
...Satu-satunya ketakutan terbesarku adalah, tiba-tiba orang yang begitu dekat denganku pergi dan tidak pernah kembali...
...Adinda N.R...
...*************************************...
Bu Lasmi menatap Nasha yang terbaring di tempat tidur rumah sakit sambil mengelus-elus kepala gadis itu, raut kesedihan nampak jelas diwajah lelahnya, bagaimana tidak Nasha hilang dan kembali dengan kondisi yang menyedihkan, ada luka lebam di wajah, tangan, dan kakinya. Bu Lasmi sekarang menutupi kaki Nasha karena selimut yang menutupinya sedikit terangkat, terlihat ada luka bekas tali yang melingkari pergelangan kaki Nasha, bu Lasmi meneteskan air mata lagi melihat itu, ia tidak bisa membanyangkan apa yang dialami Nasha kemarin malam.
Nasha terbangun diruangan yang ia tidak kenali, tubuhnya masih terasa begitu lelah tapi dadanya malah terasa lebih sakit dan sesak, saat terbangun rasa sedih karena membiarkan Ziyan tertangkap kembali sehingga dadanya terasa amat sakit, orang pertama yang Nasha lihat adalah bu Lasmi yang duduk di sebelah tempat tidurnya
"Buuuu" panggil Nasha sambil sekuat tenaga mengeluarkan suara
"Pak, pak, non Nasha udah sadar" bu Lasmi memanggil ayah Nasha yang sedang duduk di sofa ruang rawat, ia langsung beranjak ketika bu Lasmi bilang Nasha sudah sadar
"Nasha, nak, papah disini sayang, Alhamdulillah" ayah Nasha terlihat sangat khawatir sekaligus senang karena Nasha sudah membuka matanya setelah tidak sadarkan diri sejak pagi
"Papah?" Nasha menatap wajah salah satu pria yang paling dirindukan nya itu dengan sendu, tak terasa air mata menetes dari sudut matanya yang masih terlihat sembab
"Iya nak, papah disini, maafin papah karena ga bisa jagain kamu" ayahnya juga ikut menangis, perasaan bersalah sangat besar dirasakan saat ia melihat putri satu-satunya terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, pria paruh baya itu terus menciumi punggung tangan Nasha yang di genggamnya karena tidak bisa berhenti merasakan sesal
"Papah panggil dokter dulu sebentar" ayah Nasha pergi untuk memanggil dokter agar Nasha bisa di periksa lagi, sementara bu Lasmi yang masih duduk di sebelah tempat tidur Nasha menyandarkan kepalanya ke pundak gadis itu dan memeluk Nasha hangat, hatinya sekarang penuh rasa syukur~
Dokter memeriksa keadaan Nasha dan hasilnya sudah jauh lebih baik, sebelumnya dokter bilang Nasha mengalami dehidrasi dan tekanan darahnya sangat rendah, selain itu dibeberapa bagian tubuh Nasha juga ditemukan lebam dan memar yang cukup banyak untungnya tidak ada cedera tulang, otot, ataupun trauma dikepala, setelah selesai memeriksa Nasha dokter dan ayahnya keluar dari ruangan rawat, dokter meminta ayah Nasha untuk bicara lebih lanjut diruangan nya dan sekarang hanya ada Nasha dan bu Lasmi di ruangan itu
"Bu, ibu ngasih tau papah?"
"Maafin ibu ya non, ibu ga mungkin ga ngasih tau bapak keadaan non Nasha"
Nasha menutup matanya dengan sebelah tangan yang tidak di infus, ia bingung bagaimana akan menjelaskan tentang semuanya, tentang Ziyan, tentang Alex, tentang apa yang terjadi, jika ayahnya tau Nasha diculik karena Ziyan akan mustahil rasanya jika ayahnya tidak marah pada pria itu. Padahal Ziyan sudah berusaha agar situasinya sedikit lebih baik dengan tidak melibatkan Nasha dengan polisi tapi Nasha malah mengacaukan segalanya karena ia pingsan dan dibawa ke rumah sakit sehingga bu Lasmi memberitahu ayahnya, ia jadi merasa kesal pada dirinya sendiri andaikan saja Nasha tidak pingsan
"Ibu juga cerita soal Ziyan?"
"Enggak non, tadi bapak sempet ketemu teman-teman non Nasha terus mereka yang jelasin semuanya sama bapak"
"Temen-temen aku?"
"Iya non, anak laki-laki yang nganterin non pulang"
Nasha ingat yang di maksud bu Lasmi mungkin Ken dan Arvi
"Terus mereka ngomong apa sama papah?"
"Mereka bilang non Nasha kerampokan dan mereka nemuin non Nasha lagi lari di kejar rampoknya"
Hufffh...Nasha bisa sedikit bernafas lega, setidaknya ayah Nasha belum tau tentang Ziyan
__ADS_1
"Tapi non, bapak kayaknya gak percaya"
"Maksudnya bu?"
"Di badan non Nasha banyak luka lebam nya, di kaki non Nasha juga ada bekas iketan tali, bapak kayaknya curiga kalau non Nasha di culik"
Bu Lasmi tidak melanjutkan pembicaraan nya karena ayah Nasha sudah kembali dari ruangan dokter
"Gimana perasaan kamu sekarang Sha?" ayah Nasha sekarang sudah berdiri disebelah tempat tidur, ia mengelus kepala putrinya yang malang
"Udah baikan pah" jawab Nasha sambil tersenyum meyakinkan ayahnya kalau ia sudah baik-baik saja
"Papah udah buat laporan ke kantor polisi kalau kamu kerampokan, papah gak akan biarin orang yang bikin anak papah jadi kayak gini"
Apa katanya? polisi? astaga... kenapa semuanya jadi tambah runyam, fikir Nasha
"Pah...aku kan sekarang udah selamat, aku juga ga kenapa-kenapa, papah gak usah panggil polisi segala"
"Gak kenapa-kenapa gimana? badan kamu luka-luka gini apanya yang gak apa-apa Sha?"
"Aku ga mau berurusan sama polisi, bakal panjang urusan nya pah"
Kening ayah Nasha sedikit berkerut, ia tahu putrinya sedang menyembunyikan sesuatu tapi yang lebih aneh lagi tidak biasanya Nasha bersikap seperti ini, Nasha selalu menghadapi masalah apapun dengan berani
"Terus kenapa kalau bakal panjang? papah gak mau ngebiarin orang yang nyiksa anak papah bebas begitu aja" ayahnya tetap bersikukuh
"Papah juga udah telefon bimbel kamu, katanya kemarin kamu ga masuk bimbel karena pingsan di toilet dan kamu di anter pulang sama anak yang namanya Diandra, Dia itu siapa? gimana caranya kamu bisa kerampokan kalau kamu pingsan?"
Nasha semakin terpojok dengan pertanyaan ayahnya itu
"Kamu jujur dong Sha sama papah, kamu itu sebenernya kenapa kemarin?"
"Pah... aku beneran kerampokan, kak Diandra itu kakak kelas aku di sekolah" Nasha berusaha meyakinkan ayahnya
"Terus dia kemana pas kamu kerampokan?"
"A-aku turun dari mobil nya dan pulang sendiri, ternyata dijalan malah di kejar perampok" Nasha berfikir keras harus berbohong seperti apa
"Tapi barang kamu gak ada yang ilang Sha, gimana bisa papah percaya kamu di rampok"
"Aku kan udah bilang akunya lari pah..."
"Ya kalau memang gitu kamu tinggal bilang aja detil kejadian nya sama polisi seperti apa, biar polisi yang nangkep perampok nya"
Tatapan bingung Nasha sekarang beralih melihat ke bu Lasmi, ia seperti meminta pertolongan pada bu Lasmi
__ADS_1
"Pak, non Nasha sekarang kan masih sakit, dan kayanya non Nasha juga gak mau inget-inget kejadian ini lagi pak, kasian kalau di paksa harus buat laporan ke polisi" bu Lasmi seperti mengerti isyarat yang diberikan Nasha, ia berusaha meyakinkan majikan nya itu agar menuruti keinginan putrinya, sementara Nasha mengangguk-angguk setuju dengan pernyataan bu Lasmi
"Tapi kalau gak cepat-cepat di usut nanti pelakunya makin susah ketangkap bu"
"Iya pak betul, tapi sekarang juga kasihan non Nasha masih sakit, lagipula non Nasha sekarang sudah sama kita lagi, mungkin laporan ke polisi nya bisa tunggu sampai non Nasha mendingan"
Ayah Nasha terdiam mendengar perkataan bu Lasmi, ada benarnya juga sebetulnya, sekarang Nasha masih dirawat dan gadis itu juga kelihatan masih syok, kasihan sekali kalau ia juga harus memberikan keterangan pada polisi tentang apa yang dialaminya, fikir ayah Nasha. Tapi disisi lain ada rasa marah dan tidak rela melihat putri satu-satunya itu nyaris babak belur karena orang-orang yang Nasha bilang perampok, mereka harus dapat ganjaran yang setimpal. Selain itu Nasha juga terlihat aneh, tidak biasanya Nasha tidak jujur, walaupun Nasha tidak bilang, ayahnya tahu Nasha sedang berbohong
"Pah... kasih aku waktu buat nenangin diri yaaa" pinta Nasha sambil mengenggam tangan ayahnya
Ayah Nasha tidak berkata apapun hanya terus menatap putrinya dengan sedih~
Akhirnya ayah Nasha setuju untuk membatalkan laporan ke polisi dan menunggu hingga kondisi Nasha lebih baik, dokter menyarankan Nasha untuk melakukan visum sebagai alat untuk barang bukti di kemudian hari, Nasha menurut saja karena ia fikir dengan begitu bisa membuat ayahnya sedikit tenang.
Nasha mungkin hanya tidur satu atau dua jam tadi malam, fikiran nya tidak bisa berhenti menghawatirkan Ziyan, ia hanya bolak-balik mengecek handphone dan menelefon nomor Ziyan, berharap pria itu memberikan kabar, tapi tidak ada sama sekali
Sekitar pukul 5 sore keesokan harinya Ken, Arvi, Caca dan Mia datang menjenguknya dirumah sakit, Nasha sangat senang melihat mereka walaupun ia juga berharap Ziyan datang.
"Nashaaaa" Caca langsung berlari memeluk Nasha yang saat itu sedang duduk diatas tempat tidur rumah sakit, Mia juga ikut memeluk Nasha dan Caca, mereka bertiga seperti teletubbies yang sedang temu kangen
Ayah Nasha dan bu Lasmi pergi keluar untuk memberikan mereka ruang, kondisi Ken juga sudah jauh lebih baik, walaupun wajahnya masih sedikit babak belur tapi lebam-lebamnya sudah mulai kempes
"Kak Ken, gimana keadaan kakak?" tanya Nasha dengan wajah bersalah
"Gue kali yang harus nanya keadaan lo" Ken cengengesan
Nasha malah menatap Ken sedih, selain merasa bersalah Nasha juga jadi membayangkan kondisi Ziyan dengan melihat Ken, Ziyan juga dipukuli anak buah Alex waktu itu kondisinya pasti tidak jauh berbeda dengan Ken sekarang
"Sha lo kok nangis?" tanya Ken karena melihat Nasha berlinang air mata
"Aku minta maaf ya kak, gara-gara kakak nolongin aku sekarang kakak jadi luka-luka gitu, kak Arvi juga, aku minta maaf ya kak"
Mia yang duduk disebelah Nasha menghapus air mata gadis itu "jangan nangis Sha" katanya, Caca melingkari pundak Nasha dan memeluknya
"Sha...lo gak salah, jangan minta maaf" kata Ken, Arvi mengangguk-angguk
Suasana diruangan itu jadi terasa sendu
"Yang penting sekarang lo udah selamat Sha" kata Arvi
"Ziyan, apa Ziyan ngasih kabar sama kakak?" tanya Nasha pada Ken dan Arvi
Keduanya langsung saling menatap, pertanyaan itu adalah hal yang paling mereka takutkan saat bertemu Nasha, mereka tidak tega melihat Nasha bertambah sedih jika tau kalau mereka juga kehilangan jejak Ziyan, Arvi menjawab pertanyaan Nasha dengan gelengan kepala
Nasha semakin sedih, ia menutupi wajahnya yang menangis dengan kedua tangan, Mia dan Caca hanya bisa memeluk Nasha memberikan kekuatan, sementara Ken dan Arvi jadi merasa bersalah.
__ADS_1
❣️