
Semalaman yura tertidur sofa yang ada di kamar refan, karena semalam refan merasakan sakit di beberapa bagian pada punggungnya. Maka dari itu yura memutuskan tidak meningalkan refan sendiri dikamarnya.
Azan subuh berkumandang dengan indah, yura terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul 4.35 pagi.
*Mmm, sudah subuh* yura mengeliat dan melihat ke arah refan yang ternyata juga sudah bangun.
*Selamat pagi dokterku yang cantik* sapa refan, yura tersipu malu.
*Pagi tuan, apakah anda membutukan sesuatu* tanya yura mendekat ke arah refan.
*Tidak, eh iya. Aku mau solat subuh. Bisa kau bantu aku berwuduh dan mengganti pakaianku ini* pinta refan.
*Tuan muslim juga* tanya yura.
*Ya, alhamdulillah saya dan seluruh keluarga kami terlahir dalam keadaan muslim* jawab refan.
*Aah syukurlah. Ternyata aku kurang baca berita selama ini, sehingga agama majikan ku saja aku tidak tahu* gumam yura, refan mendengarnya hanya tersenyum.
*Azan yang kau dengar dengan merdu itu berasal dari Masjid Brick Lane, yang terletak di timur rumah ini* jelas refan.
*Benarkah, saya kesini tidak lihat kanan kiri kemarin jadi tidak tahu*
*Bukannya tidak lihat, tapi kamu tertidur saat di perjalanan kemari nona yura* ucap refan tertawa kecil.
Yura hanya bisa menahan malu karena kesalahannya.
*Yura membantu refan duduk dan mengganti pakian, setelahnya yura mendudukkan refan di kursi roda, agar refan mudah untuk berwuduh.
Yura mendorong kursi roda refan ke musollah yang terletak di lantai atas ada di rumah tersebut, sehingga yura hanya perlu mendorong saja tanpa harus turun kebawa menggunakan liff. dan ternyata di musollah mini tersebut, sudah ada maisha dan juga bik jul disana.
*Sayang, kau mau solat juga* tanya maisha pada refan.
*Iya mam, sejak di rumah sakit aku jarang solat, beruntung sekarang sudah di rumah dan ada yura yang membantuku ganti baju dan berwuduh*
*Yura, kau juga muslim* tanya maisha.
*Alhamdulillah iya nyonya*
*Alhamdulillah, ternyata kita seiman ya, ya udah ayo kita solat sekarang. Kalian sudah berwuduh kan*
Yura dan refan mengangguk bersamaan.
*Biar refan jadi imam nya mam* yura mendorong kursi roda refan ke depan, dan kemabali meluruskan shaf di belakang bersama maisha dan bik jul.
__ADS_1
Setelah solat subuh bersama, bik jul kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan maisha memilih duduk di di taman bunga kesayangannya di temani dengam secangkir teh hangat.
Yura membantu refan membersihkan badannya, dengan cara mengelap tubuh refan. karena exas yang akan datang untuk membantu refan mandi nanti.
* dokterku, Tolong bukakan tirainya* pinta refan yang masih duduk di kursi rodanya.
*Baik tuan* Yura membukakan gorden yang menutupi jendela kaca itu.
Sesaat yura terkesima melihat keindahan yang ada di depan matanya, hamparan bunga warna warni yang bermekaran.
*MasyaAllah, indah sekali* gumam yura.
*Itu adalah taman buatan, mami yang menanam dan merawat semua bunga itu* refan menyadarkan yura.
*Dr. Maisha suka berkebun ya tuan* tanya yura masih berdiri di tempatnya.
*Akan ku jawab pertanyaan mu itu dokter, tapi sekarang buka dulu jendela itu dan dorong kursi rodaku ini* ucap refan.
*Aa, iya. Maaf tuan saya lupa* yura menepuk keningnya sendiri. Refan tertawa geli melihat tingkah yura.
Yura menggeser salah satu daun kaca besar itu ke samping, sehingga wanginya bunga yang sedang bermekaran di bawah sana bisa tercium ke indra penciumannya.
Setelah mendorong kursi roda refan mengarah ke taman bunga, yura berdiri di samping refan sambil tangannya memegang pagar besi yang diukir sedemikian rupa.
*Yura, bisakah aku meminta sesuatu pada mu* tanya refan. Yura melihat ke arah refan yang ada di dampingnya.
*Ya tuan, ada apa. Anda mau minum susu, atau anda sudah lapar* tanya yura.
*No, aku mau kau selalu ada disampingku, dan berhenti memanggilku tuan*
*kalau anda meminta saya berhenti memanggil anda tuan, terus saya harus panggil anda siapa*
*Sayang* ucap refan. Yura membulatkan bola matanya.
*Hahaha, aku bercanda. Panggil saja sesuka mu, asal jangan tuan*
*Mmm kakak saja, seperti dulu pertama kita kenal, bagaimana*
*Ya itu bagus juga*
*Tapi kau belum menjawab permintaanku yang satu nya lagi* sambung refan.
*Yang mana* yura pura pura lupa.
__ADS_1
*Untuk selalu disampingku selamanya* ucap refan merai tangan yura.
*Kalau itu pasti, saya kan tugasnya memang merawat tuan, jadi harus terus berada di samping tuan, eh kakak maksudnya*
*Aku maunya lebih dari itu yura* refan semangkin menggenggam jemari yura.
*Untuk itu......* yura bingung harus menjawab apa.
*Hey, kalian di sana. Ayo sini turun. Bunga mawar mami sedang bermekaran ni* maisha berteriak dari bawah, lebih tepatnya di tengah taman bunga.
*Ya mam, tunggu kami di sana ya* refan masih menggenggam sebelah tangan yura.
*Iya, cepatlah, sebelum bik jul selesai masak sarapan* balas maisha. Refan dan yura mengangguk.
*Ra, jika kau tak mau menjawab tidak apa. aku sadar akan siapa aku, hanya pria cacat.* ucap refan melepaskan genggaman tangannya.
*Tuan, eh kak. nyonya maisah sudah menunggu kita, ayo kita kesana sekarang* yura mencoba mengalihkan pembicaraan.
*Ya baiklah, kita naik liff saja* ucap refan yang tak terlalu ingin memaksa yura.
Di taman yang indah ini, yura merasakan damai dan ketentraman hatinya. Berkali kali yura menciumi bunga bunga yang bermekaran.
Refan, mengabadikan tingkah yura dan maisha saat bercanda gurau di taman pagi ini secara diam diam, dengan membuat sebuah vidio dan mengambil beberapa foto candid yura.
*Jika aku tak bisa mendapatkan hatinya, dan hidup bersamanya, setidaknya aku masih bisa melihat senyum indah ini nanti, ketika dia telah pergi bersama pria yang mampu membuatnya bahagia* Batin refan.
Bersambung....
Sekilas info :
London memberikan kebebasan menjalankan ajaran agama kepada semua penduduknya, termasuk komunitas muslim.
Salah satunya kawasan Distrik East End yang berada dekat dengan Masjid London Timur, Masjid Brick Lane dan juga Masjid Globe Town.
Berhubung London Borough of Tower Hamlets adalah unit administratif dengan populasi muslim terbesar di Inggris, budaya muslim sangat jelas terlihat di lingkungan ini.
Selain itu banyak juga perempuan yang mengenakan jilbab dan abaya atau pria yang menggunakan turban serta pakaian panjang hingga tumit. Tentunya dengan banyaknya pedangang yang menjual makanan halal disini.
Ini semua karena Komunitas imigran muslim di London telah lama hidup berdampingan secara damai dengan penduduk asli Inggris. Sehingga tingkat teleransi mereka dalam beragama sangatlah tinggi.
Ayo, ada yang pengen liburan akhir tahun ini ke london ??
kalau uathor sih pengennya ke mekkah saja dulu, baru ke negara lainnya.ðŸ¤
__ADS_1