
...Tapi terkadang aku takut jika terlalu bahagia, aku takut akan menderita lagi, aku takut seseorang akan mencuri kebahagiaan ku. Kebahagiaan ini akan berubah jadi menyakitkan, dan rasa sakitlah yang tidak akan bisa hilang...
...-Ziyan R.A.-...
...***************************************...
Akhirnya pukul 9 malam semua agenda kegiatan perayaan ulang tahun sekolah rampung juga, sekarang semua anggota club lukis sedang membereskan barang-barang logistik yang mereka pakai, setengah jam kemudian Ziyan mengantarkan Nasha pulang kerumahnya, di mobil wajah Nasha terlihat sedikit lelah
"Capek ya?" tanya Ziyan saat membantu Nasha memasangkan sabuk pengaman, sementara Nasha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
"Beneran?" tanya Ziyan memastikan
"Beneraaan" jawab Nasha meyakinkan
Dari dalam mobil Nasha dan Ziyan melihat Arman yang menuju parkiran motor dengan wajah sumberingahnya
"Kak Arman pasti seneng banget semua lukisan nya kejual" kata Nasha sambil ikut tersenyum
"Mata duitan emang tu orang"
Dari semua lukisan yang dipajang, lukisan Arman dan Amira lah yang berhasil terjual, sebenarnya banyak yang menawar lukisan Ziyan tapi seperti yang dikatakan sebelum nya Ziyan tidak menjual lukisan nya, sementara lukisan Nasha tidak berhasil terjual, bahkan tidak ada yang menawar sama sekali tapi itu tidak penting untuk Nasha melihat Ziyan mau ikut pameran saja itu sudah sangat membahagiakan untuknya, tak lama kemudian mobil Ziyan meninggalkan parkiran sekolah.
Sekitar 45 menit setelah melewati jalan kota Jakarta yang malam ini sangat bersahabat mobil Ziyan sekarang sudah ada di depan gerbang rumah Nasha
"Makasih ya udah nganter" kata Nasha sambil membuka sabuk pengaman nya
"Makasih doang nih?" Ziyan berpura-pura cemberut
Nasha tiba-tiba teringat sesuatu, lalu ia mengambil lukisan dari kursi belakang mobil
"Nih buat kamu" Nasha memberikan lukisan nya ke pangkuan Ziyan
Ziyan menatap lukisan sederhana yang di buat Nasha itu
"Kok di kasih ke gue?" tanya Ziyan sambil masih melihat detil lukisan itu
"Aku pengen ngasih rumah pertama buat kamu, jadi jangan bilang kamu ga punya rumah lagi ya" seru Nasha sambil menatap Ziyan dengan lembut
Ziyan membalas tatapan Nasha, ada sangat banyak rasa terimakasih dan sayang yang semakin besar untuk gadis itu sekarang
"Sebenernya aku ga tau harus ngelukis apa buat pameran, kamu juga tau aku emang ga bakat gambar, tapi aku tiba-tiba inget obrolan kita pas di rooftop apartment soal kamu yang selalu pindah-pindah sejak kecil dan ga pernah bener-bener punya rumah, dan aku ngelukis ini pada akhirnya, emang gak bagus sih tapi jangan di buang ya"
Ziyan semakin dalam menatap Nasha, mata Nasha selalu bersinar dan jujur membuat Ziyan tidak bisa berhenti jatuh cinta pada gadis itu
"Gak mungkin gue buang lah, mulai sekarang lukisan ini bakalan jadi harta gue yang paling berharga"
Nasha terkekeh mendengarnya "lebay" katanya singkat sambil tertawa kecil
"Makasih yaaaa" seru Ziyan sambil mengelus pipi Nasha dengan lembut dan Nasha hanya tersenyum manis
__ADS_1
"Kalo gitu yang ini juga buat lo" Ziyan mengambil salah satu lukisan nya juga di kursi belakang mobil
Nasha menerima lukisan dirinya dari tangan Ziyan
"Gue pengen setiap lo liat lukisan ini lo tau betapa besar arti lo buat gue"
Nasha menatap lukisan itu dengan kagum
"Makasih" katanya sambil tersenyum
Mereka berdua saling menatap dan tersenyum sejenak
"Gue anterin ke dalem ya" kata Ziyan sambil membuka sabuk pengaman nya "gue mau pamitan dan bilang makasih juga sama bu Lasmi"
Nasha hanya tersenyum sambil mengangguk
"Lagian gue harus baik-baikin bu Lasmi, biar di restuin" seru Ziyan sambil tertawa nakal. ~
Tidak terasa sudah 6 hari berlalu sejak acara perayaan ulang tahun sekolah dan yang Nasha tau artinya besok adalah hari ulang tahun Ziyan, setidaknya itulah yang dikatakan kakek Ziyan saat acara pembukaan saat itu.
"Kamu beneran ulang taun besok?" tanya Nasha ke Ziyan yang sedang makan mie goreng di depan nya, saat ini mereka sedang istirahat jam pertama
"Kok lo tau?" tanya Ziyan sambil masih mengunyah makanan nya
"Kayaknya satu sekolah juga tau deh, waktu pak ketua yayasan pidato pas pembukaan pameran kemarin kan dia bilang cucunya ulang taun 1 minggu lagi" terang Nasha
"Kamu mau hadiah apa?"
Ziyan yang sedang makan tiba-tiba berhenti mendengar pertanyaan pamungkas itu, ini adalah kesempatan nya meminta apa saja pada Nasha
"Lo beneran mau kasih gue hadiah?"
Nasha mengangguk sambil tersenyum polos tidak mengetahui akal Ziyan seperti apa
"Boleh minta apa aja nih?"
"Yaaaa asal masih masuk akal sih aku usahain"
Ziyan tersenyum jahil mendengarnya
"Gue cuma mau lo jadi pacar gue"
"Diiiih...malah becanda"
"Gue serius shaaa" Ziyan mulai memasang wajah kesal
Nasha hanya diam tidak menjawab, jauh di lubuk hati Nasha ia juga sangat ingin jadi pacar Ziyan tapi ada ketakutan juga disana, Nasha tidak pernah pacaran sebelum nya, dan Ziyan begitu di puja-puja banyak wanita termasuk Diandra yang sempurna itu, apa Nasha pantas jadi pacar Ziyan?
Keesokan harinya mereka berdua hanya berjanji untuk makan malam setelah Nasha pulang bimbingan belajar, Ziyan sudah memesan tempat di sebuah restoran yang Ziyan yakin Nasha akan menyukai pemandangan dari tempat itu, Nasha juga sudah menyiapkan hadiah kecil untuk Ziyan.
__ADS_1
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan Ziyan sudah menunggu Nasha di depan kelasnya untuk mengantarkan gadis itu ke bimbingan belajar, mereka berjalan menuju parkiran sekolah sambil mengobrol dan tertawa-tawa kecil sampai Diandra tiba-tiba saja menghampiri Ziyan dengan wajah yang sangat cemas.
"Zi, please tolong gue" Diandra berlari dan langsung memeluk Ziyan ketakutan, Nasha yang melihat nya hanya bisa diam seperti patung, ada perasaan yang sangat aneh di dadanya melihat itu
Ziyan dengan kasar melepaskan pelukan Diandra dari tubuh nya
"Ngapain sih lo?" bentak Ziyan kesal
"Please, kita harus ngobrol" pinta Diandra sambil menggenggam tangan Ziyan
"Gak" jawab Ziyan singkat dan ketus, sambil melepaskan genggaman tangan Diandra
"Gue takut banget Zi, ini soal Alex" pinta Diandra sekali lagi dan sepertinya ini berhasil memancing perhatian Ziyan yang mulai menatap Diandra
Kemudian Ziyan menarik tangan Nasha dan membawa duduk di salah satu kursi yang ada di koridor untuk menjauh dari tempat Diandra berdiri
"Lo tunggu dulu disini, oke" pinta Ziyan dan Nasha hanya menurut dengan perasaan yang sebenarnya sedih juga kesal, sangat tidak nyaman melihat pemandangan Ziyan dan Diandra seperti itu, Ziyan kemudian menghampiri Diandra lagi
"Zi, di depan ada anak buah Alex, kemarin aku nyoba buat mutusin dia kayak saran kamu tapi dia malah marah besar dan ngancam bakal nyakitin aku, aku takut banget Zi, anak buah nya udah ada di depan" jelas Diandra sambil memeluk Ziyan lagi
Ziyan benar-benar risih dengan sikap Diandra ini, gadis itu sengaja melakukan nya agar Nasha kesal Ziyan tau itu.
"Lo gak usah kayak gini" pinta Ziyan sambil sekali lagi menjauhkan Diandra dari tubuhnya
"Tapi aku takut Zi, please selametin aku, kalo mereka liat kamu pasti bahaya juga kan? aku gak mau kamu kenapa-kenapa"
Kata-kata Diandra ada benarnya juga, jika anak buah Alex melihat Ziyan bukan tidak mungkin mereka juga menyerangnya, sebenarnya Ziyan tidak peduli, Ziyan bisa melawan balik semua anak buah Alex, tapi sekarang ada Nasha dan anak buah Alex tidak boleh melihat Nasha, Ziyan tidak ingin gadisnya ada dalam bahaya juga.
Handphone disaku Ziyan berdering, ternyata Ken mengirim pesan
"Gawat, banyak banget anak buah Alex di depan sekolah, gue sama anak-anak lagi berusaha kabur diem-diem, lo sama Nasha hati-hati"
Ziyan melihat jam ditangan nya, jika Nasha tidak pergi sekarang gadis itu akan terlambat ke bimbingan belajar bahkan bisa jadi dia ada dalam bahaya juga, pandangan mata Ziyan beralih ke Nasha yang sedang duduk menunggunya, gadis itu juga sedang menatap dia dan Diandra dengan tatapan yang kecewa, Ziyan sangat sedih melihat Nasha menatapnya seperti itu.
Ziyan menghampiri Nasha yang sedang duduk beberapa meter tidak jauh darinya, pria itu berlutut di depan Nasha yang sedang duduk dan menggenggam tangan nya
"Lo bisa pergi ke bimbel naik taksi kan?" tanya Ziyan dengan lembut dan Nasha tidak langsung menjawab hanya mendengarkan apa yang Ziyan katakan saja, perasaan Nasha tidak karuan, ia takut akan menangis jika mengeluarkan suara
"Gue ada urusan dulu, tapi gue janji pulang bimbel gue bakal jemput lo dan kita dinner bareng" Ziyan berusaha tersenyum agar Nasha sedikit senang, Nasha menunduk lalu menganggukan kepalanya pelan
"Lo marah ya?" Ziyan merasa sangat bersalah, tangannya diletakan ke pipi Nasha untuk mengangkat wajah gadis itu
"Nggak kok" jawab Nasha sambil sekuat tenaga berusaha tersenyum walaupun dadanya sangat sesak
"Lo tunggu gue disana, jangan kemana-mana oke" Ziyan mengelus pipi Nasha lembut untuk meyakinkan
Nasha hanya mengangguk kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Ziyan dan juga Diandra.
Ziyan menatap punggung Nasha yang semakin menjauh dengan perasaan bersalah tapi setidaknya anak buah Alex tidak akan mengenal atau curiga pada Nasha, saat ini sangat berbahaya jika ia dekat dengan gadis itu, bisa jadi anak buah Alex melukai Nasha juga untuk balas dendam pada Ziyan.
Nasha sudah aman dan berada di dalam taksi, tapi dadanya masih saja sesak, melihat Diandra memeluk Ziyan tidaklah menyenangkan apalagi melihat Ziyan memperdulikan Diandra juga, walaupun Ziyan selalu bersikap ketus pada gadis itu tapi Ziyan masih memperdulikan nya, Ziyan memilih melindungi Diandra dari orang bernama Alex yang Nasha tidak kenal siapa orang itu dan juga hal itulah yang membuat Nasha jadi lebih sedih, perkataan Diandra tentang Ziyan yang pernah menyukainya tidaklah salah sepertinya, itulah yang di fikirkan Nasha.
__ADS_1
❣️