Dosa Cinta

Dosa Cinta
Final Chapter: PERGI


__ADS_3

...Aku tidak pernah menyangka jika kehancuranmu adalah kematian bagiku...


...Ziyan R.A....


...****************...


Setelah acara selesai Nasha memutuskan pulang bersama bu Lasmi dan teman-temannya ke Jakarta karena ayah dan ibu tirinya juga memang akan melanjutkan bulan madu mereka di Lombok selama satu minggu, sementara Ziyan pulang keesokan harinya, saat berpamitan pada kedua orang tuanya Diana menahan Nasha untuk pulang dan mengajaknya juga Ziyan ikut bersama mereka ke Lombok namun Nasha beralasan jika ia tidak ingin bolos sekolah karena ujian kenaikan kelas sudah semakin dekat dan karena alasan itu akhirnya Diana dan Irfan tidak bisa memaksa. Walaupun alasan sebenarnya bukan karena itu, rasanya cukup bagi Nasha menyakiti dirinya dengan hadir di acara itu, menahan diri untuk tidak menyentuh dan memeluk Ziyan rasanya sangat tersiksa, Ziyan mungkin bisa berpura-pura tapi Nasha rasanya sudah tidak sanggup, sesak.


Nasha melihat gundukan awan hitam dari jendela pesawat yang ditumpanginya, ya ayahnya membelikan tiket pesawat ke Jakarta untuk mereka agar perjalanan tidak terlalu melelahkan, bu Lasmi tertidur dipundak Nasha sementara Mia dan Caca juga tertidur di bangku sebelah dengan sangat lelap. Waktu hampir menunjukan pukul dua malam tapi entahlah Nasha akhir-akhir ini selalu merasa sulit untuk tidur, walaupun sudah berusaha memejamkan mata Nasha tetap saja sulit untuk tidur.


'Gelap' bisik hati Nasha selama menatap awan hitam dilangit malam itu, karena cuaca yang mendung tidak ada satu bintangpun yang nampak untuk menyinari malam, malam begitu gelap tanpa bintangnya apakah hidup Nasha setelah ini akan segelap malam? Entahlah, Nasha masih berusaha untuk ikhlas tapi melepaskan tidak semudah itu, saat kehilangan ibunya sewaktu kecil Nasha merasa hidupnya begitu kosong bertahun lamanya Nasha berusaha mengisi dan menyibukan dirinya agar kekosongan itu sirna tapi ada bagian dihatinya yang tetap merasa sangat kesepian, perasaan yang selalu Nasha tutupi dari siapapun itu akhirnya mulai membaik karena kehadiran Ziyan, Ziyan membawa senyum yang bermakna lagi dihidup Nasha tapi sekali lagi senyuman itu harus hilang dan kekosongan yang kembali hadir, terasa lebih parah sekarang karena lukanya ada ditempat yang sama.~


Selama satu minggu ini rumah Nasha selalu penuh dengan orang-orang yang memindahkan barang-barang Diana dari kontrakan, tentu saja sepulang dari bulan madu Diana akan tinggal dirumah Nasha dan pastinya Ziyan juga ikut bersamanya, menyadari bahwa ia harus selalu berpura-pura untuk menutupi perasaannya pada Ziyan membuat Nasha semakin tersiksa dan itu membuat insomnianya semakin parah, sesekali setiap melihat barang-barang Ziyan dan Diana masuk kerumahnya membuat Nasha merasa sesak dan cemas apakah ia akan bisa berakting sebaik Ziyan, kadang saat merasa malam begitu sepi Nasha kembali menangis sendirian.


Dan akhirnya hari itu tiba, setelah 10 hari pasangan pengantin baru sudah tiba dirumah, hari itu hanya ada bu Lasmi dirumah karena Nasha masih berada disekolahnya, Irfan kemudian memperkenalkan bu Lasmi pada Diana walaupun mereka sebenarnya sudah saling mengenal tapi sekali lagi Irfan meminta bu Lasmi untuk banyak membantu Diana dirumah itu, kamar dan semua peralatan Diana juga Ziyan sudah tersusun rapi disana karena memang sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Sesuai instruksi Ziyan akan tidur dikamar utama yang tadinya digunakan Irfan sementara Irfan dan Diana akan menempati kamar utama yang ada dilantai bawah, hal ini mereka lakukan agar Ziyan merasa leluasa disana, Irfan ingin menunjukan kerendahan hatinya dan menunjukan pada Ziyan bahwa ia diterima dengan sangat baik dirumah itu.


Pukul setengah lima sore Nasha sampai di depan pintu gerbang rumahnya, rasanya baru kali ini kaki Nasha terasa begitu berat untuk masuk kesana, tempat yang sebelumnya terasa begitu aman kini menjadi tempat yang ingin sekali Nasha hindari tapi tidak bisa, jantung Nasha berdetak kencang lagi, perasaan cemas itu datang lagi, apakah Ziyan ada didalam sana, apa yang harus ia lakukan jika Ziyan benar-benar datang? harus bersikap seperti apa? Sementara menatap matanya saja Nasha tidak sanggup?


Gadis itu masih mematung sambil menatap gagang pintu gerbang rumahnya, tangannya yang basah meremas samping rok seragamnya, ia harus masuk Nasha tidak boleh menghindar fikirnya sekarang, ia sudah sampai sejauh ini dan tidak ada jalan untuk putar balik lagi, ia harus hadapi, seperti itu terus pergolakan batin Nasha sampai akhirnya tanpa ia sadari Nasha sudah masuk kerumahnya dan memberikan salam seperti biasa.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" suara dua orang yang sekarang terdengar menjawab salam Nasha berbarengan


Irfan dan Diana yang sedang duduk diruang tamu segera berdiri saat melihat kehadiran Nasha, mereka berdua terlihat sangat segar dan bersemangat, Nasha kemudian mencium punggung tangan Irfan sambil selanjutnya pria paruh baya itu memeluk putrinya erat dan diikuti hal yang sama oleh Diana.


"Apa kabar sayang?" tanya Irfan


"Baik pah" jawab Nasha sambil berusaha tersenyum


"Gimana sekolahnya Sha?" tanya Diana sekarang


"Lancar tante" Nasha membalas senyum Diana, ya 'tante' panggilan itulah yang bisa keluar dari mulutnya yang terbata, Nasha bingung harus memanggilnya seperti apa


Dipanggil seperti itu tidak membuat Diana ataupun Irfan merasa marah, mereka tahu baik Nasha ataupun Ziyan pasti butuh waktu untuk meyesuaikan diri.


"Sekarang kamu istirahat dulu aja, pasti cape kan pulang sekolah" seru Diana mencoba akrab


Nasha tersenyum sambil mengangguk kik-kuk "kalo gitu aku ke kamar dulu ya" Nasha kemudian berlalu meninggalkan ayah dan ibunya disana.


Kemana Ziyan? Fikir Nasha, sambil menaiki tangga kelantai dua mata Nasha berkeliling mencari pria yang amat dirindukannya.


Nasha sampai dikamarnya dan menutup pintu, rasanya sedikit lega ada diruangan itu, setidaknya sekarang Nasha sendirian dan sampai saat ini ia belum melihat Ziyan yang mungkin saja bisa menjebol pertahanannya. Gadis itu meremas dadanya yang terasa sesak.


Nasha duduk disamping tempat tidurnya dan berusaha menenangkan diri, ia harus bersikap lebih baik pada Diana fikirnya, mungkin saja sikapnya tadi melukai hati Diana, kurang lebih sepuluh menit berlalu dan setelah berkali-kali Nasha menarik nafas dalam ia mendengar suara pintu kamarnya diketuk.


Tok, tok, tok


"Masuk" seru Nasha karena pintu kamarnya tidak dikunci


Irfan nampak dari luar sambil tersenyum dan masuk ke kamar Nasha, pria itu menutup pintu kembali saat ia sudah berada didalam.


"Kenapa pah?" tanya Nasha


Sebelum menjawan Irfan mencari kursi untuk duduk


"Kamu belum bersih-bersih?" Irfan malah balik bertanya karena melihat Nasha masih menggunakan seragam


"Belum pah masih keringetan" jawab Nasha beralasan


"Sha, kamu gak seneng ya liat papah pulang?" tanya Irfan dengan wajah memelas


Deg, Nasha kaget mendengar itu, apa sikapnya tadi benar-benar kentara


"Aku ada salah ya pah?" Nasha menunduk, membuat Irfan merasa bersalah karena sudah bertanya


"Nggak sayaaang, papah cuma aneh aja liat kamu lesu ada papah dirumah" Irfan berdiri dan mengelus rambut Nasha


"Tante Diana ngga tersinggung kan pah?"


"Ngga dong sayang"


"Aku cuma sedikit cape aja pah, maaf ya"


"Gak apa-apa sayang jangan minta maaf, papah tau kamu pasti butuh waktu, nerima orang baru dihidup kita"


Nasha diam tidak menjawab, andai saja Irfan tahu sekerasa apa usaha Nasha untuk bisa berhadapan dengan nya dan Diana tadi


"Abis bersih-bersih papah sama mamah nunggu kamu dibawah ya, mamah kamu kemarin semangat banget beliin banyak oleh-oleh buat kamu dari lombok"


Nasha hanya mengangguk dan Irfan pergi dari kamar Nasha~


Sesuai perintah ayahnya, Nasha turun dari kamarnya sekitar pukul setengah tujuh malam, suara Irfan dan Diana yang sedang mengobrol dan tertawa renyah terdengar sangat bahagia, tanpa aba-aba Nasha masuk ke ruang tamu dan duduk bersama mereka. Diana dan Irfan langsung mengalihkan perhatian pada putrinya.


Diana kemudian bernjak ke kamarnya dan keluar dengan membawa sekitar enam paperbag besar ditangannya, ia lalu duduk disebelah Nasha dan memberikan hasil pilihannya sebagai oleh-oleh dari lombok ke tangan Nasha.


"Mamah harap kamu suka ya Sha, soalnya mamah pilih sendiri takutnya gak sesuai selera kamu, papah kamu juga ga banyak bantu malah bingung ditanya anaknya suka apa"


"Padahal ga usah repot-repot" Kata Nasha sambil menerima paperbag itu


"Ayo coba diliat"


Nasha membuka satu per satu kantung yang berisi banyak barang itu, Nasha sangat menghargai pemberian Diana


"Semuanya bagus" kata Nasha sambil tersenyum


Diana menatap Nasha wajahnya yang terlihat sendu tapi cantik gadis ini mirip dengan sahabatnya Ratih ibunya Nasha, gadis cantik yang pendiam dan manis.


"Senengnya ya punya anak perempuan, sikapnya manis dan dewasa, coba Ziyan dari kecil aktif banget, ga bisa diem, kayanya sampe gede kalo ga bikin perkara di sekolah gak afdol"

__ADS_1


Irfan tertawa mendengar celotehan Diana tentang putranya


"Tapi Ziyan tetap nomer satu kan buat kamu?" tanya Irfan pada Diana


"Iyalah mas, Ziyan itu hidup aku"


Nasha hanya bisa menunduk sambil membereskan kembali barang-barang pemberian Diana kedalam kantung


"Ngomong-ngomomg Ziyan, dia kapan pulangnya?" tanya Irfan lagi


"Aku udah suruh hari ini supaya gak pulang malem sih, awas aja kalo anak itu sampe gak dateng pas makan malem"


"Ga usah terlalu maksain Ziyan, namanya juga anak muda, seunuran Ziyan gitu emang lagi masa-masanya anak cowok, emang Ziyan sekarang lagi dimana? Katanya selesai UN udah ga ada kegiatan sekolah"


"Katanya mau nongkrong sama temen-temenya"


"Tuhkan apalagi kalo lagi sama temen-temennya pasti lagi seru kan, ga usah ditelfonin terus takutnya kita ganggu"


"Ya gak bisa gitu dong mas, keluarga kan nomer satu, Ziyan harusnya ketemu kita dulu"


Hah, obrolan macam apa ini, 'keluarga' katanya. Hati Nasha rasanya semakin di aduk, kenyataan yang tidak ingin Nasha terima.


"Tapi Ziyan ga mungkin nyasar kan? Dia kan belum pernah kesini"


Diana tertawa renyah mendengar pertanyaan itu "Maaas Ziyan tuh bukan anak kecil lagi"


Mereka berdua benar-benar tidak tahu apa-apa.


Suara bel berbunyi dari luar, orang-orang yang ada didalam rumah lansung mengalihkan perhatian.


"Itu kayanya Ziyan deh mas" seru Diana sangat exited


Diana kemudian berdiri hendak membuka pintu dan meminta bu Lasmi yang baru saja keluar dari dapur untuk melihat siapa yang datang kembali ke pekerjaannya.


"Biar sama saya saja bu" pinta Diana saat mereka berpapasan


Jantung Nasha semakin berdebar, tangannya jadi dingin, ia berusaha mengkondisikan keadaannya yang tidak stabil itu agar tidak terlihat siapapun.


Dan Diana kembali masuk keruang tamu sambil menggandeng putra kesayangannya.


Ziyan menatap Nasha yang sedang duduk sambil memegang kain khas lombok dikedua tangannya.


Nasha dan Irfan berdiri dari duduknya, Ziyan kemudian mencium punggung tangan Irfan dan menjabat tangan Nasha yang terasa sangat dingin.


"Mas aku siapin makan malem dulu ya" Diana berpamitan menuju dapur


Irfan kemudian mengajak Ziyan untuk duduk bersama Nasha dan dirinya


"Giamana kabar kamu Ziyan?" tanya Irfan


"Baik om" jawab Ziyan singkat, Irfan mengangguk-angguk


Ziyan hanya tersenyum kecil mendengarnya, ada suasana canggung yang tidak bisa mereka ungkapkan satu sama lain.


"Sha kamu ajakin kakak kamu ngobrol kek, diem aja" pinta Irfan


"I-iya pah" jawab Nasha kik-kuk


"Ziyan, papah harap kalian bisa akrab ya, Nasha selama ini susah dapat temen deket, pacaran aja belum pernah dia, coba ajarin bandel sedikit deh"


Pipi Nasha memerah mendengar perkataan Irfan sementara Ziyan menatap Nasha dalam.


"Maaaas tolong kesini sebentar" teriak Diana dari dapur


Mendengar itu Irfan kemudian beranjak dari duduknya "papah ke dapur dulu ya" ia kemudian meninggalkan Ziyan dan Nasha berdua disana


Ziyan semakin menatap Nasha, rasanya ingin sekali menculik gadis itu dan membawanya pergi dari sana, sementara itu Nasha tetap tidak mau melihat Ziyan ia tidak sanggup. Menghindari kekacauan yang akan terjadi Nasha mengambil semua paperbag yang Diana berikan dan pergi kekamarnya meninggalkan Ziyan, mata Ziyan masih mengejar punggung Nasha yang kini menaiki tangga.


Tidak lama kemudia bu Lasmi mengetuk pintu kamar Nasha dan meminta gadis itu untuk turun kebawah karena orang tuanya sudah menunggu untuk makan malam.


"Non ditunggu sama bapak dan ibu buat makan dibawah" kata bu Lasmi


Nasha terlihat lemas dan tidak mau beranjak dari duduknya tapi ia paksakan, ini pasti berat untuk Nasha bu Lasmi tau itu, tatapan iba bu Lasmi mengiringi langkah Nasha sampai ke meja makan.


Diana dan Irfan kelihatan sangat hangat selama makan malah mereka berbincang ringan yang sesekali diiringi tawa Diana yang renyah, berkebalikan dengan anak-anak mereka yang tidak banyak bicara, Ziyan sesekali merasa lega melihat kebahagiaan yang dirasakan ibunya, dan kemudian menatap Nasha yang selalu saja membuang muka darinya. Perasaan bersalah selalu berkecamuk tak kala melihat Nasha ingin sekali Ziyan menghapus semua kesedihan Nasha tapi apa boleh buat semua itu akibat perbuatannya juga.


"Mah, ada yang mau aku omingin" seru Ziyan tiba-tiba, Diana kemudian mengalihkan pandangan pada putranya


Ziyan mengambil sepucuk surat dari dalam saku celananya, kertas itu sudah terlipat sampai kelihatan sangat tipis, Ziyan pasti membawanya kemana-mana didalam saku. Surat itu ia sodorkan kedekat ibunya. Diana membaca kop surat diamplopnya yang bertuliskan Toronto University of Canada


"Apa ini sayang?" tanya Diana


"Aku keterima di univ itu mah"


Diana kemudian membuka amplop dan membaca isinya


"Tapi ini di Canada Zi" seru Diana


Nasha hanya menunduk dan mendengarkan, makanan yang ada dihadapannya hanya berulang kali ia bolak balik, dadanya sesak mendengar Ziyan diterima di universitas di luar negeri.


"Iya mah, aku udah bilang juga sama papah dan papah udah siapin semuanya"


"Papah? Maksud kamu Ravi?" tanya Diana semakin kaget, wajah cerianya seketika berubah saat Ziyan membicarakan ayahnya


Ziyan mengangguk ragu


"Kamu udah ga butuh mamah? Hal sepenting ini udah duluan kamu bicarain sama dia dari pada sama mamah?"


"Mah, bukan gitu maksud aku"

__ADS_1


"Mamah kecewa sama kamu"


"Maah, dengerin aku dulu oke"


"Diana, coba tenang dan dengarkan dulu Ziyan" Irfan berusaha meredam kemarahan Diana, jelas sekali wajah Diana serakarang memerah


Sementara perasaan Nasha semakin tidak karuan ada dalam situasi ini, ia hanya bisa diam dan menonton


"Aku pengen bikin mamah bangga, aku udah selesai main-main disini mah, sekarang waktunya aku sungguh-sungguh ngejar impian aku"


"Impian? Sejak kapan kamu punya impian jadi arsitek? Bisnis juga, kamu gak pernah tertarik" sela Diana dengan nada tinggi sambil melemparkan lembar kertas kelulusan Ziyan yang bertuliskan bahwa ia diterima di fakultas bisnis arsitektur dalam bahasa inggris.


"Aku selalu pengen bikinin rumah buat mamah" Ziyan terlihat sedih melihat ibunya yang kalut


"Mamah gak perlu apa-apa dari kamu" Diana beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan, Irfan terlihat bingung sementara Ziyan menunduk sambil menutup matanya.


"Biar papah yang coba ngomong sama mamah kamu" seru Irfan sambil menyusul Diana, suara tangis Diana terdengar dari dalam kamar, Ziyan sangat cemas tidak ia sangka jika hal itu bisa mengganggu mood ibunya, sejak tahu jika Diana didiagnosa mengidap bipolar Ziyan selalu berusaha menjaga mental sang ibu, karena hal terburuk bisa saja Diana lakukan seperti melukai dirinya ketika ia sedang sedih. Ziyan selalu takut saat melihat ibunya kambuh, dulu beberapakali Ziyan menemukan Diana mencoba bunuh diri karena masalahnya dengan Ravi, melihat ibunya yang mengidap gangguan mental karena menjadi korban KDRT membuat Ziyan tidak bisa memaafkan ayahnya.


Hal ini pula yang menbuat Ziyan lebih memilih kebahagiaan Diana dari pada kebahagiaannya sendiri, karena Diana sangat rentan.


Nasha masih terduduk ditempatnya, ia terlihat sangat terkejut Diana yang beberapa menit lalu terlihat begitu bahagia berubah histeris hanya dalam hitungan detik.


Ziyan kemudian bangkit dan menyusul Diana ke kamarnya juga, pria itu menunggu diluar kamar mendengarkan irfan yang sedang membujuk Diana didalam. Setelah lima belas menit menunggu suara tangis Diana mulai reda dan hal itu sedikit membuat Ziyan tenang, sementara Nasha sudah nail ke kamarnya sekarang.


Ziyan sekarang sudah terduduk disamping pintu kamar Diana dan Irfan, suara mereka sudah nyaris tidak terdengar sekarang, mungkin ibunya sudah tenang dan tertidur, Irfan sangat hebat menenangkan Diana biasanya Ziyan harus memberikan obat penenang pada ibunya itu saat ia kambuh.


Pintu kamar terdengar dibuka dari dalam, Ziyan segera bangkit dan ia melihat Irfan keluar.


"Saya boleh masuk om?" tanya Ziyan


Irfan tidak langsung menjawab, ia malah menatap Ziyan penuh iba, kasihan sekali anak ini harus melihat ibunya semarah itu fikir Irfan.


"Om udah ngobrol sama mamah kamu, sekarang coba kamu ajak dia ngobrol baik-baik ya" kata Irfan berlalu dan membiarkan Ziyan masuk ke kamarnya.


Ziyan perlahan membuka pintu dan melihat ibunya yang terduduk dipinggiran kasur sambil masih terisak. Ziyan kini berlutut dikaki ibunya memohon pengampunan, pria itu melipat lututnya dihadapan Diana yang duduk.


"Maafin aku ya mah, aku bikin mamah sedih" Ziyan menggegam tangan ibunya dengan erat


Tiba-tiba tangan Diana melepaskan genggaman Ziyan dan berpindah mengelus rambut putranya.


"Ngga sayang, maafin mamah ya, kamu pasti kecewa liat mamah kaya tadi"


"Aku gak pernah kecewa sama mamah"


"Kamu beneran mau kuliah ke Canada?"


Ziyan menunduk kemudian mengangguk


"Kenapa harus sejauh itu sih Zi, baru aja mamah ngerasa hidup mama udah lengkap tapi sekarang kamu malah mau pergi"


"Awalnya aku gak pernah terfikir buat kuliah diluar negeri mah, tapi sejak liat mama sama om Irfan aku ngerasa lebih tenang, sekarang mamah udah punya rumah, udah ga sedih lagi, ada tempat untuk berlindung, mungkin ini waktunya aku buat jadi lebih baik juga, selama ini aku cuma bikin kesalah aja kan mah? Mungkin kalau aku kuliah yang bener dan sukses suatu hari nanti aku ga usah ada dibawah kendali keluarga papah, aku bisa mandiri"


"Tapi mama gak mau kehilangan kamu"


"Mamah ga mungkin kehilangan aku, aku pasti pulang lagi kesini kalo aku udah sukses, mama sama om Irfan juga bisa ke Canada kan hitung-hitung liburan" Ziyan memperlihatkan senyum palsunya


Diana memghela nafas berat memcoba mengerti


"Kuliah diluar negeri itu gak gampang Zi"


"Mamah gak percaya sama aku?"


"Bukan gitu Ziyan"


"Mah, aku cuma butuh support mama aja, kalo mama udah doain aku, dukung aku pasti semuanya lancar"


"Terus kamu bakal tinggal sendiri disana?"


"Papah Ravi udah ngurus semuanya mah, aku tinggal pergi"


Kening Diana berkerut


"Sejak kapan kamu akrab sama orang itu?"


"Mama pernah bilang kan biar gimanapun dia tetep papah aku, mama juga pernah bilang walaupun dia udah bikin mental mama ancur tapi mama selalu berusaha maafin dia, kebaikan hati mamah itu yang bikin aku luluh"


Diana semakin menatap Ziyan yang masih berlutut dikakinya, kemudian ia menyuruh Ziyan untuk duduk disampingnya. Ziyan hanya menurut.


"Terus rencananya kapan kamu berangkat?"


"Lusa mah"


Diana membenamkan wajahnya didada Ziyan dan memeluk putranya erat, Ziyan membalas pelukan Diana tak kalah erat


"Emangnya kuliahnya dimulai secepet itu? Kamu aja belum graduation disekolah kan?" isak Diana terbata


"Aku harus penyesuaian dulu disana mah, pas masuk kuliah bahasa inggris aku harus udah fluent, jadi aku harus banyak belajar dulu"


"Apa salah mama sama papa kamu? Kenapa dia selalu ngancurin hidup mama, dari dulu dia selalu pengen ngambil kamu"


"Maaa, ini semua keputusan aku"


Diana mulai menangis lagi, Ziyan harus menenangkannya sebelum terlambat


"Maaaa tenang ya, aku ga mungkin diambil siapapun, aku milik mama, obat mama dimana? Mama minum obat ya, istirahat"


Diana kemudian melepaskan pelukan nya dan mengambil obat yang ada disebelah nakas tempat tidur, Diana menuruti perkataan Ziyan ia harus tenang, ia tidak ingin terlihat seperti orang gila didepan Irfan, untung saja tadi Irfan tidak curiga, Ziyan memberikan gelas berisi air pada ibunya, beberapa kali Ziyan meminta Diana menarik nafas dalam dan setelah cukup tenang ia membaringkan dan menyelimuti Diana agar ia bisa tertidur.~


❣️

__ADS_1


__ADS_2