
...Jika kamu mepercayai seseorang dia akan berubah menjadi baik, walaupun kenyataan nya tidak selalu seperti itu...
...-Ziyan R.A.-...
...***************************************...
Sekali lagi, Nasha benci pada fikiran nya yang tidak bisa tenang dan tidak fokus selama belajar di bimbel (Nasha over thinking), fikiran nya masih saja tertuju pada Ziyan dan Diandra, walaupun sekuat tenaga ia berusaha memperhatikan penjelasan guru bimbel itu tapi tetap saja ada perasaan tidak nyaman yang mengganjal dihatinya.
Tepat pukul 8 malam jam bimbingan belajar Nasha berakhir, gadis itu membuka handphone nya terlebih dahulu, tidak ada satupun telepon atau pesan dari Ziyan dan entah mengapa hal itu membuatnya semakin sedih, Nasha buru-buru berjalan keluar dari kelas dan menuju parkiran bimbel, tapi disanapun Ziyan belum datang menjemputnya seperti yang di janjikan, apa Ziyan masih bersama Diandra? entahlah yang Nasha tau sekarang rasanya Nasha hanya ingin menangis.
Nasha duduk di kursi tunggu bimbingan belajar seperti saat ia sedang menunggu ojek online, wajahnya nampak sangat kecewa dan khawatir, handphone itu masih di pandangi dan di genggamnya dengan sangat erat, apa Nasha harus menelepon Ziyan untuk memastikan? ah nanti saja, lagi pula ia baru saja keluar dari kelas bimbelnya, mungkin Ziyan masih di perjalanan fikir Nasha.
Nasha terus menunggu di tempat itu sambil menghibur hatinya sendiri, menguatkan diri agar tidak meneteskan air mata, meyakinkan dirinya kalau Ziyan akan datang.
Hampir 45 menit dan Nasha memutuskan untuk menghubungi Ziyan, handphone Ziyan tidak aktif, Nasha mencoba menelefon sekali lagi dan handphone Ziyan benar-benar tidak aktif, Nasha semakin bingung dan khawatir, apa yang harus ia lakukan sekarang? apa Nasha harus pulang saja ke rumah? atau terus menunggu Ziyan yang tidak pasti? bagaimana kalau Ziyan benar-benar datang menjemputnya?
Nasha akan menunggu Ziyan sebentar lagi, mungkin saja Ziyan kena macet dan handphone nya mati, ini adalah jakarta yang selalu macet bukan? itu keputusan nya. Kemudian Nasha mencoba mengirimi Ziyan pesan, walaupun ia tau itu percuma tapi Nasha masih berharap Ziyan akan mengaktifkan handphone nya. ~~
Sementara itu Ziyan keluar dari apartment nya dengan sangat marah, ia meninggalkan Diandra sendiri di tempat itu dan berlari dengan cepat, Ziyan tahu Nasha pasti menunggunya, bodoh sekali ia karena sudah percaya pada Diandra, gadis licik itu sudah memperdayanya sejak tadi, anak-anak buah Alex memang mengejar mereka sejak mereka pergi dari sekolah dan Ziyan harus menyembunyikan Diandra disuatu tempat dan apartment nya adalah satu-satunya tempat yang tidak akan bisa di tembus anak buah Alex, penjagaan menuju kamar luxury apartment Ziyan sangat ketat karena tempat itu hanya di peruntukan untuk orang-orang tertentu saja dan disana pastilah aman untuk menyembunyikan Diandra.
Sejak mengantarkan Diandra ketempat itu Ziyan ingin langsung pergi meninggalkan nya dan meminta Diandra untuk menginap sehari di tempat itu dan besok ia akan menjemputnya lagi ketika situasi sudah aman, tapi gadis itu menolak dan meminta Ziyan untuk tinggal. ~~
"Kamu ga boleh pergi sekarang Zi, diluar anak buah Alex masih ngejar kita, mereka ada dibawah kamu tau kan?" Diandra menahan Ziyan yang hendak pergi
"Gue gak peduli, kalo lo takut, lo bisa tinggal disini dan besok gue jemput kalau situasinya udah aman"
"Nggak, aku gak mau, please kamu disini ya" sekali lagi Diandra meminta Ziyan untuk tinggal dengan nya di apartment
"Gue gak mau, lo udah aman disini, mereka ga akan bisa sembarangan naik kesini"
"Aku, aku gak bisa nginep disini, orang tua aku pasti khawatir" Diandra berbohong "aku bakal pulang setelah aman dibawah, kamu juga bisa pergi kalau udah aman kan?"
"Mau sampe kapan lo disini? Nasha nungguin gue"
"Nanti malem kamu bisa anterin aku ke rumah sakit, mamah aku lagi dirawat di rumah sakit, aku gak bisa bikin dia lebih khawatir lagi dengan gak pulang, lagi pula kalaupun anak buah Alex ngejar kita lagi, mereka gak akan berani nerobos rumah sakit" Diandra mencoba meyakinkan Ziyan dengan menabah kebohongan nya
__ADS_1
Ziyan hanya terdiam sepertinya usaha Diandra cukup berhasil menarik empati Ziyan.
Berjam-jam Ziyan dan Diandra bersembunyi di apartment itu, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, harusnya Ziyan sudah pergi ke tempat bimbel Nasha, sementara itu rencana Diandra selanjutnya adalah memutus komunikasi Ziyan dan Nasha, Ziyan tidak boleh menghubungi gadis itu begitupun sebaliknya, Nasha pasti akan sangat marah dan kecewa jika Ziyan mengingkari janji nya, dan itulah yang paling di inginkan Diandra, merusak hubungan Ziyan dan Nasha.
"Zi aku boleh pinjem hp kamu?" tanya Diandra
Ziyan yang sedang duduk di sofa dengan wajah bingung itu mengangkat wajahnya sambil memasang wajah curiga menatap Diandra
"Aku cuma mau nelpon orang tua aku, aku mau ngabarin kalau hari ini aku pulang malem"
"Gak punya hp lo?" tanya Ziyan ketus
"Aku gak bisa nyalain hp aku, Alex terus-terusan neror aku lewat telpon sama chat" sekali lagi Diandra berbohong
Ziyan menghela nafas kesal sambil memberikan handphone nya, Diandra berjalan masuk menuju toilet di rumah Ziyan dan berpura-pura menelpon, hanya berselang beberapa menit dari dalam toilet Ziyan mendengar Diandra berteriak, saat membuka pintu toilet Ziyan melihat gadis itu sedang terduduk di lantai sambil memegangi kakinya
"Awwwwww" Diandra meringis memegangi pergelangan kakinya "aku kepeleset zi" katanya sambil menahan sakit
"Gimana caranya lo bisa kepeleset? ini WC kering" Ziyan terlihat kesal sambil menghampiri Diandra yang terduduk
"Zi, hp kamu" Diandra memberikan hp Ziyan yang kini layar nya retak dan dalam keadaan mati "Maaf Zi, hp kamu jadi rusak gini" Diandra terdengar cemas setelah melihat layar hp Ziyan yg mati itu
Ziyan merebut barang itu dari tangan Diandra, cowok itu kaget melihat kondisi handphone nya yang rusak "kok sampe kayak gini sih?" Ziyan terdengar marah sekarang
"Maaf zi, aku gak sengaja" Diandra menundukan kepalanya berpura-pura menyesal
Ziyan berusaha menyalakan hp itu tapi percuma handphone itu sudah rusak, bagaimana tidak sebelum Ziyan masuk ke toilet Diandra sudah menyiram handphone Ziyan di wastafel sampai handphone itu mati, ia lalu mengelapnya dan dengan sengaja membuat layarnya pecah agar terlihat seperti handphone yang rusak karena terjatuh
"Aaarrrghhhh" Ziyan sangat kesal dan membanting handphone nya, tentu saja Diandra sangat senang melihat itu, dengan begitu Nasha tidak akan bisa menghubungi Ziyan dan mengganggu mereka
Misi terakhir adalah membuat Ziyan tetap tinggal di apartment itu bersamanya, sekarang Diandra berpura-pura memijit-mijit lagi kakinya dan memasang wajah kesakitan, Ziyan hanya menatapnya sinis dan hendak keluar dari toilet itu
"Ziyan tolong aku, kaki aku sakit banget" pinta Diandra, kaki Diandra memang masih recovery setelah insiden terjatuh dari tangga sehingga masih terlihat sedikit biru dan bengkak jadi bukan karena ia terpeleset di toilet, tapi Ziyan tidak pernah memperhatikan gadis itu sehingga Ziyan tidak tahu.
Ziyan hanya bisa menghela nafas kasar sambil berusaha membantu Diandra untuk berdiri, tapi sekali lagi Diandra berpura-pura kesulitan berdiri dan menahan rasa sakit, Ziyan kemudian menggendong gadis itu di lengan nya dan membawa Diandra duduk di sofa ruang tamu, tentulah hal itu membuat hati Diandra sangat berbunga-bunga.
__ADS_1
Setelah mendudukan Diandra di sofa gadis itu menarik dan memeluk tangan nya, Diandra dengan posisi duduk dan Ziyan dengan posisi berdiri
"Makasih karena selalu ada buat aku" Diandra tiba-tiba menangis berharap simpati Ziyan lagi, tapi Ziyan hanya terdiam tidak peduli
"Gue harus pergi" Ziyan melepaskan cekalan tangan Diandra tapi gadis itu menariknya lagi
"Jangan Ziii, please jangan pergi" Diandra semakin menangis dan memohon,
"Nasha nunggu gue" Ziyan masih tidak peduli dengan Diandra dan berjalan hendak meninggalkan tempat itu
"KENAPA HARUS NASHA?" teriak Diandra menghentikan langkah Ziyan "selama ini lo selalu ngelindungin gue dari Alex, lo ngorbanin diri lo sendiri buat nyelametin gue, maksud lo apa Ziyan? maksud lo apa kaya gitu kalau bukan karena lo mau sama gue?" Diandra terdengar marah sambil menangis sejadi-jadinya
"Gue gak pernah punya maksud apa-apa sama lo, gue juga gak pernah suka sama lo" terang Ziyan dengan sinis
"BOHONG" Diandra berteriak lagi "Lo bilang gitu karena semenjak ada Nasha dia ngegodain lo kan? apa yang udah dia kasih buat lo sampe lo ga bisa ninggalin dia? cewek itu cuma sok polos, dia juga cewek licik" Diandra mengatakan nya dengan sangat marah, ia tidak bisa menerima kalau Ziyan tidak pernah punya perasaan apa-apa padanya
Sementara itu Ziyan hanya bisa mengepalkan tangan nya kesal, andai saja Diandra bukan wanita mungkin Ziyan sudah memukuli orang yang berani mengata-ngatai Nasha sampai babak belur
"Jangan pernah lo berani ngerendahin Nasha!" suara Ziyan terdengar bergetar karena menahan kesal "asal lo tau, gue bakal nolongin siapapun yang ditindas sama orang br*ngsek kaya Alex walaupun orang itu bukan lo, jadi lo gak usah ke GR-an"
Ziyan tidak bisa lagi meladeni Diandra, ia berjalan lagi keluar tapi sebelum sempat ia membuka pintu Diandra berlari dan memeluk Ziyan dari belakang
"Ziiii please... izinin gue buat jadi milik lo, gue udah ninggalin Alex, gue bisa kasih apapun yang lo mau, gue bisa ngasih lebih dari apa yang Nasha kasih, apa kurang nya gue dibanding cewek itu?" Diandra menangis sambil memelas dipunggung Ziyan, ia masih berusaha menghadang Ziyan agar tidak pergi
Ziyan hanya bisa terdiam tapi bukan karena perkataan Diandra, Ziyan terdiam karena menyadari kebodohan nya, sejak tadi kaki Diandra tidaklah sakit, gadis itu hanya memanfaatkan keadaan dan menyadari hal itu membuat Ziyan semakin marah, ia melepaskan cekalan tangan Diandra yang melingkari pinggangnya dan berbalik menatap wajah gadis itu dengan penuh ancaman
"Lo emang gak kurang apa-apa, semua cowok muja-muja lo kan? tapi sayangnya lo bukan Nasha dan gue gak tertarik sama apapun selain Nasha" terang Ziyan dengan sangat serius "dan kalau sekali lagi lo berani ganggu Nasha atau ngejebak gue kayak gini, gue gak bakalan biarin lo hidup tenang" tatapan Ziyan sangat menakutkan seperti ingin membunuh membuat Diandra sedikit waspada, Ziyan tidak pernah semenyeramkan ini, yang Diandra tau Ziyan sangat melindungi dan menghormati wanita, tapi Ziyan yang sekarang terlihat bukan seperti dirinya
Ziyan lalu keluar dari apartment nya dan meninggalkan Diandra sendiri mematung di tempat itu, tak lama kemudian Diandra menghapus air matanya dan menelpon seseorang
"Hallo, Ziyan udah keluar dari apartment, halangin dia apapun caranya!"
~~
Ziyan berlari di basement apartment menuju ke mobilnya, sesaat sebelum ia membuka pintu seseorang memukul lehernya dari belakang sehingga penglihatanya kabur dan ia jatuh tersungkur.
__ADS_1
❣️