Dosa Cinta

Dosa Cinta
JUJUR


__ADS_3

...I don't want to be here if i can be with you...


...Ziyan R.A....


...********************************...


"Sha, kamu udah pulang?"


Nasha menoleh ke arah suara, ayahnya sedang duduk diruang tamu sambil membaca koran, kemudian Nasha mengangguk menjawab pertanyaan Irfan.


"Kok kamu keliatan lesu gitu sih?" Irfan menghampiri Nasha dan mengelus puncak kepala putrinya


"Gak apa-apa pah, sedikit cape aja"


"Makan dulu yuk, papah juga belum makan nih nungguin kamu"


Nasha hanya mengangguk lagi, mengiyakan. Keduanya berjalan keruang makan, dengan telaten bu Lasmi mempersiapkan makan malam untuk kedua majikannya.


"Bu ikut makan disini yuk!" ajak Irfan pada bu Lasmi


"Saya kebetulan udah makan duluan pak dibelakang" tolak bu Lasmi halus, irfan hanya mengangguk kemudian ia dan Nasha segera duduk dan menikmati masakan bu Lasmi.


"Sha, gimana sekolahnya?" Irfan membuka obrolan disela-sela makan malam mereka


"Baik-baik aja pah, lancar"


"Kamu beneran belum kenal sama anaknya tante Diana? siapa namanya itu, Zi-Ziyan ya? kalian kan satu sekolah"


Nasha termenung mendengar pertanyaan itu, sebenarnya ini kesempatan yang baik bukan untuk mengatakan kebenaran tentang ia dan Ziyan pada ayahnya. Tapi bagaimana? jika Nasha melakukan hal itu ia akan melukai ibu Ziyan dan ayahnya, apa Ziyan akan terima jika Nasha melukai wanita paling berharga dihidupnya.


"Sebenernya, gak ada orang yang gak kenal Ziyan disekolah pah" Nasha menekan hatinya, ia harus sangat berhati-hati


"Oya? anak itu emang ganteng sih ya, pasti banyak gadis-gadis yang suka sama dia"


"Ya gitulah pah" jawab Nasha singkat


"Kamu gimana? kamu gak naksir juga sama cowok seganteng Ziyan?"


Deg, pertanyaan Irfan benar-benar sulit dijawab


"Menurut papah?" jawaban Nasha ambigu


"Kamu kan agak aneh, pas anak seusia kamu sukanya dandan-dandan, naksir cowok, kamu malah belajaaaar terus"


Kecewa sekali rasanya mendengar jawaban Irfan, walaupun jawaban itu tidak sepenuhnya salah tapi apa selama ini Irfan sesibuk itu sampai ia tidak tahu seperti apa putrinya, apa yang dirasakan putrinya, apa yang dialami putrinya, sedih sekali rasanya punya orang tua yang ada tapi terasa tidak ada. Nasha hanya menunduk sambil membolak-balik makanannya.


"Papah, mama kamu dan tante Diana itu temen sejak kita kuliah. Walaupun beda jurusan dengan tante Diana, tapi mama dan papah satu himpunan sama dia, kami dulu sangat dekat sampai tiba-tiba tante Diana drop out dari kampus karena dijodohkan oleh orangtuanya, info yang papa dapet katanya dia dibawa keluarga suaminya ke Kanada, sejak itu kita gak pernah ketemu lagi."


"Papah pernah naksir tante Diana dulu?" Nasha penasaran apakah perasaan ayahnya pada Diana sudah tumbuh sejak dulu


Irfan malah tertawa mendengar itu "Papah sama tante Diana dulu itu bagaikan langit dan bumi, tante Diana itu putri dari orang yang berkecukupan, sementara papah? kalau nenek kamu ga mengadopsi papah dulu mungkin sampai sekarang papah hanya akan jadi seorang yatim piatu"

__ADS_1


"Papah ga jawab pertanyaan aku loh" Nasha bicara dengan datar


"Mama, papah dan tante Diana dulu memang sahabatan, sejak awal papah juga ga pernah menyangka akan menikah sama mama, tapi bagi papah dulu rasanya papah ga akan berani naksir sama perempuan seperti tante Diana"


Nasha masih menatap ayahnya penasaran, jawaban Irfan benar-benar tidak memuaskan hatinya. Sekarang Nasha berfikir mungkin sejak dulu memang ada hubungan yang tidak selesai antara ayahnya dan ibu Ziyan. Nasha tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Dulu tante Diana dan Ziyan pernah mengalami masa-masa sulit, saat Ziyan kecil tante Diana sering mengalami KDRT dari mantan suaminya, tante Diana juga pernah ada di masa-masa traumatik dan depresi karena hal itu, mereka bisa melewati masa sulit itu setelah bertahun-tahun dan akhirnya enam tahun lalu tante Diana benar-benar bisa lepas dari mantan suaminya" Irfan fikir Nasha belum tahu tentang hal itu, gadis itu hanya mendengarkan dan tidak berkomentar. Ia masih membolak-balik makanannya kurang berselera.


Apa Nasha juga harus semenderita tante Diana agar Ziyan dan irfan mau berkorban begitu besar untuknya, bisik hatinya. Nasha menutup mata menyesali fikiran jelek itu, tidak seharusnya Nasha cemburu pada ibu Ziyan ~


Keesokannya pengumuman try out terakhir Ziyan sudah ada dan dipampang dimading sekolah seperti biasanya, sejak sampai disekolah Nasha belum beranjak dari depan mading, gadis itu masih mematung melihat nilai Ziyan yang sangat sempurna. Ziyan ada diperingkat ketiga tertas dimana peringkat pertama masih saja diduduki Rama pacarnya Mia.


Ziyan pasti belajar sangat keras untuk ada diperingkat itu, Nasha ingat dengan permintaan Ziyan padanya jika ia berhasil mendapatkan nilai sempurna di try out terakhirnya, setelah semua ini pakah Ziyan masih akan memenuhi keinginannya untuk melamar Nasha? apakah Ziyan masih menginginkan itu? Hati Nasha terasa sedih.


Sementara itu Ziyan baru saja sampai disekolah, ia masih didalam mobilnya mengecek pesan dari nomor yang tidak ada namanya.


*unknown*


Ziyan, cek email kamu, papah punya kejutan!


Ziyan tahu dari siapa pesan itu, pria itu tidak membalas apapun, ia kemudian hanya membuka emailnya dan melihat pesan yang dikirim dari email ayahnya.


Ayahnya mengirimkan sebuah file, sepertinya surat dari suatu universitas diluar negeri. Ziyan mendownload file itu dan hanya membacanya sekilas tidak tertarik. Ia kemudian memasukan handphone nya kesaku celana dan keluar dari mobil.


Diujung koridor Ziyan melihat banyak siswa yang mengerumuni mading sekolah ia tahu jika pengumuman try out pasti sudah keluar, Ziyan juga tidak tertarik dengan hal itu lagi, Ziyan tahu berapapun nilai yang ia dapakan permintaannya pada Nasha belum bisa terpenuhi walaupun jauh didalam hati Ziyan niatan itu masih sangat kuat.


Tidak lama Ziyan melihat Nasha keluar dari kerumunan itu dengan wajah sedih. Nasha tidak tahu jika Ziyan melihatnya, gadis itu kemudian berjalan kearah tangga lantai dua dan akhirnya mereka saling berhadapan.


Mereka hanya saling menatap, lalu kemudian Ziyan tersenyum mencairkan suasana sambil menghampiri gadisnya itu.


"Terus kok kamu sedih sih?"


Gadis itu menatap Ziyan dalam-dalam


"Aku bakal kabulin apapun permintaan kamu"


Ziyan paham, Nasha sedang menunggu Ziyan membuktikan perkataannya tempo hari, perkataan jika ia akan melamar gadis itu. Ziyan paham Nasha pasti sangat berharap padanya.


Ziyan menggenggam tangan Nasha


"Aku bakal ngomong tentang kita sama mama hari ini" Ziyan berkata serius ia tidak bisa melihat Nasha yang kecewa padanya.


Mata Nasha berkaca-kaca mendengar itu. "Maaf" seru gadis itu merasa bersalah, Nasha merasa ia membuat posisi Ziyan menjadi sulit, jika saja melepaskan Ziyan semudah itu bagi Nasha mungkin ceritanya tidak akan semenyakitkan ini untuk siapapun.


Hati Ziyan sakit mendengar kata 'maaf' terlontar dari mulut Nasha, tidak seharusnya Nasha meminta maaf, ia yang selalu memaksa gadis itu masuk kedalam hidupnya walaupun Ziyan tahu hidupnya tidak pernah mudah tapi dengan egois Ziyan menarik Nasha kedalam hidupnya yang berantakan, pada akhirnya sekarang Ziyan tetap membuat gadis itu terluka. Jika ada yang harus disalahkan Ziyanlah yang paling bersalah, fikirnya ~


Pukul lima sore Ziyan sudah berada dirumahnya ia sudah bertekad untuk mengatakan semuanya pada Diana, bolak-balik Ziyan melihat keluar rumah menunggu kedatangan Diana yang katanya sedang mengurus-urus semua pekerjaan yang akan dipindahkan ke Jakarta pasca ia menikah dengan Irfan.


Ziyan benar-benar gugup, walaupun sudah berusaha meyakinkan diri ia masih tetap takut dengan bagaimana nanti tanggapan Diana, satu setengah jam berlalu haripun sudah mulai gelap dan sebuah mobil kini berhenti di depan gerbang kontrakan mereka, Ziyan mengintip lewat jendela dan Diana keluar dari dalam mobil itu. Sepertinya Irfan mengantarkan Diana pulang.


"Aku antar masuk ya" pinta Irfan

__ADS_1


"Gak usah mas! aku kuat kok, kayanya Ziyan udah pulang ga enak kalo liat kita jam segini"


"Ya udah kalo gitu, ini obat kamu, inget kata dokter tadi kamu harus banyak istirahat, jangan mikirin apa-apa, dan jangan lupa minum obatnya ya!"


Tadi sore Irfan memang mengantarkan Diana ke klinik karena wanita itu demam cukup tinggi dan terlihat sangat lesu.


"Iya mas, aku masuk ya"


Kemudian Diana keluar dari dalam mobil dan masuk ke rumahnya.


Ziyan benar-benar berdiri didepan pintu saat ibunya masuk, Diana langsung tersenyum melihat putranya dengan wajah serius.


"Zi, tumben udah pulang jam segini?" tanya Diana sambil tersenyum lemas


Diana berusaha menguatkan diri padahal ia merasa begitu lemas dan pusing, ia langsung duduk di sofa dan menyandarkan dirinya, kantung obatnya ia letakan di atas meja. Melihat keadaan ibunya Ziyan tahu jika sesuatu sedang tidak baik.


"Mama sakit?" Ziyan kemudian mendekat dan duduk disebelah ibunya, tangannya ia letakan di kening ibunya untuk mengecek suhu dan benar saja ibunya demam tinggi.


"Mama demam tinggi loh, aku anter ke dokter ya!"


"Ga usah Zi, tadi mama udah ke dokter sama om Irfan, tuh obatnya" matanya menunjuk ke kantung obat


"Terus kata dokter apa?"


"Karena mama baru demam sehari katanya belum bisa dievaluasi, jadi harus nunggu dulu kalo masih demam sampe lusa harus cek darah"


Ziyan tertunduk lemas, bagaimana ini kondisi ibunya sekarang bahkan tidak memungkinkan untuk mendengar ceritanya.


"Kamu jangan khawatir, mama besok juga baikan"


Ziyan tidak berkomentar hanya menatap ibunya penuh iba


"Mama istirahat dulu dikamar ya"


Diana berusaha bangun, Ziyan memapah ibunya menuju kamar.


Paginya sebelum berangkat sekolah Ziyan melihat Diana sedang menyiapkan sarapan untuk mereka didapur.


"Ma, mama lagi ngapain? Mama istirahat aja dikamar, biar aku yang siapin sarapan" Ziyan meminta ibunya berhenti


Wajah Diana terlihat semakin pucat


"Gak apa-apa mama kuat kok, jarang mama bisa nyiapin makan buat kamu" tolaknya masih dengan suara paraw "Kamu duduk aja" Diana malah memaksa Ziyan duduk dimeja makan


Ziyan akhirnya menurut, ia duduk membelakangi ibunya yang masih memasak, sesaat hening, Ziyan masih memikirkan tentang janjinya pada Nasha, Ziyan tidak ingin ingkar janji.


"Ma, aku mau bilang sesuatu"


Diana sudah tidak kuat, kepalanya terasa berputar, tiba-tiba semua pandangan menjadi gelap dan


PRANGGGGG suara benda dibelakang Ziyan seperti terjatuh sangat keras, reflect Ziyan menoleh dan menemukan ibunya terbujur kaku dilantai.

__ADS_1


"MAAA"


❣️


__ADS_2