
Poppy keluar dari ruang fitting room dengan menggunakan dress panjang yang diberikan. pelayan tadi.
Budi melihat Poppy mengenakan dress panjang itu. Budi diam, tidak merespon dengan kata-kata. Tapi ia tidak berkedip sama sekali ketika melihat Poppy.
"Kenapa? aneh, ya?" Poppy tidak percaya diri dipandangi seperti itu oleh Budi.
"Nggak, cocok kok," jawab Budi sambil menghampiri kasir.
"Baju lamanya kasihkan ke pelayan biar dibungkus," kata Budi kepada Poppy.
Lalu Poppy mengambil baju yang lama dan diserahkan kepada pelayan.
Budi mengeluarkan kartu debet dari dompetnya dan diberikan ke petugas kasir.
"Tidak sekalian dengan kerudungnya, Pak?" tanya petugas kasir.
Budi menoleh ke arah Poppy yang masih sibuk memperhatikan baju yang digunakannya.
"Bu Poppy mau pakai kerudung, nggak?" tanya Budi.
Poppy diam tidak menjawab.
"Sepertinya tidak," kata Budi pada petugas kasir.
"Mau, Pak Budi", sahut Poppy buru-buru.
Budi menoleh kearah Poppy.
Poppy mengangguk-angguk ke Budi.
"Mau katanya, Mbak, " kata Budi
Poppy langsung memilih kerudung yang cocok dengan warna bajunya.
Setelah dapat Poppy bingung cara memakai kerudungnya.
"Mari saya bantu pakaikan. Ibu sambil duduk di sini," pelayan itu menaruh kursi di depan cermin disebelah fitting room.
Sementara Poppy sedang memakai kerudung Budi membayar semua barang yang dibeli Poppy. Ia membayar menggunakan kartu debet miliknya sendiri.
"Sudah selesai?" tanya Budi ketika Poppy sudah rapih menggunakan kerudung.
"Sudah," jawab Poppy dengan berseri-seri.
"Ayo, kita makan dulu. Ibu kan belum makan, " kata Budi menuju pintu keluar butik.
"Pak Budi saya belum bayar, " kata Poppy sambil menghampiri Budi yang sedang menunggu di pintu butik.
"Semaunya sudah saya bayar, " jawab Budi.
"Nanti saya ganti," kata Poppy.
"Tidak usah, anggap saja itu hadiah dari saya."
"Terima kasih, ya Mbak, " kata Budi pada pelayan butik sebelum mereka meninggalkan butik.
Merekapun jalan beriringan di area mall.
"Mau makan apa?"
"Terserah, Pak Budi," jawab Poppy.
"Ya sudah, kita ke food court aja. Biar ibu bisa milih mau makan apa."
Mereka berjalan menuju food court.
Seperti biasa bumil yang satu ini matanya selalu berbinar-binar kalau melihat makanan.
Setelah memesan dan membayar makanan mereka mencari tempat yang nyaman untuk makan.
"Pak Budi terima kasih, ya atas pemberian baju yang cantik ini. Pasti mahal, ya?" kata Poppy.
__ADS_1
"Sama-sama, Bu. Lagi pula harganya tidak terlalu mahal, " jawab Budi.
"Oh iya, Ibu mendapat undangan pembukaan hotel Pak Setyo di Bandung" kata Budi
"Kapan, Pak?" tanya Poppy.
"Minggu depan. Ibu mau datang, tidak? Kalau ibu mau pergi, berangkatnya bareng sama saya. Kita pergi hari Sabtu pulangnya hari Minggu, " kata Budi.
"Saya mau datang. Sudah lama daya tidak pernah ke Bandung, " jawab Poppy.
"Atau supaya Ibu tidak cape, kita bisa pulang hari Senin pagi. Undangannya hari Minggu siang. "
"Kalau Pak Budi pulang hari Senin, nanti kantor bagaimana?" tanya Poppy ragu.
"Urusan kantor biar diurus sama Zaki dan Jaka. Buat apa menggaji Manager dan asisten kalau semuanya harus saya urus sendiri, " jawab Budi dengan mantap.
"Baiklah kalau Pak Budi tidak sibuk kita pulang hari Senin pagi," kata Poppy.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka makan dengan tenang.
Setelah selesaiakan mereka kembali ke kantor.
Irma dan Reva kaget melihat Poppy datang dengan baju yang berbeda dari ketika berangkat makan siang. Apalagi sekarang Poppy menggunakan pakaian muslim dan menggunakan kerudung.
"Wah Bu Poppy, kelihatan beda kalau memakai kerudung, " kata Irma.
"Kenapa? Jelek ya?" Poppy merasa tidak pede.
"Cantiiikkk, Bu. Seperti bidadari," komentar Irma.
"Ah, kamu bisa aja," Poppy tersanjung.
"Kalau ibu ngak percaya, coba ibu tanya Pak Budi," kata Irma.
"Heh.., " bisik Reva sambil menyikut pinggang Irma. '
"Apa?" tanya Irma dengan polos.
"Jangan begitu, " gumam Reva.
"Pak Budi, saya pulang dulu, ya. Sampai ketemu hari Sabtu. Dan terima kasih hadiahnya," pamit Poppy kepada Budi.
"Sama-sama, Bu," jawab Budi.
"Mas Jaka, saya pulang dulu, " pamit Poppy kepada Jaka.
"Ya, Bu, " balas Jaka.
Setelah menutup pintu ruang kerja Budi, Poppy pamit ke Irma dan Reva.
"Neng-neng cantik, Ibu pulang dulu. Kerja yang rajin. Jangan kebanyakan ngegosip. Kasihan tuh Pak Budi dan Mas Jaka banyak pekerjaan. Tolong dibantu, ya," pesan Poppy.
"Baik, Bu, " jawab Irma dan Reva berbarengan.
Poppy pun meninggalkan kantor Budi.
*****
Tak terasa sudah waktunya Budi dan Poppy pergi ke pembukaan hotel milik Pak Setyo di Bandung. Budi berangkat dari rumah pas menjelang sore. Karena Budi berangkat bersama Poppy, Bu Tiara membawakan bekal makanan yang banyak untuk bumil.
"Bumil harus banyak makan. Kasihan kalau kelaparan karena perjalanan jauh dan macet," begitu alasan Bu Tiara ketika diprotes Budi karena disuruh Mamanya membawa banyak bekal makanan. Rima juga membenarkan apa yang dikatakan Bu Tiara. Apalagi Rima juga membuatkan kue kastangel, nastar dan putri salju untuk bekal Poppy.
Bibi dan keponakan setali tiga uang kata Budi di dalam hati.
Budi menggunakan mobil miliknya menuju rumah Poppy. Namun untuk menuju ke Bandung mereka menggunakan mobil Poppy.
Budi sedang memasukkan tas dan bawaan miliknya dan Poppy ke dalam mobil Poppy. Makanan yang dibawakan oleh Ibunya ia taruh di jok kursi belakang agar memudahkan Poppy mengambil kalau lapar.
Poppy terkejut melihat banyak goody bag di jok kursi belakang.
"Pak Budi itu apa banyak bungkusan di belakang?" tanya Poppy menunjuk ke kursi penumpang.
__ADS_1
"Oh... itu bekal untuk Bu Poppy dari Mama dan Teh Rima, " jawab Budi sambil menoleh kearah Poppy yang berdiri di samping mobil dan ia terkesimak karena Poppy menggunakan kerudung. Dan terlihat sangat cantik.
"Banyak sekali. Bilang terima kasih ke Tante Tiara dan Teh Rima, " Poppy belum menyadari kalau Budi terpesona melihat penampilan dirinya.
"Nanti saya sampaikan ke Mama, " kata Budi yang cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke bagasi mobil.
"Ibu mau duduk di belakang atau di depan? Kalau Ibu mau duduk di belakang, nanti perbekalan nya saya simpan di depan," kata Budi sambil membereskan tas di bagasi mobil.
"Saya duduk di depan saja. Biar semua bekal disimpan di jok belakang," jawab Poppy.
Reno keluar dari rumah dan datang menghampiri mereka.
"Sudah siap semuanya? Nggak ada yang tertinggal?" tanya Reno sambil memperhatikan barang-barang di dalam mobil.
"Pak Budi itu apa banyak sekali bungkusan di jok belakang?" tanya Reno menunjuk ke dalam mobil.
"Oh... itu bekal Bu Poppy. Mama dan Teh Rima yang menyiapkannya," kata Budi menghampiri Reno.
Reno melihat isi bekal satu persatu dan ia menemukan setoples nastar lalu diambilnya.
"Poppy, ini untuk Abang, ya? Kamu kan udah ada kastangel dan putri salju, " kata Reno sambil menangis menunjukkan toples nastar.
"Abang, Poppy juga mau nastar, " Poppy protes.
"Kamu bisa cobain kalau sudah pulang dari Bandung. Itu pun kalau tidak kehabisan, " Reno menyeringai.
"Abang...... Poppy bilang ke Teh Rima kalau nastar Poppy diambil sama Abang," kata Poppy cemberut.
"Bilang aja. Paling nanti di kirimin nastar lagi, " jawab Reno.
"Pas lebaran," imbuh Reno.
"Abang...iiihhh."
"Ayo, Pak Budi kita berangkat sekarang," ajak Poppy.
"Assalamualaikum, Bang," salam Poppy mencium tangan Reno dengan wajah ditekuk.
"Waalaikumsalam," balas Reno.
"Titip Poppy, ya Pak Budi. Hati-hati menyetir nya, " pesan Reno.
"Baik, Pak. Assalamualaikum, " jawab Budi.
"Waalaikumsalam," Reno membalas salam Budi.
Mobil Poppy pun keluar dari halaman rumah dan melaju dijalan raya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai reader, maaf kemarin nggak up. Karena cape habis kerja seharian. ini juga ngetiknya sambil merem melek menahan ngantuk.
Maaf juga author belum bisa crazy up.
Memindahkan isi kepala ke dalam tulisan itu tidaklah mudah bagi author.
Ditambah kesibukan RL sehari-hari, bener-bener menguras tenaga.
__ADS_1
Harap maklum kemampuan author cuma segitu.
*