Dosa Cinta

Dosa Cinta
SAKIT, HANCUR


__ADS_3

...Bagaimana bisa? Bahkan karena cinta ini aku bersedia hancur untukmu...


...Adinda N.R....


...*****************************...


Nasha masih mematung menatap Ziyan yang sekarang sudah berada dihadapannya, begitupun dengan Ziyan ia tidak bisa percaya bahwa gadis dihadapannya adalah Nasha dan kekasih ibunya adalah ayah Nasha.


Ayah dan ibu mereka sedikit bingung dengan ekskpresi wajah anak-anaknya yang terlihat kaget.


"Zi kamu udah kenal sama Nasha?"


Pertanyaan itu tiba-tiba seperti membangunkan Ziyan dari tidurnya


"Apa mah?" Ziyan malah balik bertanya


"Kamu udah kenal sama Nasha?"


Refleks kepala Ziyan menggeleng menandakan ia belum mengenal Nasha, seketika perasaan Nasha rasanya hancur melihat Ziyan berpura-pura tidak mengenalnya.


"Be-belum, mah"


Ayah, ibu mereka mengangguk-angguk percaya


"Zi, ini namanya om Irfan, kalau ini anaknya namanya Nasha"


Irfan berdiri sambil mengulurkan tangan, Nasha mengikuti hal yang dilakukan ayahnya, sakit sekali rasanya harus berpura-pura tidak saling mengenal.


Mereka semua kemudian kembali duduk, selama makan malan Ziyan dan Nasha hanya mendengarkan penjelasan orang tua mereka yang sudah menjalin hubungan kurang lebih satu tahun dan mereka ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius mengingat usia keduanya yang tidak lagi muda.


Sesekali Ziyan menatap mata ibunya yang penuh dengan kebahagiaan ketika menceritakan rencana-rencananya dengan Irfan, dan sesekali Ziyan menatap ke arah Nasha yang jelas-jelas tidak membalas tatapannya sekalipun, Ziyan yakin seratus persen Nasha pasti marah padanya.


Ziyan tahu Kebohongannya berpura-pura tidak mengenal Nasha akan berbuah malapetaka, tapi Ziyan bisa apa ia tidak ingin ibunya sedih dan terluka. Ziyan juga merasakan sakit yang sama karena tidak bisa mengikuti kata hatinya, ia ingin sekali memeluk Nasha erat ketika melihat gadis itu tapi tiba-tiba saja tembok yang begitu tinggi dan besar menghalanginya bahkan untuk menyentuh Nasha saja Ziyan merasa takut. Ketakutan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, rasanya lebih baik dikejar-kejar Alex dari pada harus ada diposisinya sekarang.

__ADS_1


Akhirnya makan malam selesai, selama diperjalanan pulang Nasha tidak banyak bicara, hatinya masih saja terasa sakit dan sedih. Dan sepertinya Irfan menyadari jika ada yang aneh dengan putrinya.


"Sha, kamu kok keliatan lesu gitu? Kamu gak seneng ya ketemu sama tante Dian dan anaknya?"


Nasha tidak langsung menjawab, Nasha takut ia akan menangis, setelah meyakinkan hati akhirnya gadis itu bersuara


"Bukan gitu kok pah"


"Terus kenapa dong? Dari pas makan malem kamu diem terus"


"Aku cuma kaget aja sih pah, tiba-tiba aja hidup aku bakal berubah kan?"


"Papah fikir kamu bakal seneng, papah fikir kamu butuh sosok seorang ibu, papah salah ya?"


Nasha menggeleng sambil tiba-tiba menangis "Papah gak salah kok"


"Loooh... kamu kok nangis?"


Nasha mengusap air mata yang mengalir dipipinya sambil terus berusaha menguatkan hati.


"Kamu takut ya? takut jadi Cinderella?"


Nasha masih berpura-pura tertawa mendengar pertanyaan itu, lalu ia mengangguk-angguk sambil masih menghapus air matanya yang terus saja mengalir.


"Terus papah harus gimana dong biar kamu seneng? Kamu gak suka sama tante Diana?"


"Suka kok pah, dia baik. Mungkin aku perlu sedikit waktu aja, papah tadi langsung ngomong soal rencana pernikahan aku jadi kaget, bener-bener kejutan ulang taun yang sempurna"


"Sha, kamu ga akan kehilangan papah" ayahnya menggenggam tangan Nasha, gadis itu mengangguk ~


Pagi itu Nasha keluar dari mobil ayahnya, Ziyan sudah menunggu gadis itu diparkiran sekolah sejak tadi, Ziyan tahu Nasha sangat marah padanya bahkan berkali-kali Ziyan memghubungi gadis itu tapi tidak dijawab, pesan singkatnyapun tidak ada satupun yang Nasha balas bahkan dibacapun tidak.


Setelah Nasha berjalan di koridor sekolah Ziyan buru-buru mengejarnya, Ziyan menarik tangan gadis itu agar Nasha mau melihat wajahnya, sakit sekali rasanya diperlakukan seperti itu oleh wanita yang memenuhi seluruh hatinya.

__ADS_1


"Sha, please jangan kaya gini!"


Nasha terdiam dan menatap Ziyan dengan tatapan kecewa


"Aku minta maaf, kamu boleh marah, atau pukul aku aja tapi jangan diemin aku, please" Ziyan memohon


"Kamu kenapa harus bohong sih?" akhirnya Nasha bicara


"Maafin aku Sha, jujur aku bingung banget pas liat kamu aku harus gimana, mama keliatan exited banget pas bilang mau ngenalin aku sama calonnya, aku takut dia sedih" kata-kata terakhirnya Ziyan pelankan karena ia tahu jika yang ia buat sedih sekarang adalah kekasihnya.


Nasha mengalihkan pandangannya, Nasha berkata pada dirinya ia harus sadar diri, ibunya Ziyan tidak bisa dibandingkan dengan dirinya, bagi Ziyan ibunya adalah dunianya bagaimana mungkin Ziyan membiarkan dunianya hancur. Nasha berusaha menyadari itu tapi tetap saja hatinya terasa sakit, hancur.


"Aku bakal ngomong jujur sama mamah, tolong kasih aku waktu ya" Ziyan semakin erat menggenggam tangannya, memohon


Nasha kembali menatap pria itu, sebenarnya Nasha bisa saja bicara jujur terlebih dulu pada ayahnya sejak tadi malam tapi melihat Ziyan yang begitu bingung dan ketakutan sekarang Nasha fikir mengikuti kebohongan yang Ziyan buat tidak sepenuhnya salah, setidaknya ia bisa melindungi pria itu dari kesakitan melihat dunianya hancur.


Nasha menarik nafas berat, lalu gadis itu mengangguk. Selama ini Nasha selalu percaya pada Ziyan dan pria itu tidak pernah mengecewakannya ~


Pukul 08.30 malam mobil Ziyan sudah terparkir tidak terlalu jauh dari rumah Nasha, keduanya masih didalam mobil Ziyan, hari ini adalah jadwal keduanya bimbingan belajar. Rasanya ingin sekali memborgol tangan Nasha dengan tangannya agar mereka tidak terpisah, mimpi indah tempo hari memang benar-benar hanya mimpi karena saat ini mereka berdua harus bangun dan menghadapi kenyataan.


Walaupun seharian ini mereka berdua bersikap biasa disekolah seperti tidak ada yang terjadi namun fikiran keduanya tentu saja masih kalit mengingat obrolan orangtua mereka saat makan malam kemarin, persiapan pernikahan orangtuanya yang katanya hampir rampung terus menerus terngiang-ngiang ditelinga Ziyan dan Nasha.


Nasha bisa melihat kebingungan dan ketakutan Ziyan, Nasha juga merasakan hal yang sama ia tahu ayahnya sangat bahagia dengan ibu Ziyan tapi Nasha tidak bisa memungkiri ia tidak bisa kehilangan Ziyan, ketakutan terbesarnya adalah kehilangan Ziyan.


Sementara bagi Ziyan kehilangan Nasha sama menakutkannya seperti melukai hati ibunya. Kedua wanita itu adalah hal paling berharga dalam hidupnya.


"Sha, peluk aku!"


Tanpa ragu Nasha segera memeluk Ziyan erat, Nasha berusaha memberikan pria itu kekuatan walaupun ia pun sedang sakit.


Ziyan membenamkan wajahnya diantara bahu Nasha, rasanya tidak ingin melepaskan gadis itu


"Aku takut Sha, aku gak mau kehilangan kamu"

__ADS_1


❣️


__ADS_2