siapa yang sedang berbicara padanya. hanya fokus dengan makanannya saja.
*Oke, terima kasih tuan* Ucap wanita itu lagi. Exas hanya menjawab Mmm saja.
Setelah pesanan wanita itu datang, wanita itu mengucapkan terima kasih pada pelayan.
Dan saat itu juga exas melihat siapa wanita yang ada di depannya saat ini.
*Kau* exas terkejut, wanita yang tadi ia lihat turun dari taksi ternyata sekarang duduk di depannya.
*Kak exas, aah. Ternyata dunia sempit ya* ucap kenny, exas mengangguk.
*Kalau tau dari tadi kau yang akan duduk di situ, akan ku persilahkan dengan baik.* exas menyesal telah cuek.
*Tidak apa kak. Lagian kamu sepertinya sangat kelaparan* sindir ken.
*Hahaha bukan kelaparan, tapi doyan* gurau exas. Lalu mereka tertawa bersama.
__ADS_1
*Kamu sendiri saja* tanya exas basa basi.
*Ya, tadi rencananya mau lansung pulang, tapi ternyata di jalan aku kelaparan, jadi mampir deh*
*Ooh, kamu dari dinas ya, kalau di lihat dari pakaian mu, apakah kamu seorang dokter* tebak exas.
*Haha iya kak. Aku dokter umum di rumah sakit X*
*Ooh, begitu. Trus kamu tinggal dimana* tanya exas lagi.
*Untuk sementara aku tinggal di aoerteman teman ku, karna aku belum cukup uang untuk membeli sebuah hunian* jujur ken.
*Tenang saja. Suatu saat kamu pasti juga bisa beli sebuah hunian imoian mu* exas menyemangati.
*aamiin. Ayo makan kak*
*Aah tidak, aku sudah kenyang, kau lanjut saja*
*Baiklah* kenny mulai makan dan exas masih setia duduk di kursinya sambil melihat kenny makan. Beruntung masih ada jus yang tersisa di gelas. Sehingga exas masih punya alasan untuk berlama lama duduk di sana.
*Kakak kerja dimana* tanya ken di selah makannya.
*Aku hanya seorang asisten, dan kebetulan bos ku sedang sakit. Jadi aku harus makan sendiri. Biasanya aku kesini bersama beliau* jelas exas. Ken mengangguk mengerti.
*Kakak asli warga sini ya*
*Iya, orang tua ku asli london, kau sendiri* exas belik bertanya.
*Aku juga warga negara london. Hanya saja dulu sewaktu orang tuaku masih hidup, kami tinggal di kampung yang tak jauh dari kota ini.*
*Ooh, maaf jika aku membuatmu sedih mengingat kedua orang tua mu* sesalnexas.
*Tidak masalah kak, aku tidak sedih kok* kenny tersenyum. Membuat exas merasakan ada getaran anet di tubuhnya.
Selesai makan, exas mengantar ken ke aperteman. dengan alasan mereka searah. Padahal kantor Colas grup milik refan berbeda arah dengan aperteman milik yura yang di tempati oleh ken sekarang.
*Cinta butuh perjuangan ex, jadi tak apa kalau kau terlambat mengahdiri rapat siang ini. Pasti claen mu mengerti* bantin exas.
Di perjalanan, exas dan kenny saling bertukar cerita, seakan mereka sudah kenal lama. Bahkan mereka bertukar nomor. Walaupun exas yang selalu agresif dalam hal ini.
__ADS_1
Bersambung....