Dosa Cinta

Dosa Cinta
TENTANG ZIYAN


__ADS_3

...Kamu adalah obat yang membuatku dengan mudahnya mampu melupakan semua kenangan buruk, senyum mu adalah kedamaian untuk ku...


...-Ziyan R.A.-...


...************************************...


Ziyan memarkirkan motornya di sembarang tempat, cowok itu masuk kesebuah apartment mewah yang bisa di capai setengah jam dari galeri seni, ia naik ke lantai paling atas, Ziyan butuh sebuah tempat untuk berteriak, Ziyan harus membanting atau memukul sesuatu agar kekesalan nya bisa sedikit hilang.


Kamar bernomor 215 dimasuki nya, di dalam apartment itu tidak ada apapun kecuali perabotan-perabotan mahal, tidak ada seorangpun juga disana, pertama-tama yang menjadi sasaran Ziyan adalah barang-barang yang terletak di atas nakas di lorong pintu keluar, Ziyan melempar, berteriak, merusak dan membuat apartment yang bersih dan bagus itu menjadi berantakan.


Nafasnya masih terengah-engah, wajah nya memerah dan berkeringat, puas merusak tempat itu kemudian Ziyan berlutut di atas lantai sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan kuat-kuat.


"Aaaaaaarrrrrrrggggghhh" Ziyan berteriak lagi meluapkan kekesalan nya, fikiran nya mengingat apa yang telah ia lakukan pada Nasha.


Ya, Nasha. Bagaimana gadis itu? betapa bodohnya dia sudah meninggalkan Nasha disana, sekarang rasa khawatir nya mengalahkan kemarahan dalam diri Ziyan, buru-buru Ziyan mengeluarkan handphone dan menelpon nomor Nasha, dari ujung telpon itu hanya ada seorang wanita yang bilang kalau 'nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi'. Ziyan semakin cemas, ia mencoba menelpon lagi tapi hasilnya sama saja, akhirnya Ziyan keluar dari apartment nya sambil berlari secepat yang ia bisa.


Nasha kembali lagi ke minimarket di seberang galeri seni, gadis itu duduk lagi di kursinya semula ia duduk, ia juga sudah membeli sebuah plester dan air mineral dari dalam minimarket tadi, Nasha melihat lututnya yang memar sedikit tergores, air mata sekuat tenaga ditahan nya.


Setelah Ziyan meninggalkan nya tadi ia tidak langsung mencari cara untuk pulang, handphone nya memang mati ia tidak bisa memesan ojek online tapi di daerah itu banyak sekali taksi yang bisa mengantarkan nya sampai kerumah.


Tapi entah mengapa Nasha malah memilih kembali ke minimarket itu, apa yang di harapkan nya? apa hati Nasha masih berharap jika Ziyan akan kembali ketempat itu dan menjemput nya? entahlah, Nasha hanya tidak bisa pulang, hatinya seperti tidak mengijinkan dia meninggalkan tempat itu, rasa sesak di dadanya semakin besar karena ia merasa amat sangat bodoh sudah mengharapkan sesuatu dari seseorang, Nasha paling benci berharap pada orang lain karena ia tau hal itu hanya akan membuatnya kecewa. Selama ini gadis itu selalu menahan hatinya untuk memiliki harapan, pada apapun terlebih pada siapapun, tapi Ziyan nyaris menghancurkan keyakinan nya, dan karena Ziyan sekarang Nasha merasakan apa itu kecewa.


Nasha merasa amat kedinginan padahal ia sudah menggunakan cardigan dan ini adalah Jakarta yang panas tapi rasanya tubuh Nasha sangat dingin, begitupun dengan hatinya.


Ziyan berlarian seperti orang gila di area galeri seni, ia mencari Nasha di tempat terakhir ia meninggalkan gadis itu, Ziyan kemudian melihat ke minimarket seberang galeri seni itu, dari sana Ziyan melihat Nasha duduk sambil tertunduk, tangan nya memegangi lutut dan sekarang ia membuka sebuah plester dan menempelkan di lutut nya.


Ziyan sekarang sudah berada dihadapan Nasha sementara gadis itu masih menatapi lutut nya yang memar, sepasang sepatu dilihatnya dibawah ia tahu sepatu itu milik siapa, Nasha kemudian mengangkat wajahnya menatap Ziyan, matanya mulai berkaca-kaca.


Nasha berdiri dihadapan Ziyan dan mendorong tubuh cowok itu menjauh, Nasha seperti kehabisan tenaga bahkan tubuh Ziyan yang di dorongnya tidak bergerak sedikitpun.


"Kenapa pergi? kenapa pergi gitu aja?" Nasha memukul-mukul dada Ziyan dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, pukulan itu bahkan tidak terasa sakit sama sekali dan Ziyan hanya menerima pukulan itu dengan senang hati, jikapun Nasha menampar atau menusuknya sekalipun Ziyan akan menerimanya, Ziyan merasa ia pantas menerima itu.


Mata Nasha berkaca-kaca hanya tinggal satu kedipan dan sudah bisa di pastikan Nasha akan menangis


"Aku takut, aku fikir kamu gak bakalan balik lagi kesini, dada aku sakit banget" Nasha menatap Ziyan dengan sedih begitupun Ziyan yang balas menatap Nasha dengan perasaan yang sangat menyesal, Ziyan tidak pernah mendengar Nasha berkata takut gadis itu selalu kuat dan berani menghadapi apapun


"Gue emang brengs*k" kata Ziyan lirih, hatinya hancur melihat Nasha seperti ini


"Minta maaf!" seru Nasha sambil memukul dada Ziyan lagi "Minta maaf!" katanya sekali lagi, sekarang Nasha sudah tidak bisa menahan air matanya lagi, rasa sedih, kesal, kecewa seluruhnya tumpah dihadapan Ziyan, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu menangis di tempat umum.

__ADS_1


"Maaf" Ziyan menarik Nasha kepelukan nya, ini adalah pertama kalinya Ziyan melihat Nasha menangis, hatinya terasa sangat hancur


Apa rasanya sesakit itu? biasanya Nasha bisa menahan perasaan nya, seberapa menakutkan ataupun menyakitkan hal itu, Nasha selalu bisa bertahan, tapi kali ini Nasha terlihat sangat rentan gadis itu menangis sesegukan di pelukan Ziyan.


Setelah Nasha cukup tenang Ziyan membawanya pergi dari tempat itu, mereka berhenti di sebuah apartment mewah yang berjarak setengah jam dari galeri seni. Ya, Ziyan membawa Nasha ke apartment nya yang tadi.


Nasha turun dari motor Ziyan dan melihat sekeliling nya, gadis itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri saat Ziyan menarik tangan nya untuk masuk


Ziyan melihat ada kekhawatiran di wajah Nasha


"Kenapa?"


"Kita ngapain kesini?" walaupun tidak ada tulisan apartment tapi Nasha tau kalau gedung itu adalah apartment


Ziyan tersenyum mendengarnya, sepertinya Nasha takut karena ia membawanya ke situ


"Gue gak bakal ngapa-ngapain, sumpah" Ziyan berusaha meyakinkan Nasha, sementara Nasha hanya menatap Ziyan, dan akhirnya Nasha berjalan mengikuti Ziyan


Ziyan membawa Nasha ke lantai paling atas, di lantai itu hanya ada kamar-kamar luxury yang terdiri dari tiga unit saja dan salah satunya adalah milik Ziyan, mereka berdua sampai disana dan Ziyan tidak membawa Nasha ke kamarnya, ia membawa Nasha ke balkon apartment yang sangat luas dan mewah, tempat itu sangat cantik dengan dekorasi lampu-lampu dan bunga seperti taman kecil, balkon apartment itu adalah salah satu fasilitas untuk para penghuni kamar luxury, dari atas sana lampu-lampu kota Jakarta terlihat sangat indah, Nasha berjalan ke ujung balkon untuk melihat pemandangan malam kota Jakarta



Sepertinya Ziyan tahu yang Nasha butuhkan saat ini adalah udara segar, dan yang Ziyan butuhkan saat ini adalah melihat Nasha baik-baik saja


"Maaf" kata-kata itu tiba-tiba keluar lagi dari mulut Ziyan, Nasha kemudian menoleh ke arahnya dan hanya menatap tanpa berkata apapun, beberapa detik mereka hanya berpandangan seperti itu, dimata Ziyan ada begitu banyak penyesalan dan kesedihan


Ziyan membawa Nasha duduk di salah satu bangku yang menghadap ke pemandangan kota Jakarta, mereka berdua duduk disana sambil menikmati lampu-lampu kota, suasana sekarang terasa begitu damai dan menenangkan


"Orang tadi, ayah gue" Ziyan membuka pembicaraan


"Orang yang punya dompet itu?" tanya Nasha, Ziyan mengangguk


"Gue gak inget banyak soal dia, bahkan ga ada memori indah sama sekali" Ziyan terdiam sejenak sambil menatap mata Nasha dalam-dalam mencari kedamaian disana "yang gue inget cuma kelakuan brengs*knya aja, waktu kecil hampir tiap hari gue liat mama selalu di pukulin sama orang itu, sikap dan kata-katanya selalu kasar bahkan dia bilang kalo mama gue adalah pel*cur" mata Ziyan terlihat sangat sedih, Nasha tidak pernah melihat Ziyan seperti ini, pria itu selalu banyak tersenyum kepadanya dan bersikap sangat lucu, orang-orang tidak akan pernah menyangka berandalan sekolah ini sebenarnya begitu rapuh


"Waktu itu umur gue masih 6 taun, gue gak bisa ngelakuin apa-apa ngeliat mama dipukulin, bahkan mama selalu nyembunyiin gue tiap kali dia dipukul karena takut kalo orang brengs*k itu bakal mukul gue juga" Ziyan tersenyum getir menceritakan nya padahal Nasha tahu ada begitu banyak kesedihan dan amarah yang tergambar jelas di raut wajah Ziyan, hal ini jugalah yang membuat Ziyan menolong Diandra saat dipukul oleh Alex, ia tidak bisa melihat seorang perempuan dipukul karena hal itu akan mengembalikan memori tentang orang tuanya, Ziyan sangat benci pada pria yang memukul wanita, sekarang ini Ziyan bukan anak kecil lagi, ia sudah tumbuh sebagai pria dewasa yang kuat dan bisa melawan, itulah sebabnya Ziyan tidak bisa menahan diri melihat seorang wanita dipukul.


"Pas gue umur 8 taun akhirnya gue dan mama bisa kabur dari orang brengs*k itu, sejak saat itu hidup gue dan mama udah kayak buronan, gue gak pernah bisa tinggal dengan damai di satu kota karena setiap anak buahnya bisa nemuin kami, kita harus kabur lagi dan terus menerus kayak gitu"


"Gue berkali-kali pindah sekolah, sampe gue ga inget apa selama itu gue punya temen atau ngga, dan akhirnya pas gue kelas 3 SMP mama ngajakin gue pindah lagi ke Jakarta, gue gak tahu apa yang terjadi tapi sejak saat itu mama dan orang brengs*k itu resmi cerai"

__ADS_1


"Mama ngijinin gue ketemu sama dia, dan lo tahu? gue masuk lagi ke rumahnya setelah bertahun-tahun gue sama mama kabur, tempat itu kerasa makin kaya neraka karena disana orang brengs*k itu hidup dengan damai sama keluarga barunya" Ziyan tersenyum getir lagi, Nasha hanya bisa menatapnya, ingin rasanya Nasha memeluk Ziyan sekuat yang ia bisa, tapi Nasha menahan dirinya.


"Keluarga mereka sangat sempurna, orang itu sangat sayang sama anak dan istri barunya sha, hidup mereka bahagia banget dan gue jijik ngeliat itu"


"Kenapa sha? kenapa dia jahat sama gue dan mama gue? tapi dia sayang banget sama anak dan istri barunya? selama ini mama dan gue hidup susah, mama harus kerja serabutan kesana-kesini buat biayain gue, bahkan gue dan mama ga pernah punya rumah buat tinggal, kita gak pernah bisa hidup damai, tapi dia. Dia hidup bahagia sama keluarga nya, ini ga adil sha" air mata Nasha kembali menetes melihat mata Ziyan yang berkaca-kaca


"Setelah cerai hidup mama emang bisa kembali damai tapi gue makin benci sama orang itu"


Nasha tahu betul bagaimana sesak dan sakitnya saat harus menahan tangis dan saat ini Ziyan tidak menangis tapi hatinya yang menangis dan hal itu sangat berbahaya, ketika seseorang menangis di hatinya maka tangisan itu akan menjadi luka yang sulit untuk di sembuhkan, mengetahui hal itu membuat Nasha menangis semakin banyak


"Kok malah lo yang nangis siiih?" tanya Ziyan sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Nasha


"Maafin gue yaaa" kata Ziyan dan Nasha menggelengkan kepalanya


"Kalo lo nangis gini hati gue malah jadi tambah sakit" mendengar itu Nasha buru-buru menghapus air matanya


"Gak bisa berhenti, air matanya keluar sendiri" kata Nasha sambil sesegukan, hidung nya sekarang sudah berubah jadi semerah tomat, dan akhirnya Ziyan bisa tersenyum mendengar keluguan Nasha


"Kaki lo sakit?" sekarang mata Ziyan pindah ke lutut Nasha yang memakai plester, Nasha menggeleng mengatakan tidak


"Kok kita bisa kesini sih?" tanya Nasha dengan suara yang masih terdengar paraw karena habis menangis, matanya melihat ke sekeliling tempat itu, Nasha tahu tempat itu tidak bisa di masuki sembarangan orang


"Rumah gue disini, lo mau mampir? lagi ga ada orang loh" Ziyan mulai berusaha jahil untuk membuat Nasha lebih baik, Nasha memukul bahu Ziyan sambil mengerutkan kening, Ziyan terkekeh melihatnya.


Ayahnya memang membelikan Ziyan apartment tapi tempat itu juga jarang Ziyan tinggali, hanya sesekali saja jika Ziyan ingin kumpul-kumpul dengan teman-teman nya, biasanya Ziyan pulang ke kontrakan ibu nya walaupun sebenarnya ibu Ziyan juga jarang ada di rumah kontrakan karena bekerja.


"Orang itu selalu pengen gue tinggal sama dia, tapi gue gak mau jadi gue manfaatin aja duitnya" kata Ziyan sambil tersenyum jahil


"Sekalian aja gue minta mobil, motor sport, apartment, barang-barang branded dan lo tahu? selalu di beliin sha, hahaha" Ziyan tertawa padahal Nasha tau itu hanya tawa palsu, Ziyan bukan orang seperti itu


"Gue ga pernah ketemu dia lagi sejak kelas 3 SMP, mungkin udah 4 tahunan dan selalu asisten nya yang menuhin kebutuhan-kebutuhan gue" lanjut Ziyan lagi dengan wajah yang sangat kecewa


"Dompet nya masih ada di lo? biar nanti gue yang kasih aja ke asisten nya"


"Udah aku kasihin ke kantor polisi, abis mau di balikin juga ga taw alamat nya" Nasha memang belum hafal betul seluk beluk kota Jakarta jadi ia memilih mencari kantor polisi di sekitaran situ saja


"Jauh loh kantor polisi dari situ? kenapa gak langsung pulang aja abis dari kantor polisi?"


Nasha cemberut mengingat betapa bingung dan sedihnya ia saat itu dan ia juga harus berjalan ke kantor polisi untuk mengembalikan dompet yang di temukan nya "udah ah ga usah di bahas lagi, suruh siapa ninggalin?" kata Nasha cemberut

__ADS_1


"Ampun tuan putri" Ziyan mengelus rambut Nasha dengan lembut.


❣️


__ADS_2