Dosa Cinta

Dosa Cinta
Final Chapeter: PERGI 2


__ADS_3

...Aku tak bisa terus begini, Aku tak bisa mengatakan yang sesungguhnya...


...Tak bisa menunggu lagi, pesan ini kusampaikan sekali lagi...


...Kuberi kesempatan terakhirmu...


...Isyana...


...****************...


Setelah memastikan jika ibunya benar-benar sudah terlelap Ziyan kemudian keluar dari kamar Irfan dan Diana, obat penenang yang diminum Diana memang memberikan efek tidur yang lelap. Diluar kamar Irfan terlihat sedang duduk diruang tamu, pria itu sepertinya menunggu Ziyan untuk keluar dan benar saja sesaat setelah melihat Ziyan pria itu langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Ziyan.


"Gimana keadaan mama kamu?" tanya Irfan


"Mama udah tidur"


Irfan mengangguk memdengar jawaban Ziyan


"Maaf soal tadi om" Ziyan menunduk tidak berani menatap Irfan


Irfan tidak langsung merespon hanya menatap Ziyan penuh iba, kasihan sekali anak ini ia harus melihat ibu yang paling disayanginya menderita gangguan mental, hidup dan dibesarkan oleh seorang ibu yang tidak baik-baik saja pasti berpengaruh besar dihidup Ziyan, fikir Irfan.


"Kamu gak perlu minta maaf, kamu kan ga salah Zi"


Ziyan masih menunduk, kemudian Irfan menepuk bahu Ziyan


"Kamu hebat selama ini kamu bisa jaga Diana yang tidak stabil dengan sangat baik"


Mendengar kata-kata Irfan Ziyan langsung mengangkat wajahnya, apakah Irfan tahu kondisi Diana yang sebenarnya?


"Om ta-u?" tanya Ziyan terbata


Irfan hanya mengangguk


"Sejak kapan om tahu?"


"Waktu itu mama kamu ga sengaja ninggalin obat-obat nya di mobil papa, awalnya papah ga curiga sama obat-obatan itu tapi setelah melihat Diana selalu membawanya kemana-mana akhirnya papah nyari tahu dan ternyata itu semua obat anti depresan untuk penderita bipolar"


Ziyan menatap wajah Irfan yang terlihat tenang


"Maafin mamah karna ga jujur sama om" Ziyan merasa bersalah pada Irfan


"Bukan hal mudah buat ngasih tahu orang-orang kalau kita sakit kan? Apalagi masalah gangguan mental, banyak orang yang masih ngira kalau orang dengan gangguan kejiwaan pasti gila, papah tahu ini pasti berat buat kalian"


"Om gak apa-apa?"


Irfan tersenyum mendengar pertanyaan Ziyan


"Apa yang harus dimasalahin Ziyan?" Irfan malah balik bertanya


Ziyan terdiam menatap Irfan, ia tidak menyangka pria itu bisa menerima ibunya dengan kondosi kesehatan mental yang tidak stabil, bahkan berani menikah dan membangun rumah tangga, itu bukanlah hal yang mudah, Ziyan kemudian bertanya-tanya apa sebesar itu rasa cinta Irfan terhadap ibunya?


"Tolong jaga mamah" pinta Ziyan sepenuh hati


"Kamu udah bener-bener yakin mau kuliah di Canada?" tanya Irfan dan Ziyan hanya mengangguk


"Kalo kamu emang seyakin itu, papah cuma bisa dukung apapun keinginan kamu, papah dan Nasha disini pasti jaga mamah kamu sebisa kami, tapi janji kamu harus pulang lagi kesini, rumah ini sekarang rumah kamu juga"


"Makasih om"


"Kamar kamu diatas, nanti diatas juga ada kamar Nasha kalo perlu apa-apa kamu ga usah sungkan buat minta tolong Nasha atau bu Lasmi ya! mending sekarang kamu istirahat dulu!"


Ziyan mengangguk dan kemudian meninggalkan Irfan untuk naik. Setelah sampai diatas Ziyan melihat pintu kamar Nasha yang tertutup rapat, beberapa menit ia hanya menatap pintu itu, jika bisa Ziyan ingin sekali melihat Nasha yang ada disana, ia sangat merindukan gadis itu sampai terasa sesak.


Sementara itu didalam kamarnya Nasha masih duduk dihadapan meja belajarnya sambil mengerjakan soal-soal matematika dibuku pelajarannya, sebagian besar soal yang ada dibuku paket itu bahkan nyaris terisi hampir seluruhnya, setiap tidak bisa tidur Nasha akan menyibukan dirinya dengan belajar, mengisi buku pelajaran apapun walaupun tidak ada PR, ia butuh sesuatu yang bisa membuatnya fokus agar pikirannya tidak terus menerus tertuju pada Ziyan dan perasaannya yang tetap saja berantakan.

__ADS_1


Nasha terus berusaha fokus mengisi soal-soal itu, ia benar-benar tidak ingin memikirkan perkataan Ziyan yang bilang akan kuliah di Canada, menjalani kehidupan sebagai saudara tiri dengan Ziyan memang tidak mudah tapi mengetahui bahwa ia tidak akan bisa melihat pria itu lagi membuat rasa sakitnya semakin menganga, kenapa Ziyan tega menghancurkannya sampai seperti ini dan meninggalkan nya sendirian dikondisi terberat dalam hidupnya? Apakah Nasha benar-benar tidak berarti lagi bagi Ziyan? Fikirnya.


Kepala Nasha rasanya sangat sakit, karna terlalu sering tidak bisa tidur membuat Nasha sering merasakan sakit kepala yang parah. Gadis itu menggapai gelas kosong yang ada disebelahnya, ia membawa gelas itu keluar untuk di isi air, Nasha harus minum obat, ia tidak bisa terus seperti ini.


Gadis itu menuruni tangga menuju dapur, dan tanpa disadari Ziyan yang berada dikamar sebelah terus mengamati apa yang sedang dilakukan Nasha.


Nasha mengisi air kedalam gelas yang dibawanya dan tiba-tiba saja setetes darah menetes kedalam gelas itu, Nasha menyentuh bawah hidungnya ternyata gadis itu mimisan, gadis itu menutup hidungnya dengan tangan, Ziyan yang melihat Nasha refleks memberikan tissue dan mengelap tangan Nasha yang berlumuran darah.


Nasha seketika menjauh dan menarik tangan nya kasar, gadis itu buru-buru menuju wastafel untuk membersihkan darah dari tangan dan hidungnya, Ziyan yang khawatir masih mengekori Nasha dan berusaha memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


"Kamu sakit?" tanya Ziyan terlihat sangat khawatir


Nasha hanya mengacuhkannya dan sekarang ia mengambil beberapa tissue untuk mengelap tangan dan hidungnya yang basah, darah dari hidung Nasha masih sedikit keluar dan Ziyan berusaha menyentuh Nasha lagi tapi lagi-lagi gadis itu menjauh.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Ziyan lagi


Nasha menurunkan tissue yang menutup hidungnya dan terlihat benda putih itu sekarang memiliki bercak darah, Nasha kemudian berjalan melewati Ziyan tanpa menjawab pertanyaannya. Tapi sebelum gadis itu terlalu jauh Ziyan menarik tangan Nasha untuk menghadangnya, Nasha berusaha melepaskan cekalan tangan Ziyan tapi tangan pria itu sekarang sudah mendarat dikeningnya.


"Kamu demam" Ziyan terdengar sedikit kesal karena Nasha terus mengacuhkannya


Sekali lagi tangan Ziyan ditepisnya kasar


"Gak usah pura-pura peduli" jawab Nasha kasar


"Mau sampe kapan kamu kaya gini sih?" Ziyan mencekal tangan Nasha lagi, mereka saling menatap tajam satu sama lain


"Maksudnya apa? Kamu mau aku jadi adik yang baik?"


Mendengar itu Ziyan melepaskan cekalannya dan menatap Nasha penuh rasa bersalah


"Apa lagi yang kamu mau dari aku? Aku udah ngelakuin semua yang kamu mau Zi, apa belum cukup?" air mata mulai menetes dikedua pipi Nasha


"Kamu yang selalu mutusin semuanya, seakan-akan aku gak pernah ada dihidup kamu, itu sebabnya kamu juga mau pergi kan? Karena aku bukan sesuatu yang penting buat kamu" Nasha tersenyum getir saat mengatakannya "kamu lakuin aja sesuka kamu" Nasha terlihat begitu lelah dengan semuanya, gadis itu menundukan wajahnya dan menangis


Hati Ziyan sangat terluka melihat dan mendengar apa yang dikatakan Nasha.


Ziyan tidak terima dengan penolakan itu, tubuhnya semakin menghimpit Nasha dan kedua tangannya sekarang menahan wajah Nasha untuk menatap kearahnya, pria itu mencium bibir Nasha dengan kasar, Nasha terus berusaha mendorong tubuh Ziyan menjauh tapi tidak semudah itu lepas dari dekapan Ziyan, Ziyan terus mengulangi ciuman kasarnya saat Nasha bisa sedikit menghindar, gadis itu meronta dan menangis meminta Ziyan melepaskannya tapi Ziyan seakan tuli dan terus menciumi bibir, wajah dan leher Nasha sampai gadis itu sepertinya mulai lelah melawan.


Nasha akhirnya pasrah dengan apa yang dilakukan Ziyan, tangannya yang sejak tadi memukul bahu Ziyan sekuatnya sekarang hanya bisa mencekram t-shirt pria itu dengan tenaga yang tersisa, Ziyan masih terus menciumi bibir Nasha bahkan menggigit bibir tipis Nasha seakan-akan ia ingin memakan gadis itu, seluruh rasa rindu dan pedih yang selama ini ditahannya tercurahkan menjadi sebentuk ciuman yang mengerikan, Nasha yang merindukan Ziyan tak kalah gilanya akhirnya membalas ciuman itu dengan mengikuti ritme Ziyan tapi seketika pria itu melepaskan tubuh Nasha kasar saat Ziyan sadar gadis itu menyerahkan dirinya, ia menjauhkan tubuhnya dari gadis yang kini pasrah dengan apapun yang akan dilakukan padanya.


"Ini yang bakalan kejadian kalau aku gak pergi dari kamu"


Nasha yang berantakan hanya bisa menatap kosong mendengar kata-kata Ziyan


"Aku masih punya satu permintaan yang harus kamu kabulin kan?" Ziyan masih menatap Nasha dengan tatapan hancur "Benci aku Sha, itu permintaan aku!"


Ziyan pergi dari gudang itu dan meninggalkan Nasha yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, piama gadis itu nyaris terbuka sebagian kancingnya, wajahnya sangat berantakan dan sudut bibirnya sedikit berdarah, kakinya terasa kehilangan tulang, gadis itu terduduk dan melipat kakinya lalu menangis dalam kegelapan.


Ziyan membawa motor sportnya pergi dari rumah Nasha, pria itu mengendarai motor secepat yang ia bisa.


Bu Lasmi yang sejak tadi mengintip apa yang dilakukan Ziyan dan Nasha hanya bisa ikut menangis menatap Nasha yang kini berjalan lunglai menaiki tangga ke kamarnya. ~


Keesokan paginya bu Lasmi sudah menemukan Nasha sedang bersiap untuk pergi kesekolah, mata gadis itu pastinya sembab karena semalaman ia tidak tidur sama sekali.


"Non, ibu boleh masuk?" tanya bu Lasmi dari luar kamar


"Masuk aja bu"


Bu Lasmi masuk kedalam kamar Nasha dan melihat gadis itu sedang memasukan beberapa buku pelajaran kedalam tas nya.


"Non mau berangkat sekolah?"


Nasha hanya mengangguk, Nasha seperti sedang menyembunyikan wajahnya, ia pasti tidak ingin bu lasmi melihat wajah sayunya padahal tanpa Nasha sadari bu lasmi tahu semua kejadian yang terjadi tadi malam. Bu Lasmi memastikan jika orang tua mereka tidak bangun dan memergoki Nasha dan Ziyan, wanita paruh baya itu selalu melindungi mereka.


"Non yakin? Non keliatan pucet gitu? Non Nasha gak apa-apa kan?"

__ADS_1


"Aku baik-baik aja bu" jawab Nasha sambil tersenyum


"Non agak demam loh, non Nasha istirahat aja ya" pinta bu Lasmi setelah mengecek suhu badan Nasha


"Aku kesekolah aja bu" jawab Nasha lesu


"Non kan lagi sakit jangan maksain ya" bu Lasmi menggenggam tangan Nasha menguatkan


"Tapi disini rasanya lebih sakit bu, sesak banget rasanya" Nasha menunduk menyembunyikan air matanya yg menetes, tangan Nasha meremas dadanya yang teramat sakit


Bu Lasmi memeluk gadis itu, kasihan sekali putrinya ini, ia harus sepatah ini karena cinta pertamanya, Nasha sudah terlalu sering ditinggalkan ia pasti sangat hancur.


"Non kuat pergi kesekolah?" tanya bu lasmi lagi sambil mengusap air mata dipipi Nasha, gadis itu hanya mengangguk dan seterusnya mereka turun kebawah untuk sarapan.


Suasana pagi itu terasa sangat aneh, Nasha murung begitupun dengan Diana yang terlihat sangat sedih karena besok Ziyan akan pergi ke Canada, Nasha tidak banyak bicara saat melihat Diana menangis dimeja makan menceritakan kalau Ziyan tetap dengan keputusannya untuk kuliah di Canada. Andai saja mereka tahu hati Nasha juga menangis dan terluka karena ia benar-benar kehilangan Ziyan sepenuhnya, tidak lama Nasha berangkat kesekolah dan berpamitan pada kedua orang tuanya.~


Hari berganti begitu cepat, pagi ini Nasha bangun dengan sakit disekujur tubuhnya, demamnya semakin tinggi tapi gadis itu tidak memperdulikan kondisinya, Nasha berusaha menahan rasa sakit di hatinya tapi tubuhnya tidak sekuat itu, tubuhnya berkata bahwa kenyataannya Nasha tidak sanggup.


Saat turun ke meja makan Nasha tidak menemukan ayah dan ibu tirinya disana, kata bu lasmi mereka sudah pergi ke bandara sejak pagi karena pesawat Ziyan berangkat pukul sembilan. Diana tidak ingin kehilangan momen terakhir sebelum Ziyan pergi, itu sebabnya mereka pergi sepagi mungkin agar bisa berlama-lama menghabiskan waktu dengan Ziyan, Air mata tiba-tiba menetes lagi mendengar kepergian Ziyan, bu Lasmi sekali lagi meminta Nasha untuk beristirahat dirumah tapi gadis itu tetap saja keras kepala dan akhirnya bu Lasmi memaksa Nasha untuk minum obat sebelum berangkat.


Sekarang Nasha sudah berada disekolah, berusaha menahan tubuh dan hatinya yang sakit dengan memaksakan diri untuk fokus belajar tapi ternyata ia hanya kuat sampai selesai jam pelajaran pertama, Mia dan Caca membawanya ke UKS karena Nasha nyaris pingsan di kelas, sambil berbaring diranjang UKS Nasha terus menatap jam yang tergantung di dinding, jam sembilan hanya tinggal 40 menit lagi artinya pesawat Ziyan akan take off 40 menit lagi, apa yang bisa Nasha lakukan? Ia hanya bisa terbaring tak berdaya diranjang UKS, Nasha mengutuki dirinya didalam hati. Tak berselang lama perawat UKS meminta Mia dan Caca untuk kembali ke kelas saja agar tidak ketinggalan pelajaran, kedua gadis itupun hanya menurut. Setelah lima menit kedua temannya pergi Nasha meminta izin ke perwat UKS untuk ke toilet, perwat itu menawarkan untuk mengantar Nasha tapi gadis itu menolak.


Nasha menyusuri lorong koridor sekolah yang kini tidak terlihat jelas karena matanya sedikit buram, pusing yang menyerang kepala Nasha rasanya sudah tidak bisa ditahan, gadis itu menahan tangannya kediding agar tidak terjatuh dan seseorang tiba-tiba menopang tubuh Nasha yang lemas.


Nasha menatap pria disebelahnya yang menahan tubuhnya itu


"Kak Ken"


"Sha lo sakit? Gue bawa ke UKS ya?" tanya Ken yang hampir melihat Nasha ambruk di koridor


Gadis itu menggeleng kuat-kuat, kemudian menangis tersedu


"Shaaa, lo kenapa?" Ken benar-benar iba melihat Nasha sekarang, gadis itu seperti kehilangan setengah dirinya "ada yang sakit?"


"Kak, tolong aku, Ziyan pergi hari ini" Nasha menangis sesegukan, hari itu koridor sekolah masih sepi karena siswa lain masih belajar dikelas


Ken masih menatap Nasha yang lemah dengan iba


"Kak, anterin aku ke bandara ya" pinta Nasha sambil menggenggam tangan Ken kuat


"Lo lagi sakit Sha, mending gue anterin pulang aja ya"


Nasha menggeleng lagi, sekarang Nasha benar-benar seperti anak kecil yang keras kepala


"Please kak, aku gak mau Ziyan pergi"


Ken benar-benar bingung harus merespon Nasha seperti apa, Ken tahu pesawat Ziyan take off pukul sembilan dan kalaupun mereka pergi kebandara pasti sudah terlambat sekali.


"Kita gak bakalan bisa ketemu Ziyan, lo tahu itu Sha"


Nasha menangis semakin tersedu, ia tidak ingin dengar kenyataan itu


"Please kak, anterin aku aja" sekali lagi Nasha memelas


Akhirnya Ken menuruti saja keinginan Nasha, kedua siswa itu bolos dari sekolah dengan membawa mobil Ken, ia beralasan pada satpam sekolah kalau ingin mengantarkan Nasha yang sedang sakit pulang, dan akhirnya mereka sampai dibandara setelah satu jam perjalanan.


Nasha berlarian dibandara berharap pesawat Ziyan delay dan akhirnya gadis itu sampai di depan meja penjaga bandara menanyakan kepergian pesawat ke Canada dan inilah kenyataannya pesawat Ziyan sudah take off sejak pukul sembilan, gadis itu kini terduduk lemas dengan semua tenaganya yang tersisa.


"Kita pulang aja ya Sha" Ken membujuk Nasha untuk pulang


Gadis itu tidak merespon masih meundukan wajahnya sambil menangis


"Maafin aku ya kak, kakak jadi bolos gara-gara aku" Nasha mengatakan itu sambil terbata


"Udah gak usah lo pikirin, mending sekarang kita pulang ya"

__ADS_1


Nasha mengangguk dan memaksakan kakinya untuk berdiri lagi tapi sedetik kemudian semuanya menjadi gelap, Nasha ambruk.~


❣️


__ADS_2