
...Aku merindukan mu, bahkan saat kamu ada dihadapan ku aku masih begitu merindukan mu...
...Ziyan R.A....
...**************************************...
"Nasha dimana?" tanya Ziyan pada Ken dan Arvi
"Mungkin di kelasnya, soalnya dia ga kesini" jawab Ken
Tanpa basa basi Ziyan segera berlari lagi meninggalkan kantin tapi sekarang tidak hanya di ikuti para bodyguard suruhan ayahnya tapi juga oleh Arvi dan Ken, mereka semua seperti sedang bermain kucing-kucingan
Ziyan masuk ke kelas 11-Ipa3, tapi disana Nasha juga tidak ada, hanya ada Caca yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya
"Ca, Nasha dimana?" Ziyan menghampiri Caca yang sedang duduk membelakanginya
"Kak Ziyan?" wajah Caca seperti sedang melihat monster, nampak sangat kaget melihat Ziyan, seluruh pandangan mata tentu saja mengarah pada mereka
"Nasha dimana CACAAA?" Ziyan mengulang pertanyaan nya dengan tidak sabar
"Na-Nasha tadi keluar sama Mia" jawab Caca gelagapan, ia masih tidak percaya bisa melihat Ziyan lagi setelah sekian lama
"Emangnya mereka ga ada di kantin?" Caca malah balik bertanya
Ziyan sedikit termenung, Nasha bersama Mia berarti mereka ada di atap balkon sekolah, di lantai 5, pasti disana Ziyan sangat yakin
"Lo pada jangan ngukutin gue!" suruh Ziyan pada teman-teman nya, ia segera berlari meninggalkan kelas Nasha dan menuju ke lantai 5
Di tangga lantai 4 Ziyan berpapasan dengan Rama dan Mia yang hendak turun, reaksi Mia tidak jauh berbeda dengan yang lain nya ketika melihat Ziyan
"Udah nanti dulu kagetnya, Nasha sama lo kan?" tanya Ziyan
Mia hanya mengangguk sambil masih mengaga
"Dia di atap?" tanya Ziyan lagi dan sekali lagi Mia hanya mengangguk
Ziyan melanjutkan perjalanan nya terus naik ke atap balkon sekolah untuk menemui Nasha, untuk menepati janjinya pada gadis itu, entahlah tapi rasanya jantung Ziyan berdegup sangat cepat, seperti pertama kali ia melihat gadis itu, padahal pertemuan ini adalah hal yang paling di tunggu-tunggu olehnya sejak tiga minggu yang lalu
Seperti biasa pintu atap balkon sekolah tidak terkunci, dan yang pertamakali Ziyan lihat ketika sampai disana adalah punggung Nasha, gadis itu sedang berdiri mematung sambil menyandar ke besi penghalang balkon, pundaknya terlihat gemetar Ziyan tahu gadisnya sedang menangis walaupun tidak bersuara, langkah yang sedari tadi begitu bersemangat seketika menjadi pelan saat melihat Nasha benar-benar ada dihadapan nya, Ziyan hanya bisa menatap sedih Nasha dari belakang, perasaan bersalah seketika menghantamnya saat melihat Nasha menangis, gadis itu begitu menderita karenanya
Bel istirahat jam kedua sudah berbunyi, Nasha sebenarnya masih ingin berada disana, menangis sepuasnya dan menenangkan diri, tapi ia harus segera kembali ke kelas dan berpura-pura baik-baik saja didepan semua orang, seperti yang ia lakukan beberapa minggu ini, Nasha menghapus air mata dipipinya dan berusaha agar tidak terlihat habis menangis, ia juga menarik nafas berat berkali-kali untuk membuat hatinya sedikit tenang, Nasha tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun, akhirnya ia membalikan tubuhnya dan disana ia hanya bisa mematung lagi, melihat sosok yang begitu dirindukan nya sekarang benar-benar ada dihadapan nya
Kaki Nasha terasa lunglai melihat Ziyan mendekat ke arahnya, Ziyan membawa energi yang begitu aneh, tiba-tiba seluruh tenaga Nasha rasanya diambil alih
"Maaf karena buat kamu nunggu begitu lama" tangan Ziyan menyingkap rambut-rambut halus Nasha kebelakang telinganya
Nasha masih mematung merasakan sentuhan Ziyan, 'ini bukan mimpi' bisik hati Nasha, seketika air mata mengalir dari kedua matanya, Ziyan memeluk Nasha dengan sangat-sangat erat, Nasha menangis sejadi-jadinya meluapkan seluruh penderitaan dan kerinduan yang selama ini ditahan nya begitu lama
"Aku kangen banget sama kamu" bisik Ziyan di telinga Nasha
Gadis itu masih terus menangis dan membuat Ziyan merasa amat bersalah, Nasha sekarang benar-benar tidak peduli dengan bel masuk istirahat, ia melupakan segalanya, ia hanya ingin terus berada dipelukan Ziyan, ia takut Ziyan akan pergi lagi jika melepaskan nya. Sementara itu kedua bodyguard Ziyan masih menunggu di depan pintu balkon.
Ziyan melepaskan sedikit pelukan nya untuk menghapus air mata Nasha yang begitu banyak, tangan nya sekarang mengusap pipi Nasha dengan lembut, Nasha memejamkan mata merasakan sentuhan Ziyan yang sangat dirindukan nya
"I love you, Nasha" Ziyan menatap Nasha dalam sambil menarik wajahnya mendekat dan menc*um gadis itu
Mereka begitu saling merindukan satu sama lain, Nasha membalas kecupan Ziyan dibibirnya, ciuman kerinduan yang sangat dalam membuat jantung Nasha berdebar hebat, seluruh tubuhnya yang tadi terasa lemah dan sakit jadi membaik saat Ziyan memeluknya semakin erat.
Ziyan terus memperdalam ciuman itu, lidah mereka saling bertaut satu sama lain. Ziyan masih begitu merindukan Nasha bahkan saat ia bisa melihat dan menyentuh gadis itu secara langsung, ia masih merindukan nya. Mereka bahkan tidak peduli dengan dua orang bodyguard Ziyan yang mungkin melihat apa yang sedang mereka lakukan dan tidak peduli dimana mereka berciuman sekarang
"I love you Zi"
__ADS_1
Wajah Nasha masih berjarak satu senti dari wajah Ziyan, kening mereka saling menempel, tangan Ziyan masih melingkari pinggang Nasha dan kedua tangan Nasha melingkar dipundak Ziyan, mereka saling berci*man lagi tanpa bisa merasa puas~
Ziyan menggenggam tangan Nasha dan membawa gadis itu pergi dari sekolah, beberapa orang yang ada di koridor pastinya memperhatikan mereka entah itu siswa ataupun guru yang tidak berani menegur cucu pemilik sekolah itu, Nasha tidak peduli dengan tatapan orang-orang saat ini ia hanya ingin bersama Ziyan, ia ingin menatap Ziyan sepuasnya, begitupun dengan pria nakal itu, ia tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya, ia hanya menginginkan Nasha dan akhirnya ia memutuskan untuk membawa Nasha pulang lebih awal, salah satu bodyguard Ziyan sedang membawakan tas sekolah Nasha ke kelasnya, Ziyan dan Nasha sekarang ada di dalam mobil yang membawa mereka ke suatu tempat.
Selama di perjalanan Ziyan sama sekali tidak melepaskan genggaman tangan dan tatapan nya dari Nasha, ia belum puas. Hari ini Ziyan tidak menyetir sendiri ada seorang sopir yang mengendarai mobilnya, setelah hampir satu jam menerobos kemacetan kota jakarta Ziyan dan Nasha sampai di tempat yang mereka tuju, apartment Ziyan.
Ziyan membukakan pintu apartment dan mempersilahkan Nasha masuk terlebih dulu, di luar ada lebih dari 5 orang bodyguard yang berjaga-jaga, Nasha berjalan masuk ke apartment Ziyan.
Ini adalah pertama kalinya Nasha masuk kesana, tempat itu sangat luas hampir tidak bisa dibilang apartment tapi lebih mirip sebuah penthouse mewah, Ziyan mengenggam tangan Nasha lagi dan membawa gadis itu duduk di sofa yang menghadap ke arah jendela besar.
Ziyan menatap Nasha, memperhatikan setiap inci wajah gadis yang membuatnya rindu setengah mati, tangan Ziyan tidak henti-hentinya mengelus rambut dan pipi Nasha, di perlakukan seperti itu lagi membuat Nasha merasakan rasa gugup yang teramat sangat, walaupun ia sangat bahagia bisa melihat Ziyan tapi tetap saja kehadiran dan sentuhan Ziyan membuat sesuatu yang aneh didadanya
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Ziyan
"Apa aku boleh jawab jujur?"
Ziyan mengangguk
"Aku gak baik-baik aja, aku takut Zi, aku takut ga bisa liat kamu lagi"
Mata Nasha mulai berkaca-kaca lagi saat mengatakan nya
"Aku udah janji sama kamu Sha, aku pasti balik buat kamu"
"Tapi rasanya tetep sakit karena aku ga bisa liat kamu"
Ziyan menyandarkan.kepala Nasha kedadanya dan memeluk gadis itu lagi, ia berharap bisa memberikan Nasha ketenangan
"Maafin aku karena bikin kamu menderita"
Nasha menggelengkan kepala mendengar itu, ia tidak ingin Ziyan berfikir demikian
"Setelah malem itu kamu kemana Zi? aku bingung banget nyariin kamu" Nasha menatap mata Ziyan
"Terus?"
"Terus aku ketemu papah aku"
"Papah kamu ke kantor polisi?"
Ziyan mengangguk "Pak Tama cerita sama dia kalo aku ditangkep polisi, dia bilang dia bisa bantu aku asal aku mau dengerin semua perintahnya"
"Maksudnya perintah papah kamu?"
"Iya, dia bilang aku ga boleh ngelakuin apapun sampe kasus ini selesai dan nyuruh aku buat diem disini, dia anggap aku bakal berbuat ceroboh dan dia gak mau sampe kasus ini bocor ke media"
Nasha menatap Ziyan sambil menggenggam tangan Ziyan semakin erat
"Aku juga gak ngerti apa yang dia lakuin atau bukti apa yang dia dapet, tapi dua minggu yang lalu aku dipanggil dan interogasi lagi di kantor polisi, dan beberapa hari yang lalu akhirnya aku cuma diputuskan sebagai saksi"
Nasha menarik Nafas lega mendengarnya
"Terus, kak, Diandra gimana?" Nasha bertanya agak sedikit terbata, Ziyan tidak langsung menjawab malah semakin menatap mata Nasha
"Kok ga jawab?" tanya Nasha gugup
"Setelah apa yang dia lakuin ke kamu, kamu masih mikirin dia?"
"A-aku cuma pengen tau apa kak Diandra juga di tangkap?"
"Iya, udah ya jangan ngomongin dia! aku udah bener-bener gak peduli sama dia, Sekarang kamu yang cerita!"
__ADS_1
"Cerita apa Zi?"
"Siapa cowok yang deketin kamu selama aku gak ada?"
"Yaampun Ziii" Nasha tidak habis fikir dengan pertanyaan itu~
Flashback
Setelah pak Tama datang ke kantor polisi Ziyan menceritakan semua kejadian yang terjadi padanya
"Jadi mas Ziyan dateng kesana buat nolongin pacar mas Ziyan? kalo gitu kita bisa minta kesaksian nya kan?"
"GAK! saya gak mau dia harus berurusan sama polisi juga!"
"Tapi dia bisa jadi saksi mas"
"Pak Tama bisa cari bukti yang lain kalo saya bukan komplotan Alex tanpa harus melibatkan Nasha"
"Tapi mas?"
"Jangan berani-berani ngelibatin Nasha dalam kasus ini!"
"Baik mas, sementara saya akan membayar jaminan untuk mas Ziyan, tapi kita tetap harus nyari bukti kalau mas Ziyan tidak bersalah"
Setelah melewati interogasi yang melelahkan, sorenya Ziyan di bebaskan untuk sementara, pak Tama membawa Ziyan keluar dari kantor polisi, dan setelah sekian lamanya tidak bertemu, Ziyan melihat ayahnya sedang menunggunya di dalam mobil
"Silahkan mas, tuan sudah menunggu mas Ziyan sejak tadi" pak Tama mempersilahkan Ziyan masuk ke mobil yang sama dengan ayahnya
Sopir membawa mobil itu ke sebuah danau kecil dipinggiran kota, tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada satu dua orang bapak-bapak yang sedang memancing disana, Ziyan masih diam tidak bicara, amarah Ziyan pada ayahnya lebih besar sehingga rasanya berat untuk mengucapkan hanya sekedar terimakasih
"Papah sudah dengar semuanya dari pak Tama"
Ziyan diam tidak peduli
"Papah bisa bantu kamu asalkan kamu bisa mendengarkan papah!"
Ziyan masih diam, jika saja situasinya tidak seperti ini Ziyan akan dengan sombongnya menolak pertolongan apapun dari pria yang dibencinya itu, tapi Ziyan tidak punya pilihan lain
"Untuk sementara lebih baik kamu tinggal di apartment, jangan pergi kemanapun atau melakukan sesuatu dengan ceroboh, akan ada bodyguard yang menjaga kamu disana, kamu harus tinggal disana sampai papah menyelesaikan masalah kamu ini!"
"Maksud anda saya harus sembunyi? maaf, tapi saya bukan pengecut"
Ziyan bicara dengan sombongnya
"Kamu hanya akan menambah masalah jika tidak mendengarkan papah! kalau kasus kamu ini sampai bocor ke media nama baik keluarga kita yang di pertaruhkan"
"Saya tidak pernah minta pengakuan anda, anda tidak perlu mengakui saya jika anda malu memiliki anak seperti saya"
"ZIYAN!"
Kali ini kata-kata Ziyan sudah keterlaluan
"Kenapa kamu sangat membenci papah?"
"Saya tidak akan pernah memaafkan orang yang telah memyakiti mamah saya!"
Ayah Ziyan terdiam mendengarnya, sepertinya ia kehilangan harapan agar anaknya ini bisa memaafkan perbuatan nya dimasa lalu
"Papah memang sudah berbuat salah, papah mengakuinya, saat itu papah hanya pria bodoh yang tidak bisa menerima jika wanita yang dicintainya malah mencintai pria lain" Suara ayah Ziyan merendah, terdengar nada kesedihan didalam setiap kata-katanya
Apa maksudnya pria lain? Ziyan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, apa ayahnya ini sedang menuduh ibu Ziyan pernah berselingkuh? ataukah mungkin ada hal yang tidak pernah Ziyan ketahui sebelumnya.
__ADS_1
❣️