
Setelah kejadian di Apotik, refan membawa yura pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah ternyata susah ada Mecca yang sedang mengobrol dengan maisha di ruang tamu.
*Assallamualaikum* ucap refan dan yura bersamaan saat masuk. Maisha menjawab salam mereka.
*Kamu, ngapain kamu ke sini* tanya refan pada meca.
*Fan, aku kesini mau bilang sama tante maisha kalau aku akan gantikan yura sebagai doktermu* jawab meca.
*Hm, Dasar gak punya malu ya kamu* ucap refan. Yura hanya menundukkan kepalanya dan berdiri di belakang refan.
*Yura, sini. Ngapain kamu berdiri aja disitu* maisha menarik tangan yura dan kemudian yura duduk di sampingnya.
*Astaga, ra. Ini wajah kamu kenapa ada gores gores dan mata kamu sembab* tanya maisha saat melihat wajah yura.
*Mami tanya saja sama wanita ular itu* ucap refan sengit dan melihat ke arah meca yang masih berdiri menahan amarah karena maisha memperlakukan yura dengan baik.
*Meca, emang apa hubungannya wajah yura sama meca fan* maisha bingung.
*Sebelum aku jawab pertanyaan mami. Aku mau tanya dulu. Wanita ini sudah cerita apa saja sama mami tadi* tanya refan.
*Meca bilang dia di minta oleh dr. Hendri untuk menggantikan posisi yura sebagai dokter pribadimu. karena dokter ahli beda yang selalu stay di rumah sakit sedang cuti menikah* jelas maisha apa adanya. Sesuai yang meca katakan padanya tadi.
*Ooh, trus mami percaya sama dia. Apa mami sudah nelpon dr. Hendri* tanya refan mengintrogasi sang ibu. Maisha menggeleng.
*Sekarang coba mami telpon dr. Hendri dulu untuk memastikan ucapan putri semata wayang nya ini* perintah refan. Maisha pun setuju dan menelpon dr. Hendri.
**Hallo dr. Hendri. Maaf saya mengganggu waktu anda*
*Iya dr. Maisha. Ada apa. Apa ada yang bisa saya bantu* sahut dr. Hendri di seberang sana.
*Ini, Mmm putri anda saat ini ada di rumah saya*
__ADS_1
*Ngapain Meca di sana dokter. Apa meca membuat masalah lagi* tanya dr. Hendri.
*Aah, tidak tidak. Dia hanya datang berkunjung. Oh iya apa kah saya boleh bertanya sesuatu* ucap maisha dengan hp yang masih di lospiker.
*Ya, tentu dok. Ada apa*
*Meca bilang mulai besok dr. Yura yang menjadi dokter pribadi anak saya akan di gantikan dengannya. Atas perintah anda, apa itu betul*
*Haa. Tidak. Saya tidak pernah menyuru siapapun untuk menggantikan dr. Yura. Termasuk meca anak saya sendiri* jawab dr. Hendri*.
*Kurang ajar. Beraninya mereka mempermalukan aku di rumah mereka* batin meca. Tangannya mengepal kuat.
*Baiklah, mungkin meca tadi hanya bercanda pada saya. Diakan suka bercanda jika bertemu saya. Kalau gitu saya tutup ya dok. Terimakasih atas waktu anda. Selamat siang* maisha memati sambungan telponnya.
*Nah, mami sekarang tau kan kalau wanita ini pembohong besar* ucap refan dan maisha menatap meca dengan amarah.
*Dan mami mau tau kenapa yura jadi seperti sekarang. Itu karna ulah dia mi* sambung refan menunjuk meca dengan tangan kirinya.
*Maksud kamu yura di aniaya meca* tanya maisha. Lalu refan memperlihatkan rekaman cctv yang ada di apotik yang ia minta sebelum pulang tadi dengan pihak apotik.
*Meca. Kamu itu maunya apa sih, kenapa kamu sejahat itu pada yura. Apa yang sudah di lakukan yura pada mu sehingga kamu selalu saja mengganggu nya* tanya Maisha dengan emosi.
Yura bangkit dari duduknya dan memegang lengan maisha.
*Nyonya. Sudah nyonya. Biar saja. Mungkin dr. Meca tak sengaja melakukannya. Aku juga tidak apa apa nyonya* ucap yura dengan berurai air mata.
Maisha mengatup wajah yura dengan kedua tangannya.
*Yura, ini sudah keterlaluan. Ini bukannya tidak di sengaja. Tapi ini sangat di sengaja. Katakan pada mami. kening mu ini karna ulah dia jugakan* tanya maisha pada yura. Yura mengangguk. Maisha semangkin tersulut emosi begitu juga refan.
*Awas kau yura. Sepertinya kau sudah sangat berani melawanku ya* batin meca saat maisha lagi lagi membela dan memanjakan yura.
__ADS_1
*bik jul* teriak maisha. Bik jul pun datang dengan setegah berlari.
*Bik, tolong bawa yura ke kamarnya. Yura sayang. Kamu sekarang masuk kamar mu, tenangkan diri di sana. nanti mami akan menyusul* perintah maisha. Yura hanya menurut saja. Dia juga tak tahu harus bagaimana, dan harus apa saat ini.
Sepeninggalan yura. Maisha dan refan menyuru Meca untuk pergi dari rumah mereka secara paksa.
*Meca. Sebelum saya menghabisi mu. Sebaiknya kamu pergi dari sini* ucap refan geram.
*Fan, dengarkan penjelasanku dulu fan. tante, meca bisa jelasin semuanya. Ini tak seperti yang kalian pikirkan* meca masih saja tak tau malu.
*Tidak ad yang perlu kamu jelaskan meca. Kalau kamu mau jelaskan ssmuanya. Jelaskan nanti di kantor polisi* ucap maisha muak.
Lalu meca di seret oleh refan supaya keluar dari rumah mereka.
*Fan lepaskan fan*
*Fan, aku bisa jelasin fan, kamu jagan percaya sama yura itu* ucap meca.
*Diam kamu. Cepat pergi dari rumah ku* usir eefan dan mendorong dengan kasar tubuh meca ke luar pintu.
*Aaw. Sakit fan* rengek meca yang tersungkur di lantai teras rumah refan.
*Kau bilang apa, Sakit. Ini tidak seberapa sakitnya di bandingkan dengan perbuatanmu pada orang orang yang telah kau aniaya meca.* Ucap refan sambil berjongkok dan memegang dagu meca dengan kuat.
*Pak koli, bawa wanita ini keluar dari sini* ucap refan lalu berdiri dan meninggalakan meca yang di paksa keluar oleh pak koli.
*Refan, refan, aku akan jelaskan semuanya.*
*Refan..* meca bertriak.
*Diam la nona cantik. Makanya jagan jahat jadi orang, sana pergi* pak koli juga ikut mengusir meca.
__ADS_1
*Awas saja kau yura. Aku akan balas semua ini pada mu. Gara gara kamu nama baik aku di depan nyonya maisha jadi jelek* gumam meca lalu pergi meninggalkan rumah Maisha.
Bersambung.....