Dosa Cinta

Dosa Cinta
NEKAT


__ADS_3

...Aku menginginkan mu tanpa alasan, pandangan ku di penuhi olehmu, bahkan saat aku menutup mataku, i'll be yours...


...-Yours/Baekhyun Exo-...


...**********************************...


Nasha hanya bisa melihat keramaian jalan dari dalam jendela taksi yang di tumpanginya, mata Nasha terlihat sangat sedih dan kecewa, bagaimana tidak dua jam Nasha menunggu Ziyan di depan bimbingan belajarnya yang sudah sepi dan tak ada kabar sedikitpun dari pria memyebalkan itu.


Air mata mulai mengalir di pipi Nasha, gadis itu menutup wajahnya karena malu pada sopir taksi yang pasti melihat ia menangis, tapi tangisan itu sulit di hentikan, semakin di tahan semakin menyesakan dada. Nasha benci pada dirinya yang sekarang, mengapa ia mudah sekali meneteskan air mata untuk hal tidak penting seperti kecewa pada seseorang, Nasha tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Gadis itu berkali-kali berusaha menghapus air mata yang mengalir di pipinya sampai taksi yang mengantarkan nya ada di depan gerbang rumah. Nasha semakin kuat mengelap air mata di pipinya agar cepat mengering, bu Lasmi tidak boleh tau apa yang terjadi hari ini, ia harus terlihat baik-baik saja, Nasha keluar dari dalam taksi dan berusaha memasang wajah baik-baik saja, sebelum ia masuk gadis itu menarik nafas berat terlebih dulu menguatkan hatinya sendiri.


"Assalamualaikum" seru Nasha sambil masuk ke dalam rumah


"Waalaikumsalam, Non kok baru pulang?"


"Iya bu tadi pergi dulu sama temen"


Bu Lasmi meliti wajah Nasha yang terlihat berbeda, bu Lasmi tidak semudah itu di bohongi.


"Non ada sesuatu?" tanya bu Lasmi sambil berusaha menatap mata Nasha


Nasha menggelengkan kepala sambil berusaha tersenyum


"Gak ada bu" jawab Nasha bohong


"Non nangis? kok matanya merah?"


"Ngga kok, ini aku udah ngantuk banget jadi matanya merah"


"Jangan bohong sama ibu"


"Beneraaaan aku gak apa-apa bu, aku capek banget aku langsung ke kamar ya" Nasha semakin melebarkan senyumnya agar bu Lasmi percaya


"Non gak makan dulu?"

__ADS_1


"Aku mau langsung tidur aja, gak apa-apa ya bu"


Nasha akhirnya naik ke kamarnya dan meninggalkan bu Lasmi dengan raut wajah curiga. ~


Sudah pukul dua pagi dan Nasha masih saja terjaga, sesekali air mata menetes lagi di pipinya saat bayangan Ziyan yang pergi dengan Diandra kembali muncul, layar handphone itu masih di tatapnya berkali kali, berharap Ziyan akan menghubungi nya tiba-tiba dan meminta maaf, tapi lagi dan lagi harapan itulah yang membuat Nasha semakin kecewa.


Sementara itu Ziyan menatap lampu kamar Nasha yang sudah gelap dari depan gerbang rumah gadis itu, ia harus bertemu Nasha sekarang bagaimanapun caranya, Ziyan tidak ingin Nasha kecewa padanya walaupun pasti Nasha memanglah sudah kecewa padanya.


Ini pukul dua malam, tidak mungkin jika harus mengetuk rumah Nasha seperti seorang tamu, bu Lasmi akan sangat murka jika tau Ziyan datang sepagi ini, Ziyan melihat balkon kamar Nasha, balkon itu sekitar 3 meter apa ia harus nekat memanjat ke kamar Nasha? tapi lewat kemana? Ziyan masih memutar otak untuk bisa memanjat ke kamar gadis itu, walaupun sangat nekat tapi ia tidak punya pilihan lain, ia harus meluruskan kesalahpahaman Nasha sekarang juga, Ziyan tidak ingin kehilangan gadis itu.


Nasha masih berusaha memejamkan matanya, ia harus pergi kesekolah besok pagi bukan, walaupun dadanya masih saja terasa sesak Nasha memaksakan matanya untuk terpejam, sampai ia mendengar ketukan kecil dari pintu kaca yang menuju ke balkon di kamar nya, awalnya Nasha tidak memperdulikan ketukan itu mungkin itu hanya angin, fikirnya. Tapi sekali lagi ketukan itu terdengar lebih intens, dari balik pintu Ziyan tidak berani mengetuk terlalu kencang karena takut membangunkan orang lain selain Nasha.


Nasha mulai beranjak dari tempat tidurnya, sekali lagi ia mendengar pintu itu di ketuk dan gadis itu membuka gorden yang menutupi pintu kaca untuk melihat ke area balkon, alangkah terkejutnya Nasha ketika melihat yang berdiri di depan pintu adalah Ziyan dengan wajah babak belur. Nasha kemudian membuka pintu dan hanya bisa menutup mulutnya yang ternganga karena kaget menatap Ziyan dan kondisinya yang babak belur.


Nasha mulai menangis lagi melihat keadaan Ziyan yang seperti itu, Ziyan hanya bisa menghapus air mata di pipi Nasha kemudian memeluk gadisnya dengan sangat posesif


"Please, jangan nangis sha" bisiknya ditelinga gadis itu, tapi bukan nya berhenti menangis air mata malah semakin banyak keluar dari mata Nasha, Nasha hanya bisa membiarkan Ziyan memeluknya, walaupun sangat kesal pada Ziyan tapi tetap saja melihat Ziyan babak belur seperti itu membuat hati Nasha tidak tega.~


Nasha dan Ziyan duduk di balkon kamar Nasha yang tidak terlalu besar, dan Nasha mulai mengobati luka-lula di sekujur tubuh Ziyan mulai dari pojok bibirnya, hidung, pipi yang babak belur, tangan Ziyan juga lecet dan berdarah seperti di gunakan untuk menonjok benda keras, Nasha hanya bisa terdiam sambil mengobati luka Ziyan, pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya tidak ada yang keluar sedikitpun, gadis itu hanya terus mengobati Ziyan tanpa bertanya atau berbicara, dan yang membuat Ziyan semakin sakit Nasha tidak menatap matanya sekalipun.


"Lo marah ya?" tanya Ziyan dengan suara pelan, Nasha tidak menjawab hanya terus mengobati wajah Ziyan, setelah beberapa detik kemudian gadis itu hanya menggelengkan kepala


"Kalo ga marah, kenapa lo ga mau liat gue?"


Pertanyaan Ziyan itu membuat Nasha berhenti mengompres pipi Ziyan dan mulai menatap matanya


"Aku cuma berusaha nahan, nahan buat gak nangis, nahan buat ga nanya terlalu banyak, nahan buat gak ngelarang kamu pergi sama kak Diandra"


Nasha mencelupkan handuk yang di pegangnya ke air hangat lalu mulai mengompres pipi Ziyan lagi, Ziyan semakin dalam menatap Nasha dan sebenarnya hal itu membuat Nasha jadi berdebar karena takut salah bicara, tangan Ziyan menggenggam tangan Nasha yang ada di pipi kanan nya


"Lo gak perlu nahan itu sha, lo boleh tanyain apapun, lo boleh larang gue sama siapapun, dengan senang hati gue bakal jawab semua pertanyaan lo dan nurutin apapun permintaan lo"


Nasha menatap mata Ziyan dan mulai meneteskan air mata lagi mendengar kata-kata itu


"Aku gak berhak" seru Nasha rendah diri

__ADS_1


"Lo yang paling berhak, gue cuma milik lo sha, perlu berapa kali lagi gue bilang kalo cuma lo satu-satunya yang ada di hidup gue"


Ziyan menghapus air mata yang mengalir di pipi Nasha dengan lembut


"Lo gak perlu izin dari siapapun karena sejak awal gue udah jadi milik lo"


Nasha menundukan wajahnya dan masih terus menangis


"Apa gue boleh milikin lo juga?"


Ziyan semakin dalam menatap Nasha dan tanpa menunggu jawaban gadis itu Ziyan dengan lancang memangkas jarak yang ada diantara mereka, menarik wajah Nasha mendekat dan menc*um bibir gadisnya dengan sangat lembut



Nasha menerima kecupan hangat itu tanpa menolak seakan-akan mengiyakan jika ia ingin menjadi milik Ziyan juga, Ziyan tau Nasha tidak menolaknya lalu ia melepaskan bibirnya untuk memberi sedikit jarak lalu bertanya


"Apa itu artinya boleh?"


Nasha menatap Ziyan dengan sayu, Nasha tau ia tidak bisa melihat Ziyan dengan orang lain entah itu Diandra atau siapapun, jatuh cinta pada pria itu membuat Nasha menjadi sangat serakah, Nasha menginginkan Ziyan hanya itu yang ia tau saat ini, Nasha kemudian mengangguk pelan sambil menutup matanya karena tidak berani menatap Ziyan, jantung nya seperti akan loncat dari tempatnya saat ini. Ziyan tersenyum melihat jawaban malu-malu itu dan mulai mengecup bibir Nasha lagi seperti telah mendapatkan izin.


"Bibir lo manis banget sha" katanya sesaat sebelum menc*ium gadis itu lagi dengan lebih dalam dan semakin dalam


Ziyan tidak penah menyangka c*uman itu akan sangat menjadi candu, ini adalah pertama kalinya untuk mereka berdua dan rasanya seperti sulit di hentikan, Ziyan merasa sangat merindukan Nasha saat ia menghetikan c*uman nya dan tidak bisa menahan diri untuk mencium gadis itu lagi.


Pipi Nasha rasanya terbakar, detak jantungnya seperti bertambah berkali lipat, ini adalah pelanggaran paling besar yang pernah Nasha lakukan, ada seorang pria yang menciumnya dengan sangat dalam di balkon kamarnya, dan ia menerima hal itu bahkan tubuhnya tidak bisa menolak, gadis itu menikmatinya juga. Bahkan sekarang tidak hanya wajah mereka yang tidak berjarak, Ziyan merangkul pinggang Nasha dengan sangat posesif dan membuat tubuh mereka, mereka seperti di lem.


Ziyan menghentikan c*uman itu saat tahu nafas Nasha mulai terengah, saat wajah mereka berjarak Ziyan hanya bisa tersenyum melihat Nasha yang masih menutup matanya karena malu, dan gadis itu hanya membenamkan wajahnya diantara kepala dan leher Ziyan tidak ingin seorangpun melihat wajahnya yang terlihat bodoh seperti kepiting rebus, Ziyan terus memeluk gadis yang sudah resmi jadi miliknya itu dengan senyum gemas dan bahagia. ~


Paginya Nasha bangun dengan energi yang cukup banyak walaupun ia hanya tidur dua jam tapi entah mengapa rasanya tidak ada kantuk sama sekali, Nasha mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap kesekolah, sebelum pergi mandi Nasha menatap dirinya di cermin kamar mandi, gadis itu teringat beberapa jam yang lalu Ziyan masih berada di kamarnya dan menc*umnya untuk pertama kali, mengingat itu jantungnya kembali berdetak kencang, Nasha menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan karena malu pada diri sendiri, ia bahkan tidak percaya dengan apa yang telah di lakukan nya, ini adalah kenakalan remaja pertama yang di lakukan Nasha.


Tapi jujur saja Nasha merasa bahagia karena Ziyan begitu amat mencintainya, setelah aktivitas ciuman pertama itu dengan posisi yang masih tidak berjarak, Ziyan menceritakan segalanya tentang Diandra juga tentang Alex, pria itu juga menjelaskan kenapa ia tidak bisa cepat-cepat datang menemui Nasha di bimbingan belajar, hal itu karena anak buah Alex menghadangnya di parkiran sesaat setelah ia meninggalkan Diandra sendiri di dalam apartment.


Awalnya Ziyan tidak ingin berkelahi sama sekali karena ia tahu Nasha tidak menyukai Ziyan yang kasar, tapi orang-orang itu terus menghadangnya sehingga Ziyan tidak punya pilihan lain, kabur dari 10 orang laki-laki berandal bukan perkara mudah, Ziyan harus menerima pukulan di wajah dan perutnya juga, tapi akhirnya ia bisa lolos dari anak-anak buah Alex dan memutuskan nekad memanjat balkon kamar Nasha lewat pohon mangga di rumah tetangga sebelah yang dahan nya mengarah ke balkon kamar Nasha.


Tapi pria itu bilang ia tidak menyesal sama sekali sudah membuat anak buah Alex babak belur dan nekad memanjat pohon mangga tetangga di sebelah rumah Nasha hanya untuk sampai menemui gadis itu, setidaknya sekarang Ziyan bisa menggenggam dan menyentuh Nasha sepuasnya.

__ADS_1


❣️


__ADS_2