
...Aku hanya ingin jadi satu-satunya, tapi bagimu bahkan kita sudah selesai, kau hanya pergi dan meninggalku mati rasa...
...Adinda N.R....
...********************************...
Sejak pagi tadi Nasha belum melihat Ziyan sama sekali padahal biasanya Ziyan sudah menunggunya di koridor sekolah atau di depan kelasnya, Nasha beberapakali menelfon ke hape Ziyan saat jam istirahat namun panggilannya tidak dijawab sekalipun oleh pria itu, Ken ataupun Arvi juga tidak tahu kenapa hari ini Ziyan tidak masuk sekolah, tidak ada informasi apapun. Karena tidak ada kabar sama sekali Nasha jadi sangat khawatir, bahkan rasanya sulit untuk bisa fokus belajar hari ini.
Sampai jam pulang sekolah Nasha belum tahu Ziyan ada dimana, tiba-tiba saja handphone di saku Nasha bergetar saat gadis itu sedang membereskan peralatan belajarnya kedalam tas karena jam sudah menunjukan waktu pulang, buru-buru Nasha mengecek hape nya berharap yang menelfon adalah Ziyan. Dilayar kecil hape itu tertulis nama 'Papa', Nasha menghela Nafas sedikit kecewa.
"Hallo pah"
"Sha, maaf ya papah hari ini ga bisa jemput kamu, papah lagi di rumah sakit"
"Siapa yang sakit pah?"
"Tante Diana sayang"
Deg, tiba-tiba saja rasa penasarannya hari ini seperti sudah terjawab, seperti puzzle yang akhirnya tersusun sempurna Nasha akhirnya tahu keberadaan Ziyan, pantas saja Ziyan sampai tidak masuk sekolah.
"Tante Diana kenapa pah?"
"Kata dokter tante Diana positif DBD jadi harus dirawat beberapa hari disini"
Perasaan khawatir pada ibu Ziyan tiba-tiba muncul, tapi rasa khawatirnya pada Ziyan tentu lebih besar, Ziyan pasti sangat kalut saat ibunya sakit seperti ini, fikir Nasha.
Nasha memijit-mijit hidungnya bingung harus berbuat apa.
"Ya udah pah, gak apa-apa aku bisa pulang sendiri naik ojek"
"Maaf ya Sha, kalo gitu papah tutup dulu ya, kamu hati-hati pulangnya!"
"Oke pah"
Nasha kemudian menutup telfonya dan memasukan kembali hapenya kedalam saku, gadis itu termenung memikirkan bagaimana kondisi Ziyan dan ibunya sekarang, apakah Ziyan sudah bilang tentang hubungan mereka pada ibunya? Nasha kemudian berjalan keluar kelas dengan fikiran yang masih kacau, disaat seperti ini ia benar-benar merindukan Ziyan, rasanya jika ada Ziyan segalanya terasa begitu ringan, terasa begitu aman, sedangkan sekarang dada Nasha terasa amat berat ~
Ziyan sedang duduk di sofa yang ada dikamar rawat ibunya, ia hanya bisa terdiam memperhatikan Irfan dan Diana dihadapannya sedang mengobrol dengan hangat, beberapakali Ziyan melihat ibunya masih bisa tersenyum ditengah-tengah kondisinya yang sedang sakit, ada perasaan hancur melihat pemandangan itu, rasanya tembok yang menghalangi ia dan Nasha untuk bersama terasa semakin besar dan tinggi. Ziyan kemudian diam-diam keluar dari ruangan itu tanpa disadari oleh Diana atupun Irfan, Ziyan butuh udara segar.
Ziyan duduk disalah satu bangku panjang yang ada dikoridor rumah sakit, ia menyandarkan tubuhnya ke tembok sambil memejamkan mata, setelah melihat keadaan ibunya sudah stabil Ziyan baru sadar kalau semua barang-barangnya ia tinggalkan di kontrakan, saat melihat ibunya pingsan Ziyan tidak ingat apapun kecuali dengan segera ia harus membawa ibunya ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit dan mendapatkan penanganan dokter akhirnya Diana tersadar, setelah hampir tiga jam menunggu akhirnya semua hasil laboratorium Diana keluar dan dokter memutuskan bahwa Diana harus dirawat.
Sesaat setelah sampai diruang rawat Diana langsung mencari handphone nya yang juga Ziyan tinggalkan dikontrakan mereka, akhirnya Diana menggunakan telfon kabel rumah sakit untuk menghubungi Irfan, tidak berapalama setelah mendapatkan kabar dari Diana Irfan datang ke rumah sakit dengan segera. Ziyan sangat sedih melihat ibunya yang begitu membutuhkan Irfan, dari raut wajahnya saja Ziyan bisa tahu sebesar apa perasaan yang dimiliki ibunya pada pria paruh baya itu dan menyadari itu membuat Ziyan merasa sesak, bagaimana ia bisa mengatakan tentang Nasha pada ibunya?
Ziyan mulai mengingat Nasha, gadis itu pasti sangat memghawatirkannya dan menunggunya. Perasaan bersalah kini menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundaknya sehingga Ziyan refleks membuka matanya yang tertutup. Irfan kemudian duduk disebelahnya.
"Kamu bisa pulang dulu Zi, biar om jaga mamah kamu disini"
Mendengar itu Ziyan menggelengkan kepala
"Kamu ga usah khawatir, mamah kamu pasti cepet sembuh, soal biaya rumah sakit nanti om akan urus-urus asuransi mamah kamu"
Ziyan hanya diam tidak berkomentar sementara Irfan tahu apa yang ia katakan pasti menyakiti harga diri Ziyan
"Kamu jangan salah paham ya Zi, asuransi mamah kamu memang sudah hak nya, dia kan kerja dikantor om dan semua karyawan om memang dapat asuransi kesehatan" terang Irfan sebaik mungkin menyusun kata-katanya
Ziyan masih tidak berkomentar, ia hanya berfikir apa gunanya blackcard, uang, mobil mewah dan semua kekayaan yang ia punya saat ini, kenyataannya itu semua tidak bisa membantu ibunya mengingat semua hal itu adalah milik ayahnya yang tentu saja akan di tolak mentah-mentah oleh Diana jika Ziyan menggunakannya untuk keperluan Diana. Rasanya Ziyan tertampar dengan kenyataan bahwa ia hanyalah siswa SMA yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk ibunya, kenyataannya Diana memang membutuhkan keberadaan Irfan untuk menopang kehidupannya agar lebih baik dan lebih aman. Irfan kemudian beranjak dari duduknya dan kembali masuk ke kamar rawat Diana ~
"Pah?" panggil Nasha yang sedang duduk diruang tamu, Irfan baru saja sampai kerumahnya pukul sebelas malam
"Sha kamu belum tidur?"
Nasha menggelengkan kepalanya, lalu Irfan menghampiri anak perempuannya itu dan ikut duduk di sofa ruang tamu sambil langsung merebahkan diri
"Gimana kondisi tante Diana pah?"
"Cukup ada perkembangan, kata dokter trombositnya udah naik cukup signifikan, kita doa in aja ya! kamu sengaja nunggu papah?"
"Terus sekarang tante Diana sama siapa di rumah sakit?"
"Sama anaknya, tadi papah udah nyuruh anak itu buat pulang aja biar dia besok bisa sekolah tapi Ziyan tetep mau jaga di rumah sakit, ya udahlah papah juga ga mau maksa"
"Pah, aku boleh ikut jenguk tante Diana besok?" tanya Nasha berhati-hati
Irfan langsung tersenyum senang tidak curiga tentang apapun ia fikir ini artinya Nasha sudah memberikan lampu hijau untuk hubungannya dengan Diana.
"Papah seneng banget kalo kamu mau jenguk tante Diana, besok papah jemput pas pulang sekolah ya"
Nasha mengangguk sambil tersenyum
"Kamu tidur gih! ini udah malem banget, besokan harus sekolah" suruh Irfan
"Iya pah" Nasha menurut ia kemudian naik ke kamarnya ~
Seperti janjinya kemarin malam Irfan menjemput dan membawa Nasha ke rumah sakit untuk menjenguk Diana, beberapa meter dari kamar rawat Diana ada Ziyan yang sedang duduk di kursi panjang koridor sambil menunduk.
Ah, rasanya ingin sekali Nasha berlari dan memeluk pria yang sangat dirindukannya itu.
__ADS_1
Irfan menggenggam bahu Ziyan dan sontak membuat kepalanya menoleh untuk melihat sosok yang datang, mata Ziyan membulat saat melihat Nasha juga berdiri dihadapannya sambil memegang keranjang buah di kedua lengannya. Ziyan ikut berdiri.
"Gimana keadaan mamah kamu" tanya Irfan
Mata Ziyan masih menatap Nasha dalam-dalam.
"Mh, Mamah lagi tidur om" jawabnya kaku
Irfan mengangguk-angguk
"Kamu mau masuk sekarang Sha?" tanya Irfan pada Nasha
"Aku nunggu disini dulu aja pah, ga enak kalau bangunin tamte Diana"
"Oke kalo gitu kamu temenin Ziyan dulu aja, papah masuk dulu"
Irfan lalu masuk kedalam kamar rawat Diana dan benar saja Diana masih tertidur lelap.
Ziyan dan Nasha masih saling menatap tanpa berucap sepatah katapun. Nasha kemudian duduk dan Ziyan mengikutinya, rasanya aneh sekali suasana terasa sangat kaku, mereka benar-benar seperti orang yang baru kenal saja.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Nasha membuka pembicaraan, suaranya masih terdengar datar
"Aku baik-baik aja, kamu khawatir ya?"
Nasha hanya menunduk tidak menjawab
"Maaf ya" Ziyan memberanikan diri mengenggam tangan hangat yang begitu dirindukannya.
Nasha menggelengkan kepala "ga usah minta maaf" jawabnya
"Aku harus minta maaf karena aku belum bilang apa-apa sama mamah"
Sedih sekali rasanya mendengar hal itu, tapi apa mau dikata kondisinya tidak memungkinkan.
"Kamu bisa nyeritain semuanya sama mamah kamu?" tanya Nasha
Ziyan tidak langsung menjawab, Ziyan merasa ragu pada dirinya apa ia cukup berani untuk berkata jujur pada Diana
"Aku gak tau Sha" Ziyan menunduk malu dengan sikap pecundangnya
Nasha menarik tangannya dari genggaman Ziyan.
Ziyan tahu Nasha pasti kecewa.
__ADS_1
❣️