
Jam menunjukkan pukul 10 malam, yura baru saja keluar rumah sakit dan menuju parkiran hendak pulang.
Baru saja masuk kedalam mobilnya dan hendak menghidupkan mesin mobil. Seorang suster datang menghampiri mobil yura.
*Dok, dokter. Buka pintunya* pinta suster, dan terus mengedor jendela mobil yura, dan yura menurunkan kaca mobilnya.
*Ada apa sus* tanyanya bingung, kenapa suster tersebut seperti panik begitu.
*Dok, tolong tangani pasien yang sedang kritis didalam* pinta sang suster.
*Emang dokter heru kemana* tanya yura. (Dokter heru adalah dokter ahli bedah juga, sama seperti yura. hanya saja dokter heru lebih senior) dan dokter heru yang harusnya bertugas jaga malam untuk hari ini.
*Dokter heru tidak bisa hadir hari ini, karena sedang keluar kota ada seminar* jelas sang suster masih tampak panik.
*Oke, kita segera ke UGD sekarang* ucap yura.
Sesampainya di UGD yura bertemu dengan dokter umum yang tengah melihat hasil ronsen pasien.
*Bagaimana keadaannya dok* tanya yura saat dokter itu melihat hasil scan.
*Sepertinya ada luka dalam dok, dan kalau di lihat dari hasil scan ini. Bebarapa bagian tulang rusuknya retak bahkan ada yang patah, dan kepala bagian belakangnya seprtinya juga mengalami benturan yang keras* jelas dokter umum tersebut pada yura.
*Baik, sekarang pindahkan pasien ke ruang operasi, dan segera hubungi keluarga pasien* pinta yura pada suster yang ada di sana. Suster itu pun keluar dan menghubungi dr.maisha.
*Halo dokter, maaf mengganggu waktu istirahat anda.* ucap suster itu.
*Ya, tidak masalah, ini siapa dan ada apa* tanya maisha.
*Saya suster yang bertugas di rumah sakit maisha medical 1. ingin mengabari kalau tuan refan baru saja mengalami kecelakaan bersama dengan asistennya* jelas suster.
__ADS_1
*Ya tuhan* maisha ahmpir saja tumbang dan ambruk di lantai, mendengar berita kecelakaan anaknya.
Beruntung bik yuli yang kebetulan membawa nampan berisi kopi dan kue untuk di antar ke satpam lewat di dekat maisha. Sehingga bik yuli bisa menahan tubuh maisha.
*nyonya, anda baik baik saja* tanya bik yuli. Maisha tak menjawab, pikiran nya entah kemana dan badannya mendadak lemah.
*Hallo dr maisha* terdengar suara seserang memanggil maisha di hp yang masih dalam genggaman maisha.
*Hallo, ini siapa* tanya bik juli.
Suster tersebut menjelaskan pada bik yuli tentang keadaan refan saat ini. Dan meminta agar maisha segera datang ke rumah sakit, untuk menanda tangani surat persetujuan tindakan operasi refan.
Berlahan bik juli menjelaskan semua yang di katakan suster pada maisha, dan maisha meminta bik juli untuk mengambilkan tas nya di kamar, serta meminta supir untuk menyiapkan mobil.
**
Di rumah sakit maisha medical.
*Sudah dok, mereka sedang dijalan, kemungkinan sebentar lagi akan sampai* jawab suster tersebut. Sementara dokter umum yang akan membantu yura sedang memeriksa exas.
20 menit kemudian, maisha berlari menuju ruang IGD sambil terisak, dan di ikuti oleh bik juli di belakang yang membawa tas manjikan nya itu.
*Dokter, bagaimana kondisi anak saya sekarang* tanya maisha pada yura yang sedang mengecek refan.
*ibu tenang dulu ya* ucap yura dan menjelaskan semuanya pada maisha.
*Lakukan yang terbaik untuk anak saya dok, saya mohon* pinta maisha pada yura sambil mengatup kedua tangannya di dada.
*Iya bu, kami akan berusaha semampu kami, ibu juga tolong bantu kami dengan doa ya, karena saat ini doa ibu sangat berarti untuk kesembuhan pasien* tutur yura.
__ADS_1
Setelah maisha menanda tangani surat persetujuan untuk melakukan operasi anak nya. Refan di bawa ke ruang operasi.
Yura di bantu oleh beberapa rekannya, menjalanankan tugas mereka dengan sangat hati hati dan teliti. Sementara exas, dia hanya mengalami patah tulang di bagian tangannya saja. Dan juga beberapa luka gores di wajah serta kaki.
4 Jam berperang di dalam ruang operasi, yura dan tim nya akhirnya bisa tersenyum legah, karena operasi berjalan dengan lancar.
Maisha yang menunggu di depan ruang operasi bersama bik jul sangat gelisa dan terus menangis.
Namun saat lampu tanda operasi selesai itu mati. Maisha bangkit dan berjalan ke pintu ruangan tersebut.
Yura keluar dengan senyum mengambang di bibir tipisnya.
*Dok, bagaimana operasi anak saya* tanya maisha hawatir.
*Alhamdulillah, berkat doa nyonya dan kuasa Allah, operasi berjalan dengan lancar.* jelas yura.
*Alhamdulillah, syukurlah, terima kasih dokter* ucap maisha tulus.
*Sama sama nyonya, sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat. Saya permisi nyonya* pamit yura, maisha menganggukkan kepalanya.
Yura masuk ke ruangannya, dannduduk di kursi kerja nya.
*Allahuakbar, capeknya luar biasa, sampai berkeringat gini*
*Tapi alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar tadi*
*Eh tunggu, pasien tadi wajahnya mirip dengan kak refan. Apa itu benaran kak refan*
*Aah tidak mungkin, pasti aku salah orang. Kan wajahnya penuh dengan luka gores* gumam yura saat melihat wajah refan sekilas karena ia hanya fokus pada operasi refan saja. Di tambah lagi pas yura melihat wajah refan, suster tengah memasangkan perban pada wajah refan yang penuh dengan luka gores.
__ADS_1
Bersambung......