Dosa Cinta

Dosa Cinta
KISAH CINTA


__ADS_3

...Not every love story has a perfect ending...


...Ziyan R.A....


...********************************...


Nasha hanya terus menatap keluar jendela mobil, melihat Jalanan Jakarta yang begitu rumit sama seperti hatinya, andaikan saja rasa cemas dan rindunya tidak sebesar itu pada Ziyan mungkin Nasha tidak akan memaksakan diri menjenguk Diana dirumah sakit, berada ditempat yang sama dengan ayahnya dan Diana membuat Nasha dan Ziyan benar-benar canggung. Obrolan seputar pernikahan mereka juga kembali muncul akhirnya Nasha dan Ziyan tahu jika kedua orang tuanya itu akan menikah kurang dari dua bulan lagi, tanpa menanyakan persetujuan putra-putrinya Irfan ataupun Diana tetap mantap dengan rencana mereka ~


Sementara diruangan rawat Diana sekarang hanya tinggal ada Ziyan, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam dan Ziyan sedang membantu ibunya itu untuk makan.


"Mama udah gak betah disini" keluh Diana


"Baru juga dua hari mah, kata dokter juga kondisi mamah belum bener-bener pulih"


"Tapi banyak yang harus mamah siapin Zi, padahal besok mamah juga ada janji sama orang katering"


Ziyan tahu yang dimaksud ibunya itu adalah persiapan pernikahannya dengan Irfan


"Sebetulnya mamah juga gak mau ada pesta yang terlalu rame, malu juga ini bukan pernikahan pertama mamah tapi om Irfan punya banyak kolega dan rekan bisnis yang harus diundang" Diana terus bercerita


Ziyan tidak banyak berkomentar mendengar keluh kesah ibunya walaupun hatinya masih berkecamuk dan terasa sakit


"Mamah gak nyangka bakalan nikah sama om Irfan" Diana tersenyum mengatakan hal itu


"Mamah bahagia?" tanya Ziyan


Diana mengangguk cepat sambil tersipu "BA-NGET, mamah punya dua orang yang paling mamah butuhkan didunia ini, kamu dan om Irfan"


Ziyan menatap mata ibunya dalam, air matanya ingin menetes namun ia tahan sekuat tenaga sehingga dadanya terasa amat sesak, Ziyan menunduk lalu membalikan tubuhnya, ia ambil handphone yang ada didalam saku celananya, handphone yang tadi siang diantarkan pak Tama ke rumah sakit. Ia berpura-pura mengangkat telefon dari seseorang, Diana hanya memperhatikan dari belakang.


"Ma, aku boleh keluar sebentar? Ken ngajakin ketemuan" Ziyan beralasan

__ADS_1


"Boleh kok, mamah gak apa-apa, kamu pergi aja kalau ada urusan"


Ziyan mengangguk lalu menarik nampan makanan dari tempat tidur ibunya


"Aku pergi cuma sebentar, mamah istirahat dulu ya" Ziyan dengan lembut membantu Diana berbaring dan menyelimuti tubuh Diana dengan baik, wanita itu tersenyum dengan perlakuan hangat putranya.


Setelah Ziyan yakin ibunya sudah terlelap, Ziyan meninggalkan ruang rawat Diana, tempat itu terlalu sesak, untuk pertamakalinya Ziyan merasa hancur karena kebahagiaan ibunya, hancur karena ia tidak bisa mendapatkan kebahagiaannya.


Ziyan membawa mobil sport nya dengan kecepatan tinggi, ia butuh tempat untuk menangis, berteriak, marah, ia perlu tempat untuk meluapkan semua kebingungannya. Akhirnya setelah satu jam hanya berputar-putar mengelilingi kota Jakarta mobil Ziyan berhenti dipinggiran danau tempat terakhir kali ia bicara dengan ayahnya, Ziyan tahu ditempat itu tidak akan ada seorangpun di waktu selarut ini, Ziyan keluar dari mobilnya dengan wajah marah dan sedih.


"AAAAAARRRRRRGHHHHHHH" Ziyan berteriak meluapkan segalanya, air mata menetes dikedua pelupuk matanya, kaki Ziyan lemas ia tertunduk.


Seseorang menatap punggung pemuda patah hati itu dengan sedih, langkahnya tegas mendekati Ziyan yang terduduk lemas disamping mobilnya.


Ziyan mengangkat wajahnya ketika melihat pria itu sampai dihadapannya, seketika Ziyan membuang wajahnya kasar saat mengetahui siapa yang ada dihadapannya.


Ravi duduk disebelah putranya yang sedang tidak karuan itu, jika bisa ingin sekali Ravi memeluk Ziyan dan menguatkannya tapi Ravi tahu Ziyan tidak akan sudi disentuh olehnya, hubungan mereka tidak sedekat itu.


"Akhirnya, mamah kamu bisa nemuin orang yang paling dia cinta"


"Irfan sama mamah kamu dulu temen kuliah, orang itu, cinta pertama mamah kamu"


Ziyan tahu tentang cerita Irfan dan Diana yang dulunya berteman, tapi Ziyan tidak tahu ada kisan cinta yang tidak selesai antara mereka.


"Papah sama mamah kamu memang dijodohkan, papah fikir setelah menikah mamah kamu akan memberikan hatinya untuk papah, tapi bahkan setelah adanya kamu tidak ada yang berubah, perasaan cintanya pada pria itu tidak pernah hilang"


Ziyan menatap mata sang ayah tajam, tidak terima dengan perkataan itu


"Jangan ngomong sembarangan!" jawab Ziyan ketus


Ravi menyodorkan sebuah jurnal dengan cover berwarna navy ketangan Ziyan

__ADS_1


"Ini buku diary mamah kamu, dulu papah ga sengaja baca buku ini, dan setelah itu semuanya jadi hancur"


Ziyan menatap buku ditangannya itu, ia takut apa yang dikatakan ayahnya memang benar


"Papah saat itu memang bodoh, kemarahan papah sama mamah kamu membuat semuanya hancur, papah kecewa, merasa dibohongi, merasa hanya dimanfaatkan"


Ziyan mulai membuka buku itu, dihalaman pertama ada foto tiga orang yang dua diantaranya dikenal Ziyan, ada Irfan dan Diana difoto itu dalam versi yang masih muda. Wajah Diana selalu berseri saat dekat dengan Irfan tidak berubah sama seperti sekarang.


Ziyan mulai membuka halaman demi halaman buku harian Diana, setiap lembar Ziyan baca dengan sesak, tulisan-tulisan itu hanya berisi tentang satu orang, Irfan.


Ziyan mulai mengingat masa-masa kecilnya sebelum berusia enam tahun segalanya baik-baik saja antara Ravi dan Diana, tapi sikap Ravi tiba-tiba berubah dari pria yang begitu memanjakan istri dan anaknya menjadi seseorang yang begitu kasar dan kejam. Ravi menceritakan awal mula ia menemukan kenyataan bahwa istri yang dicintainya hanya menikahinya untuk harta, pernikahan yang dijalaninya hanyalah sebuah drama, tidak pernah ada cinta dihati Diana untuknya, dan hal itu membuat Ravi benar-benar kecewa. Ravi yang saat itu masih sangat muda dan egois melampiaskan segala amarah dan kekesalannya pada Diana, setiap melihat wajah Diana amarah Ravi seperti dipantik.


Tulisan Diana tentang betapa besar cintanya pada pria lain, betapa menderitanya, betapa sedihnya, betapa besar rindunya terhadap pria lain seperti memenuhi kepala Ravi.


Sempat Ravi ingin menghancurkan hidup pria yang dicintai istrinya itu, ia mencari tahu segala hal tentang Irfan dan disana Ravi tahu jika Irfan sudah memiliki seorang istri dan juga seorang putri, kemudian Ravi mencari tahu apakah ada perselingkuhan antara Diana dan Irfan namun jawabannua tidak. Sejak menikah dengannya Diana dan Irfan bahkan tidak pernah bertemu lagi dan hanya pernah bertemu kebetulan satu kali namun komunikasi mereka terhenti hanya sampai disitu. Dalam kondisi demikianpun Diana masih begitu merindukan Irfan, masih begitu mencintai Irfan semua itu Ravi ketahui dalam tulisan-tulisan Diana dibuku hariannya.


Menyadari tidak pernah ada perselingkuhan anatara Diana dan Irfan membuat Ravi mengurungkan niatnya untuk menghancurkan pria yang dicintai istrinya, Ravi berniat dan akan berusaha memperbaiki rumah tangganya dengan Diana walaupun hatinya masih sangat sakit, tapi siapa sangka ternyata Diana malah kabur dan membawa Ziyan pergi, bertahun-tahun Ravi mencari anak dan istrinya namun Diana selalu berhasil kabur sampai akhirnya Ravi menemukan wanita yang sekarang menjadi barunya dan mereka menikah atas dasar cinta.


Akhirnya Ravi mencari Diana dan Ziyan bukan untuk menyatukan kembali keluarga mereka yang telah hancur tapi untuk memperbaiki kesalahannya dimasa lalu, Ravi tahu sampai kapanpun Diana tidak akan pernah mencintainya dan sekarang Ravi tahu mungkin Ziyan juga tidak akan pernah memaafkan perlakuannya dulu.


Ziyan masih membaca setiap lembar buku harian ibunya itu dan apa yang dikatakan Ravi sepenuhnya benar, ibunya hanya pernah satu kali jatuh cinta dan pria itu adalah Irfan, ayah kandung gadis yang dicintai Ziyan.


Ravi kemudian menyodorkan sebuah amplop pada Ziyan, tertulis di amplop itu 'Toronto University Canada'. Ziyan tahu isi amplop itu, ia sudah membaca email dari Ravi tempo hari jika ia diterima di Universitas tersebut.


"Beberapa bulan lalu papah ngirim beberapa contoh sketsa dan lukisan kamu kesana, dan kamu diterima buat kuliah disana, papah ga akan maksa, kamu bisa pergi kesana kalau kamu mau" terang Ravi


"Papah tahu hubungan kamu dan anak perempuan Irfan, papah ga ada masalah soal itu. Tapi kamu tahu hubungan kalian gak mungkin lanjut kan kalau Diana dan Irfan menikah?"


Ziyan tidak menjawab, ia masih menatap amplop yang disodorkan ayahnya.


"Kamu yang akan pilih sendiri, kebahagiaan Diana? atau gadis itu? apapun pilihan kamu papah akan dukung"

__ADS_1


Ravi lalu meletakan amplop itu diatas buku harian Diana tepat dihadapan Ziyan, pria itu kemudian pergi meninggalkan Ziyan sendiri ditepi danau.


❣️


__ADS_2