
Opie masih sedikit demam dan dia juga terserang flu, membuat mama nya menemani Axel di rumah karena jangan sampai cucunya pun tertular flu.
Opie memilih tidur dan tidak ingin di ganggu oleh siapa pun.
"apa kau ingin sup? mama intan masuk kekamar anaknya.
"aku hanya ingin tidur dan pasti flu ku juga akan reda jika aku tidur."jawab putri.
"kalau ngga makan juga tidak akan sembuh Oneng."ucap mama nya.
"iya bawakan saja dan sekalian vitamin c nya."pinta opie.
"baik ndoro di tunggu ya."ledek mama intan
opie sedang malas menimpali mama nya dan dia lebih menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"mba di mana bahan-bahan makanan, aku ingin membuat kan sup untuk anak ku."tanya mama intan.
"maaf nyonya sudah saya buatkan dan sudah saya siapkan,hanya saja mau masuk takut mengganggu non opie."jawab Tuti.
"kesini kan aku yang bawa dan sekalian vitamin c nya."pinta mama intan.
lalu Tuti pun memberikan nampan yang sudah berisi sup jagung ayam dan juga air jeruk panas.
vitamin c dan buah-buahan tidak lupa di bawa juga oleh mama nya.
"bangun opie ini nanti keburu dingin sup nya."teriak mama intan.
"iya mah!! ini bukan hutan teriak terus."kesal opie.
cara mama intan menyayangi anaknya sedikit unik tapi anak nya sangat sayang dengan mama nya.
walaupun kadang sifat mama nya sangat menyebalkan tapi itu yang membuat anak-anak nya selalu kangen dengan mama nya itu.
sayang dan perhatian nya tidak pernah berkurang, begitu pun dengan cucu-cucunya tidak ada yang dia bedakan.
walau menantu nya sangat menyebalkan sekali tetap saja dia bersikap santai.
"wuih sakit apa lapar Bu? ledek mama intan
"lapar dan sakit sih."sahut opie yang sudah menghabiskan sup nya.
"mau nambah? apa mau tidur saja,"tanya mama intan.
"aku tidur saja mah..ini sudah mulai keluar keringat dan flu ku juga sudah tidak terlalu."jawab Opie.
"tidurlah dan semoga pas bangun kau sudah pulih."mama intan pun meninggalkan opie untuk beristirahat.
ada rasa kasihan anaknya masih saja Belum mau menikah lagi.
tapi mama intan tidak mau memaksakan karena dia takut opie masih merasa trauma.
saat ini dia melihat anaknya lebih dewasa bahkan lebih bahagia tanpa beban apa pun.
__ADS_1
begitu pun dengan Axel sudah tidak menanyakan lagi ayahnya.
ada rasa kesal di hati mama intan kalau mengingat Hendy tapi dia bisa apa.
orang tua Hendy sendiri saja kesal dengan sikap anak nya.
yang tidak mempunyai rasa kangen atau menghubungi anak kandungnya sendiri.
sore nya opie sudah lebih baik dan dia mencuci muka nya.
lalu dia keluar kamar dan mencari anak serta mama nya.
ternyata hari ini mama intan mengantarkan Axel untuk les bahasa Inggris.
"yah Sepi deh."gumam opie.
dia berjalan ke arah taman belakang dan duduk di gazebo,
sambil melihat ikan-ikan peliharaan nya.
"non apa mau teh manis panas? tawar tuti
"ngga usah mba, makasih ya."jawab Opie.
sambil menunggu anaknya, opie mengecek ponsel nya.
pesan masuk hanya di baca saja yang penting-penting saja.
yang mengatakan akan pulang dalam waktu dekat ini dan Opie sangat enggan membalasnya.
karena Hendy selalu saja memberi janji tapi dia tidak pernah menepati nya.
kecewa yang opie rasakan ketika Axel setiap hari bertanya kapan ayahnya tiba.
Menarik nafas panjang yang opie lakukan dan membuang jauh rasa kesalnya.
Berharap kalo ini ucapan Hendy itu nyata bukan hanya janji.
"bunda sudah sehat."teriak Axel.
"wow dari mana nih."tanya bunda nya.
karena Axel langsung menubruk opie dan memeluk bundanya.
"aku baru selesai les Bun."sahut Axel
"apa kau suka? timpal mama intan.
"sangat suka necan dan terima kasih."ucap Axel.
"mandilah lalu kita akan makan bersama."pinta opie.
Axel pun berlarian masuk kedalam rumah, karena dia selalu cepat jika bunda nya yang meminta.
__ADS_1
"ada apa? tanya mama intan
"Hendy mah!! dia mengirim pesan akan pulang dalam waktu dekat ini dan aku tidak ingin Axel tahu karena pasti anak itu akan menunggu ayahnya.
"iya jika benar mas Hendy datang tapi jika ingkar lagi? bagaimana perasaan axel."tutur opie.
"sebaiknya kau beritahu saja ya? tapi dengan bahasa yang baik."ujar mama intan
"iya mah."sahut opie
dia juga tidak ingin membatasi anaknya jika ingin bertemu dengan ayahnya.
tapi seolah Hendy sendiri yang menjaga jarak dengan Axel.
Opie tidak ingin Axel kecewa dan dia sangat menjaga hati anaknya untuk jangan membenci papa nya.
Opie sudah pulih dan bisa masuk kerja hari ini dan papa nya sudah menunggu karena akan ada proyek baru.
Opie dan kakaknya jika sudah bekerja akan sangat profesional bahkan tidak kenal lelah.
papa nya sangat menyayanginya dan apa pun akan di lakukan untuk anak-anaknya.
seminggu kemudian Hendy menepati janjinya untuk pulang dan dia tidak langsung kerumah opie tapi pulang ke apartemen nya.
Hendy coba menghindari mantan istri nya dan hanya di jawab silahkan datang saja kerumah jika ingin bertemu Axel dan jangan hanya janji.
isi pesan opie benar-benar membuat Hendy sedikit kesal.
Hendy pun mendatangi kediaman Opie dan menunggu Axel muncul.
tapi yang di tunggu ternyata belum menghampiri Hendy juga.
sampai Hendy menunggu satu jam di ruang tamu dan ternyata Axel baru menyelesaikan tugas dari gurunya.
ketika Axel turun dan berjalan menuju ruang tamu, raut wajah Hendy sangat tidak bersahabat.
"maaf membuat ayah menunggu karena aku sedang mengerjakan tugas."ujar Axel.
"apa tugas itu lebih penting dari bertemu ayah mu.? tanya Hendy
"aku sudah meminta maaf dan apa itu salah? dan kenapa ayah Baru datang menemui ku? aku menunggu ayah di depan rumah tapi ayah tidak datang juga.sekarang datang hanya mau memarahi ku."kesal Axel.
"kau sudah berani membantah ku? apa bunda mu yang mengajari mu."bentak Hendy.
"aku tidak pernah mengajari anak ku,perilaku yang tidak baik!! tapi kau yang membentuk dia seperti itu."hardik opie yang tidak terima Hendy memaki anaknya.
"pergilah dan tidak usah datang lagi!! kami tanpa mu sudah bahagia."usir opie.
lalu menggandeng tangan anaknya dan membawa masuk Axel.
"tunggu kenapa kau seperti itu dengan ku."teriak Hendy.
"wahai tuan Hendy yang sangat baik!! sebaiknya anda introspeksi diri anda!! kenapa baru muncul dan anda sudah membuat anak ku menunggu bertahun-tahun."terang opie lalu meninggalkan Hendy sendiri di ruang tamu.
__ADS_1