
Sesampai di rumah opie nampak bingung yang Bu intan rasakan karena rumah nya benar-benar aneh menurutnya.
"kemana anak itu."ujar intan mencari keberadaan opie putrinya.
"opie Primalita..di mana kah kau berada? teriak intan.
"nyonya kenapa anda masuk diam-diam kerumah saya? apa nyonya mau mengambil harta Karun milik saya."seru opie.
"harta Karun gundul mu,"seru Bu intan sambil menoyor jidat anaknya.
"ayo duduk jangan berdiri karena tidak bagus untuk ibu hamil."pinta Bu intan.
"ini kan rumah saya nyonya kenapa anda yang mengatur nya."kesal opie.
"oh iya Suka lupa dan sudah terbiasa."sahut Bu intan.
"ini siapa yang design? mama sampai bingung di mana pintu masuk nya."selidik Bu intan.
"sengaja mah!! jika ada penyerangan dari negara api mereka tidak akan tahu jalan masuk ke istana ku mah."jawab Opie santai.
"negara api trus Yang ada kebakaran!! di mana Hendy? oh iya j
masih jam kerja."Bu intan pura-pura menanyakan menantunya .
"dia sudah pergi dan tak akan kembali."gumam opie.
"maksudnya apa sih? kau usir dia gitu? tanya Bu intan
'mama banyak nanya!! ayo kita ke belakang lebih santai."opie coba mengalihkan pertanyaan mama nya.
"memang di belakang ada apa? tanya mama nya
"ada kebun mah dan kita bisa santai di sana."ajak opie.
"apa kau menata nya jadi terlihat sejuk rumah mu sekarang."ujar Bu intan.
"aku sibuk menata hati ku mah dan cukup bagian design dan art saja yang menata rumah ku "sahut opie
"hahahahaha menata hati ada-ada saja kau ini."tawa Bu intan.
mereka tiba di halaman belakang dan Bu intan sangat menyukainya suasana nya.
ada kolam ikan dan pohon-pohon yang membuat nampak sejuk.
bahkan dari luar tidak terlihat kalau tidak kita masuk kedalam..
"tanpa harus ke puncak aku sudah bisa menatap pohon."seru Bu intan.
"lihat pohon saja dia senang."cebik opie.
"iya karena ini sangatlah nyaman dan seperti orang yang sedang ngumpet dan tidak mau berteman dengan orang lain."sindir Bu intan..
__ADS_1
"masa sih mah? tapi iya juga ya."ujar opie sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
art pun menghampirinya dan membawa dua gelas jus serta kudapan nya.
"silahkan di minum nyonya ."pinta art dengan sopan nya.
"apa kau betah bekerja di sini."tanya Bu intan.
"betah nyonya karena Bu opie sangat baik sekali ."sahut art
"syukurlah dan terimakasih."ujar Bu intan.
art nya pun pamit untuk melanjutkan pekerjaan nya di dalam.
"mama pikir aku suka menyiksa art ya? sampai nanya betah apa ngga!! mereka sangat nyaman mah bahkan mereka selalu ada buat ku."terang opie.
"bukan begitu!! mama takut mereka ikutan gila."sahut Bu intan
sedang asyik bercerita masa kecil nya, vino datang dengan papa nya.
"aduh datang majikan saya deh!! pasti di potong nih jatah."ledek opie sambil memeluk papa nya.
"kau ini hamil besar masih saja kekantor!! biar kerjaan kantor kau bawa pulang saja."seru pak Kris
"oh tidak bisa begitu!! anda meminta saya kerja rodi ya? sudah di kantor di rumah juga."canda opie.
"enak saja!! ini nama nya papa sayang sama kamu " seru pak Kris.
"maaf nyonya tapi suami anda yang menggoda saya duluan."ledek opie.
membuat vino tertawa terbahak-bahak bahkan mama nya hanya cemberut saja.
"sudah kalian ini selalu saja seperti itu."lerai pak Kris.
"kau mau selamatan kapan? jadi sore ini? tanya vino
"iya jadi kan aku hanya mengundang anak yatim dan untuk makanan sebentar lagi juga Sampai."jawab Opie.
pak Kris dan Bu intan berkeliling melihat-lihat ruangan rumah anak nya yang baru.
bahkan pak Kris menyukai nya dan sangat jelas opie ingin menghilangkan kenangan bersama suami nya.
"anak itu sangat bisa menyimpan kesedihan nya."lirih pak Kris..
"bagaimana pun mereka sudah dewasa pah!! dan mereka tidak mau melihat hati kita hancur."seru Bu intan
"iya jadi kita hanya bisa mendukung saja."sahut pak Kris.
mereka berdua berkeliling dan kembali lagi ke halaman belakang.
dan ternyata sudah banyak teman-teman opie yang hadir serta anak-anak dari panti asuhan.
__ADS_1
"anak itu aku pikir tidak mengundang banyak orang tapi ternyata lumayan banyak juga tamu nya."seru Bu intan
orang tua opie pun ikut bergabung di ruang tamu untuk memberikan santunan.
bahkan banyak doa yang opie dapatkan dari sahabat serta anak-anak panti asuhan.
di luar dari tempat yang tidak jauh dari rumah opie, ada sebuah mobil terparkir tidak jauh dari rumah opie.
Hendy hanya melihat dari jauh dan sayang nya dia tidak bisa melihat opie.
"sampai segini nya kau membenciku!! sampai rumah pun kau sudah ubah."lirih Hendy.
nampak dari jauh opie mengantarkan teman nya dan Hendy sangat mengagumi wajah cantik itu yang perutnya semakin membuncit.
senyuman opie tidak pernah pudar dari wajahnya, dia sangat bahagia bahkan Hendy bisa lihat tidak ada lagi wajah sedih di wajah istrinya yang akan sebentar lagi menjadi mantan istri.
"aku sangat bahagia melihat kau bahagia."gumam Hendy sambil meneteskan air mata.
Hendy pun langsung meninggalkan tempat tersebut karena dia merasa sakit ketika melihat wajah istrinya.
"wuih senyumnya kan? manis kek gula."ledek Dinda
"apaan sih Lo dari tadi ngeledek terus."cebik opie.
"senanglah gue lihat Lo bahagia dan tidak sedih lagi."ujar Dinda.
"sedih sih boleh tapi kan sedih juga butuh duit!! kalau ngga punya duit sama saja sedih berlipat ganda."seru opie.
"dasar Lo mata duitan."kesal Dinda.
tidak lama Dinda pamit untuk pulang karena ada praktek sore.
dia mengingat kan opie untuk sering cek up kandungan nya.
setelah acara selesai dan tamu-tamu Sudah pulang semua tinggal lah orang tua dan juga Vino kakaknya opie.
"loh Tamu nya masih tersisa nih!! aku pikir sudah pulang semua."canda opie.
"yang punya rumah sudah kode untuk kita pulang pah,"seru Bu intan.
"hahahahaha nyonya baperan banget ya."canda putri
"iya lah aku kan istri yang sensitif."ujar bu intan.
"ya sudah kalau begitu papa dan mama pamit pulang dulu kalau butuh apa-apa langsung telpon papa."ujar pak Kris.
"siap komandan akan saya minta apa pun."sahut opie.
Bu intan pun menepuk jidatnya melihat kelakuan anaknya.
"Kakak juga mau pulang dulu ya!! ada meeting ketemu client nanti malam."ujar vino.
__ADS_1
mereka bertiga pun pamit dan tinggal lah opie merasa kesepian lagi.