Duhai Wanitaku

Duhai Wanitaku
34. Melamar Poppy 1


__ADS_3

Irma dan Reva  pergi melewati teman-temannya yang sedang bekerja. Irma mengkipas-kipas wajahnya dengan menggunakan  kartu debit milik Budi.


“Dadah semuanya. Kita mau shoping dulu ya,” kata Irma.


Respon teman-temannya bermacam-macam melihar kelakuan Irma.


Ada yang Cuma geleng-geleng kepala.


Ada yang melambaikan tangannya.


Ada yang protes, “Irma, bos loe ada di dalam tapi elo malah jalan-jalan.”


“Mau kemana loe? Ajak kita-kita dong.”


“Irma udah ketularan Reva, kerjanya jalan-jalan terus.”


Irma memilih keluar melalui lobby hotel, para resepsionis dan bel boy yang sedang melayani tamu pada melotot semua melihat Irma dan Reva melenggang keluar dari kantor pada jam kerja. Irma jalan lurus ke depan dengan tangan kanannya memamerkan  kartu debet milik Budi ke arah atas.


Di tempat parkit Ilham sudah siap menunggu kedatangan Reva dan Irma. Ketika Reva dan Irma hendak masuk ke dalam mobil Amri sekuriti hotel menghampiri Reva dan Irma.


“Reva-Irma mau pergi kemana?”


“Ada misi rahasia dari pak bos,” jawab Irma.


“Misi rahasia apa?” tanya Amri penasaran.


“Ada deh mau tau aje. Kalau dikasih tau bukan rahasia namanya,” jawab Reva.


“Udah ah, ntar pak bos marah kalau kita belum berangkat juga,” kata Irma sambil langung masuk ke mobil.


Setelah Reva dan Irma masuk ke dalam mobil, Mobilpun meluncur meninggalkan tempat parkir.


Tepat pukul dua siang Irma dan Reva sudah kembali ke kantor.


“Ini perhiasannya,” Irma meletakkan kotak perhiasan yang ukuran sedang ke atas meja Budi.


“Ini cincin lamaranya,” kemudian Irma meletakkan kotak berukuran kecil keatas meja.

__ADS_1


“Yang ini surat-surat emasnya,” dua lembar kwitansi pembelian emas diletakkan diatas meja.


“Yang ini bon-bon untuk pengambilan pesanan kue, parcel buah dan bunga. Semuanya sudah dibayar,” kata Irma.


“Dan ini kartu debet milik Pak Budi,” Irma menyimpan kartu debet diatas meja.


Budi memperhatikan satu persatu kertas yang di berikan oleh Irma.


“Terima kasih, Irma,” ucap Budi.


“Sama-sama, pak,” balas Irma lalu berbalik hendak keluar ruangan.


“Eh… kalian sudah makan belum?” tanya Budi.


Irma mengurungkan niatnya untuk keluar ruangan.


“Belum, pak. Kan kata bapak jangan kemana-mana setelah membeli perhiasan."


“Bagus,” kemudian Budi mengeluarkan uang dua lembar seratus ribu rupiah dan diberikan kepada Irma.


“Sana makan siang dulu berdua sama Reva,” Irma menerima uang itu dengan mata yang berbinar-binar.


“Rev, ayo kita makan siang dulu,” ajak Irma sambil mengkipas-kipas dua lembar seratus ribu rupiah.


Reva bengong melihat Irma sedang kipas-kipas menggunakan seratus ribuan.


“Dapat darimana tuh duit?” tanya Reva.


“Ah, elo mah pake lama. Ayo cepet makan siang dulu ntar pak bos keburu nyariin,” Irma menarik tangan Reva dan pergi dari situ.


*****


Keesokan harinya Budi bekerja hanya setengah hari, ia ijin dengan alasan ada acara keluarga. Sedangkan pegawai resto dan  petugas catering yang bertugas di rumah Poppy, mereka hanya tahu kalau Bu Poppy mengadakan acara kumpul keluarga.


Sesampainya di rumah, rumahnya sudah ramai oleh saudara-saudaranya yang berdatangan.


“Ah… ini calon pengantin sudah datang,” kata Uak Komar yang menyambut kedatangannya.

__ADS_1


Budi mencium tangan uak, paman dan bibinya satu persatu. Serta menyalami sepupuh-sepupuhnya satu persatu.


“Budi ke kamar dulu,” pamit Budi pada uak, paman dan bibinya.


Ketika Budi hendak naik ke atas ia melihat Farhan dan Fadlan dari rumah Rima masuk melalui connecting door.


“Farhan Fadlan tolong ambilin parcel, kue dan buket bunga di mobil. Kalau kelamaan takut rusak,” kata Budi sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Farhan.


“Oke pak bos,” jawab Farhan setelah menangkap kunci mobil yang dilempar Budi.


Budi langsung ke kamarnya untuk sholat ashar dan bersiap-siap untuk ke rumah Poppy.


Setelah selesai sholat magrib Budi beserta keluarga besarnya menuju ke rumah Poppy. Budi sengaja menyewa satu mobil yang di kemudikan Farhan agar saudaranya yang tidak mempunyai kendaraan dapat ikut serta.


Tak lama kemudian Budi bersama dengan rombongan keluarga besarnya sampai di rumah Poppy.


Keluarga besar Budi terkagum-kagum melihat rumah Poppy yang besar.


“Calon istri Budi orang kaya,” bisik mereka.


Budi beserta keluarga besarnya disambut oleh Pak Brata, Bu Melly dan Reno seta keluarga besar Poppy.


Serta tidak ketinggalan juga yang ikut menyambut Budi dan keluarga, yaitu Pak Rahadian dan Bu Femi beserta Iva. Dan tidak ketinggalan yang sengaja datang jauh-jauh dari Singapura yaitu Dicky dan istrinya Ani.


Mereka bersalaman satu dengan yang lain. Ketika Reno hendak bersalaman dengan Rima, Rima hanya menangkupkan kedua tangannnya di dada.


Para tamu dipersilahkan untuk duduk.


Acara dimulai dengan memperkenalkan keluarga besar. Dimulai dari keluarga Budi. Pak Aep memperkenalkan keluarga mulai dari Bu Tiara, lalu Budi, dan Farhan. Kemudian Pak Aep memperkenalkan keponakannya Rima.


“Ini keponakan saya Rima dan anaknya Odie serta adiknya Fadlan. Tentunya Pak Brata dan keluarga sudah mengenal siapa Rima. Karena Rima ini adalah calon istri Reno, kakaknya Poppy,” mendengar perkataan Pak Aep keluarga besar Budi dan keluarga besar Poppy menjadi heboh.


Bahkan Uak Komar menyela, “Budi, ini mah namanya KKN.”


Semua orang tertawa mendengarkanya omongan Uak Komar.


Reno dari tadi menatap Rima tanpa berkedip. Bahkan Odie melambaikan tangannya ke Reno. Reno membalas lambaian tangan Odie. Pandangan mata Reno dan Rima bertemu lalu Reno mengkedip-kedipkan sebelah matanya ke

__ADS_1


Rima. Membuat Rima tertunduk malu.


__ADS_2