
...Cause everybody See's what they wanna see...
...More easier to judge me than to believe...
...-You Never Know/Blackpink-...
...***************************************...
Diandra tersenyum menatap Ziyan yang berlari ke arahnya, gadis itu baru saja di bawa dari UKS dan sekarang ia sudah di ambang pintu untuk masuk ke ruang BK, pak Dirman dan yang lain sedang menunggunya untuk mendengarkan kebenaran yang terjadi dari versi nya.
Ziyan melihat Diandra hendak masuk ke ruang BK di bantu seorang siswi yang membopongnya, kaki gadis itu sekarang sudah di perban begitupun keningnya yang berdarah. Tidak ada rasa iba sama sekali dihati Ziyan melihat Diandra, ia hanya kesal karena gadis itu tidak mengindahkan kata-katanya tempo hari untuk tidak mengganggu Nasha.
Sekarang Ziyan dan Diandra sudah saling berhadapan di depan pintu ruang BK.
"Gue udah bilang sama lo jangan ganggu Nasha" Ziyan menarik lengan Diandra kasar dan menatapnya marah
"Sakit Zii..." Diandra meringis sambil berusaha melepaskan cekalan Ziyan di tangan nya, hatinya kecewa, ia fikir Ziyan akan khawatir melihat kondisinya. Ziyan melepaskan lengan Diandra
"Maksud lo apa sih? siapa yang ganggu Nasha? lo ga liat gue yang celaka" Diandra terdengar marah dan kecewa karena sikap Ziyan
"Lo fikir gue ga kenal cewek kaya apa lo selama ini? gue diem bukan berarti gue b*go, sekali lagi lo ganggu Nasha dan semua rahasia lo bakal ke bongkar" Ziyan menatap Diandra dengan marah, ia sudah menduga Diandra punya rencana terhadap Nasha, walaupun disekolah Diandra terlihat seperti gadis cantik yang baik hati tapi Ziyan tau betul pergaulan gadis itu diluar sekolah, Diandra sudah menjebak Nasha agar mendapatkan masalah, itu sudah pasti. Karena hal itulah Ziyan tidak merasa iba melihat tubuh Diandra yang sekarang penuh luka, hal itu ia lakukan untuk menarik simpati orang-orang dan membuat Nasha menjadi tersangkanya.
Diandra balas menatap Ziyan seperti mengatakan ia tidak takut pada pria dihadapan nya itu, Diandra tau betul Ziyan tidak bisa melukai wanita manapun, gertakan seperti itu dari Ziyan tidak membuatnya takut sama sekali, bahkan hanya membuat Diandra semakin terpacu untuk menghancurkan Nasha, Nasha sudah merebut Ziyan darinya, membuat sikap Ziyan padanya berubah total, selama ini Ziyan tidak pernah bersikap seperti ini padanya, Ziyan selalu menjadi pembela dan pelindungnya dari Alex.
Diandra sekarang masuk sendirian ke ruang BK sementara Ziyan menunggu Nasha di luar. Bu Hilda yang melihat Diandra masuk langsung berdiri dan menggapai anak walinya, semua mata diruangan itu menatap iba melihat kondisi Diandra begitupun dengan Nasha.
"Diandra gimana keadaan kamu?" tanya bu hilda
"Perawat UKS bilang aku disaranin periksa ke rumah sakit juga bu, kaki aku mungkin retak atau bisa jadi patah katanya" jawab Diandra
"Setelah ini kamu bisa pulang, bapak hanya ada sedikit pertanyaan sama kamu" kata pak Dirman
"Apa benar Nasha yang mendorong kamu dari tangga?" pak Dirman langsung pada intinya tanpa berbasa-basi
Diandra menatapa Nasha yang melihat ke arahnya dengan tatapan bingung, ia berusaha tidak menunjukan ekspresi apapun dihadapan Nasha dan orang-orang di ruang BK itu
"Seingat saya Nasha memberikan saya hp dan setelah itu saya jatuh dan pingsan, saya tidak ingat yang lain nya setelah jatuh" jawab Diandra ambigu
__ADS_1
"Jadi Nasha tidak mendorong kamu?" tanya pak Dirman memastikan
"Saya tidak ingat kejadian detilnya pak" Diandra tidak memberikan jawaban yang pasti, sepertinya gadis ini ingin terlihat tidak menyalahkan Nasha tapi disisi lain ingin Nasha menjadi tersangka yang bisa disalahkan
"Sudah pak, jangan terlalu dipaksa Diandra nya, kasian dia kondisinya masih lemah gini" kata bu Hilda tidak tega melihat kondisi Diandra
"Bukan cuma saya pak yang liat Nasha dorong Diandra, bapak bisa tanya ke anak-anak yang lain kok" Friska angkat bicara lagi untuk meyakinkan pak Dirman kalau Nasha memang bersalah
Nasha hanya bisa mengerutkan dahi, bagaimana bisa orang-orang melihatnya mendorong Diandra sementara ia tidak melakukannya sama sekali.
"Kalau begitu bapak akan menanyai siswa-siswi lain, yang lain nya sekarang boleh keluar kecuali Friska, Nasha bapak akan memanggil kamu lagi setelah mendapatkan jawaban dari saksi yang lain" kata pak Dirman, sekarang semua orang diruang BK keluar kecuali Friska, pak Dirman harus menanyakan siapa-siapa saja siswa-siswi yang ada di koridor lantai satu saat Diandra terjatuh.
Bu Hilda membantu Diandra untuk keluar dari ruang BK, di depan ruang BK gadis itu masih melihat Ziyan yang terlihat khawatir menunggu Nasha dan kemuadian ia hanya berjalan melewatinya, bu Ratna bangun dari duduknya dan menggenggam bahu Nasha seperti memberikan kekuatan, bu Ratna sangat percaya pada Nasha, ia yakin muridnya tidak akan melakukan hal seperti itu dan kemudian bu Ratna juga keluar dari ruang BK, saat melihat Ziyan ada disana bu Ratna menatap cowok itu dengan rasa penasaran dan kesal, karena Ziyan Nasha jadi mendapat masalah, fikirnya. Dan bu Ratna pun hanya berjalan melewati Ziyan, kemudian yang terakhir keluar dari ruangan itu adalah Nasha, Ziyan langsung menghampiri Nasha yang terlihat sedikit sedih.
"Lo gak apa-apa?" tanya Ziyan sambil mengusap sebelah pipi Nasha dengan lembut, sangat berbeda dengan sikapnya pada Diandra tadi
Nasha hanya terdiam sambil menatap Ziyan, menatapnya saja sudah memberikan Nasha kekuatan yang lebih banyak, gadis itu memberikan senyum pada Ziyan untuk menenangkan nya, Ziyan terlihat lebih takut dan khawatir dibandingkan Nasha sendiri
"Gak apa-apa" kata Nasha sambil membawa turun tangan Ziyan dari pipinya
Ziyan menggenggam tangan Nasha dan membawanya duduk disalah satu kursi yang ada di koridor sekolah tidak jauh dari ruang BK, suasan sekolah masih ramai karena jam istirahat kedua masih belum berakhir, disana Nasha menceritakan semua detil kejadian yang dialaminya dan Diandra, termasuk saat ini pak Dirman masih mencari saksi yang katanya melihat Nasha mendorong Diandra dari tangga
"Gak tau" jawab Nasha singkat
"Perlu gue yang labrak tuh orang" Ziyan bangun dari duduknya hendak masuk ke ruang BK, Nasha buru-buru menahan tangan Ziyan dan membawa cowok itu duduk disebelahnya lagi
"Jangan bikin masalahnya jadi tambah runyam" seru Nasha sambil menahan tangan Ziyan "kita tunggu aja keputusan nya gimana" lanjutnya
"Tapi dia gak percaya sama lo sha"
"Terus? kalau kamu masuk kesana dan marah-marah sama mereka bakalan bikin mereka percaya sama aku? orang-orang cuma ngeliat apa yang pengen mereka liat Zi, buat mereka lebih mudah nyalahin aku daripada percaya sama aku"
Ziyan terdiam mendengar perkataan Nasha, Nasha betul orang-orang hanya bisa menyalahkan tanpa ingin tau kebenaran, sekarang bel istirahat jam kedua sudah berbunyi, Ziyan dan Nasha sekarang berjalan meninggalkan tempat itu, Ziyan mengantarkan Nasha sampai kedepan kelasnya, melindungi Nasha dari tatapan jahat orang-orang pada Nasha selama mereka melewati koridor sekolah. Melihat Nasha yang sangat tenang membuat rasa kagum Ziyan pada gadis itu semakin besar, Nasha tidak punya rasa takut dan Ziyan sangat menyukai nya.
Hanya berselang setengah jam setelah jam istirahat masuk dan pak Dirman sudah memanggil lagi Nasha ke ruang BK, sekarang lengkap dengan menyuruh Nasha membawa tas dan buku-bukunya.
"Bapak tanya sekali lagi, kamu betul-betul tidak mendorong Diandra?" tanya pak Dirman, sekarang di ruang BK itu hanya pak Dirman dan Nasha saja
__ADS_1
"Kalau saya jawab lagi, apa bapak akan percaya sama saya? jawaban saya masih sama pak" jawab Nasha dengan mantap, pak Dirman terlihat bingung sekarang, tidak ada kebohongan diwajah Nasha, begitupun diwajah friska dan saksi-saksi yang dibawanya ke ruang BK tadi
"Bapak sudah wawancara beberapa siswa, dan lebih dari tiga orang yang bilang melihat kamu mendorong Diandra" terang pak Dirman, tidak sedikitpun raut wajah Nasha berubah marah atau sedih, ia sudah menduga hal ini akan terjadi
"Bapak tidak punya pilihan lain, mulai hari ini kamu di skors selama 3 hari" dengan berat hati akhirnya pak Dirman mengambil keputusan, Nasha tidak mengatakan apapun, walaupun sangat kecewa Nasha tidak gentar sama sekali
"Bapak juga akan hubungi orang tua kamu dan menyampaikan berita kalau kamu di skors" lanjut pak Dirman dan mempersilahkan Nasha untuk pulang lebih awal.
Nasha menutup pintu ruang BK dengan membawa barang-barangnya, belum sampai tiga langkah dan kemudian tangannya ditahan oleh seseorang
"Gimana keputusan nya?" tanya Ziyan dengan wajah penasaran
"Aku di skors tiga hari" jawab Nasha, Ziyan bisa melihat kekecewaan dimata gadis itu, dan hal itu membuat Ziyan marah
"Gue harus bikin perhitungan" Ziyan terlihat sangat marah dan hampir masuk ke ruang BK namun sekali lagi Nasha menahan nya.
"Please, please, jangan kesana"
"Tapi lo gak salah sha"
"Iya, tapi ya udahlah, kalau kamu marah-marah malah bakal tambah parah masalahnya, please ga usah bikin perhitungan sama siapapun oke"
"Terus gue harus liatin aja lo ditindas sama orang-orang itu, gue gak terima"
Nasha hanya menatap Ziyan dengan wajah memohon, membuat Ziyan luluh melihatnya, kerutan di kening cowok itu mulai menghilang menatap Nasha dengan wajah sendunya
"Makasih udah belain aku" kata Nasha sambil tersenyum "aku cuma butuh satu orang yang percaya sama aku" Nasha menatap mata Ziyan meyakinkan kalau ia baik-baik saja
Ziyan mengelus pipi gadisnya sambil menatap heran, bagaimana bisa Nasha setenang ini menghadapi suatu masalah
"Sekarang lo mau kemana?"
"Mau langsung pulang, kamu masuk ke kelas gih, ini kan jam pelajaran, nanti ketahuan guru lagi"
Ziyan hanya terdiam seperti tidak ingin membiarkan Nasha pergi, tangannya menggenggam tangan Nasha sangat erat
"Aku pulang ya" kata Nasha sambil berusaha melepaskan genggaman Ziyan tapi sulit, akhirnya setelah memberikan wajah memohon genggaman Ziyan mulai melonggar dan Nasha pun pergi meninggalkan Ziyan di koridor sekolah, sekarang Ziyan hanya bisa melihat punggung Nasha dari kejauhan, andai saja Nasha tidak menahan nya ingin rasanya Ziyan mengamuk pada semua orang yang membuat Nasha sedih.
__ADS_1
❣️