
...Aku hanya ingin, waktu yang melelahkan ini, cepat berlalu...
...Adinda N.R....
...****************...
Nasha menatap wajahnya dicermin bukan untuk mengagumi kecantikannya dengan riasan makeup tipis dan gaun putih selutut yang membuatnya terlihat sempurna, ia hanya tidak habis fikir dengan kebodohannya disaat seperti ini Nasha masih saja merasakan jantungnya berdebar kencang, ya karena hari ini ia akan melihat Ziyan lagi, perasaan tidak sabar, rindu, penasaran, marah dan sedih memenuhi seluruh rongga dadanya, terasa amat sesak namun gadis itu masih berusaha berdiri tegak. Ia memandang dirinya yang menyedihkan dengan tatapan sedih.
Pukul delapan tepat akhirnya rombongan Nasha dan ayahnya bergerak dari hotel tempat mereka menginap ke salah satu vila mewah yang ada di kota Malang, pernikahan Diana dan Irfan memang tidak digelar dijakarta melainkan di Malang selain karena dikota tersebut terdapat perusahaan pusat milik Irfan serta sebagian besar kolega bisnis dan nenek angkat Nasha juga tinggal disana, malang adalah kota dimana Irfan dan Diana akhirnya bertemu lagi setelah berpisah bertahun-tahun.
Nasha dan rombongannya dari Jakarta sudah sampai di Malang sejak kemarin sore begitupun dengan rombongan Ziyan dan Diana yang sudah menunggu di Vila, gadis itu tidak sendiri ia juga mengajak dua shabatnya Mia dan Caca, sebenarnya Nasha hanya memberitahu jika ayahnya akan menikah di Malang dan kedua sahabatnya itu meminta izin pada Nasha untuk ikut, Mia dan Caca ingin mendampingi Nasha dihari yang berat ini. Mereka takut Nasha akan goyah dan pingsan saat melihat Ziyan.
Jarak dari hotel tempat Nasha menginap hanya sekitar satu jam menuju Vila, tidak lama kemudian rombongan seserahan datang dan segera disambut pihak mempelai wanita, Nasha dan bu Lasmi berdiri di sebelah Irfan sementara beberapa meter dihadapannya Diana yang didampingin Ziyan menunggu sambil memegang kalung melati yang diletakan diatas nampan.
Nasha tahu Ziyan disana, begitupun dengan pria itu saat melihat rombongan Irfan datang tatapannya hanya tertuju pada Nasha yang hari ini terlihat begitu cantik, riasan dan gaun yang dikenakan Nasha membuat gadis itu terlihat berbeda, jika saja Ziyan tidak menekan hatinya pria itu ingin berlari dan memeluk Nasha, memeluknya hingga puas mengucapkan permintaan maaf karena membuat wajah cantik Nasha ditutupi kesedihan, Sekuat tenaga Ziyan ingin memalingkan wajahnya tapi seperti sudah tidak peduli dengan perintah otaknya mata Ziyan justru terus tertuju pada gadis itu.
Sebaliknya dengan Nasha sejak turun dari mobil ia terus berusaha memalingkan wajahnya, rasanya ia tidak sanggup untuk melihat Ziyan, terlalu sakit melihat pria yang ada dihadapannya itu. Saat mereka sudah saling berhadapan akhirnya Nasha memberanikan diri menghadap kearah depan dan tentu saja gadis itu menemukan Ziyan sedang menatapnya lekat, hancur sudah perasaan Nasha saat mata mereka saling bertemu air mata Nasha mulai menggenang, sekuat tenaga ia memegang barang seserahan yang dipegangnya agar tak seorangpun tahu jika tangannya mulai bergetar, hanya sekian detik dan gadis itu memalingkan wajahnya lagi, ia tidak bisa menangis disini atau semuanya akan berantakan.
Hati Ziyan hancur melihat Nasha yang bahkan tidak mau menatapnya, Nasha pasti sangat membencinya fikir Ziyan.
Bu Lasmi yang ada dihadapan Ziyan juga hanya bisa kaget dan menatap pria itu hingga tidak berkedip, akhirnya ia tahu inilah alasan besar yang tidak pernah Nasha ceritakan, Ziyan dan Nasha putus karena orang tuanya akan menikah, setelah menatap Ziyan bu Lasmi memalingkan wajahnya menatap Nasha yang berdiri disampingnya, ia tahu Nasha pasti gemetar, tangan bu Lasmi menyentuh punggung Nasha lembut untuk menguatkan gadis itu.
Tidak berlangsung lama acara ijab qobul berjalan dengan lancar, Irfan meminang Diana dengan satu kali tarikan nafas, sangat sempurna. Raut kebahagiaan dan haru terpancar dari wajah Diana, ia tersenyum menatap suaminya dan bergantian menatap Ziyan, ini adalah kebahagiaan yang selama ini diinginkannya, Diana tidak menyangka Tuhan akan begitu baik mengabulkan semua keinginannya. Nasha masih menatap kosong melihat Irfan dan Diana, ia berusaha untuk bahagia tapi rasanya masih amat sakit apalagi setelah ijab qobul itu Nasha harus menerima kenyataan jika sekarang Ziyan adalah saudara tirinya, Caca dan Mia yang duduk di meja yang sama dengan Nasha terus mengenggam tangan gadis itu untuk menguatkan. Sementara diseberang sana Ziyan masih dengan tatapan cintanya yang masih sama pada Nasha, ia tidak bisa melihat hal yang lain, matanya tidak bisa lepas dari gadis itu.
Setelah acara ijab qobul WO yang mengatur jalannya acara meminta keluarga dekat dari kedua mempelai untuk berfoto bersama dan pastinya orang yang pertama dipanggil adalah Nasha dan Ziyan. Saat mendengar panggilan itu Nasha berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan menghadapi keadaan, sementara Ziyan mengikuti apa yang dilakukan gadis itu.
Ziyan dan Nasha berdiri berdampingan dibelakang kedua orang tua mereka yang duduk, fotografer mengarahkan mereka untuk berdiri lebih dekat dan tersenyum dengan tulus, keduanya hanya menurut walaupun dihati mereka masing-masing hanya saling menahan luka dihatinya. Nasha hanya bisa mengepalkan kedua tangannya yang terasa begitu dingin, ia tidak pernah sekik-kuk ini berdiri disebelah Ziyan, sementarq Ziyan masih berusaha menahan dirinya agar tidak bertindak bodoh, ingin sekali rasanya ia menggenggam tangan Nasha yang ada disebelahnya itu.
Setelah sesi foto selesai Nasha dan Ziyan kembali ke tempat duduknya, Ziyan duduk sendiri sementara Nasha didampingi Caca, Mia dan bu Lasmi. Acara selanjutnya kedua mempelai beramah tamah dengan semua tamu undangan, diacara pernikahan ini tidak ada pelaminan, kedua pengantin berkeliling ke meja-meja atau menghampiri tamu untuk menyapa, hal ini sengaja mereka lakukan agar acara pernikahan terasa lebih hangat dan tidak terlalu formal.
__ADS_1
Sambil melihat pengantin yang masih menyapa undangan, tamu yang lain dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang sudah disediakan sambil ditemani alunan musik yang mulai menggema, lagu-lagu romantis berbahasa inggris ataupun indonesia dinyanyikan oleh vokalis yang ada di atas panggung, seorang pianis juga menemani vokalis wanita tersebut bernyanyi, suasana terkesan klasik namum elegan karena alunan musik yang diiringi piano dan alat musik klasik lainnya.
Nasha masih saja dengan raut wajah kosongnya walaupun sesekali ia mencuri pandang kearah Ziyan yang masih saja menatapnya seakan-akan ingin memakan gadis itu, jika saja situasinya tidak seperti ini pasti hati Nasha akan sangat senang ditatap seperti itu. Bodohnya Nasha masih saja berdebar ditatap seperti itu, padahal ia sudah berencana agar tidak goyah apapun yang terjadi tapi semuanya gagal hatinya tetap goyah.
Suara denting piano terdengar amat merdu, penyanyi didepan memulai sebuah lagu yang khusus di request oleh pengantin wanita, lagu favorit Diana dari salah satu diva Indonesia yang pasti semua orang sudah tahu, lagu itu berjudul "mencintaimu".
Mencintaimu....
Seumur hidupku....
Selamanya....
Setia menanti....
Walau dihati saja....
Selamanya....
Kau tetap milik ku 🎶
Mata tertuju pada penyanyi wanita yang sangat sempurna membawakan lagu hits itu, sementara Ziyan masih menatap Nasha seolah-olah lirik lagu itu mewakili perasaannya.
Sebelum lagu selesai Nasha bangkit dari duduknya, ia meninggalkan ruangan pesta, Mia dan Caca mengikuti gadis itu dari belakang entah mau kemana mereka, Irfan yang melihat Nasha pergi tidak curiga ia berfikir mungkin Nasha hanya ingin berkeliling villa.
Nasha menuju halaman belakang villa yang pemandangan dan udaranya sangat indah, sungai kecil dan dangkal mengalir disana, suara gemericik air terdengar lebih menenagkan. Nasha menyilangkan tangannya sambil erat menggenggam kedua lengannya seperti orang kedinginan, gadis itu menunduk dan meneteskan air mata, Mia dan Caca memeluk sahabatnya itu dari belakang.
"Gue ambilin minum ya" kata Caca sambil berlalu masuk lagi ke aula pesta, Mia memapah Nasha untuk duduk di sebuah bench yang menghadap ke sungai, mereka berdua duduk disana.
"Lo mau balik aja ke hotel?" tanya Mia dan Nasha buru-buru menggeleng, Nasha tidak bisa melakukan itu alasan nya bukanlah karena pesta pernikahan ayahnya belum selesai melainkan ia belum selesai dengan kerinduan nya pada Ziyan. Ia masih ingin melihat pria itu.
__ADS_1
"Iam fine" kata Nasha sambil mengusap air mata yang mengalir dipipinya, gadis itu menatap Mia dan berusaha tersenyum meyakinkan.
Seseorang tiba-tiba menyodorkan teh hangat kehadapan Nasha, Nasha kemudian mengangkat wajahnya melihat siapa orang dihadapannya, Ken kemudian tersenyum sambil menyuruh Nasha mengambil teh ditangannya, Arvi dan Caca juga keluar dari aula pesta.
"Malang dingin banget anjay" kata Ken sambil duduk disebelah Nasha
Cuaca diluar memang sedikit mendung, anginpun bertiup cukup kencang. Nasha tersenyum melihat kehadiran Ken dan Arvi.
"Kita belum telat kan?" tanya Arvi
Nasha menggeleng sambil tersenyum. Nasha fikir Arvi dan Ken datang karena undangan Ziyan padahal yang memberitahukan tempat itu adalah Caca, entah bagaimana rasanya Ziyan tidak hanya putus dengan Nasha pria itu bahkan melupakan sahabat-sahabatnya.
"Lo tega banget sih Sha gak ngajakin kita" seru Ken sambil berpura-pura cemberut
"Aku fikir kakak-kakak udah tahu dari Zi-" kata-katanya tiba-tiba tercekat saat akan mengatakan nama itu.
"Biarpun lo sama Ziyan udah putus kita tetep temenan kan?" tanya Ken lagi
Nasha tersenyum sambil menatap Ken "pastilah kak" jawab Nasha tegas.
"Nah gitu dong Sha, senyum, kangen banget gue liat lo senyum" kata Arvi
"Makasih ya kak udah dateng" sekarang Nasha berbalik menatap Arvi
Mereka semua kemudian mengobrol banyak hal disana, walaupun terasa kurang karena Ziyan tidak bersama mereka lagi tapi setidaknya Nasha merasa sedikit hangat.
Ziyan hanya menatap gadisnya dari kejauhan, ada rasa syukur karena sahabat-sahabatnya selalu ada disamping Nasha, walaupun sebenarnya ia sendiri juga merasa sangat kesepian.
❣️
__ADS_1