
...Mungkin waktu bisa mengobati perasaan rindu, tapi ia tak bisa mengobati rasa kehilangan...
...Adinda N.R....
...*********************************...
Selepas menyalesaikan try out ketiganya Ziyan sengaja menjemput Nasha dirumahnya, setiap kali diadakan try out siswa kelas sepuluh dan sebelas memang akan diliburkan, hari itu masih cukup pagi pukul 10.30 wib Ziyan sudah sampai di rumah Nasha.
Setelah berpamitan pada bu Lasmi, Ziyan dan Nasha pergi ke supermarket untuk membeli keperluan Ziyan di apartment. Sekarang Nasha sudah tahu kalau ibu Ziyan bekerja di luar kota kurang lebih sudah satu tahunan jadi ia sering bolak-balik Jakarta-Malang, sejak ibunya jarang pulang Ziyan juga lebih banyak menghabiskan waktunya di apartment alasannya ia tidak perlu repot membersihkan atau merapikan apartment itu karena ada orang lain yang melakukannya (pembantu) sementara jika di kontrakan ia harus membersihkan rumah, mencuci baju dan lainnya sendiri.
Nasha juga sangat teliti mempersiapkan makanan untuk Ziyan, setiap kali Ziyan bilang akan tidur di apartment nya selama beberapa hari Nasha akan menyiapkan meal prep untuk pria itu artinya Nasha tahu kalau ibu Ziyan sudah pergi lagi keluar kota, mengingat Ziyan sangat abay dengan asupan gizinya Nasha selalu memenuhi kulkas Ziyan dengan buah-buahan dan sayuran, tentu saja makanan lain yang tahan lama, sehat, dan Ziyan tidak perlu repot memasaknya hanya perlu di panaskan di microwave, sayur mayur dan buahpun sudah bersih, dan dengan rapi tersusun diwadah steril dalam kulkasnya.
Kegiatan berbelanja jadi hal rutin yang mereka lakukan. Hari ini tidak seperti biasanya Nasha hanya membeli beberapa sayur dan buah saja, tidak terlalu banyak karena Ziyan bilang ibu nya akan pulang dua atau tiga hari lagi.
"Sha, kamu punya 'wish' enggak?"
Nasha yang sedang memilih-milih buah tiba-tiba menatap ke arah Ziyan yang sedang berdiri disampingnya, seperti biasa Ziyan akan mendorong trolli belanjaan dan Nasha hanya cukup membeli makanan atau barang apapun yang ia inginkan tanpa perlu memperdulikan harga. Nasha juga tidak pernah neko-neko, ia hanya membeli makanan-makanan sehat yang diperlukan Ziyan saja.
"Wish? apa ya? aku malah bingung kalau ditanya" jawab Nasha dengan wajah bingung
"Jangan bingung dong! Aku mau ngabulin keinginan kamu nih"
Nasha menatap Ziyan curiga, takut pacarnya itu berbicara atau berbuat aneh seperti tempo hari
"Maksud aku kamu kan minggu depan ulang taun, kamu emang ga ada 'wish' apaaa gitu yang kamu pengen banget?" lanjut Ziyan menjelaskan
Nasha langsung mengambil handphone disaku celananya untuk mengecek kalender, benar saja ulang tahun nya jatuh dihari senin, minggu depan. Nasha sendiri saja lupa dengan hari ulang tahunnya.
"Kok kamu tau sih aku ulang taun? aku kan ga pernah ngasih tau tanggalnya?" tanya Nasha polos, bagi Ziyan mendapatkan data diri Nasha bukanlah hal sulit cukup menelfon pak Tama dan semua selesai.
"Itu gak penting, yang penting sekarang kamu bilang pengen apa?"
"Aku sih lagi gak pengen apa-apa" Nasha masih bingung
Ziyan hanya bisa mengusap wajahnya sedikit kesal, mungkin akan lebih mudah bagi Ziyan jika pacarnya meminta barang mahal atau perhiasan.
"Kalo gitu kita dinner aja gimana?" ajak Ziyan
"Mmmmm kayanya gak bisa deh soalnya aku udah ada janji"
"Sama siapa?"
"Sama papah, biasanya tiap ulang taun aku papah suka ngajakin dinner diluar"
"Yaaa, kalo gitu aku gak bisa interupsi" nada Ziyan terdengar kecewa
Mereka berdua mengobrol sambil terus berbelanja, berkeliling di supermarket itu.
"Kalo weekend nya kita ke dufan gimana?" ajak Nasha
"Kamu emang ga pernah ke dufan?"
"Ya pernah sih, tapi udah lama banget pas kelas 1 SMP"
"Kalo gitu kita berangkat sekarang aja ga usah nunggu minggu depan"
"Kamu kan harus belajar buat try out besok Ziii"
__ADS_1
Try out Ziyan memang dilaksanakan tiga hari. Ziyan tidak bisa menjawab, Nasha memang benar ia harus belajar, Ziyan ingat dengan tujuannya.
"Aku pengen ngasih yang terbaik dihari ulang taun kamu"
"Kamu hadiah terbaik aku" kata Nasha sambil menatap kata Ziyan jahil
Pria itu tersenyum mendengar kata-kata Nasha, Ziyan tahu Nasha sengaja mengulangi kata-kata yang pernah ia ucapkan pada Nasha dulu.
Sepulang berbelanja Ziyan langsung membuka buku-buku pelajaran untuk persiapan try out besok sementara Nasha asyik membuat meal prep untuk makanan Ziyan beberapa hari kedepan di dapur apartment ~
Tidak terasa try out Ziyan selesai juga, ini adalah try out terakhir sebelum ujian nasional, Ziyan sangat berharap nilainya akan lebih baik begitupun dengan Nasha. Anak kelas sepuluh dan sebelas sudah masuk sekolah seperti biasanya, hari-hari sekolah berjalan baik, sebelum akhir perkan ayah Nasha sudah pulang kerumahnya untuk menepati janji dinner berdua setiap kali gadis itu berulang tahun, biasanya Nasha akan memilih restoran yang ia ingin kunjungi dan dating bersama ayahnya dihari ulang tahun, tapi tahun ini berbeda, ada Ziyan pria lain selain ayahnya yang harus Nasha pedulikan juga.
Ziyan memarkirkan mobilnya tidak langsung didepan gerbang rumah Nasha.
"Papah kamu ada dirumah kan?" tanya Ziyan, seperti tahu kalau ia masih belum siap memperkenalkan Ziyan pada ayahnya. Nasha hanya bisa tersenyum.p
"Maaf ya" Nasha menggenggam tangan Ziyan merasa tidak enak, bukan maksudnya menjalin hubungan dengan Ziyan sembunyi-sembunyi tapi memang kenyataannya Nasha tidak pernah membawa pria atau membicarakan pria dengan ayahnya, Nasha bingung harus mulai dari mana.
Ziyan tersenyum sambil balik mengenggam tangan Nasha.
"Aku juga belum ngenalin kamu ke mama aku, tapi secepatnya aku bakal ngenalin kamu ke mama, kamu siap kan?" tanya Ziyan
Nasha tidak langsung menjawab, ia masih menatap Ziyan lalu mengangguk pelan, sebenarnya Nasha juga belum mempersiapkan diri bertemu dengan ibunya Ziyan tapi beberapa hari ini Nasha selalu melihat keseriusan dari kata-kata dan tatapan pria itu, apalagi jika membicarakan hubungan mereka akan dibawa kemana.
Mereka masih sangat muda, perjalanan mereka masih terlalu jauh, Nasha benar-benar kaget ketika Ziyan serius ingin melamarnya, perasaan campur aduk dan bingung tiba-tiba muncul, bukan karena Nasha tidak percaya dengan Ziyan, bukan karena perasaan Nasha tidak sebesar itu pada Ziyan. Nasha dan Ziyan terlalu muda untuk seserius itu menjalin hubungan, waktu yang masih terlalu panjang itu mungkin saja akan mengubah banyak hal, mungkin perasaan mereka yang berubah atau takdir mereka yang berubah.
Nasha turun dari mobil Ziyan dan masuk kerumahnya, Ziyan masih menatap punggung Nasha dari dalam mobil.
Suara singkat handphone Ziyan berdering, Ziyan mengecek pesan yang masuk ke handphone nya
Zi kamu udah pulang sekolah?
Hari ini mama pulang ya, love you son
Ziyan tersenyum membaca pesan singkat itu, ia senang ibunya pulang, Ziyan memang sangat rindu dengan ibunya ~
Pukul tujuh malam Ziyan sampai dirumah kontrakan ibunya, rumah yang terakhir kali ia tinggalkan dengan keadaan berantakan itu kini sudah rapi kembali, ibunya pasti sudah membereskan rumahnya sesaat setelah sampai.
Ziyan masuk dan mencari dimana ibunya, dari ruang tengah Ziyan melihat pintu kamarnya terbuka, Ziyan masuk dan menemukan wanita nomor satu dihatinya itu sedang melihat karya-karya lukisannya yang banyak bertebaran disana.
"Ma?" tanya Ziyan
Ibunya langsung berbalik seraya mendengar suara putranya
"Sayang" sang ibu langsung merentangkan kedua tangannya meminta pelukan, Ziyan segera memeluk ibunya
"Mama kangen banget sama kamu" katanya sambil memeluk Ziyan erat yang dibalas pria itu tidak kalah eratnya
"Mama lagi ngepoin aku ya?" tanya Ziyan jahil
Ibunya tertawa kecil
"Ya gak apa-apa dong, ngepoin anak sendiri" seru sang ibu sambil melepaskan pelukannya
"Terus mama nemuin apa nih dikamar aku?"
"Nemuin, kalau anak mama ini lagi jatuh cinta"
__ADS_1
Deg, Ziyan langsung tertegun sambil mentap ibunya, dari mana ibunya tau
"Kaget ya mama bisa tau?" tanya ibunya sambil tersenyum lebar, Ziyan mengangguk polos
"Kamu itu lahir dari mana, gimana mungkin mama ga tau soal kamu Zi. Dibuku sketsa kamu banyak gambar cewe, lukisan kamu juga yang ini (sambil menunjuk salah satu lukisan), lukisan ini juga, Namanya Adinda?" Ibu Ziyan bertanya karena semua lukisan Nasha Ziyan beri nama Adinda di kanan bawah nya.
Ziyan mengangguk sambil sedikit malu
"Namanya cantik" kata ibu Ziyan
"Wajahnya dan hatinya juga cantik ma"
"Mmmmm cemburu nih mama kamu muji-muji perempuan lain" ibu Ziyan pura-pura cemberut
"Mama tetep perempuan paling penting dalam hidup aku" Ziyan memeluk kembali ibunya dengan erat
"Janji ya?"
"Janji" jawab Ziyan tegas
"Zi, kalau mama kenalin kamu sama seseorang kamu mau?"
Ziyan melepaskan pelukannya, dahinya berkerut penasaran
"Mama lagi deket sama seseorang" pipi sang ibu bersemu merah
Ziyan tiba-tiba langsung terdiam tak berekspresi apapun
"Zi, kamu kok diem? kamu ga mau ya?" raut wajah ibunya terlihat sedih, Ziyan langsung tersenyum jahil
"Mau dong mah, aku malah pemasaran kaya gimana orang yang akhirnya bisa ngalahin aku, emangnya dia seganteng aku?"
Ibunya langsung mencubit kecil lengan Ziyan
"Mama kaget tau, mama takut kamu marah"
"Ya gak mungkin juga aku marah sama mama, siapa orangnya mah?"
"Temen lama mama, taun lalu mama ketemu lagi sama dia pas ngelamar kerjaan"
"Dia temen kerja mama?"
"Ya bisa dibilang atasan mama"
"Pantesan mama betah banget kerja di kantor yang sekarang"
"Apaan si kamu"
"Ma, yang penting orang itu sayang sama mama dan memperlakukan mama dengan baik, siapapun dia aku pasti terima"
Raut bahagia dan bersyukur langsung tergambar jelas diwajah wanita paruh baya cantik itu
"Mama bahagia?" tanya Ziyan sambil menatap mata sang ibu dalam
Wanita itu hanya mengangguk dan tersenyum yakin "sangat" tambahnya. Ziyan tersenyum lega mendengarnya.
❣️
__ADS_1