Dua Sisi

Dua Sisi
Part 4# Hubungan


__ADS_3

Part 4


".. Terimakasih."


Video tayangan konferensi pers yang diadakan secara live itu berhenti sampai di situ. Eliz meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai kembali fokus pada kerjaannya.


Saat ini dia sedang berada di studio rekaman untuk menyelesaikan lagu yang kemarin dia rekam bersama rekan kerjanya. Setelah mendengarkan hasilnya tadi pagi, Eliz kurang puas dengan mixing yang dilakukan oleh rekannya. Pria itu tidak menyelesaikan secara perfect arahannya kemarin. Karenanya, Eliz terpaksa melakukan mixing dan pengeditan sendiri dalam menyelesaikan lagu yang dia produseri ini.


Setelah menghabiskan waktu selama 3 jam, akhirnya selesai sudah lagu final ost itu. Eliz menyimpan lagu di didalam sebuah hardisk. Setelah berberes, Eliz keluar dari studio rekaman menuju ruang kerjanya. Di dalam perjalanan, Eliz dapat melihat beberapa trainee dan staff yang mengenali wajahnya karena skandal hari ini.


"Huh," Eliz mendesah kesal melihatnya. Dia sangat tidak suka menjadi pusat perhatian karena alasan yang tidak penting seperti itu. Eliz bahkan dapat mendengar gosip buruk tentangnya dari mulut orang-orang yang masih tidak percaya akan kebenaran dari pernyataan Yoojin di konferensi pers.


Begitu masuk ke dalam kantor tim produksi, Eliz langsung berjalan menuju meja kerjanya. Sebelum Dudu, Eliz memanggil Hyunwoo.


"Hyunwoo, tangkap!" Panggil Eliz sambil melemparkan hardisk yang dia bawa tadi. Dengan agak kikuk karena kaget, Hyunwoo berhasil menangkap barang lemparan Eliz.


"Apa ini?" Tanya Hyunwoo tanpa peduli dengan cara Eliz memanggilnya secara informal. Baru 2 hari mengenalnya, Hyunwoo cukup tahu bahwa gadis yang lebih muda 12 tahun darinya itu memanggil semua orang dengan cara yang sama bahkan pada Yoojin yang merupakan bos besar YJ. American Style.


"Lagu final ost yang kita rekam kemarin. Bandingkan hasil milikmu dan milikku lalu pelajari apa kesalahanmu. Aku sudah menuliskan catatan penting dan beberapa tips di dalamnya. Aku harap kamu bisa menyesuaikan diri dengan cepat tentang standarku dalam membuat lagu," jelas Eliz yang lalu mulai duduk di meja kerjanya dan menyalakan komputer. Lalu gadis itu mulai tenggelam dalam dunianya sendiri mengurus pekerjaan lainnya sambil berhubungan lewat telepon dengan seseorang menggunakan bahasa China. Beberapa orang awalnya memperhatikan dengan takjub, tapi setelah beberapa jam mereka mulai terbiasa dengan kefasihan Eliz dalam berbahasa China.


Waktu berlalu dan menunjukkan sudah pukul 6 sore. Untuk orang kantoran, waktu tersebut adalah jam pulang. Tapi bagi mereka yang bekerja di perusahaan entertainment, sangat sulit untuk pulang pada jam segitu. Dan mungkin hanya Eliz seorang yang menganut jam kerja kantoran biasa di YJ karena hal tersebut sudah masuk ke dalam syarat kerjanya. Walaupun terkadang dia akan pulang telat saat belum menyelesaikan rekaman walau jam pulang sudah tiba. Hal ini karena Eliz selalu menyelesaikan rekaman di satu waktu dan tidak akan pulang sebelum selesai.


Note : Italic \= bahasa asing (bahasa yang digunakan)


(Jerman)


"Schwester!" Panggil Charles sambil menepuk pundak Eliz yang masih fokus pada data di komputer dan koneksi telepon.


"Charles, ada apa kemari?" Tanya Eliz bingung. Dia pun mulai berbicara bahasa Jerman.


"Sudah jam 6. Ayo kembali bersama. Malam ini kita akan melakukan party karena kamu akan menetap di Korea," kata Charles mengajak pulang bersama dengan santai. Beberapa orang mulai mengamati mereka dalam diam begitu menyadari kehadiran Charles yang tidak biasa.


"Yang benar saja," ujar Eliz yang agak mengeluh karena sedang malas berpesta. Tiba-tiba suara di telepon kembali masuk dan membuatnya membalas pertanyaan orang di seberang sana, "(China) Ya? Charles datang. Ingin berbicara dengannya?" Kata Eliz pada orang itu.


"Mit wem sprichst du? (Dengan siapa kamu berbicara?)" Tanya Charles.


"(China) Hao ba (Baiklah)," kata Eliz sebelum menutup panggilannya lalu mulai fokus pada Charles.


"Tante An (Bibi An)," kata Eliz menjawab pertanyaan Charles tadi.


"Oh.. An Grossmutter (Oh.. nenek An)," gumam Charles. Dia jelas tahu siapa nenek An. Wanita China itu telah menjadi kerabatnya setelah menikahi salah satu dari sepupu neneknya. Nenek An mulai menjadi orang kepercayaan Eliz dan ayahnya dulu menggantikan sang suami yang meninggal dunia.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita pulang. Aku sudah selesai bekerja," kata Eliz setelah Charles menunggu selama 10 menit.


"Ayo," kata Charles yang langsung merangkul Eliz, dengan meninggalkan kesan bahwa dia sangat dekat dengan Eliz.


Eliz yang baru saja terkena skandal cukup merasa terganggu dan langsung memberi penjelasan pada orang-orang di ruangan itu.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kami saudara," kata Eliz yang mulai kembali menggunakan bahasa Korea.


"Aku tidak mengatakan apa-apa," elak Hyunwoo. Padahal sejak tadi dia menatap penasaran.


"Anak ini keponakanku. Jika dia membuat masalah, cukup laporkan padaku. Aku bisa langsung menghubungi ayahnya agar dia bawa kembali ke Prancis," kata Eliz yang langsung diprotes oleh Charles.


"Eliz, mana bisa begitu! Dasar bibi yang jahat," seru Charles.


"Yayaya. Kami duluan ya," kata Eliz izin pulang. " Ayo pergi," lanjutnya sambil menarik Charles yang mulai memberinya banyak penjelasan tentang betapa pentingnya dia di Korea ini.


....


Sebelum dimulai, satu hal yang harus kalian tahu. Saat Charles berkata party, itu artinya benar-benar party. Begitu pintu apartemen dibuka, Eliz dapat melihat bahwa ruangan itu sudah diubah menjadi seperti club pribadi. Musik disko terdengar keras. Banyak orang sedang menari. Beberapa lainnya tampak duduk berbincang dengan minuman keras di tangan mereka.


Orang-orang yang mengikuti pesta ini hanyalah mereka yang mengenal Eliz melalui salah satu identitasnya. Seperti wanita cantik yang sedang menghayati tariannya di ruang tengah. Dia adalah Yena, salah satu member girl group yang saat melakukan debut solo-nya menggunakan lagu Eliz. Karena kebetulan Eliz saat itu sedang di Korea, jadi dia juga memproduksi lagu itu sendiri di studio pribadinya.


Seperti Yena, ada 1 girl grup berisi 4 member dan ada 3 penyanyi solo yang lagunya dibuat dan diproduksi oleh Eliz. Jadi jika ditambahkan dengan AS, ada 13 orang penyanyi yang mengenal dan pernah bertemu Eliz. Sisanya, hanyalah mereka yang beruntung mendapatkan lagu dari seorang HAEL. Dirinya sebagai HAEL sendiri telah memiliki hak cipta hampir mencapai 200 lagu dalam kurun waktu 8 tahun.


Setelah menyapa beberapa orang, Eliz melihat bahwa ternyata Steve tidak datang sendiri. Dia datang bersama teman dekatnya Tang Lun (chaebol China yang juga berteman dengan Eliz) dan seseorang yang cukup Eliz tahu melalui media sosial. Pria itu adalah Choi Hyuk, salah satu chaebol di Korea. Sejak kapan pria itu cukup dekat dengan Steve hingga dibawa kemari?


"Hai, Steve!" Eliz pun dengan inisiatifnya sendiri menghampiri Steve karena penasaran. Dia dengan sengaja menyapa Steve dengan bahasa Korea. Padahal keduanya lebih sering berbicara menggunakan bahasa China dan Inggris.


"Eliz, akhirnya kau datang. Duduklah bersama kami," sambut Steve senang dengan bahasa Korea yang tidak kalah fasih. Steve menarik Eliz dan membuatnya duduk diantara dirinya dan Tang Lun.


"Lau Tang (Tang tua), kau juga disini?" Sapa Eliz dengan masih dengan bahasa Korea walaupun tidak mengganti sebutannya terhadap Tang Lun.


"Xiao Li, tentu saja aku datang. Aku kan ingin bertemu dengan adik manisku ini," jawab Tang Lun yang ternyata cukup baik dalam bahasa Korea.


"Jadi, hadiahku?" Tanya Eliz manja seperti yang sering dilakukan pada keluarganya yang lebih tua. Tang Lun langsung tertawa mendengar pertanyaan itu. Dia lalu mengeluarkan sebuah amplop dokumen dan memberikannya pada Eliz. Eliz dengan cepat membuka amplop itu dan merasa senang melihatnya.


"Lau Tang memang yang terbaik! Terimakasih, Lau Tang," kata Eliz yang lalu menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Tang Lun.


"Kau ini sungguh manis. Rasanya ingin aku bawa pulang dan kutukar dengan adik nakalku di rumah," kata Tang Lun. Dia benar-benar iri dengan Steve yang mempunyai adik sepupu manis seperti Eliz.


"Hei, jangan bersikap sembarangan! Kau mau menambah skandal seperti tadi pagi? Lalu melakukan konfirmasi yang sayangnya sekali lagi di skandalkan dengan pria yang sudah seperti saudara?" Peringat Steve dengan nada cukup posesif. Eliz menatapnya tak senang.

__ADS_1


Walaupun tak berbagi darah yang sama, Steve memiliki sifat yang sama dengan semua keturunan keluarga Lee, yaitu posesif terhadap saudara perempuan yang ada di keluarga. Hal ini terjadi karena minimnya anak perempuan yang lahir di keluarga Lee. Satu orang di generasi sang kakek, Judith. Satu orang di generasi sang ayah yaitu Anna yang merupakan anak Judith. Dan dua orang di generasi Eliz, yaitu dirinya sendiri dan Belle yang merupakan anak Anna. Sisanya hanyalah anak laki-laki. Bahkan di generasi Charles belum ada anak perempuan sama sekali. Untungnya masih ada harapan pada Eliz dan Jonathan yang masih belum menikah. Yah walaupun Eliz...


"Sudahlah, kalian berdua ini masih saja suka saling mengejek," kata Tang Lun sambil menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


Semua orang di meja itu lalu terdiam sesaat. Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan. Tak menunggu, Eliz pun mulai bertanya tentang hal yang membuatnya penasaran tadi.


"Jadi, kenapa orang ini ada di sini?" Tanya Eliz pada Steve yang sebenarnya tidak sopan itu.


"Hahaha, aku belum memperkenalkan kalian ya? Kenalkan dia Choi Hyuk, temanku dan teman kuliah Tang Lun. Kami saling mengenal karena bisnis tahun lalu yang ekhem.. kau tau lah," jelas Steve. Eliz tampak memperhatikan Choi Hyuk yang mulai menegakkan tubuhnya dan memasang wajah tenang. Pria ini tipe yang sedikit bicara dan selalu memasang wajah bisnis.


"Saya Choi Hyuk dari CS Group. Salam kenal," sapa Choi Hyuk.


"Aku tahu siapa kau. Yang aku tanya, kenapa dirimu ada di sini? Ini bukan tempatmu untuk membuka peluang bisnis? Dan aku tak akan senang jika memang itu niatmu kemari," kata Eliz dengan nada agak ditekankan. Tiba-tiba saja aura dominannya keluar begitu matanya menatap tajam ke arah Choi Hyuk.


"Hei, hei, tenanglah! Aku hanya ingin mengenalkannya padamu saja lalu ikut berpesta. Untuk urusan bisnis, mana mungkin aku melakukannya sekarang padahal tau kau tidak akan suka, kan?" Seru Steve mencoba menenangkan suasana. Eliz menurunkan tatapan tak sukanya lalu mulai kembali tersenyum manis.


"Baiklah kalau begitu. Jangan pernah melakukan bisnis di lingkungan privasiku. Ingatlah itu," kata Eliz pada Choi Hyuk dengan senyum manis yang sayangnya penuh peringatan.


"Paman Steve, kamu di sini?" Sapa Charles yang tiba-tiba datang bersama Ben.


"Tentu saja. Bagaimana bisa kamu membuat pesta tanpa mengundangku, huh?" Balas Steve. Ternyata pria ini mengundang dirinya sendiri dan malah membawa temannya juga.


"Hahaha, aku pikir paman sedang sibuk makanya aku tidak meneleponmu," jawab Charles baik. Sayangnya hal itu tidak terdengar menyenangkan di telinga Steve.


"Bisakah kau tidak memanggilku paman? Aku masih muda! Bagaimana bisa kamu memanggilku "paman" dan memanggil Eliz dengan sebutan "kakak". Itu tidak adil, nak! Kami ini satu generasi," protes Steve yang merasa kesal di usia mudanya harus dipanggil paman walaupun pada kenyataannya Charles memang keponakannya.


Charles hanya tertawa mendengarnya. Dia terlalu sering mendengar keluhan Steve tentang panggilan itu. Pada kenyataannya, Charles hanya menolak memanggil Eliz "bibi" karena gadis itu hanya 3 tahun lebih tua darinya dan memiliki baby face yang cukup membuat terlihat lebih muda lagi.


"Ben, kamu datang juga?" Sapa Eliz pada Ben yang sejak tadi mencerna perkataan ketiga orang yang ternyata adalah keluarga itu.


"Ya. Charles mengundangku," jawab Ben. Dia lalu tanpa sengaja beradu pandang dengan Choi Hyuk dan tertegun sesaat. Eliz menangkap perubahan ekspresi itu dan melihat Choi Hyuk juga cukup bereaksi dengan kedatangan Ben.


"Ada apa dengan kalian berdua, saling tatap-tatapan gitu? Jangan-jangan.." dengan sengaja Eliz menyadarkan keduanya dengan mengucapkan kalimat ambigu.


"Dia Kakakku," jawab Ben tak nyaman.


"Kalian saudara?" Respon Charles kaget.


"Saudara tiri lebih tepatnya," ujar Choi Hyuk dengan nada agak dingin. Sepertinya pria ini tidak terlalu menyukai adik tirinya, pikir Eliz.


"Ya, saudara tiri." Ben mengangguk membenarkan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan saudara tiri? Aku dan Eliz saja juga hanya sepupu angkat. Santai saja, rileks!" Nimbrung Steve yang sepertinya mulutnya gatal. Eliz lalu menginjak kaki pria itu karena tidak bisa melihat suasana yang bukan hanya sekedar canggung itu.


....


__ADS_2