
...Setelah kita menyadari dan bisa menerima kenyataan pahit itu maka kita akan bahagia...
...-Adinda N.R.-...
...**************************************...
Nasha memberikan bantal dan selimut untuk Ziyan tidur, bu Lasmi menyuruh Ziyan tidur di ruang tamu seperti terakhir kali dan bagi Ziyan itu tidak masalah sedikitpun, saat ini yang Ziyan butuhkan hanya dekat dengan Nasha dan ada di rumah ini adalah hal yang paling tepat, rumah Nasha begitu hangat, disana ada Nasha gadisnya dan ada bu Lasmi sosok baru yang sangat Ziyan hormati. Malam sudah sangat larut, mungkin Ziyan dan Nasha hanya akan tidur beberapa jam karena esok pagi mereka harus kembali kesekolah, tidak sampai 10 menit setelah menutupi setengah tubuhnya dengan selimut mata Ziyan dengan cepat terlelap, hari ini begitu melelahkan baginya.
Pukul 5.30 pagi Nasha sudah rapi dengan memakai seragam sekolahnya, bu Lasmi baru saja menyetrika baju seragam Ziyan karena kemarin malam Ziyan datang ke rumah Nasha masih dengan mengenakan seragam dan jaket denim yang walaupun terlihat berantakan tapi tidak menghilangkan ketampanan cowok itu sedikitpun. Saat ini Ziyan masih tertidur dengan mengenakan piyama milik ayah Nasha yang sebenarnya sedikit kependekan di bagian lengan dan kakinya. Bu Lasmi selanjutnya bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Nasha menghampiri Ziyan yang masih nyenyak tertidur di atas sofa di ruang tamu, gadis itu mendekat tanpa bersuara, sambil berjongkok disebelah Ziyan gadis itu hanya bisa menatapnya sambil memeluk kedua lututnya yang terlipat, rasanya tidak tega harus membangunkan Ziyan yang tertidur seperti bayi itu. Wajah mereka sejajar dan dari jarak itu Nasha bisa melihat semua kesempurnaan Ziyan dengan sangat jelas, bulu mata yang begitu lentik, hidung yang mancung, dan rahang yang tegas, sulit sekali untuk tidak jatuh cinta pada tampilan seperti itu bukan?
Dibalik semua kesempurnaan nya, Ziyan tetaplah menyimpan luka yang dalam di hatinya, luka yang tidak akan terlihat orang lain karena senyum dan wajah tampan nya, luka yang Nasha tau sangat menyiksa Ziyan, dan luka itu begitu terasa saat Ziyan memeluk Nasha kemarin malam, tubuh yang memeluk Nasha itu terasa sangat dingin dan kaku, bagitu terasa bagaimana otot-otot tubuh Ziyan menahan amarah dan kekesalan nya.
"Apakah sesakit itu?" tanya Nasha dalam hati sambil terus memandangi Ziyan dari dekat, tanpa sadar Nasha bergerak menyentuh bawah mata Ziyan yang masih tertidur seperti ingin menghapus air mata dan semua amarah yang di pendam Ziyan jauh dilubuk hatinya. Tiba-tiba saja Ziyan membuka mata dan terbangun dari tidurnya, sementara Nasha malah kaget dan refleks menarik tangan nya dari wajah Ziyan
Ziyan sekarang malah memandangi Nasha sangat intens seperti ingin melahap gadis itu dengan sekali terkaman. Ziyan malah tersenyum melihat Nasha begitu kik-kuk karena tertangkap basah sedang mencuri pandang dirinya. Nasha buru-buru berdiri dan membelakangi Ziyan agar pipinya yang merona merah tidak terlihat.
"Pura-pura tidur ya?" tanya Nasha dengan malunya, Ziyan tersenyum lebar sambil berdiri dari sofa tempatnya tidur tadi
"Kalo gue gak bangun kira-kira lo udah ngapain gue ya?" seru cowok itu sambil terkekeh, wajah Nasha semakin merah mendengar nya
"Kalo gak bangun-bangun udah aku siram muka kamu pake air, sana cepet mandi! udah setengah 6 pagi, nanti kita kesiangan kesekolah" suruh Nasha sambil sedikit mendorong bahu Ziyan, tapi Ziyan malah dengan sengaja menarik kedua tangan Nasha sehingga gadis itu harus bergerak mendekat ke dada nya
"Gue boleh pindah kesini aja ga sih? biar setiap pagi bisa liat lo kayak gini" Ziyan menatap wajah Nasha yang memerah dan menyingkap rambut kecil di pipi Nasha kebelakang telinga gadis itu
"Apaan sih pagi-pagi udah gombal, sana cepetan mandi!" sekali lagi Nasha berusaha mendorong dada Ziyan agar menjauh tapi tangan itu malah di tarik lagi dan kedua tangan Nasha malah Ziyan dekatkan ke hidungnya seperti ingin menghirup seluruh aroma tubuh gadis itu
"Lo wangi banget sha, mandi pake apa sih?" tanya Ziyan setelah menciumi tangan Nasha
"Nanti ada bu Lasmi" seru Nasha sambil menarik tangan nya "ayo sekarang cepet mandi nanti kita kesiangan" sekarang Nasha yang menarik tangan Ziyan agar berjalan menuju kamar mandi.
Ziyan mandi dan bersiap tidak sampai 10 menit, kemudian ia menghampiri Nasha yang sudah menunggu di meja makan, bu Lasmi sudah menyiapkan nasi goreng untuk mereka sarapan, Ziyan dengan lahapnya menghabiskan nasi goreng itu, makanan bu Lasmi adalah surga baginya, Ziyan bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia sarapan sebelum berangkat sekolah, tidak ada yang pernah menyiapkan sarapan untuknya, tapi sekarang berkat Nasha dan bu Lasmi Ziyan bisa merasakan lagi apa itu yang disebut dengan sebuah rumah.
Nasha dan Ziyan pergi kesekolah dengan menggunakan mobil Ziyan, hari ini adalah hari kedua perayaan ulang tahun sekolah, biasanya di hari kedua sudah tidak ada lagi acara formal seperti pembukaan acara atau tamu undangan dari pihak sekolah, hari kedua adalah hari milik siswa-siswi saja dan biasanya akan ada pengunjung dari luar sekolah yang sudah punya tiket untuk menonton pensi ataupun pameran, sekarang Nasha dan Ziyan sudah berjalan beriringan menuju ke stan pameran ekskul melukis dan di sepanjang jalan sejak mereka berdua turun dari mobil tidak ada satupun mata yang melewati Ziyan
__ADS_1
Sejak kejadian heboh kemarin semua orang pasti semakin penasaran dengan Ziyan, saat orang-orang belum tau kalau Ziyan pewaris dari keluar kaya pemilik sekolah saja ia sudah digandrungi siswi-siswi di sekolah nya, apalagi sekarang, Ziyan dimata mereka mungkin semakin sempurna dengan ketampanan dan kekayaan nya, Nasha sesekali menatap Ziyan yang tetap berjalan lurus tidak memperhatikan orang-orang yang menatapnya, entah karena Ziyan sudah biasa jadi pusat perhatian atau karena cowok itu berpura-pura tidak memperdulikan mereka, entahlah Nasha tidak tau. Hanya saja ada perasaan aneh di dadanya, Nasha merasa semakin kecil ada di samping Ziyan yang begitu sempurna, dan Nasha benci dengan perasaan seperti itu.
Sedangkan dari kejauhan, mata Diandra juga tertuju pada mereka, ada rasa yang semakin besar untuk mendapatkan Ziyan, ada perasaan marah karena Ziyan menolaknya dengan kasar kemarin saat ia mengejar pria itu dari aula, masih segar di ingatan Diandra bagaimana cara Ziyan menolak genggaman tangannya kemarin sementara sekarang Ziyan malah datang kesekolah bersama Nasha, ada perasaan cemburu yang sangat besar pada Nasha, ada perasaan sedih dan menyesal andai Tuhan mempertemukan nya lebih dulu dengan Ziyan dan bukan Alex pasti hidupnya tidak akan sekacau sekarang ini, Ziyan sangat sempurna ia tampan, lembut, tidak pernah kasar pada wanita, ia juga sangat kaya, Ziyan adalah seorang putra mahkota. Air mata sekarang menggenang di pelupuk mata Diandra, hatinya sangat sakit karena tidak bisa memiliki Ziyan.
Diandra berjalan mendekati Nasha dan Ziyan, gadis itu tidak menyembunyikan kesedihan nya
"Zi, kamu gak apa-apakan?" tanya Diandra, sementara Ziyan dengan malas melihat gadis itu, Nasha menatap wajah Diandra yang sangat mengkhawatirkan Ziyan
"Aku khawatir banget sama kamu Zi" Diandra berusaha menggenggam tangan Ziyan, tapi pria itu malah menepis tangannya, Diandra terlihat kecewa, sekarang ia mengalihkan pandangan nya pada Nasha seperti meminta Nasha untuk pergi dari tempat itu, Nasha yang tau kalau Diandra ingin bicara berdua saja dengan Ziyan berusaha menjauh
"Aku ke stan lukis duluan ya" kata Nasha tapi Ziyan buru-buru menghadangnya
"Gak! kita bareng!" seru Ziyan sambil menarik tangan Nasha
Nasha semakin tidak enak hati pada Diandra, ia berusaha melepaskan genggaman tangan Ziyan
"Aku mau ngobrol sama kamu Zi" kata Diandra dengan raut sedih
"Kamu ngobrol dulu sama kak Diandra, oke" sekuat tenaga Nasha melepaskan genggaman tangan Ziyan dan berjalan cepat meninggalkan mereka
"Zi...kamu kenapa sih sama aku?" seru Diandra sambil menahan tangan Ziyan
"Gue gak ada urusan sama ratu drama kayak lo" Ziyan menatap Diandra dengan marah karena sudah mengganggu nya dengan Nasha, kemudian tangan Diandra ditepisnya dengan kasar dan Ziyan buru-buru mengejar Nasha
Diandra sekarang benar-benar menangis, ia tidak bisa menahan nya lagi, bahkan Diandra tidak peduli dengan tatapan orang-orang padanya saat ini, Ia kemudian pergi dari sekolah dengan perasaan malu, kalah dan juga marah.
"Nasha!" Ziyan menarik tangan gadis itu saat ia berhasil mengejarnya
"Lo kenapa sih malah pergi?" tanya Ziyan sedikit kesal
"Pergi gimana sih Zi? aku kan emang mau ke stan lukis"
"Gue kan udah bilang kita bareng"
"Kak Diandra mau ngobrol dulu sama kamu, terus aku harus nguping disitu gitu?"
__ADS_1
"Gue ga mau ngobrol sama dia"
"Kamu lagian kenapa sih galak banget sama kak Diandra"
"Gue gak suka rubah licik kayak dia"
Nasha mengerutkan dahi mendengarnya
"Hush, jangan gitu sama orang!"
"Pokonya lo jangan deket-deket sama dia"
"loh? kok jadi kamu yang ngatur"
"Lo harus percaya sama gue Diandra gak baik"
"Terus kenapa kamu mau aja di gosipin pacaran sama dia?"
Sekarang dahi Ziyan yang berkerut
"Lo cemburu?" tanya Ziyan
Nasha tidak menjawab malah berjalan cepat menjauhi Ziyan
"Shaaaa" sekali lagi Ziyan menarik tangan Nasha dan menahan langkah nya
"Jangan tiba-tiba pergi lagi dari gue oke! jangan pergi kalau gue gak suruh lo pergi" Ziyan menatap Nasha sangat serius, genggaman tangan nya terasa semakin erat
"Emang kamu gak sadar ya kalau orang-orang tuh liatin kita tadi kayak lagi liat cinta segitiga di FTV, dan sekarang juga"
Ziyan menatap sekeliling dan benar saja mereka memang jadi pusat perhatian
"Lo gak nyaman ya?" tanya Ziyan kembali menatap Nasha, dan gadis itu hanya mengangguk, akhirnya Ziyan melepaskan genggaman tangan nya
"Sorry, tapi janji lo jangan lari kaya tadi lagi ya" pinta Ziyan dan Nasha sekali lagi hanya mengangguk
__ADS_1
❣️