
...Mungkin suatu saat gelap ini akan menyesal karena berusaha mengusik pelita sepertimu...
...-Ziyan R.A.-...
...***********************************...
Hari ini tepat 11 hari si tukang buat onar menghilang dari sekolah, bahkan Nasha sudah hampir lupa kalau 11 hari yang lalu ia melihat orang sekarat karena dipukuli di pinggir jalan, siang itu Nasha membawa sebuah novel dan kotak makanan berisi buah-buahan yang disipakan bu Lasmi tadi pagi.
Gadis itu berjalan sendiri menuju ke kantin saat jam istirahat pertama, sesampainya di kantin Nasha langsung menuju ke lemari pendingin yang berisi bermacam-macam minuman, kulkas yang pintunya terbuat dari kaca itu menampilkan minuman apa saja yang ada di dalamnya, Nasha masih berdiri di depan kulkas itu mencari minuman favoritnya, banana milk.
Satu menit berdiri di depan kulkas Nasha tidak menemukan apa yang dicarinya, akhirnya ia memutuskan untuk duduk saja disalah satu meja di kantin dan tidak lama Mia dan Caca yang sudah membawa makanan menghapirinya dan mereka duduk bersama-sama.
Hari itu kantin seperti lebih ramai dari biasanya, di bangku pojokan geng pembuat onar teman-teman nya Ziyan duduk berkelompok sambil tertawa-tawa, dan disana juga ada wajah cantik Diandra yang di perhatikan semua orang baik siswa laki-laki yang mengagumi kecantikan nya dan siswa perempuan yang melihat dengan tatapan cemburu.
"Dunia ini emang ga adil, mana bisa ada orang yang ngedip aja keliatan cantik gitu" Caca menghela nafas sambil melahap bakso yang dibelinya, terlihat matanya menatap Diandra denga mata kagum sekaligus jealous, Nasha dan Mia yang sedang menyantap makanan nya juga hanya bisa tersenyum geli.
Sementara dari belakang tempat Nasha duduk terlihat seseorang mulai mendekat, di belakang sana Ziyan melihat punggung Nasha dan berniat menghapirinya, dari punggung nya saja Ziyan bisa tahu kalau itu Nasha.
Cowok itu berjalan dengan sangat semangat menghampiri Nasha yang tidak menyadari kehadiran nya, tiba-tiba saja Ziyan sudah berdiri di samping Nasha yang sedang duduk dengan teman-teman nya dan meletakan babana milk kesukaan Nasha tepat di atas meja dihadapan gadis itu, Nasha langsung menoleh melihat siapa yang memberinya banana milk.
Seketika semua orang di kantin hari itu melihat ke arah Nasha dan Ziyan, seeeeluruhnya memperhatikan mereka. Mia dan Caca yang duduk di depan Nasha hanya bisa melongo melihat kejadian yang baru saja terjadi, Nasha juga kehilangan kata-kata ia hanya mengangkat wajahnya menatap cowok itu. Ziyan dengan senyum yang super ganteng balik menatapnya, Nasha baru sadar ternyata Ziyan bermata coklat kehijauan dan sangat tajam, Nasha sedikit gugup mendapat tatapan dan perhatian seperti itu ia juga merasa semua orang di kantin mulai memperhatikan dan membicarakan nya, hanya satu menit setelah memberikan babana milk dan senyuman yang indah Ziyan langsung pergi lagi dari tempat itu dan meninggalkan semua orang dengan tatapan penasaran pada Nasha.
"huaaaaa ganteng bangetttt" kata Caca seperti akan pingsan
Mia masih bengong menatap Nasha, sementara Nasha hanya bisa terlihat bingung dan tidak nyaman di perhatikan. Caca langsung heboh memaksa Nasha menceritakan kenapa berandalan paling tampan disekolah bisa bersikap semanis itu pada nya, Nasha hanya tersenyum sedikit risih dan bingung harus menceritakan apa.
Dan semua orang dikantin mulai membicarakan nya, tatapan penasaran muncul dari teman-teman dekat Ziyan yang tadinya berisik dipojokan kantin, sementara tatapan marah dan cemburu datang dari gadis paling cantik disekolah siapa lagi kalau bukan Diandra.
Seharian itu Nasha berusaha tidak memperdulikan orang-orang di sekolah yang melihat dan memperhatikan nya, hanya karena insiden kecil Nasha tidak menyangka akan langsung menjadi pusat perhatian di sekolah hal yang paling tidak ia sukai, ia jadi penasaran juga segitu berpengaruhkah Ziyan di sekolahnya.
Nasha hanya menganggap banana milk itu sebagai ucapan terimakasih karena dia sudah menampung Ziyan di rumahnya tempo hari, gadis itu tidak berfikiran apa-apa lagi. Hari ini sepulang sekolah adalah jadwal Nasha mengikuti ekskul melukisnya, ia sudah ikut club melukis sekolah semenjak minggu lalu.
Hari ini Nasha juga sudah membawa alat warna dan peralatan menggambar yang dibutuhkan nya, anggota club melukis di sekolah hanya ada 6 orang dengan Nasha dan dua diantaranya adalah anggota laki-laki, memang ekskul melukis adalah ekskul dengan anggota paling sedikit di SMU Bina Karya, biasanya di tahun ajaran baru anggotanya akan banyak tapi hanya bertahan paling lama satu sampai dua bulan dan satu per satu anggota ekskul melukis akan mengundurkan diri atau lebih parah keluar tanpa laporan apapun.
Walaupun anggota ekskul melukis hanya sedikit Nasha tidak terlalu peduli menurutnya di club itu Nasha tidak mencari teman, Nasha hanya ingin belajar melukis walaupun Nasha juga tidak bisa di bilang jago menggambar atau melukis dia hanya ingin mencari hiburan, waktu Nasha memang lebih banyak digunakan untuk belajar pelajaran di sekolah dengan sungguh-sungguh, belum lagi di bimbel Nasha juga belajar pelajaran yang sama.
Sebetulnya di SMU Bina Karya banyak ekskul lain yang lebih menarik tapi Nasha memilih ekskul yang menurutnya ia tidak harus banyak bergerak atau berbicara, dan melukis sudah yang paling tepat.
Sejak minggu lalu Nasha sudah kenal semua anggota club melukis dan mereka semua cukup menyenangkan menurut Nasha, begitupun kak Arman yang merupakan coach di ekskul tersebut, kak Arman sangat berbakat dan lucu, penampilan nya memang sedikit berantakan tapi dia sangat baik.
Semua anggota ekskul sudah berkumpul diruang seni hari ini dengan peralatan masing-masing kak Arman sedang menjelaskan tentang teknik watercolor dan Nasha memperharikan penjelasan coach nya dengan serius.
Braaaakkk! suara pintu ruang seni terdengar kasar dibuka dari luar, Nasha dan semua mata langsung tertuju ke arah pintu dan disana berdiri sosok ganteng, tinggi, rupawan yang semua orang kenal karena sikapnya, siapa lagi kalau bukan Ziyan.
__ADS_1
"Hey brooo" kak Arman langsung menyambut kedatangan nya sumberingah, Ziyan masuk dan menjabat tangan bahkan kak Arman memeluknya seperti orang yang sangat dekat dan sudah lama tidak bertemu.
"Makasih ya udah mau bantu disini" kata kak Arman
Nasha hanya bisa tertegun melihat pemandangan itu, raut bingung sekali lagi mampir di wajahnya
'Lagi ngapain itu orang disini' bisik Nasha dalam hati.
"Oke guys, mulai hari ini saya dapat bala bantuan, kalian semua pasti kenal kan sama Ziyan? waktu Ziyan keluar dari ekskul lukis saya sedikit kecewa sih, tapi katanya sekarang Ziyan mau gabung lagi dan bantu saya jadi coach buat kalian" jelas kak Arman dengan sangat sumberingah.
Di depan ruang lukis Ziyan hanya bisa berdiri dengan perasaan senang karena disana ada Nasha dengan wajah bingung nya yang sangat menggemaskan. Sementara anggota club perempuan lain nya terlihat cukup senang karena di dalam club lukis sekarang ada pemandangan yang sangat keren dan tampan, sementara dua orang cowo anggota lain sebenarnya agak takut dengan sosok Ziya dan image nya sebagai berandalan dan geng motor. Nasha mencoba menjernihkan fikiran nya, dia tidak ingin peduli, gumamnya dalam hati.
Setelah kak Arman selesai dengan penjelasan nya tentang teknik watercolor kemudian semua anggota mulai mengaplikasikan, Nasha mengeluarkan sketch book nya yang berukuran A4 dari tas, ia mulai mencari gambar apa yang ingin dibuat lewat handphone, dan akhirnya Nasha menemukan gambar yang ingin di duplikasi olehnya.
Ziyan yang sedari tadi duduk di kursi citos di belakang Nasha mulai bergeser ke sebelah gadis itu, ia tersenyum lebar melihat teknik Nasha menggambar yang masih sangat kasar, Nasha menoleh ke arahnya, ia melihat Ziyan tersenyum lebar menertawakan gambar nya.
"Kalo mau buat sketsa pensil yang lo pake ketebelan" kata Ziyan sambil tersenyum, Ziyan mendekat dan memegang tangan kanan Nasha, Nasha jadi kaget dengan apa yang dilakukan Ziyan
"Coba pegang pensilnya agak miring, terus jangan di teken gambar nya" Ziyan memandu tangan Nasha untuk menggambar sketsa, semua orang di kelas seni itu memperhatikan mereka. Menyadari hal itu Nasha langsung menarik tangan nya dari genggaman Ziyan, ia tidak nyaman.
Selama 1 setengah jam ekskul Ziyan lebih banyak hanya membantu Nasha dari pada membantu yang lain, anggota-anggota perempuan sangat iri melihat Ziyan yang hanya membantu Nasha dibanding yang lain, sementara Nasha benar-benar tidak nyaman dengan sikap Ziyan yang dilihat orang sangat manis padanya.
Akhirnya kelas ekskul selesai, buru-buru Nasha membereskan alat gambar nya ke dalam tas, sangking buru-buru nya sisa cat yang ada di palette dan kuas yang ia gunakan tidak di cucinya dan hanya di lap oleh tissue kemudian di masukan kedalam tas. Nasha benar-benar ingin cepat keluar dari tempat itu atau lebih tepat nya kabur dari Ziyan, Nasha sadar sejak tadi Ziyan memperhatikan nya, ia buru-buru keluar dan benar saja kan Ziyan mengikutinya. Nasha menghentikan langkahnya kesal, Ziyan sekarang sudah ada di sebelah Nasha sambil tersenyum.
"Jangan panggil gue kakak, sejak kapan kita jadi kakak adek?" kata Ziyan mencoba melucu, Nasha malah tambah kesal dan berniat meninggalkan Ziyan disana.
Tapi sebelum terlalu jauh Ziyan malah menarik tangan nya agar Nasha berhenti berjalan.
"Gue serius, lo ga usah manggil gue kakak, panggil aja gue Ziyan" kata Ziyan masih dengan senyum ganteng nya, Nasha tidak membalas dan masih menatap Ziyan bingung dan kesal.
"Kalo gue anter pulang gimana?" Tanya Ziyan menawarkan, Nasha langsung melepaskan tangan Ziyan yang memegang lengan nya
"Gak perlu kak" Kata Nasha sambil berlalu pergi, Ziyan mengejarnya dan berusaha menyamai langkah Nasha.
"Gue mau ngucapin terimakasih"
"Tadi siang banana milk nya udah aku anggap sebagai ucapan terimakasih, jadi ga perlu lagi"
mereka berjalan beriringan di koridor sekolah sampai ke gerbang depan.
"Oke, tapi kalau gue mau ngaterin lo aja gimana?" Ziyan sedikit memaksa
"Saya bisa pulang sendiri" Nasha juga tetap kukuh dan risih
__ADS_1
"Kalo gitu, gimana kalo besok gue jemput?" pinta Ziyan lagi, dan sekarang mereka sudah ada di depan gerbang sekolah, disana banyak tukang ojek dan ada juga taksi yang sedang mencari penumpang, Nasha berhenti berjalan dan menghadap ke arah Ziyan.
"Kakak ga perlu ngerasa hutang budi sama saya, saya senang sekarang kakak udah sembuh, dan kita udah ga ada urusan apa-apa lagi mulai sekarang" Nasha bicara dengan penuh keberanian menatap mata Ziyan.
"Gue ga ngerasa hutang budi ke lo kok" Ziyan hanya bicara apa yg ingin di katakan nya
"Kalau gitu kenapa dari siang kakak ganggu saya terus? saya ga suka jadi pusat perhatian di sekolah" seru Nasha
"Karena gue suka" jawab Ziyan polos
Deg, jantung Nasha seperti berhenti "Gue suka ngeliat lo" terdengar sangat tulus keluar dari mulut Ziyan sambil tersenyum.
Nasha menggenggam tali ranselnya kuat-kuat mendengar itu, astaga Nasha jadi gemetar, ia tidak merespon apapun perkataan Ziyan, buru-buru Nasha pergi dan naik ke sembarangan ojek yang ada di depan gerbang sekolah, Ziyan melihat tingkah Nasha sangat lucu.
Tidak di sangka kak Arman sedari tadi memperhatikan mereka dan ia menghampiri Ziyan dengan menepuk pundak cowok itu sementara Nasha sudah pergi bersaman ojek yang ditumpangi nya.
"Oooh... pantesan aja lo tiba-tiba ngehubungin gue dan bilang pengen balik ke ekskul lukis" kata kak Arman sedikit tertawa.
"Jadi itu cewek yang bisa bikin berandalan Ziyan tobat?"
Ziyan tertawa mendengarnya
"Dia lucu kan?"
"Lucu, dan sederhana banget. Eh, tapi bukan nya lo pacaran sama anak cheers itu ya, anak populer itu? Diandra? Diandra kan namanya?"
"Jangan sembarangan lo bang" kata Ziyan "Gue ga punya cewek" perjelas Ziyan pada coach nya yang sudah ia anggap kakak sendiri
"Tapi gosipnya kan gitu"
"Makanya bang jangan suka nge gosip, kayak cewek lu"
Kak Arman menoyor kepala murid nya yang kurang ajar itu sambil tertawa
"Eh, tapi bro, gue kasih taw ni ya, cewek kaya Nasha itu ga bisa lo kejar pake cara kayak lo tadi, sok sok perhatian, ilfil yang ada dia, lagian kasian, lo ga liat tadi mukanya risih banget kaya gitu"
"Justru itu yang bikin seru bang, biasanya cewek-cewek baru gue bilang 'hai' doang langsung pada nempel kan?"
"Iya sih gue tau, tapi kasian kalo dia nanti malah jadi korban fans-fans lo yang barbar, udah ah gue pulang dulu" sekali lagi kak Arman menepuk pundaknya dan pergi meninggalkan Ziyan dan menuju ke parkiran motor sekolah.
Ziyan yang mendengar kata-kata terakhir kak Arman tiba-tiba diam dan berfikir, bisa saja yang di katakan kak Arman benar-benar terjadi.
❣️
__ADS_1