
...Sahabat bukan mereka yang menghampiri mu ketika butuh, tapi mereka yang tetap tinggal ketika seluruh dunia menjauh...
...-Anonim-...
...*********************************...
Nasha masih tertegun hampir tak percaya mendengar bu Ratna menceritakan detil kejadian pertengkaran Mia, Caca dan kakak kelasnya, bagaimana mungkin seorang Mia yang selalu selow menghadapi apapun bisa menyiram kakak kelasnya tanpa ragu karena mereka menghina Nasha, Caca memang sangat aktif dan berani tapi ia tidak pernah sampai memukul orang lain karena orang itu bergosip.
Belum genap 4 bulan Nasha bersekolah di SMU Bina Karya, artinya Mia dan Caca juga belum lama berteman dengan Nasha, tapi mereka dengan percaya diri membela Nasha dari orang-orang yang bicara buruk tentangnya. Hati Nasha mendadak jadi sedih, bagaimana tidak selama hampir 17 tahun Nasha hidup dan ia tidak pernah terlalu dekat dengan siapapun, Nasha memang bisa berteman dengan siapa saja tapi untuk sahabat Nasha tidak pernah memilikinya.
"Setelah kejadian ini kamu masih yakin buat dekat sama Ziyan?" tanya bu Ratna
Sementara Nasha hanya bisa diam, perasaan nya masih berkecamuk memikirkan tentang Mia dan Caca
"Ibu rasa kamu hanya akan terus dapat masalah kalau dekat dengan anak itu, ini sudah kedua kalinya kamu yang dirugikan karena kamu dekat dengan Ziyan, orang-orang jadi berfikir jelek tentang kamu, padahal ibu yakin kamu tidak seperti itu, ibu juga bingung rasa iri gadis-gadis itu terhadap kamu membuat mereka jadi berperilaku tidak masuk akal" bu Ratna masih mengutarakan pendapatnya
"Zaman sekarang kok cewek-cewek lebih suka laki-laki badung macam Ziyan ya, aneh ibu sama kalian" tambah bu Ratna
"Mia sama Caca, apa mereka akan dapat hukuman bu?" tanya Nasha sambil menahan tangis
"Tentunya pak Dirman akan memberikan mereka sangsi karena mereka sudah membuat keributan"
Mendengar itu Nasha merasa semakin bersalah
"Ibu khawatir pak Dirman juga akan memanggil kamu lagi Sha, tapi kalau sampai pak Dirman ngasih kamu sanksi lagi ibu akan menyuruh pak Dirman agar bersikap adil"
"Maksudnya bu?"
"Ziyan juga harus dapat hukuman, yang buat semua kerusuhan ini kan Ziyan bukan kamu"
Nasha semakin tidak bisa berkata-kata, ia tidak pernah menyangka menjadi pacar Ziyan akan serumit ini
"Ibu harap kamu bisa pertimbangkan kata-kata ibu ya, ibu mau yang terbaik untuk kamu. Sekarang kamu boleh kembali ke kelas"
"Baik bu, saya permisi" Nasha bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang guru
Hanya sekitar sepuluh langkah setelah keluar dari ruang guru Nasha yang berjalan tertunduk berhenti karena melihat seseorang menghadangnya, siapa lagi kalau buka Ziyan
"Guru itu ngomong apa sama kamu?" tanya Ziyan yang khawatir melihat wajah Nasha yang sedih
Nasha tidak menjawab hanya terus menatap Ziyan
"Kamu gak apa-apa kan?" Ziyan masih menunggu jawaban
Nasha menarik nafas berat kemudian menggelengkan kepalanya
"Aku gak apa-apa kok"
"Bohong, guru itu pasti ngomong sesuatu kan?"
"Bu ratna, tadi cuma cerita, kalau Mia sama Caca berantem di toilet sama kakak kelas gara-gara aku" Nasha sedikit terbata mengatakan nya, ia berusaha menahan air matanya jatuh
"Sayaaaang jangan sedih plissss" Ziyan membelai pipi Nasha lembut, dan pertahanan gadis itu akhirnya goyah, air mata mulai membasahi pipinya
__ADS_1
"Tadi Mia sama Caca udah cerita semuanya sama aku, sekarang mereka lagi ada di UKS, perawat lagi obatin luka mereka" terang Ziyan berusaha membuat Nasha tenang
"Mereka udah keluar dari BK?" Nasha bertanya walaupun sambil sesegukan
"Udah, kamu pasti mau ketemu mereka kan?"
Nasha mengangguk cepat dan mereka akhirnya menuju UKS untuk menemui Mia dan Caca ~
Seorang perawat sedang membersihkan goresan di hidung Caca sedangkan Mia sudah selesai mendapatkan pengobatan, dua kakak kelas nya sudah terlebih dahulu keluar dari UKS karena mereka harus berganti pakaian dengan pakaian olah raga cadangan yang ada di sekolah.
Nasha masuk terburu-buru ke dalam UKS sementara Ziyan hanya mengikuti langkah pendek Nasha dari belakang, pintu UKS terbuka dan ia bisa langsung melihat Caca dan Mia yang kini sudah rapi kembali.
Nasha hanya berdiri menatap kedua teman nya itu dengan wajah sedihnya
"Sha, lo gak masuk kelas?" tanya Mia sambil berdiri dan hendak menghampiri Nasha, Nasha tidak menjawab masih terus saja menatap
"Sha, lo kenapa?" tanya Mia lagi, Caca juga mulai berdiri dari duduknya dan berdiri sejajar dengan Mia, mereka saling pandang karena bingung melihat wajah sedih Nasha
Seketika Nasha memeluk Mia dan Caca berbarengan, gadis itu menangis lagi ada perasaan yang amat membingungkan dihatinya, Nasha merasa bersalah pada Mia dan Caca karena membelanya mereka berdua harus dapat hukuman dari guru BK, tapi disisi lain juga ada perasaan bersyukur karena Nasha sadar ada orang-orang yang bahkan bukan keluarga nya tapi mereka mau membantu dan percaya pada Nasha.
"Makasih udah belain dan percaya sama gue" Nasha mengatakan nya sambil sesegukan, ia tidak melepaskan pelukan pada kedua sahabat nya itu
"Sha, lo jangan nangis, gue jadi ikutan sedih nih" Caca malah ikut mencucurkan air mata, walaupun gadis itu sangat cerewet dan berisik tapi hatinya sangat lembut
Mia hanya bisa tersenyum mendengar keluguan dua sahabatnya itu
"Lo ga usah bilang makasih Sha, mereka emang pantes dapetin itu" kata Mia sambil menepuk-nepuk punggung Nasha
"Lo ngomong apa sih Sha, lo ga salah apa-apa" kata Caca sambil masih ikut menangis
Kemudian mereka terus mengobrol dan menyemangati satu sama lain sementara Ziyan hanya memperhatikan ketiganya dari ambang pintu masuk UKS, mengetahui apa yang terjadi pada Nasha saat ini membuat perasaan Ziyan ikut marah dan sakit, tidak ada seorangpun yang boleh membuat gadisnya bersedih, jika ada yang berani melakukan itu maka mereka harus siap berhadapan denganya, Ziyan merasa ia sudah terlalu lama diam membiarkan orang-orang membully Nasha secara verbal, Ziyan harus melakukan sesuatu untuk melindungi gadisnya~
Mia dan Caca mendapatkan hukuman untuk membersihkan semua toilet wanita yang ada di lantai dua SMU Bina Karya saat pulang sekolah, begitupun dengan dua kakak kelasnya yang di tugaskan untuk membersihkan toilet wanita di lantai satu.
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, Nasha sudah bilang pada kedua teman nya itu kalau ia akan membantu Mia dan Caca untuk membersihkan toilet, ketiganya keluar dari kelas mereka dan menuju ke toilet yang ada di sayap kanan lantai dua, keadaan sekolah masih cukup ramai karena banyak siswa-siswi yang baru keluar dari kelas-kelas yang ada di lantai dua.
Ketiganya sudah berada di depan pintu toilet sekarang dan langkah mereka terhenti karena di dalam toilet itu ada seorang cleaning services yang baru saja mengepel dan membersihkan seisi toilet.
"Pak, toilet nya udah di bersihin?" tanya Caca pada cleaning services itu
"Sudah dek, saya permisi" jawab si bapak cleaning services sambil berlalu pergi
"Alhamdulillah, makin ringan kerjaan kita" seru Caca sumberingah, Mia dan Nasha juga ikut senang walaupun sebenarnya masih ada dua toilet wanita lagi yang menunggu untuk mereka bersihkan di lantai dua, mereka kemudian bergegas menuju ke toilet selanjutnya
Hal yang sama terjadi lagi di toilet yang ada di bagian central lantai dua, seorang cleaning services sedang membersihkan toilet itu dan hampir selesai
"Pak kita bantu ya" kata Mia menawarkan diri
"Gak usah dek, ga usah" tolak bapak itu
"Kita dapet hukuman dari pak Dirman pak buat bersihin toilet di lantai dua" terang Mia kemudian
"Coba cari toilet lain saja dek, disini saya sudah hampir selesai" si bapak cleaning services kemudian menutup pintu toilet dari dalam dan membiarkan Caca, Mia dan Nasha kebingungan di luar
__ADS_1
"Pak Dirman apa ga bilang ya sama cleaning services nya kalau kita kena hukum?" tanya Caca polos
Mia dan Nasha juga memiliki pertanyaan yang sama, mereka hanya saling pandang karena bingung
"Ya udah kita ke toilet yang satu lagi aja" ajak Nasha kemudian
Dan sekali lagi, hal yang sama terjadi, pintu toilet baru saja ditutup dari luar oleh seorang cleaning services dan ia baru saja meletakan papan kuning bertuliskan 'awas lantai basah' di depan nya
"Pak toilet nya udah di bersihin?" tanya Caca lagi
"Sudah dek, saya permisi" dan cleaning services itu hendak pergi
"Pak tunggu pak, kita dapet hukuman dari pak Dirman buat ngebersihin toilet di lantai dua, tapi semua toilet nya udah di bersihin, pak Dirman ga ada koordinasi apa-apa ke bapak kalau hari ini ada anak yang di hukum?" tanya Mia sambil menghadang cleaning services itu
Si bapak cleaning services malah terlihat bingung menjawab pertanyaan Mia
"Saya hanya disuruh untuk bersih-bersih di toilet ini dek, saya permisi" kemudian cleaning services itu pergi dengan buru-buru sambil membawa semua peralatan kebersihan nya
Tiga toilet wanita sudah di bersihkan dan artinya sudah tidak ada pekerjaan apapun yang bisa mereka bertiga lakukan, tapi bukan nya senang, mereka bertiga malah merasa aneh dengan keadaan yang menguntunkan itu~
Sementara nasib berbeda sedang dialami dua kakak kelas yang tadi menjadi lawan Mia dan Caca, mereka masih membersihkan salah satu toilet yang ada di lantai satu dengan sangat kesal
"Kalo bukan gara-gara adek kelas kurang ajar itu kita ga bakalan capek-capek bersihin nih tempat bau" seru salah satu gadis dengan sangat kesal
"Gue makin benci sama tuh cewek najis"
"Si Nasha?"
"Jangan nyebut namanya, gue eneg denger nama tuh najis"
Byuuuuuuuur sekali lagi hantaman air mengenai wajah kedua gadis bermulut kotor itu
"Aaaarrrrghhhh" keduanya berteriak secara berbarengan karena kali ini air yang mengenai tubuh mereka adalah air comberan
Dua orang pria terlihat memegang ember kosong di depan pintu toilet yang sedang mereka bersihkan dan dari belakang kedua pria itu Ziyan masuk ke dalam sambil memasang wajah marah pada kedua gadis itu, diluar toilet juga ada Arvi dan Ken yang sedang menonton
"Zi-zi ziyan" wajah takut sekarang nampak dari kedua gadis itu
Ziyan sama sekali tidak mengenal kedua gadis itu padahal mereka ada di tingkat dan jurusan yang sama, mereka berdua adalah teman sekelas Diandra bernama Friska dan Astrid
"Sekali lagi kalian berani nyebut nama cewek gue dari mulut kotor kalian, gue pastiin hidup lo berdua di sekolah ini ga bakal tenang" Ziyan hanya menatap mereka dengan tajam
Sekarang siswa-siswi yang ada di lantai satu ataupun yang baru keluar kelas mulai berkerumun penasaran dengan apa yang di lakukan Ziyan pada gadis-gadis itu
Ziyan kemudian keluar dari dalam toilet dan seperti memberi aba-aba kepada dua teman nya untuk mengunci gadis-gadis itu di dalam sana
Orang-orang yang melihat Ziyan mulai menatap segan dan takut pada pria itu, tidak biasanya Ziyan bersikap seperti ini, walaupun di kenal sebagai berandalan tapi Ziyan tidak pernah membully siapapun di sekolah, ia hanya bersikap kasar pada orang-orang yang di anggap musuhnya saja dan notabene musuh Ziyan adalah pria
"Kalian semua bakalan ngalamin hal yang sama kayak gini, atau lebih parah lagi kalau kalian berani macem-macem sama cewek gue" Ziyan mengatakan nya dengan lantang pada semua orang yang menonton, Ziyan kemudian pergi dari tempat itu di ikuti Ken, Arvi dan dua teman nya yang lain meninggalkan Friska dan Astrid terkunci di dalam toilet dengan pakaian yang bau comberan, tidak ada seorang siswa pun yang berani membukakan pintu untuk mereka karena tentunya mereka tidak mau bernasib sama.
Diandra yang sedari tadi menonton tindakan Ziyan benar-benar tidak bisa menerima jika Ziyan melakukan hal itu untuk melindungi Nasha, Diandra tidak pernah menyangka sebesar itu perasaan Ziyan terhadap Nasha sampai-sampai ia akan membalas pada siapapun yang membuat Nasha menangis. Ini tidak adil, Nasha bahkan tidak mengalami kekerasan fisik seperti dirinya, Nasha tidak sepantasnya mendapatkan perlindungan seperti itu dari Ziyan, rasa iri itu sudah menggerogoti Diandra begitu besar.
❣️
__ADS_1