Dosa Cinta

Dosa Cinta
JUJUR 2


__ADS_3

...Mulai saat ini bencilah aku sesukamu!...


...Ziyan R.A....


...****************...


Hari inipun Ziyan belum menampakan batang hidungnya disekolah, Ken dan Arvi sudah bolak-balik mencoba menghubungi pria berandal itu tapi tak kunjung mendapatkan jawaban, Nasha juga sama saja sejak Ziyan tidak masuk sekolah ia jadi banyak diam dan melamun, Nasha hanya memberitahu pada teman-temannya jika ibu Ziyan sedang dirawat di rumah sakit tanpa menceritakan apapun lagi dan hal itu sangat membuat Ken dan Arvi frustasi, awalnya mereka tidak ingin mencampuri urusan Ziyan dan Nasha terlalu jauh tapi ini sudah terlalu lama dan sikap pasangan freak ini benar-benar mengesalkan, yang satu menghilang dan satunya lagi seperti kehilangan jati diri.


Ken dan Arvi masih memantau sikap Nasha yang memang jadi aneh, Caca, Mia dan Nasha sedang duduk disalah satu meja kantin mereka mengobrol tapi Nasha terlihat tidak fokus, Nasha sedang berpura-pura baik-baik saja teman-temannya tahu itu, senyumnyapun terlihat dipaksakan, gadis ini sangat tidak berbakat akting.


Nasha, Mia dan Caca memesan tiga mangkuk baso dan akhirnya seorang pelayan dikantin membawakan pesanan mereka, Nasha mengambil mangkuk cabai yang ada dihadapannya dan menuangkan satu sendok ke dalam baksonya, ia mencicipi kemudian merasa kalau kuah baksonya masih kurang pas, ia akhirnya menambahkan lagi dua sendok cabai kedalam mangkuk baksonya dan mencicipinya lagi, tapi lagi-lagi masih tidak pedas, Nasha kemudian menambahkan lagi dan lagi dan lagi cabai itu kedalam mangkuk baksonya sampai tangan Mia menahan tangannya untuk menambahkan cabai itu lagi karna Nasha hampir membuat baksonya menjadi kuah cabai.


"Sha, stop!" kata Mia sambil menghentikan tangan Nasha


Nasha tiba-tiba seperti tersadar kalau sekarang kuah baksonya sudah berubah warna menjadi merah gelap. Nasha buru-buru mengambil tissue dan mengelap tangannya sambil terlihat sangat gelisah.


"Sha, lo gak apa-apa kan?" tanya Mia


"Lo mending sekarang cerita deh sama kita, sebenernya lo lagi kenapa sih!" seru Caca terlihat kesal, Caca sudah kehilangan kesabaran melihat tingkah Nasha yang aneh akhir-akhir ini


Nasha menatap Caca sambil berkaca-kaca, Mia memelototi Caca memberikan kode pada Caca agar tidak terlalu keras pada Nasha, temannya itu sedang tidak baik-baik saja fikir Mia.


"Kita ngobrol di atap yuk" ajak Mia lembut, Mia tau Nasha butuh privasi dan kantin bukan tempat yang tepat


Ken dan Arvi memperhatikan gadis-gadis itu dari jarak yang tidak terlalu jauh, saat melihat gadis-gadis itu beranjak dari kantin keduanyapun mengekor untuk menguping pembicaraan mereka. Mereka juga harus tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Ziyan dan Nasha.


Sekarang gadis-gadis itu sudah berada di atap lantai lima, Nasha duduk ditemani Mia disebelahnya sementara Caca berdiri dihadapan Nasha seperti akan mencerca gadis itu dengan beribu pertanyaan.


"Sha, lo mau cerita sama kita sebenernya lo kenapa?" tanya Mia lembut


Caca menatap tajam, Nasha hanya menundukan wajah tidak memberikan jawaban


"Lo gak percaya sama kita?" tanya Caca geregetan


"Gue gak apa-apa" jawab Nasha dengan nada pelan, ada sesuatu yang ditahannya sampai Nasha merasa sesak


"Lo gak baik-baik aja sha" kata Mia sambil menggenggam tangan Nasha


Nasha menutup wajah dengan kedua tangannya, ia tidak bisa menahannya lagi, tangis Nasha pecah, gadis itu menangis sambil terisak.


Caca yang dari tadi terlihat kesal dan tidak sabaran seketika berubah ekspresi melihat Nasha yang sangat hancur, bahkan air matanya tetap menetes walaupun Nasha menutupi wajahnya dengan tangan.


"Lo kenapa sih shaaaa?" Caca mulai khawatir, ia segera duduk disebelah Nasha dan memeluk pundak gadis itu, Caca tidak tega melihat Nasha menangis


Mia juga memeluk Nasha dari posisi yang berlawanan dengan Caca, Nasha menangis sejadi-jadinya dipelukan kedua sahabatnya.


Ken dan Arvi yang melihat itu akhirnya keluar dari persembunyian mereka dan menghampiri gadis-gadis itu, Caca dan Mia tidak heran melihat kedatangan dua sahabat Ziyan itu karena memang sebelumnya mereka berempat sudah merencanakan untuk menginterogasi Nasha.


"Sha, si monyet gak ngapa-ngapain lo kan?" tanya Ken yang juga sama-sama khawatir


"Shaaa lo gak hamil kan?" tanya Caca polos

__ADS_1


"Cacaaaa!" seru Mia sambil melotot


Arvi langsung menepuk jidatnya tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Caca


"Caca bener, Ziyan gak ngapa-ngapain lo kan Sha?" tanya Ken serius


Nasha masih menangis terisak, semua pertanyaan teman-temannya itu seperti tidak terdengar, saat ini Nasha hanya bisa menangis sangat sulit untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang terasa sakit.


Setelah beberapa menit dan cukup tenang dengan tebata-bata Nasha menceritakan semua kejadian yang ia alami dengan Ziyan pasca hari ulang tahunnya, dan teman-temannya saat ini yang malah kehabisan kata-kata, rasanya tidak ada saran yang bisa mereka berikan untuk Nasha saat ini.


Ken, Arvi, Mia dan Caca terduduk ditangga koridor yang menuju ke atap lantai lima, sementara Nasha masih diatap mereka tahu Nasha selalu butuh udara segar untuk menenangkan diri. Mereka semua saat ini terdiam dan bingung dengan apa yang terjadi dengan hubungan Nasha dan Ziyan.


"Takdir macem apa sih ini" seru Arvi menghela nafas


"Kenapa sih kak Ziyan gak jujur aja sama mamanya kalau Nasha itu pacarnya" kata Caca polos


"Gak bakal semudah itu buat Ziyan, pasca orang tuanya pisah Ziyan cuma punya nyokapnya, dia pasti gak mau kalo nyokapnya sedih apalagi kecewa" terang Arvi


"Arvi bener, sebelum ketemu Nasha alesan Ziyan hidup ya cuma nyokapnya" lanjut Ken


"Terus Nasha gimana? Nasha bakal ancur banget kalo mereka sampe putus" seru Mia


"Ziyan juga pasti ancur banget kalo sampe itu kejadian" kata ken


Mereka semua menghela nafas dalam.~


Suara klakson dari motor Ken membuat seorang penjaga rumah membukakan gerbang besar rumahnya, saat hendak memarkirkan motornya Ken melihat mobil Ziyan terparkir dihalaman rumahnya.


"Dari kapan lo disini?" tanya Ken


"Tadi pagi" jawab Ziyan singkat masih diposisi yang sama


Ken duduk diatas tempat tidurnya menghadap kearah Ziyan


"Gimana kondisi nyokap lo?"


"Better"


Ken hanya mengangguk pelan, raut wajah Ken tidak bisa berbohong ia terlihat iba dengan keadaan sahabatnya itu, hening sejenak


"Kalo kondisi lo gimana?" tanya Ken lagi


"Fine" Ziyan masih menjawab singkat dan menutup setengah wajah dengan lengannya


Hening lagi setelah jawaban singkat Ziyan


"Nasha gak baik-baik aja" suara Ken lemah, ia tahu kata-kata itu akan menyakiti Ziyan


Mendengar nama Nasha disebut membuat Ziyan bangun dari tidurnya, pria itu terduduk sambil masih tidak berani menatap wajah Ken, Ziyan terdiam


"Lo udah tau?" tanya Ziyan

__ADS_1


Ken hanya mengangguk pelan "Nasha udah cerita semuanya" lanjutnya


Ziyan tidak merespon, ia tahu cepat atau lambat semua orang juga akan tahu masalahnya dengan Nasha, apalagi teman-teman dekatnya


"Gue harap lo gak gegabah ngambil keputusan, jangan ambil keputusan yang bakal lo sesalin nantinya" Ken tidak bermaksud menggurui, ia hanya tidak ingin Ziyan salah memutuskan hal sepenting ini, keputusan Ziyan akan sangat mempengaruhi kehidupannya dengan Nasha dimasa depan.


Ziyan hanya mendengarkan tidak merespon lagi kemudian ia beranjak dari duduknya dan mengambil kunci mobil di atas nakas dikamar Ken


"Sekarang lo mau kemana?"


"Kerumah sakit, nyokap butuh gue"


Tentu saja Ken tidak bisa menahan Ziyan. Pria itupun pergi.~


Ziyan tahu hari ini adalah jadwal Nasha untuk bimbel dan akhirnya pria itu tidak pergi kerumah sakit seperti yang dikatakannya pada Ken, Ziyan menunggu Nasha keluar dari bimbingan belajarnya dan setelah hampir satu jam menunggu akhirnya Ziyan bisa melihat Nasha keluar dari gedung tinggi itu, seperti biasa Nasha akan langsung mengeluarkan handphonenya untuk memesan ojek online, dari dalam mobil Ziyan hanya bisa melihat wajah gadis yang sangat dirindukannya itu, ada bagian yang sakit didadanya melihat raut wajah Nasha yang muram, gadis itu seakan kehilangan cahayanya.


Nasha yang masih berkutat dengan handphone nya tidak menyadari jika Ziyan sedang memperhatikannya sampai gadis itu menyimpan hape kedalam tas nya dan ia melihat Ziyan sedang berjalan menuju ke arahnya sambil tersenyum, sedetik setelah pria itu sampai dihadapannya tanpa aba-aba Ziyan langsung memeluknya, Nasha yang masih kaget tidak memberikan perlawanan, gadis itu hanya bisa menghela nafas berat didalam pelukan Ziyan, rasanya ingin menangis sangat keras, perasaan marah, rindu, kecewa, terasa begitu mengerikan, sekali lagi Nasha harus menahan tangisnya.


Beberapa siswa lain yang masih menunggu jemputan tentu saja melihat adegan romantis itu dan langsung berbisik-bisik dengan komentar mereka masing-masing, sementara Nasha sudah tidak peduli dengan penilaian siapapun, tidak ada yang tahu apa yang ia rasakan saat ini.


"I miss you" bisik Ziyan ditelinga gadis itu, suaranya terdengar berat


Lidah Nasha kelu, Nasha hanya diam ia takut jika ia bicara air matanya akan jatuh lagi.~


Akhirnya Ziyan mengantarkan Nasha pulang, selama diperjalanan Ziyan terus menggenggam tangan gadisnya, tidak biasanya Ziyan seperti itu walaupun Ziyan adalah pria bucin tapi saat menyetir paling hanya sesekali Ziyan menggenggam tangan Nasha, tapi saat ini Ziyan sepertinya tidak ingin melepaskan gadis itu.


Selama diperjalanan Nasha tidak banyak bicara, ia masih menahan sesaknya. Dan akhirnya setelah satu jam perjalanan mobil Ziyan berhenti beberapa meter dari gerbang rumah Nasha.


Ziyan dan Nasha masih diposisi yang sama dan Ziyan masih menggenggam tangan Nasha, Nasha melepaskan sabuk pengamannya dengan sebelah tangan hendak turun dari mobil Ziyan tapi pria itu malah mendekatkan wajahnya ke wajah Nasha.


"Kamu marah ya?"


Nasha menggelengkan kepalanya masih tidak mau bicara


"Terus kenapa diem aja?" Ziyan bertanya lagi dengan lembut


Nasha menundukan wajahnya tidak menjawab


"I miss you" kata Ziyan sambil mengambil wajah Nasha agar menghadap ke arahnya, mata mereka sekarang bertatapan dan hal itu membuat Nasha semakin sulit menahan air matanya, tangan Ziyan menyentuh ujung mata Nasha yang terlihat sembab "Kamu pasti banyak nangis ya? Gara-gara aku" seru Ziyan sambil menatap gadis itu dalam


"Maaf" katanya penuh penekanan


Dan kalah sudah, semua pertanhanan yang Nasha bangun sejak tadi hancur karena sebuah kata 'Maaf'


Air mata Nasha terjatuh, gadis itu menangis dan membenamkan wajahnya dibahu Ziyan, dan Ziyan hanya bisa memeluk gadisnya erat, Nasha membalas pelukan itu ia melingkarkan tangannya dipinggang Ziyan berusaha mengatakan jika ia pun tidak ingin kehilangan kekasihnya, membayangkannya saja tidak bisa.


"Aku gak mau nunggu kamu lagi" kata Nasha terbata-bata sambil menangis "udah cukup" lanjutnya


Hati Ziyan hancur melihat Nasha yang seperti ini.~


❣️

__ADS_1


__ADS_2