
Setelah menghabiskan setengah harinya di kantor barunya, Eliz menarik koper yang sempat dititipnya di lobi untuk pulang. Begitu menapakkan kaki keluar dari YJ, Eliz langsung berjalan menuju taksi yang telah ia pesan melalui aplikasi.
"Pak supir, tolong ke alamat ini!" Kata Eliz sambil menunjukkan alamat yang ia catat di kertas tadi.
Supir taksi itu membacanya dan mengonfirmasi agar tidak salah alamat. "Oh, ini alamat S Tower, kan?" tanyanya. Eliz mengiyakan lalu merilekskan tubuhnya sejenak selama perjalanan. Dia terlalu lelah karena belum beristirahat sama sekali sejak menginjakkan kaki di negara yang kini di tinggali oleh ibunya itu.
"Nona, kita sudah sampai di tempat tujuan," beritahu sang supir karena Eliz duduk tenang sambil menutup matanya. Gadis itu kemudian duduk tegak dan mengintip ke luar. Lalu dia memeriksa harga taksi dan membayar.
"Terimakasih, Pak supir!" Kata Eliz pada supir yang menyodorkan kopernya itu. Supir menjawab dengan senyum hangat dan meninggalkan tempat itu. Jarang-jarang dia mendapatkan penumpang yang begitu sopan.
Eliz yang terlihat agak lelah berjalan masuk ke dalam S Tower lalu naik ke lantai yang merupakan sebuah restoran. Begitu sampai di sana, seorang pelayan menanyakan beberapa pertanyaan sebelum mengantarnya ke meja yang telah dipesan orang yang akan ditemuinya. Setelahnya, Eliz langsung memesan makanan tanpa menunggu orang itu datang. Dia bahkan langsung menikmati pesanannya sambil menunggu.
Di sela-sela kunyahan, Eliz mengamati sekitar untuk menghilangkan sedikit rasa bosannya. Tatapan terus menjelajah hingga terhenti pada meja yang tak jauh dari tempat duduknya. Seorang pria tampan baru saja duduk di tempat itu dan terlihat meminta maaf. Tapi mata jeli Eliz melihat bahwa pria itu tidak merasa bersalah sama sekali. Pria berekspresi seperti saat dirinya di seret ke tempat yang tidak ia sukai.
'Pria itu pasti dipaksa kencan buta,' pikir Eliz yang dapat melihat sedikit ekspresi gadis yang bersama pria itu karena posisi meja mereka saling bersilangan. Sayang sekali harapan gadis itu tidak akan terjadi. Setelah Eliz selesai menelan suapan terakhir dari makanannya, kursi di depannya terdengar berderit. Eliz mulai fokus pada orang di depannya walaupun merasa bingung.
"Maaf, bisakah saya duduk di sini sebentar?" Tanya pria tampan yang sejak tadi dia perhatikan.
"Anda kan sudah duduk. Untuk apa bertanya lagi?" Kata Eliz yang langsung memasang senyum manis karena sadar dengan glare yang dilayangkan oleh partner pria itu tadi. Sang pria merasa tak enak mendengarnya.
"Dan.. bisakah anda katakan apa yang harus aku lakukan pada wanita yang sedang menatap tidak senang itu?" Lalu Eliz bertanya tanpa mengubah ekspresinya yang tidak sesuai. Pria itu semakin merasa tidak enak karena telah mengganggu orang yang secara impulsif dia manfaatkan.
Karena pria itu masih diam saja, Eliz memberikan saran.
"Teman? Pacar? Rekan kerja? Adik teman? Siapa yang anda pilih?" Tanya Eliz.
"Apa?" reaksi pria itu kaget. Lalu berkata, "Ah.. kalau begitu, te-teman?" Pilihnya setelah sedikit memahami situasi bahwa Eliz berniat membantu.
"Wanita itu menuju kemari!" kata Eliz memperingati dengan nada yang agak di rendahkan.
"Kenapa Oppa duduk di sini? Bukannya Oppa bilang ada urusan mendadak?" Tanya gadis itu tak senang. Eliz dapat melihat ekspresi tak senang pria di depannya setiap gadis itu memanggilnya sok akrab.
__ADS_1
"Teman kencanmu?" Tanya Eliz memulai perannya.
"Bukan. Hanya seorang kenalan," jawab pria itu tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan yang gadis itu tanyakan. Merasa diabaikan membuat gadis itu berteriak kesal, "Ben Oppa!!"
"Bisakah anda menjaga nada suara anda? Ini tempat umum!" Kata Eliz dengan wajah angkuh tak senang. Dia lalu menyesap wine di hadapannya dengan anggun. Tingkah lakunya seakan semakin menyindir sikap gadis itu. Gadis itu lalu meninggalkan mereka dengan menahan malu dan kesal.
Setelah kepergian gadis itu. Tiba-tiba Eliz menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian. Dan dengan cara yang tidak menyenangkan Eliz mengetahui bahwa pria di depannya cukup di kenal oleh kalangan masyarakat. Beberapa orang berbisik-bisik sambil mengambil foto ke arah mereka.
"Dia sudah pergi," kata Eliz.
"Ah.. iya. Terimakasih atas bantuannya," kata pria itu tanpa ada gerakan tambahan seperti ingin meninggalkan tempat duduknya.
"Apakah anda orang terkenal?" Tanya Eliz tanpa basa basi. Dia tidak senang mengetahui ada orang yang mengambil fotonya tanpa izin.
"Anda tidak mengenal saya?" Tanya pria itu balik agak kaget. Dia pasti benar-benar terkenal.
"Saya baru datang ke Korea hari ini," jawab Eliz sambil memberi kode pada kopernya yang berada di sisi yang tidak terlalu pria itu perhatikan.
"Ah, begitu rupanya. Anda sangat fasih berbahasa Korea. Saya baru sadar bahwa anda adalah blasteran," kata pria itu setelah memperhatikan wajah Eliz dengan seksama.
"Nama saya Kim Ian (김이안). Tapi saya terkenal dengan nama Benjamin. Saya bekerja sebagai aktor." Kata Ben memperkenalkan diri.
"Aktor? Aktor pada tingkatan mana? Lee Min ho? Gong Yoo?" Tanya Eliz mencoba mencari tahu seberapa terkenal pria itu.
"Mungkin setingkat Ji Chang Wook?" Jawab Ben mencoba mencari perbandingan. Eliz kaget mendengarnya.
"Really? OMG? Kamu seterkenal itu?" Kaget Eliz. Dengan cepat di meronggoh ponselnya di dalam tas dan memeriksa kebenarannya. Dia lalu mengumpat dalam hati karena ternyata pria itu benar-benar sangat terkenal. Eliz juga menemukan fakta bahwa itu berumur 27 tahun menurut umur Korea. Berarti Ben berumur 26 tahun secara Internasional yang artinya lebih tua 5 tahun dari Eliz.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya Ben yang merasa khawatir dengan wajah shock Eliz.
"Ya, saya baik-baik saja." Jawab Eliz. "Btw, saya Eliz Lee, singer-songwriter."
__ADS_1
"Senang berkenalan denganmu," kata Ben dengan senyum tipis. Pria itu pada dasarnya bukan orang yang sering tersenyum. Dia lebih seperti tipe pria dingin yang suka menyendiri tapi akan sangat cerewet pada orang terdekatnya.
"Yup, senang berkenalan denganmu," balas Eliz. Tak lama, pandangan matanya menangkap pria yang membuat janji temu dengannya di tempat itu. Ben yang peka mengikuti pandangan Eliz.
"Apa dia pemilik tempat duduk ini?" Tanya Ben.
"Yes, he is." Jawab Eliz tak enak. Ben mengangguk tanda mengerti. Dia lalu bangkit dari kursinya dan pamit pergi.
Sreekk...
"Siapa?" Tanya pria yang baru saja duduk di depan Eliz. Pria itu tidak mengenali Ben karena hanya dapat melihat punggungnya saja.
"Teman baru," jawab Eliz singkat. "Jadi, mau duduk dulu atau langsung pergi?" Tanya Eliz pada pria yang juga tak kalah tampannya dari Ben. Pria itu adalah anak sekaligus asisten dari orang kepercayaannya.
"Langsung pergi saja. Aku masih banyak kerjaan," jawab pria itu kelewat santai pada Eliz. Mereka tampak dekat dan saling nyaman satu sama lain.
"Ok. Ayo pergi sekarang," Eliz bangkit dan berjalan ke pintu keluar. Sedangkan pria itu mengambil koper Eliz dan membawakannya. Dia bahkan membayar semua pesanan gadis itu.
Setelah keluar dari S Tower, seorang supir sudah menunggu lalu membukakan pintu dan membungkuk dengan hormat kepada Eliz dan dan pria itu. Setelah sang supir memasukkan koper ke dalam bagasi, mereka pun meninggalkan S Tower.
.....
"AKH.." Eliz langsung merebahkan tubuhnya ke kasur begitu masuk ke dalam kamar. Dia sangat lelah dan ingin langsung tidur. Pria yang tadi bersamanya hanya datang untuk mengantarkannya beberapa dokumen dan kunci apartemen yang selalu ia titipkan begitu meninggalkan Korea. Setelah itu ia langsung di antar ke apartemen yang selalu ia tinggali selama berada di Korea.
Setelah 5 menit melepas lelah, Eliz mulai bergerak dan memaksakan diri untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur. Setelah selesai, ia langsung masuk ke dalam selimut dan memadamkan nyala lampu agar dapat tidur nyenya. Dan.. Zz.. Zz.. Zz.. Eliz langsung tertidur karena lelah.
.....
"Eungh..." Suara erangan tak jelas terdengar keluar dari mulut Eliz. Dengan mata yang masih tertutup, gadis itu tampak mulai terbangun dari tidurnya. Hanya saja dia merasa tidak nyaman sesuatu menindihnya.
Eliz mencoba menepis apapun yang terasa melilit tubuhnya itu. Tapi entah kenapa sesuatu itu terus saja kembali dan menindih tubuhnya. Merasa kesal, rasa kantuk pun menjadi hilang. Eliz menurunkan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya untuk melihat apa yang begitu mengganggu tidurnya. Tapi ekspresinya berubah kaget. Dia menemukan seseorang tidur begitu dekat sambil memeluknya seperti bantal guling. Dan orang itu adalah seorang..
__ADS_1
... COWOK TAMPAN!!
~TBC